ARCA SIWA BHAIRAWA Museum Nasional

Arca Sywa/ Shiwa/ Shiva Bhairawa

Arca Shiwa Bhairawa
Arca Bhairawa di Museum Nasional Jakarta (foto: arie saksono)

Arca Bhairawa Museum Nasional di Jakarta ditemukan di kawasan persawahan di tepi sungai di Padang Roco, Kabupaten Sawahlunto, Sumatera Barat. Arca Bhairawa dengan tinggi lebih dari 3 meter ini merupakan jenis arca Tantrayana. Arca Bhairawa tidak dalam kondisi utuh lagi, terutama sandarannya. Arca ini tidak banyak dijumpai di Jawa, karena berasal dari Sumatera. Sebelum ditemukan hanya sebagian saja dari arca ini yang menyeruak dari dalam tanah. Masyarakat setempat tidak menyadari bahwa itu merupakan bagian dari arca sehingga memanfaatkannya sebagai batu asah dan untuk menumbuk padi. Hal ini dapat dilihat pada kaki sebelah kirinya yang halus dan sisi dasar sebelah kiri arca yang berlubang.

Arca Bhairawa tangannya ada yang dua dan ada yang empat. Namun arca di sini hanya memiliki dua tangan. Tangan kiri memegang mangkuk berisi darah manusia dan tangan kanan membawa pisau belati. Jika tangannya ada empat, maka biasanya dua tangan lainnya memegang tasbih dan gendang kecil yang bisa dikaitkan di pinggang, untuk menari di lapangan mayat damaru/ ksetra. Penggambaran Bhairawa membawa pisau konon untuk upacara ritual Matsya atau Mamsa. Membawa mangkuk itu untuk menampung darah untuk upacara minum darah. Sementara tangan yang satu lagi membawa tasbih. Wahana atau kendaraan Syiwa dalam perwujudan sebagi Syiwa Bhairawa adalah serigala karena upacara dilakukan di lapangan mayat dan serigala merupakan hewan pemakan mayat. Walaupun banyak di Sumatera, beberapa ditemukan juga di Jawa Timur dan Bali. Bhairawa merupakan Dewa Siwa dalam salah satu aspek perwujudannya. Bhairawa digambarkan bersifat ganas, memiliki taring, dan sangat besar seperti raksasa. Bhairawa yang berkategori ugra (ganas).

Bhairawa mangkuk&belati
Arca Bhairawa memegang mangkuk dan belati (foto: Arie saksono)

Bhairawa bayi&tengkorak
Siwa berdiri di atas mayat bayi korban dan tengkorak (foto: arie saksono)

Arca Perwujudan Adityawarman
Arca ini berdiri di atas mayat dengan singgasana dari tengkorak kepala. Arca Siwa Bhairawa ini konon merupakan arca perwujudan Raja Adithyawarman, pendiri Kerajaan Pagaruyung di Sumatra Barat pada tahun 1347. Nama Adityawarman sendiri berasal dari kata bahasa Sansekerta, yang artinya kurang lebih ialah “Yang berperisai matahari” (adhitya: matahari, varman: perisai). Adithyawarman adalah seorang panglima Kerajaan Majapahit yang berdarah Melayu. Ia adalah anak dari Adwaya Brahman atau Mahesa Anabrang, seorang senopati Kerajaan Singasari yang diutus dalam Ekspedisi Pamalayu dan Dara Jingga, seorang puteri dari raja Sri Tribhuwanaraja Mauliwarmadewa dari Kerajaan Dharmasraya.Kitab Pararaton menyebutkan bahwa Raden Wijaya memperistri seorang putri Sumatera bernama Dara Petak dan memiliki anak yang bernama Kalagemet. Seorang kerabat raja bergelar “dewa” (bangsawan) memperistri putri lainnya bernama Dara Jingga, dan memiliki anak yang bernama “Tuhan Janaka“, yang lebih dikenal sebagai Adityawarman. Di dekat Istano Basa, Batusangkar, ada sekelompok batu prasasti yang menceritakan tidak saja sejarah Minang, tapi sepenggal sejarah Nusantara secara utuh. Dari buku panduan disebutkan bahwa batu-batu prasasti yang disebut “Prasasti Adityawarman” itu menghubungkan Nusantara secara keseluruhan berkaitan dengan Kerajaan Majapahit.

Di dalam beberapa babad di Jawa dan Bali, Adityawarman juga dikenal dengan nama Arya Damar dan merupakan sepupu sedarah dari pihak ibu dengan Raja Majapahit kedua, yaitu Sri Jayanegara atau Raden Kala Gemet. Diperkirakan Adityawarman dibesarkan di lingkungan istana Majapahit, yang kemudian membuatnya memainkan peranan penting dalam politik dan ekspansi Majapahit. Saat dewasa ia diangkat menjadi Wrddhamantri atau menteri senior, bergelar “Arrya Dewaraja Pu Aditya“. Demikian pula dengan adanya prasasti pada Candi Jago di Malang (bertarikh 1265 Saka atau 1343 M), yang menyebutkan bahwa Adityawarman menempatkan arca Maňjuçrī (salah satu sosok bodhisattva) di tempat pendarmaan Jina (Buddha) dan membangun candi Buddha di Bumi Jawa untuk menghormati orang tua dan para kerabatnya.

Adityawarman, Majapahit dan Pagaruyung
Adityawarman turut serta dalam ekspansi Majapahit ke Bali pada tahun 1343 yang dipimpin oleh Gajah Mada. Babad Arya Tabanan, menyebutkan bahwa Gajah Mada dibantu seorang ksatria keturunan Kediri bernama Arya Damar, yang merupakan nama alias Adityawarman. Diceritakan bahwa ia dan saudara-saudaranya membantu Gajah Mada memimpin pasukan-pasukan Majapahit untuk menyerbu Pejeng, Gianyar, yang merupakan pusat Kerajaan Bedahulu, dari berbagai penjuru. Kerajaan Bedahulu adalah kerajaan kuno yang berdiri sejak abad ke-8 sampai abad ke-14 di pulau Bali, dan diperintah oleh raja-raja keturunan dinasti Warmadewa. Ketika menyerang Bali, Raja Bali yang menguasai saat itu adalah seorang Bhairawis penganut ajaran Tantrayana. Untuk mengalahkan Raja Bali itu, maka Adityawarman juga menganut Bhairawis untuk mengimbangkan kekuatan. Pertempuran yang terjadi berakhir dengan kekalahan Bedahulu, dan patih Bedahulu Kebo Iwa gugur sementara raja Sri Astasura Ratna Bumi Banten pergi mengasingkan diri. Setelah Bali berhasil ditaklukan, Arya Damar (Adityawarman) kembali ke Majapahit dan diangkat menjadi raja di Palembang. Sebagian saudara-saudara Arya Damar ada yang menetap di Bali, dan di kemudian hari salah seorang keturunannya mendirikan Kerajaan Badung di Denpasar.

shiva Bhairawa

Pada saat melakukan politik ekspansi di tanah Melayu, Adityawarman diberi tanggung jawab sebagai wakil (uparaja) Kerajaan Majapahit. Segera setelah Adityawarman tiba di Sumatera, ia menyusun dan mendirikan kembali Kerajaan Mauliawarmmadewa, menaklukan sisa-sisa Kerajaan Sriwijaya, dan akhirnya juga mendirikan Kerajaan Pagarruyung/ Pagaruyung (Minangkabau) di Sumatra Barat dan mengangkat dirinya sebagai Mahãrãjãdhirãja (1347). Sepeninggalnya, kekuasaan Adityawarman di Pagaruyung diteruskan oleh anaknya yang bernama Ananggawarman. Keturunan Adityawarman dan Ananggawarman selanjutnya agaknya bukanlah raja-raja yang kuat. Pemerintahan kemudian digantikan oleh orang Minangkabau sendiri yaitu Rajo Tigo Selo, yang dibantu oleh Basa Ampat Balai. Daerah-daerah Siak, Kampar dan Indragiri kemudian lepas dan ditaklukkan oleh Kesultanan Malaka dan Kesultanan Aceh, dan kemudian menjadi kerajaan-kerajaan merdeka.

Aliran Tantrayana
Menurut catatan sejarah, Raja Kertanegara dari Kerajaan Singasari, saat diserang oleh tentara Kerajaan Kediri (1292) sedang pesta makan minum sampai mabuk. Kenyataannya adalah bahwa pada saat serbuan tentara Kediri tersebut Kertanegara bersama dengan para patihnya, para Mahãwrddhamantri dan para pendeta-pendeta terkemukannya sedang melakukan upacara-upacara Tantrayana.

Bhairawa Kertanegara
Arca Bhairawa perwujudan Raja Kertanegara dari Candi Singosari kini masih tersimpan di Tropen Museum Leiden Belanda

Bhairawa Replika
Replika Arca Bhairawa perwujudan Raja Kertanegara dari Candi Singosari di Museum Nasional Jakarta (foto: arie saksono)

Kertanegara adalah seorang penganut setia aliran Budha Tantra. Prasasti tahun 1289 pada lapik arca Joko Dolok di surabaya menyatakan bahwa Krtanegara telah dinobatkan sebagai Jina (Dhyani Buddha) yaitu sebagai Aksobya, dan Joko Dolok itu adalah arca perwujudannya. Sebagai Jina, Kertanegara bergelar Jnanaciwabajra. Setelah wafat ia dinamakan Çiwabuddha yaitu dalam kitab Pararaton dan dalam Nagarakartagama >Mokteng (yang wafat di) Çiwabuddhaloka sedangkan dalam prasasti lain >Lina ring (yang wafat di) Çiwabuddhalaya. Kertanegara dimuliakan di Candi Jawi sebagai Bhatara Çiwabuddha/ SiwaBuddha di Sagala bersama dengan permaisurinya Bajradewi, sebagai Jina (Wairocana) dengan Locana dan di Candi Singosari sebagai Bhaiwara.

Istilah Tantrayana ini berasal dari akar kata “Tan”  yang artinya memaparkan kesaktian atau kekuatan daripada Dewa itu. Di India penganut Tantrisme banyak terdapat di India Selatan dibandingkan dengan India Utara. Kitab kitab yang memuat ajaran Tantrayana banyak sekali antara lain : Maha Nirwana Tantra, Kularnawa Tantra, Tantra Bidhana, Yoginirdaya Tantra, Tantra sara. Tantrayana berkembang luas sampai ke Cina, Tibet, dan Indonesia dari Tantrisme munculah suatu faham “Bhirawa” atau “Bhairawa” yang artinya hebat.

Bhairawa tantra
Ciri khas arca aliran Tantrayana berdiri di atas tengkorak (foto: arie saksono)

Paham Bhirawa secara khusus memuja kehebatan daripada sakti, dengan cara-cara khusus. Bhairawa berkembang hingga ke Cina, Tibet, dan Indonesia. Di nusantara masuknya saktiisme, Tantrisma dan Bhairawa, dimulai sejak abad ke VII melalui kerajan Sriwijaya di Sumatra, sebagaimana diberikan terdapat pada prasasti Palembang tahun 684, berasal dari India selatan dan Tibet. Dari bukti peninggalan purbakala dapat diketahui ada tiga peninggalan purbakala yaitu : Bhairawa Heruka yang terdapat di Padang Lawas Sumatra barat, Bhairawa Kalacakra yang dianut oleh Kertanegara – Raja Singasari Jawa Timur, serta oleh Adityawarman pada zaman Gajah Mada di Majapahit, dan Bhairawa Bima di Bali yang arcanya kini ada di Kebo Edan – Bedulu Gianyar.

Dalam upacara memuja Bhairawa yang dilakukan oleh para penganut aliran Tantrayana yaitu cara yang dilakukan oleh umat Hindu/ Budha untuk dapat bersatu dengan dewa pada saat mereka masih hidup karena pada umumnya mereka bersatu atau bertemu dengan para dewa pada saat setelah meninggal sehingga mereka melakukan upacara jalan pintas yang disebut dengan Upacara ritual Pancamakarapuja.

Pancamakarapuja adalah upacara ritual dengan melakukan 5 hal yang dilarang dikenal dengan 5 MA:

  1. MADA atau mabuk-mabukan
  2. MAUDRA atau tarian melelahkan hingga jatuh pingsan
  3. MAMSA atau makan daging mayat dan minum darah
  4. MATSYA atau makan ikan gembung beracun
  5. MAITHUNA atau bersetubuh secara berlebihan

Mereka melakukan upacara tersebut di Ksetra atau lapangan untuk membakar mayat atau kuburan sebelum mayat di bakar saat gelap bulan.

Pada zaman dahulu penjagaan keamanan dan pengendalian pemerintahan di wilayah kekuasaan berdasarkan pada kharisma dan kekuasaan raja. Kertanegara menganut Bhairawa Kalacakra untuk mengimbangi kekuatan Kaisar Khu Bhi Lai Khan di Cina yang menganut Bhairawa Heruka. Kebo Paru, Patih Singasari menganut Bhairawa Bhima untuk mengimbangi Raja Bali yang kharismanya sangat tinggi pada jaman itu. Adityawarman menganut Bhairawa Kalacakra untuk mengimbangi raja-raja Pagaruyung di Sumatra barat yang menganut Bhairawa Heruka.

Aliran-aliran Bhairawa cenderung bersifat politik, untuk mendapatkan kharisma besar yang diperlukan dalam pengendalian pemerintahan dan menjaga keamanan wilayah kekuasaan (kerajaan), seperti halnya pemimpin dari kalangan militer di masa sekarang. Karena itu raja-raja dan petinggi pemerintahan serta pemimpin masyarakat pada zaman dahulu banyak yang menganut aliran ini.

©2008 arie saksono

About these ads

23 Responses to ARCA SIWA BHAIRAWA Museum Nasional

  1. yuni andini says:

    kalau kita mo ksna membwa pelajar kira-kira masuknya berapa?

  2. yuni andini says:

    aku minta alamat museum nasional -tugu monas jakarta.

  3. saksonoarie says:

    Maaf Mba yuni andini pertanyaannya baru saya balas, saya baru kembali dari luar kota, jadi belum sempat nge-net, mudah-mudahan belum terlambat, ini infomasi yang saya tahu:

    Museum Nasional
    Jl. Merdeka Barat No. 12, Jakarta Pusat
    Opening Times:
    Selasa, Rabu, Kamis, Minggu 08.30 – 14.30; Jumat 08.30 – 11.30; Sabtu 08.30 – 13.30; Senin – Tutup
    Admission charges:
    Adults – Rp. 750, Children under 17 years and students – Rp. 250
    Info lebih lanjut:
    http://www.museumnasional.org

    Monumen Nasional – MONAS
    Jl. Silang Monas, Jakarta Pusat
    Monumen dan museum ini dibuka setiap hari, mulai pukul 09.00 – 17.00 WIB.
    Harga tiket masuk sampai ke pelataran puncak Monas Rp. 7.500.
    Harga tiket masuk untuk sampai di cawan saja Rp. 2.500
    Unit Pengelola Monumen Nasional (Monas)
    Jl. Kebon Sirih No. 22 Blok. H. Lt IX Jakarta Pusat Telp : 3823041

    http://disbudmuseum.jakarta.go.id/

    mba yuni bisa cross check lagi di alamat di atas. ok.
    thx, arie.

  4. YUNI says:

    mas arie terima kasih, balasan’a sudah saya terima.mas maaf kalau ada perkembangan baru tentang sejarah tolong kasih tahu saya.thx.

  5. Irsam says:

    Bagus mas artikel nya …
    Kalau mau gambar Bhairawa singosari yg di Leiden museum, saya punya.
    Dulu pernah surf ke Leiden Museum dan dapat gambarnya dg ukuran besar.
    Silahkan kontak …

    Tks and Salam / Sam

  6. [...] informasi bahwa MADA dalam bahasa Minang adalah kebal. Disamping itu saya menemukan dalam halaman ini, bahwa dalam upacara ritual Pancamakarapuja, yaitu upacara memuja Bhairawa yang dilakukan oleh para [...]

  7. saksonoarie says:

    halo mas irsam,
    terima kasih sudah mau berkunjung dan membaca artikel ini. trima kasih juga info-nya, saya kbetulan sudah browse ksana, tapi untuk gambar di artikel ini biar saya pake gambar a/ foto sendiri aja.. kalo ada info tambahan lagi boleh dong di-share ke saya ya..

    Thx, Salam Indonesia! >arie

  8. Adi Leonard.SS says:

    sangat ingin tahu tentang tantrayana, dan mau lihat gambar heruka! Saya orang Tanah Datar (Pagaruyung).Mengejutkan bagi masyarakat disini bila tahu tentang kebudayaan mereka di zaman klasik saat adityawarman (Hindu-Budha). Terima kasih, dan mohon informasinya.

  9. saksonoarie says:

    Halo mas adi, trima kasih dah mau singgah, untuk bacaan tambahan lebih lanjut tentang tantrayana, mas bisa berkunjung ke alamat ini:

    http://article.melayuonline.com/?a=RnFxL3FMZVZBUkU4Ng%3D%3D=

    http://www.parisada.org/index.php?option=com_content&task=view&id=277&Itemid=29

    http://mistis.info/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=148

    Thx, Salam Indonesia! >arie

  10. winda says:

    waaahhh,,, benar2 membantu pelajaran saya di sekolah. terutama saat presentasi analisis, terima kasih!!!!!

  11. Daluang says:

    Salam kenal,

    Ulasan yg menarik mengenai Bhairawa dan wajrayana.

    Pustaka Daluang

  12. susanto yunus alfian says:

    your article is good enough. please write other articles. thanks.

  13. Livitha says:

    Terimakasih untuk tulisannya. Bisa memenuhi rasa ingin tau saya, ttg sejarah. Nulis terus ya, Mas !

  14. ionna says:

    alhamdilillah dengan saya membaca data di atas, saya mendapatkan informasi dan sangat membantu untuk saya melaksanakan uji kompetensi guiding di museum nasional …

    terimakasih …

    by
    ionna

  15. [...] informasi bahwa MADA dalam bahasa Minang adalah kebal. Disamping itu saya menemukan dalam halaman ini, bahwa dalam upacara ritual Pancamakarapuja, yaitu upacara memuja Bhairawa yang dilakukan oleh para [...]

  16. ruben "pippo" guterres says:

    terima kasih atas informasi yang sudah ditampilkan, sangat membantu say dalam menambah referansi guna penyelesaian tugas makalah saya.
    makasi sekali lg…!
    “ben…

  17. arum says:

    salam kenal,
    terima kasih atas info yg saya dapat dari artikel ini.
    arum

  18. gena says:

    waaah makasi bgt mas, tulisan ini membantu saya bgt,, kebetulan saya KKL di Pura Kebo Edan yg juga ada arca Bhairawanya,,, hmmm jd sy baru tau klo ternyata ada jenis arca bhairawa yg lain setelah baca artikel ini,,, tatap menulis tentang sejarah2 lain ya mas,,,thx

  19. Amir Sidharta says:

    Bung Arie,
    Apakah anda punya foto Bhairawa ini ketika di situsnya dulu?
    Sepertinya ini patung terbesar di Indonesia ya?
    –Amir

    ——————————————
    Amir Sidharta
    follow me on twitter: @senirupa

  20. saksonoarie says:

    @pak amir sidharta: sdh saya tambahkan di artikel. kalau sbg yg terbesar saya blm ada informasi pastinya, tp sepengetahuan saya masih ada arca lainnya yang besar spt ini: arca dwarapala singosari, arca Dhyani Buddha Wairocana, Boddhisatwa Awalokiteswara dan Wajrapani di candi mendut.

  21. terimakasih infonya.
    bisa menambah pengetahuan saya.

  22. Khulil says:

    Makasih kk dah Diminta keterangan makasih banget Dah nambah Ilmu Saya Thank Ya kk

    By;Khulil Anak SDN Campurejo 2

    Thank Banget Kk Arie SuksAna

  23. herizal.alwi2010@gmail.com says:

    Nice words

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 45 other followers

%d bloggers like this: