Kisah SARA SPECX-Batavia 1629

(Sara Specx, Lahir Hirado?, Japan 1616/17 – Meninggal Formosa ca. 1636)

Batavia 1629

…Sara Specx yang masih muda belia lama kelamaan jatuh hati pada salah satu prajurit muda dan tampan penjaga kastil Batavia yang bernama, Pieter J. Cortenhoeff. Syahdan keduanya terlibat hubungan asmara secara diam-diam. Hal ini mengingat usia Sara yang masih sangat belia untuk urusan semacam itu…

Hukum harus ditegakkan tanpa pandang bulu, semua orang sama kedudukannya di mata sang dewi keadilan. Tidak peduli apakah seseorang anak pejabat atau anak petani, orang kaya atau miskin. Memang itulah prinsip yang harus dilakukan dalam kehidupan bermasyarakat yang adil dan beradab. Prinsip itu pula yang dijalankan Gubernur Jenderal Indië, Jan Pieterszoon Coen, selama dua kali masa pemerintahannya di Batavia 1619-1623 dan 1627-1629.

Jan Pieterszoon coen
Jan Pieterszoon Coen (1587-1629)

Salah satu kisah mengenai kerasnya, atau mungkin juga dapat dikatakan kejam, pemerintahan Coen dalam menegakkan hukum adalah cerita mengenai Sara Specx, putri seorang pejabat tinggi VOC, Jacques Specx, yang kelak menjadi Gubernur Jenderal Indië menggantikan Coen periode antara tahun 1629-1632. Sebelum lebih jauh, ada baiknya kita mengenal sedikit siapa Sara Specx dan ayahnya Jacques Specx.

Jacques Specx
(Jacob) Jacques Specx (ca. 1585 – ?)

Jacques Specx adalah seorang pejabat tinggi VOC di Indië (Indonesia – pada masa itu belum ada istilah Nederlandsch Indië yang ada hanya Oost Indië atau Hindia Timur yaitu Indonesia, VOC: Vereeniging Oost Indische Compagnie/ Perserikatan Dagang Hindia Timur). Sebelum datang ke Batavia, Jacques Specx dikenal selama dua kali periode menjadi pemimpin tertinggi VOC di Hirado Jepang antara tahun 1609-1613 dan 1614-1621. (Belanda pernah berkuasa di Jepang? Baca kisah berikutnya “VOC di Jepang”).

Salah satu keberhasilannya yaitu mendirikan dan mengembangkan pusat dan pos dagang VOC di Hirado Jepang. Berkat kepemimpinan Specx, Hirado berkembang menjadi markas dagang penting milik VOC di Jepang sebelum akhirnya dipindahkan ke Deshima (sekarang – Nagasaki) Jepang pada tahun 1641. Karena cukup lama menjadi pemimpin VOC di Jepang, Specx sempat diketahui menjalin hubungan dengan seorang wanita setempat – gadis Jepang. Dari hubungan tersebut lahirlah seorang anak gadis bernama Sara Specx. Jadi dapat dibayangkan bagaimana rupa Sara Specx yang merupakan percampuran darah Jepang dan Belanda.

Pada tahun 1629 Jacques Specx di tugaskan sebagai pejabat tinggi VOC di Indië dengan jabatan de Eerste Raad Ordinair van Indië. Namun demikian karena urusan administrasi Specx harus kembali dahulu ke negeri Belanda. Sementara anak gadisnya Sara Specx berangkat lebih dahulu ke Batavia, karena pada waktu itu anak di luar perkawinan resmi sesama orang Belanda tidak diakui dan tidak boleh dibawa ke negeri Belanda. Sara yang merupakan anak pejabat tinggi VOC, di Batavia tinggal dan dititipkan di rumah penguasa Batavia saat itu Jan Pieterszoon Coen di dalam lingkungan kastil juga merupakan benteng kota Batavia.

kaart kasteel batavia
Batavia 1627 (lingkaran merah adalah Benteng/ kastil Batavia)

Sara pada masa itu masih belia, usianya baru 12 tahun. Ia senang tinggal di rumah Gubernur Jenderal. Seperti halnya di masa sekarang, rumah penguasa nomor satu Batavia itu dijaga oleh prajurit-prajurit pilihan yang gagah dan tampan. Kawasan Batavia di sekitar benteng Belanda di masa itu sangat rawan. Pihak kesultanan Banten, Demak dan Mataram tidak menyukai keberadaan Belanda di Kalapa atau Batavia. Mereka berulang kali berusaha menyerang benteng tersebut. Karena kondisi itu maka kehidupan orang-orang Belanda Batavia kebanyakan hanya dihabiskan di dalam lingkungan benteng. Demikian pula yang terjadi pada Sara Specx di Batavia.

Karena sehari-hari tinggal di lingkungan rumah Jan Pieterszoon Coen yang dikelilingi prajurit penjaga yang gagah-gagah tersebut, Sara yang masih muda belia lama kelamaan jatuh hati pada salah satu prajurit muda dan tampan penjaga kastil Batavia yang bernama, Pieter J. Cortenhoeff. Syahdan keduanya terlibat hubungan asmara secara diam-diam. Hal ini mengingat usia Sara yang masih sangat belia untuk urusan semacam itu. Sang Gubernur Jendral Jan Pieterszoon Coen yang mendengar kabar angin mengenai hal tersebut tidak ambil pusing karena masih banyak urusan lain yang lebih penting di Batavia. Ia lebih mementingkan urusan pertahanan benteng Batavia dari gempuran pasukan Mataram daripada memikirkan hal tersebut.

Kasteel Batavia
Lukisan Kasteel Batavia di kejauhan.

Pada awalnya hubungan asmara keduanya berjalan lancar hingga pada suatu malam sebuah peristiwa menggemparkan terjadi di lingkungan kastil Batavia. Hubungan asmara Sara dengan Pieter sampai pada puncaknya. Pada suatu malam Sara dengan diam-diam mengijinkan sang pujaan hatinya masuk ke kamarnya yang notabene adalah rumah sang Gubernur Jenderal. Lingkungan kastil yang indah pada waktu itu ditambah dengan desiran angin laut (lihat peta/ gambar kota benteng Batavia saat itu berada tak jauh dari pantai – sekarang sekitar kawasan pelabuhan Sunda Kalapa) membuat suasana menjadi semakin romantis dan membuat mereka berdua menjadi semakin lupa diri. Sara pun jatuh dalam pelukan hangat Pieter. Selanjutnya entah bagaimana, tak disangka-sangka kejadian itu ternyata diketahui Jan Pieterszoon Coen.

Sara Specx
Sara Specx (ilustrasi)

Sang Gubernur Jenderal menjadi sangat murka. Ia tidak terima kediamannya dinodai oleh perbuatan zinah Sara dan anak buahnya. Sebagai catatan, pada masa itu, norma-norma gereja dan aturan agama yang dibawa dari negeri asal masih sangat ketat sehingga perbuatan yang dilakukan Sara dan Pieter benar-benar dianggap sudah melampaui batas. Seketika itu pula sang penguasa Batavia ini langsung memerintahkan untuk mendirikan tiang gantungan bagi keduanya. Namun untunglah pimpinan Dewan Pengadilan Batavia atau Raad van Justitie langsung turun tangan menengahi masalah tersebut dan menyatakan hal tersebut harus dibawa dahulu ke meja pengadilan.

Setelah proses pengadilan dan Raad van Indie akhirnya pada 18 Juni 1629 keduanya tetap dinyatakan bersalah melakukan perzinahan. Prajurit muda penjaga kastil atau bahasa Belandanya de vaandrig van de kasteelwacht, Pieter J. Cortenhoeff dieksekusi mati, dipenggal kepalanya pada tanggal 19 Juni 1629 di depan umum di halaman balai kota atau Stadhuisplein Batavia yang kini dikenal dengan taman Fatahillah, di halaman depan Museum Sejarah Jakarta. Sementara Sara Specx yang berusia 12 tahun itu dijatuhi hukuman cambuk berkali-kali di hadapan umum di depan gerbang balaikota Batavia atau sekarang di sekitar depan gerbang masuk Museum Sejarah Jakarta. Hukuman tetap dilaksanakan!. Meskipun memiliki kekuasaan namun Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen tidak mau menggunakannya untuk membatalkan ataupun mengintervensi keputusan eksekusi pengadilan Raad van Justitie. Ia berprinsip yang salah tetap harus dihukum sesuai dengan hukum yang berlaku (ia juga tidak memperdulikan bahwa Sara adalah anak pejabat tinggi VOC). Padahal ia bisa saja mengganti eksekusi yang kejam terhadap Sara tersebut, dengan hanya mengurungnya di dalam rutan spesial di benteng Batavia!!.

Tak lama setelah kejadian itu di tahun yang sama 1629 Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen meninggal dunia (penyebab kematian Coen hingga kini masih menjadi tanda tanya, ada sumber mengatakan karena sakit malaria atau kolera, ada pula yang mengatakan tewas dalam serangan bala tentara Islam Mataram pimpinan Sultan Agung – Jan Pieterszoon Coen dimakamkan di pekuburan di halaman samping gereja Oud Hollandsche Kerk yang kini menjadi Museum Wayang). Selanjutnya Jacques Specx yang tiba di Batavia sekembalinya dari negeri Belanda diangkat menjadi Gubernur Jenderal mengantikan Coen.

Tidak ada catatan mengenai reaksi Specx atas kejadian yang menyangkut putrinya tersebut namun ia menolak untuk datang ibadah hari minggu sebagaimana juga yang dilakukan para hakim yang menyidangkan perkara anaknya. Sementara Sara pada 20 Mei 1632 diketahui menikah dengan seorang Pendeta Protestan berkebangsaan Jerman yang bekerja untuk VOC, Georg Candidus (1597-1647). Setahun kemudian Mei 1633 mereka pindah ke daerah kekuasaan VOC di Formosa (Taiwan) dan meninggal sebagai wanita terhormat dalam usia muda pada sekitar tahun 1636.

©2008 arie saksono

Disusun dari berbagai sumber.

About these ads

7 Responses to Kisah SARA SPECX-Batavia 1629

  1. fitri says:

    apa itu collegie van schepenen, collegie van heemraden, dan raad de justitie?
    terima kasih anda mau membantu

  2. saksonoarie says:

    Halo fitri, makasih sdh mau berkunjung!.
    semua istilah itu stahu saya merupakan istilah lama susunan administrasi pemerintahan, semacam dewan pemerintahan kota.

    Collegie/ college van schepenen itu dewan pemerintahan kota/- tata praja, (istilah bhs inggrisnya, college of magistrates).

    Collegie van heemraden adalah:
    (saya ambil contoh definisi college van heemraden-nya batavia tahun 1664, ya..)
    “Het College van Heemraden in Batavia werd opgericht in 1664. Het hield zich bezig met landbezit, met de bouw, aanleg en onderhoud van wegen, bruggen, grachten, sloten, dijken en dammen en het College was verantwoordelijk voor de publieke veiligheid in het gebied.”

    Jadi, Het College van Heemraden, semacam dewan yang mengurusi kepemilikan tanah, pembangunan, penataan dan perawatan jalan, jembatan, kanal, parit, tanggul, dan bendungan dan dewan tersebut bertanggung jawab atas keamanan publik di kawasan tersebut.

    terus yang terakhir, Raad van Justitie, adalah dewan peradilan, perkembangannya panjang.., tahun 1798 Raad van Justitie sempat diubah menjadi Hooge Raad, dan kemudian raad van justitie (>istilah bhs inggrisnya Court of Justice) di Batavia, juga merupakan “Supreme Court of Justice” untuk lingkungan wilayah kehakiman kota2 lain spt Semarang dan Surabaya.

    Bagaimana? segitu aja dulu ya.., nanti mungkin kalo sempat diuraikan secara khusus deh.

  3. semi says:

    calan lengkap banget.asik banget…ada yang lain gak

  4. mark says:

    Sy mau tnya apakah sekejam itu hukuman atas perjinahaan?

  5. vera says:

    good posting……..wew klo jaman sekarang berapa banyak kepala yang akan terpenggal, ribuan kali ya, secara dimana2 banyak yang kumpul kebo……………prihatinnnnnnnnnnnnnn moral generasi muda sekarang

  6. suwadi ap says:

    Saya dari dulu suka baca sejarah..terima kasih, cukup menambah wawasan meskipun tulisan sdh lama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 47 other followers

%d bloggers like this: