Gubernur Jenderal VOC dan Nederlandsch Indiё

May 20, 2008

 

  

Banyak yang kadang keliru menganggap Jan Pieterszoon Coen adalah Gubernur Jenderal VOC yang pertama di Oost Indiё. Memang ia yang mendirikan kota Batavia pada 30 Mei 1619, setelah mengalahkan pasukan Inggris yang bersekutu dengan vasal kerajaan Banten pimpinan Pangeran Jayawikarta. Namun demikian Coen adalah gubernur Jenderal VOC yang ke-4 di Oost Indiё. Bagi yang senang sejarah dan ingin cek silang data, di bawah ini adalah daftar nama-nama Gubernur Jenderal Belanda dalam masa periode VOC dan Nederlandsch Indie. 

Gouverneurs-generaal VOC op rij:

Benoemd door de Heeren XVII (diangkat oleh Heeren XVII):

1610-1614    Pieter Both 

1614-1615    Gerard Reynst

1616-1619     Laurens Reaal

1619-1623    Jan Pieterszoon Coen

1623-1627    Pieter Carpentier

1627-1629    Jan Pieterszoon Coen

1629-1632    Jacques Specx

1632-1636    Hendrik Brouwer

1636-1645    Antonio van Diemen

1645-1650    Cornelis van der Lijn

1650-1653    Carel Reyniersz

1653-1678    Joan Maetsuycker

1678-1681    Rijcklof van Goens

1681-1684    Cornelis Speelman

1684-1691    Johannes Camphuys

1691-1704    Willem van Outhoorn

1704-1709   Joan van Hoorn

1709-1713    Abraham van Riebeeck

1713-1718     Christoffel van Swoll

1718-1725    Hendrick Zwaardecroon

1725-1729    Mattheus de Haan

1729-1731    Diederik Durven

1732-1735    Dirk van Cloon

1735-1737    Abraham Patras

1737-1741    Adriaan Valckenier

1741-1743    Johannes Thedens (waarnemend)

1743-1750    Gustaaf Willem Baron van Imhoff

1750-1761    Jacob Mossel

1761-1775    Petrus Albertus van der Parra

1775-1777    Jeremias van Riemsdijk

1777-1780    Reinier de Klerk

1780-1796    Willem Arnold Alting

 

Periode Nederlandsch Indie

Benoemd door de Nederlandse overheid:

(Diangkat oleh pemerintah Belanda):

1796-1801    Pieter Gerardus van Overstraten

1801-1805    Johannes Siberg (in 1801 waarnemend)

1805-1808    Albertus Henricus Wiese

1808-1811    Herman Willem Daendels

1811              Jan Willem Janssens

1811              Lord Minto (gouverneur-generaal van Brits-Indië)

1811-1816     Thomas Stamford Raffles (luitenant-gouverneur)

1816              John Fendall (luitenant-gouverneur)

1816-1826    G.A.G.Ph. Baron van der Capellen

1826-1830    L.P.J. Burggraaf du Bus de Gisignies (comm.-generaal)  

1830-1833    J. Graaf van den Bosch (comm.generaal 1833-1834)

1833-1836    J.C. Baud (aanvankelijk waarnemend)

1836-1840    D.J. de Eerens

1840-1841    C.S.W. Graaf van Hogendorp (waarnemend)

1841-1844    P. Merkus (waarnemend tot 1843)

1844-1845   J.C. Reynst (waarnemend)

1845-1851    J.J. Rochussen

1851-1856    A.J. Duymaer van Twist

1856-1861    C.F. Pahud

1861              A. Prins (waarnemend)

1861-1866    L.A.J.W. Baron Sloet van de Beele

1866             A. Prins (waarnemend)

1866-1872    P.Mijer

1872-1875    J. Loudon

1875-1881    J.W. van Lansberge

1881-1884    F. ’s Jacob

1884-1888    O. van Rees

1888-1893    C. Pijnacker Hordijk

1893-1899    C.H.A. van der Wijck

1899-1904    W. Rooseboom

1904-1909   J.B. van Heutsz

1909-1916    A.F.W. Idenburg

1916-1921     J.P. Graaf van Limburg Stirum

1921-1926    D. Fock

1926-1931    jhr. A.C.D. de Graeff

1931-1936    jhr. B.C. de Jonge

1936-1945    jhr. A.W.L. Tjarda van Starkenborgh Stachouwer      

                     (1942-1945 Japans gevangene – tawanan Jepang)

1942 en 1944-1948 H.J. van Mook (luitenant-gouverneur-generaal)

1948-1949    L.J.M. Beel (Hoge Vertegenwoordiger van de Kroon)

1949             A.H.J. Lovink (Hoge Vertegenwoordiger van de Kroon)

*waarnemend = pengganti – sementara

©2007 arie saksono

Sumber:
Algemene informatie Nederlandsch-Indie/Informatie
www.home.planet.nl  


Kerajaan Boti di Pulau Timor

May 20, 2008

Kawasan pegunungan Timor Tengah Selatan (foto: arie saksono)


Kabupaten Timor Tengah Selatan yang terletak di Pulau Timor, Nusa Tenggara Timur banyak menyimpan ragam suku budaya. Di kabupaten yang berpenduduk sekitar 400 ribu jiwa ini dahulu terdapat beberapa kerajaan-kerajaan kecil seperti. Salah satu yang masih tersisa hingga kini adalah Kerajaan Boti yang mendiami kawasan pegunungan di kecamatan Kie, Kabupaten Timor Tengah Selatan.


Kondisi jalan menuju Desa Boti (foto: arie saksono)


Suku Boti merupakan keturunan dari suku asli pulau Timor, Atoni Metu. Wilayah kerajaan Boti terletak sekitar 40 km dari kota kabupaten Timor Tengah Selatan, So’e, secara administratif kini menjadi desa Boti kecamatan Kie. Karena letaknya yang sulit dicapai di tengah pegunungan, desa Boti seakan tertutup dari peradaban modern dan perkembangan zaman.

Berjalannya perputaran roda waktu seakan tidak menyentuh kerajaan Boti. Warga Boti hingga kini masih hidup dalam kesahajaan mereka dan tetap memegang teguh pada tradisi leluhur mereka. Kehidupan warga Boti hingga kini masih bergantung pada kerasnya alam daratan Pulau Timor.


Raja Boti yang Bersahaja

Raja Boti, Usif Nama Benu, baru saja menggantikan ayahnya, Usif Nune Benu yang wafat pada bulan Maret 2005. Usif adalah sebutan atau gelar yang diberikan Suku Boti terhadap raja mereka yang juga merupakan pemimpin adat dan spiritual warga Boti. Sejak meninggalnya Usif Nune Benu, orang Boti menjalani masa berkabung, karena itu selama tiga tahun lamanya orang Boti tidak mengadakan pesta-pesta adat. Menurut sang Raja baru, Usif Nama Benu, biasanya mereka mengadakan kegiatan pesta adat seusai panen namun selama masa berkabung ini ditiadakan untuk menghormati sang ayah Usif Nune Benu.


Almarhum Raja Boti Usif Nune Benu

Masyarakat Suku Boti berkabung selama 3 tahun setelah wafatnya

Raja Boti Usif Nune Benu pada bulan Maret 2005


Raja Boti, Usif Nama Benu (foto: arie saksono)


Suku Boti dikenal sangat memegang teguh keyakinan dan kepercayaan mereka yang disebut Halaika. Mereka percaya pada dua penguasa alam yaitu Uis Pah dan Uis Neno. Uis Pah sebagai mama atau ibu yang mengatur, mengawasi, dan menjaga kehidupan alam semesta beserta isinya termasuk manusia. Sedangkan Uis Neno sebagai papa atau bapak yang merupakan penguasa alam baka yang akan menentukan seseorang bisa masuk surga atau neraka berdasarkan perbuatannya di dunia.


Lopo, bangunan tempat warga Boti berkumpul (foto: arie saksono)


Menurut falsafah hidup orang Boti manusia akan selamat dan sejahtera bila merawat dan melestarikan lingkungan hidup. Dalam kehidupan keseharian mereka segala sesuatu mereka dapatkan dari alam seperti halnya keperluan sandang yang dibuat dari benang kapas dan pewarna yang mereka dapatkan dari tumbuhan di lingkungan sekitar mereka.


Kegiatan sehari-hari menenun dan memintal (foto: arie saksono)


Berkumpul sambil ber-sirihpinang sepulang dari ladang (foto: arie saksono)


Dalam kehidupan sehari-hari ada pembagian tugas yang jelas antara kaum lelaki dan perempuan. Para lelaki bertugas mengurusi permasalahan di luar rumah, seperti berkebun, dan berburu. Sementara urusan rumah tangga, diserahkan kepada kaum perempuan. Meskipun pembagian peran ini biasa dijumpai dalam sistem kekerabatan, ada satu hal yang membuat warga Boti agak berbeda, mereka menganut monogami atau hanya beristri satu. Seorang lelaki Boti yang sudah menikah, dilarang memotong rambutnya. Sehingga bila rambut mereka semakin panjang, mereka akan menggelungnya seperti konde.


Bila kepercayaan dan aturan adat Boti dilanggar, maka akan dikenakan sanksi, tidak akan diakui sebagai penganut kepercayaan Halaika, berarti harus keluar dari komunitas suku Boti, sebagaimana yang terjadi pada putra sulung Laka Benu, kakak dari Raja Usif Nama Benu. Laka Benu yang seharusnya menjadi putra mahkota, memeluk agama Kristen sehingga ia harus meninggalkan komunitas Boti.

Menurut Molo Benu, yang juga merupakan adik dari Usif Nama Benu, untuk dapat terus menjaga dan menjalankan adat dan kepercayaan mereka, anak-anak dalam satu keluarga dibagi dua, separuh dari anak-anak mereka diperbolehkan bersekolah sementara yang lainnya tidak diperkenankan bersekolah dengan tujuan agar dapat teguh memegang adat tradisi mereka. Aturan pendidikan bagi anak-anak Boti bertujuan agar tercipta keseimbangan antara kehidupan masa sekarang dengan kehidupan berdasarkan adat dan tradisi yang sudah diwariskan oleh leluhur mereka.


Banyak kaum tua Boti yang tidak lancar bahkan tidak bisa berbahasa Indonesia termasuk sang raja. Sehari-hari mereka menggunakan bahasa daerah Dawan. Namun demikian bahasa bukan halangan bagi warga Boti untuk menyambut tamu-tamu mereka yang datang ke desa mereka. Keramahan dan senyum hangat mereka rasanya sudah lebih dari cukup sebagai media komunikasi, simbol keterbukaan mereka terhadap para pengunjung yang ingin merasakan kedamaian dan kesahajaan di Desa Boti.


© 2005 arie saksono


Raja Boti Usif Nama Benu & arie, Juli 2005