Tangkuban Perahu – Pesona Misteri Sang Ratu

February 24, 2011


Kawah Ratu Tangkuban Perahu ©2009 arie saksono

…Vóór werd de tandoe (draagstoel) mijner vrouw gedragen door acht Soendaneezen. Zij trippen als zij dragen. Hun pas is kort, er is een rhythmiek in hunne veerende beweging, in den muzikalen tred hunner voeten, waaronder de opwaartsche weg als een instrument wordt, een klankbord van niet tot ons doordringende muziek. En de stille klanken stijgen, hooger en hooger den weg mede op…
(Louis Couperus, Oostwaard, ’S Gravenhage: Leopold Uitgeverij NV, 1923; hlm 135)

Meskipun bukan merupakan gunung berapi yang terbesar ataupun tertinggi di Pulau Jawa, namun sejak dahulu Gunung Tangkuban Perahu telah menarik perhatian banyak orang untuk berkunjung ke sini. Baik dari penjuru nusantara, orang-orang Belanda maupun Eropa yang dahulu bertugas di Hindia-Belanda (Indonesia). Namanya kerap mengisi catatan perjalanan para penjelajah, mulai dari Bujangga Manik dari Pakuan Pajajaran hingga Franz Wilhelm Junghuhn.

Dalam buku P.C. Molhuysen en P.J. Blok “Nieuw Nederlandsch biografisch woordenboek, Deel 6” terbitan tahun 1924, disebutkan gouverneur-generaal Abraham van Riebeeck pada tahun 1713 telah mendaki Gunung Tangkuban Perahu dan Papandayan dengan misi untuk mengenali situasi dan kondisi geografis daerah pegunungan di Pulau Jawa. Setelah perjalanannya itu, Riebeck mulai mengembangkan perkebunan kopi di sekitar daerah Jawa Barat.

Kemudian beberapa masa kemudian, Johannes Olivier Jz, sekertaris pemerintah Hindia Belanda yang bertugas di Palembang, dalam bukunya “Tafereelen en merkwaardigheden uit Oost-Indie” terbitan tahun 1836, mencatat banyak orang Eropa yang berkunjung mendaki Tangkuban Perahu, beberapa nama diantaranya, Dr. (Thomas) Horsfield, botanikus berkebangsaan Inggris pada tahun 1804, Heer Leschenault (Jean Baptiste Leschenault de la Tour), botanikus berkebangsaan Perancis, tahun 1805. Heer Valck yang pada saat itu menjabat sebagai Resident van Krawang tahun 1823. Ahli botani yang mengembangkan Kebun Raya Bogor, Prof. Carl Ludwig Blume di tahun 1824. Selain itu kawasan Tangkuban Perahu tak dapat dipisahkan dari nama Franz Wilhelm Junghuhn, seorang botanikus, geolog, yang mengembangkan perkebunan kina di sekitar kawasan ini. Junghuhn tercatat telah dua kali mengeksplorasi kawasan ini di tahun 1837 dan 1848. Dari perjalanannya menjelajahi pegunungan di Jawa, Junghuhn menuliskannya dalam buku Topografische und naturwissenschaftliche Reisen durch Java (Perjalanan Topografi dan Ilmiah Melintasi Java -(1845), hingga pada tahun 1864 Junghuhn meninggal dunia dan dimakamkan di kaki Gunung Tangkuban Perahu tepatnya di Desa Jayagiri, Lembang.

Perkumpulan Bandoeng Vooruit & Wisata Tangkuban Perahu
Berbeda dengan kegiatan wisata alam mendaki gunung lainnya, kawasan Gunung Tangkuban Perahu relatif mudah dicapai. Pengunjung tidak usah bersusah-payah berjam-jam atau bahkan berhari-hari mendaki untuk menikmati keindahan karena ada akses jalan yang bisa dilalui kendaraan bermotor roda empat hingga menuju bibir kawahnya.


ilustrasi perjalanan menuju Tangkuban Perahu di masa lampau

Louis Couperus, seorang novelis dan penulis berkebangsaan Belanda pun tak melewatkan kesempatan untuk mengunjungi Gunung Tangkuban Perahu dalam perjalanannya ke Nederland India/ Hindia-Belanda. Dalam bukunya yang berjudul Oostwaard terbit tahun 1923, Couperus menyebutkan bahwa untuk menuju ke sana Ia harus bersusah payah melintasi hutan dan mendaki gunung, sementara sang istri ditandu dengan draagstoel atau kursi tandu yang dipanggul oleh delapan orang. Namun kini situasi sudah berubah, tak usah bersusahpayah, siapapun dapat dengan mudah menikmati keindahan kawasan pegunungan Tangkuban Perahu beserta kawah-kawahnya. Gunung Tangkuban Perahu relatif mudah dicapai dengan kendaraan bermotor hingga ke pinggiran kawahnya.

Keberadaan akses jalan raya menuju kawasan Gunung Tangkuban Perahu tidak dapat dipisahkan dari peran perkumpulan “Bandoeng Vooruit”, sebuah organisasi orang-orang Belanda yang tinggal di Bandung. Misi mereka antara lain mengembangkan obyek wisata di wilayah Bandung. Menata dan merias penampilan kota Bandung sebagai daerah tujuan wisata sehingga menarik wisatawan sebanyak-banyaknya untuk datang berkunjung ke Bandung.

Pada sekitar tahun 1924, Heer W. H. Hoogland, ketua Bandoeng Vooruit sudah memikirkan kemungkinan pembangunan jalan raya menuju ke Kawah Ratu, kawah terbesar di kawasan Tangkuban Perahu. Sebelumnya Perhimpunan Sejarawan Alam (Natuur Historische Vereeniging) telah mempelopori pembukaan jalan setapak yang melintasi sebagian wilayah perkebunan Kina Pemanoekan (Pemanukan) dan Tjiasemlanden (Daerah Ciasem) dan sejak saat gunung Tangkuban Perahu menjadi sering didaki. Dan akhirnya pada tahun 1926 pembangunan jalan menuju kawasan Tangkuban Perahu dimulai.


Peta Tangkuban Perahu
(sumber gambar: L. Van der Pijl, Wandelgids voor den G Tangkoeban Prahoe, Bandoeng: Uitgave A.C. Nix & Co, 1932)

Pada bulan September tahun 1928 sekitar 4 kilometer jalan menuju Kawah Ratu dibuka untuk umum. L. Van der Pijl, dalam bukunya “Wandelgids voor den G. Tangkoeban Prahoe”, menyebutkan bahwa pembangunan jalan tersebut memakan total biaya f 30.000; (30.000 Gulden). Karena mahalnya biaya pembangunan dan perawatan fasilitas maka pengunjung yang melalui jalan dikenakan biaya sebesar f 2.50 (2.50 Gulden) bagi kendaraan roda empat dan f 1 (1 Gulden) untuk kendaraan bermotor roda dua. Kemudian jalan menuju Kawah Ratu itu dinamakan Hooglandweg mengacu pada nama Heer W. H. Hoogland, ketua perkumpulan Bandung Vooruit, pencetus ide pembangunan jalan yang hingga kini dapat dinikmati para pengunjung Gunung Tangkuban Perahu.

Berwisata di Kawah Gunung Tangkuban Perahu
Kawasan wisata Gunung Tangkuban Perahu terletak sekitar 30 kilometer di sebelah utara kota Bandung. Secara administratif kawasan Gunung Tangkuban Perahu sebelah selatan berada di bawah wilayah Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Sebelah Utara kecamatan Sagalaherang, dan sebelah timur laut kecamatan Jalancagak kabupaten Subang.

Puncak gunung tertinggi di kawasan Tangkuban Perahu berada pada ketinggian 2.084 meter di atas permukaan air laut. Kawasan ini merupakan salah satu tujuan wisata alam yang banyak dikunjungi wisatawan nusantara maupun mancanegara.

Menurut cerita rakyat setempat nama Tangkuban Perahu berkaitan dengan legenda Sangkuriang, yang dikisahkan jatuh cinta kepada ibunya, Dayang Sumbi. Untuk menggagalkan niat anaknya menikahinya, Dayang Sumbi mengajukan syarat, salah satunya Sangkuriang harus membuat perahu dalam semalam. Saat menyadari usahanya untuk memenuhi syarat itu gagal, Sangkuriang marah dan menendang perahu itu, sehingga mendarat dalam keadaan terbalik. Perahu inilah yang kemudian membentuk Gunung Tangkuban Parahu.

Gunung Tangkuban Perahu merupakan salah satu gunung berapi yang masih aktif di Pulau Jawa. Gunung ini termasuk dalam kategori jenis Strato dengan kawah ganda. Berdasarkan data yang ada sejak abad ke XIX, gunung api ini tidak pernah menunjukkan erupsi magmatik besar selain hanya berupa erupsi kecil yang melontarkan abu tanpa diikuti oleh leleran lava, awan panas ataupun lontaran batu pijar. Selama ini belum pernah ada catatan mengenai adanya banjir lahar yang menyertai letusannya. Letusan Gunung Tangkuban Perahu dapat digolongkan sebagai letusan kecil. Material vulkanik yang dilontarkan umumnya abu yang sebarannya terbatas di sekitar daerah puncak hingga beberapa kilometer. Semburan lumpur panas tercatat hanya terbatas di daerah sekitar kawah.

Letusan besar Gunung Tangkuban Perahu terakhir terjadi pada tahun 1910. Saat itu kolom asap membubung setinggi 2 km di atas dinding kawah, erupsi berasal dari kawah Ratu. Banyaknya letusan yang terjadi selama kurun waktu 1.5 abad terakhir menyebabkan banyaknya kawah di kawasan ini. Tangkuban Perahu memiliki 9 kawah yang masih aktif hingga sekarang. Kawah-kawah tersebut adalah Kawah Ratu, Kawah Upas, Kawah Domas, Kawah Ecoma, Kawah Jurig, Kawah Siluman, Kawah Baru, Kawah Lanang, Kawah Jarian dan Pangguyangan Badak. Di antara kawah-kawah tersebut, Kawah Ratu merupakan kawah yang terbesar, dikuti dengan Kawah Upas yang terletak bersebelahan dengan Kawah Ratu. Beberapa kawah mengeluarkan bau asap belerang, bahkan ada kawah yang dilarang untuk dituruni, karena kepulan asapnya mengandung racun.


Tangkoeban Prahoe 1910_Uitbarsting

Kawah Ratu merupakan kawah terbesar di kawasan Tangkuban Perahu. Kawah kedua terbesar adalah Kawah Upas yang terletak bersebelahan dengan Kawah Ratu, kawah ini bisa dicapai dengan berjalan kaki kurang lebih 30 menit, berjarak sekitar +/- 1,5 kilometer dari pos pengamatan, dengan mengitari tepian bibir Kawah Ratu secara berlawanan arah jarum jam.


Kawah Ratu Tangkuban Perahu foto ©2009 arie saksono

Kawah lainnya yang juga menarik untuk dikunjungi adalah Kawah Domas yang berada sekitar 1,2 kilometer di sebelah timur Kawah Ratu. Kawah ini dapat dicapai melalui jalur jalan setapak menurun melewati hutan dengan pepohonan yang rindang, beberapa bagian terdapat jalan yang curam. Berbeda dengan Kawah Ratu yang menawarkan pemandangan spektakuler berupa kawah luas, di Kawah Domas tampak terlihat hamparan bebatuan dan tebing putih kekuningan dengan celah-celah berongga yang mengeluarkan asap belerang.


Kawah Domas Tangkuban Perahu (foto ©2009 arie saksono)

Di lokasi ini pengunjung juga dapat menjumpai beberapa sumber air panas mendidih dengan aroma asap belerang. Pada sumber air panas tertentu digunakan oleh masyarakat sekitar untuk menyembuhkan penyakit kulit dan di sumber air panas lainnya digunakan untuk merebus telur. Dari Kawah Domas pengunjung dapat berjalan kembali mendaki menuju pelataran parkir Kawah Ratu atau dapat meniti jalan setapak mendatar menuju pelataran parkir bawah.

Menuju Tangkuban Perahu
Kawasan Gunung Tangkuban Perahu dapat dicapai dari kota Bandung menuju arah Utara melewati terminal bus/ angkot Ledeng, Kota Lembang dan kemudian menuju pintu gerbang atau loket masuk. Jalur lain melalui Kota Subang melalui tempat rekreasi dan perkebunan teh Ciater.

Bagi pengunjung yang suka berjalan kaki ataupun mungkin bersepeda terdapat jalan pintas melalui jalur setapak diantaranya melalui Desa Jayagiri, Lembang. Bila memilih jalur ini jangan lupa untuk singgah ke taman Cagar Alam Junghuhn. Di lokasi ini terdapat monument dan makam botanikus dan geolog Franz Wilhelm Junghuhn, yang dahulu terkenal sebagai penjelajah gunung-gunung di Jawa dan perintis pembudidayaan perkebunan tanaman kina di kawasan priangan Jawa Barat. Menjelang perang dunia ke-2, produksi dunia kina (de Cinchona Calisaya), sebagai bahan baku obat penyakit malaria, terbesar, sekitar 91% berasal dari Nederlands-Indie (Indonesia).

Pengunjung dengan angkutan umum dapat naik bis jurusan Bandung-Subang hingga ke pertigaan jalan menuju Tangkuban Perahu. Atau naik minibus jurusan Lembang-Tangkuban Perahu.

Insert
Sejarah Letusan Gunung Tangkuban Perahu, sumber: portal.vsi.esdm.go.id

1829 – erupsi abu dan batu dari kawah Ratu dan Domas
1846 – terjadi erupsi, peningkatan kegiatan
1896 – terbentuk fumarol baru di sebelah utara kawah Badak
1900 – erupsi uap dari kawah Ratu
1910 – kolom asap membubung setinggi 2 km di atas dinding kawah, erupsi berasal dari kawah Ratu
1926 – erupsi freatik di kawah Ratu membentuk lubang Ecoma
1935 – lapangan fumarol baru disebut Badak terjadi, 150 m ke arah selatan baratdaya dari kawah Ratu
1952 – erupsi abu didahului oleh erupsi hidrothermal (freatik)
1957 – erupsi freatik di kawah Ratu, terbentuk lubang kawah baru
1961, 1965, 1967 – erupsi freatik
1969 – erupsi freatik didahului oleh erupsi lemah menghasilkan abu
1971 – erupsi freatik
1983 – awan abu membubung setinggi 159 m di atas Kawah ratu
1992 – peningkatan kegiatan kuat dengan gempa seismik dangkal dengan erupsi freatik kecil
1994 – erupsi freatik di kawah Baru

©2009 arie saksono

Artikel mengenai Gunung Tangkuban Perahu ini pernah dimuat dalam Versi lain pada majalah National Geographic Traveler, Edisi Koleksi : 55 Pendakian Terindah; Desember 2009 by arie saksono




Mengagumi Sang Macan Tidur; Gunung Galunggung

May 13, 2010

Keindahan Danau Kawah Gunung Galunggung ©2009 arie saksono

…Tusschen een en twee ure, des namiddags, trok een zware slag de aandacht der bewoners naar den kant der vallei. Van de voet van den Galoenggoeng, op de plaats waar zich de kom van de Tjikoenir bevindt, zagen zij met vervaarlijke snelheid een ontzaggelijken kolom van rook en damp opstijgen, die met ene geweldige kracht opwaart gedreven werd. Deze reusachtige zuil bedekte weldra den geheelen berg, en verspreidde eene volslagen duisternis over de geheele omstrek…

…Sekitar pukul satu atau dua siang, bunyi gemuruh dahsyat menarik perhatian penduduk ke arah sisi lembah. Dari kaki Gunung Galunggung, di tempat kolam hulu sungai Cikunir berada, mereka melihat dengan kecepatan luar biasa kolom asap dan uap naik ke atas, dengan kekuatan dahsyat membumbung tinggi ke udara. Kolom raksasa ini segera menutupi hampir keseluruhan gunung, dan menebarkan kegelapan ke seluruh wilayah…

(Johannes Olivier Jz, Tafereelen en merkwaardigheden uit Oost-Indie, Amsterdam: G.J.A Beijerinck,1836: hlm 271)

Demikianlah kutipan rekaman dahsyatnya letusan Gunung Galunggung yang terjadi pada tanggal 8 oktober 1822 sebagaimana yang ditulis oleh Johannes Olivier Jz dalam buku “Tafereelen en merkwaardigheden uit Oost-Indie” terbitan tahun 1836. Dalam bukunya, Olivier menuliskan secara gamblang urutan kejadian letusan Gunung Galunggung saat itu yang menelan korban ribuan jiwa.

Kawah Gunung Galunggung sedang terlelap ©2009 arie saksono

Gambaran kengerian akibat letusan Galunggung tersebut kini sirna sudah, digantikan indahnya pemandangan hamparan daratan hijau subur membentang seluas mata memandang yang dapat dijumpai dari puncak bibir kawah Gunung Galunggung. Setelah letusan besar yang terjadi, terbentuklah danau kawah yang luas dengan anak gunung yang menyerupai pulau kecil di tengah danau. Galunggung yang tengah tidur sekarang aman dikunjungi orang-orang yang ingin mengagumi pesona sisa kedahsyatan letusan Gunung Galunggung di masa silam.

Gunung Galunggung dengan ketinggian 2.168 meter di atas permukaan laut merupakan salah satu gunung berapi tipe strato di Pulau Jawa yang masih aktif. Di dalam pembagian fisiografi Jawa Barat, termasuk di dalam zona gunung api kwarter yang terbentuk di bagian tengah daerah Jawa Barat. Menurut Volcanological Survey of Indonesia (VSI), kawasan Gunung Galunggung meliputi areal seluas ± 275 km2 dengan diameter sekitar 27 km (barat laut-tenggara) dan 13 km (timur laut-barat daya). Sebelah barat Gunung Galunggung berbatasan dengan Gunung Karasak, sebelah utara dengan Gunung Talagabodas, sebelah timur dengan Gunung Sawal dan di sebelah selatan berbatasan dengan batuan tersier Pegunungan Selatan. Gunung Galunggung dibagi dalam tiga satuan morfologi, yaitu: Kerucut Gunung Api,  Kaldera, dan Perbukitan Sepuluh Ribu. Karakter letusan Gunung Galunggung umumnya berupa erupsi leleran lava sampai dengan letusan yang sangat dahsyat yang berlangsung secara singkat atau lama.

Sumber: Franz Wilhelm Junghuhn, Java; Deszelfs Gedaante, Bekleeding en Inwendige Structuur, Amsterdam: P.N. van Kampen, 1853

Galunggung, Salah Satu Pusat Spiritual Sunda

Catatan sejarah wilayah Galunggung dimulai pada abad ke XII. Di kawasan ini terdapat suatu Rajyamandala (kerajaan bawahan) Galunggung yang berpusat di Rumantak, yang sekarang masuk dalam wilayah Desa Linggawangi, Kecamatan Leuwisari, Tasikmalaya. Galunggung merupakan salah satu pusat spiritual kerajaan Sunda pra Pajajaran, dengan tokoh pimpinannya Batari Hyang pada abad ke-XII. Saat pengaruh Islam menguat, pusat tersebut pindah ke daerah Pamijahan dengan Syeikh Abdul Muhyi (abad ke XVII) sebagai tokoh ulama panutan. Sumber prasasti Geger Hanjuang yang ditemukan di sana menyebutkan bahwa pada tahun 1033 Saka atau 1111 Masehi, Batari Hyang membuat susuk/ parit pertahanan. Peristiwa nyusuk atau pembuatan parit ini berarti menandai adanya penobatan kekuasaan baru di sana (di wilayah Galunggung). Sementara naskah Sunda kuno lain adalah Amanat Galunggung yang merupakan kumpulan naskah yang ditemukan di kabuyutan Ciburuy, Garut Selatan berisi petuah–petuah yang disampaikan oleh Rakyan Darmasiksa, penguasa Galunggung pada masa itu kepada anaknya.

Sementara Prabu Jaya Pakuan alias Bujangga Manik, seorang resi Hindu dari Kerajaan Sunda, Pakuan Pajajaran yang telah  melakukan dua kali perjalanan dari Pakuan Pajajaran ke Jawa sempat menuliskan Galunggung dalam catatan perjalanannya. Namun demikian tak banyak informasi mengenai Galunggung yang didapat dari naskah ini.

Sadatang ka Saung Galah, sadiri aing ti inya, Saung Galah kaleu(m)pangan, kapungkur Gunung Galunggung, katukang na Panggarangan,ngalalar na Pada Beunghar, katukang na Pamipiran.

(Sesampai di Saung Galah berangkatlah aku dari sana ditelusuri Saung Galah, Gunung Galunggung di belakang saya, melewati Panggarangan, melalui Pada Beunghar, Pamipiran ada di belakangku.)

Latusan Dahsyat Galunggung

Menurut catatan sejarah Gunung Galunggung telah meletus sebanyak empat kali, yaitu pada tahun 1822, 1894, 1918 dan dalam kurun waktu tahun 1982-1983. Johannes Olivier Jz dalam bukunya menyebutkankan bahwa sebelum tahun 1822,  tidak ditemukan data tertulis ataupun sumber lisan tentang letusan Gunung Galunggung di masa lampau, baik yang berasal dari sumber asing maupun sumber lokal masyarakat setempat. Naskah-naskah Sunda kuno pun tidak ada yang secara explisit menceritakan mengenai letusan Galunggung di masa silam.

Letusan pertama Gunung Galunggung terjadi pada tanggal 8 Oktober 1822 antara jam 13.00 hingga 16.00 WIB, dan disertai beberapa aktivitas vulkanik dan letusan yang tercatat berlangsung hingga tanggal 12 Oktober 1822. Menurut buku Johannes Olivier Jz, “Tafereelen en merkwaardigheden uit Oost-Indie” terbit tahun 1836, sebelum letusan terjadi, sekitar bulan Juli 1822, warga yang berada di sekitar aliran sungai Cikunir, yang berhulu pada Gunung Galunggung, merasakan keanehan yang terjadi pada air sungai. Air Sungai berubah menjadi keruh, tercium bau belerang dan air terasa sedikit pahit. Selain itu warga yang menyeberangi sungai menemukan bekas buih putih pada kaki mereka. Tak lama kemudian kepala Distrik Singaparna segera melakukan penyelidikan. Utusan kepala distrik memeriksa dan mengikuti aliran sungai menuju hulu pada kolam air terjun Bamboelan, di sana mereka menemukan air di kolam tersebut sangat keruh dan hangat. Beberapa waktu kemudian air sungai menjadi kembali jernih namun bau belerang masih tetap ada. Berselang tiga bulan kemudian pada 8 oktober 1822 tanpa ada tanda-tanda di langit, meletuslah sang Galunggung dengan dahsyatnya. Bumi bergetar. Langit bergemuruh. Tanpa peringatan apa-apa Galunggung langsung memuntahkan abu, pasir dan material vulkanik lainnya membumbung tinggi ke angkasa.

Letusan Galunggung pada tahun 1822 ini tercatat sebagai salah satu letusan gunung api yang paling mematikan di dunia karena memakan banyak korban jiwa. Olivier menjabarkan, Di Distrikt Radjapolla (Rajapolah) terdapat 9 kampung yang musnah akibat lumpur panas namun hanya 9 orang tewas, sementara Distrikt Indihiang merupakan kawasan terparah, sekitar 45 kampung tertimbun lumpur, 1100 orang tewas. Di Tassik-malayoe (Tasikmalaya) 14 kampung musnah, 900 orang tewas, sementara di distrikt Singaparna 35 kampung musnah dan 1500 orang menjadi korban. Sementara dalam buku Franz Wilhelm Junghuhn (“Java; Deszelfs Gedaante, Bekleeding en Inwendige Structuur”, Amsterdam, 1853, hlm 143) menyebutkan setelah penelitian resmi yang dilakukan pemerintah (Hindia Belanda) tahun ditetapkan jumlah korban sebanyak 4011 jiwa dan 114 desa musnah. Resident der Pranger Regentschap pada masa itu, Baron R. Van Der Capellen, segera turun tangan setelah mendengar kabar meletusnya Galunggung. Bersama seorang dokter yang bernama Bruininga menolong para pengungsi dan korban letusan Galunggung. Karena besarnya letusan maka Olivier menyebutnya sebagai “Letusan gunung terbesar yang akan terus ada dalam ingatan orang-orang di Pulau Jawa”

Catatan terakhir letusan Gunung Galunggung terjadi pada tanggal 5 April 1982. Letusan disertai dengan suara dentuman dan gemuruh, pijaran api, dan kilatan petir halilintar. Kegiatan letusan terakhir ini berlangsung selama 9 bulan dan berakhir pada 8 Januari 1983. Letusan terakhirnya bertipe vulcanian vertical (seperti letusan cendawan bom atom), yang semburannya mencapai 20 kilometer ke angkasa. Letusan tersebut juga diikuti dengan semburan piroclastic (debu halus) yang menghujani Tasikmalaya, Garut, Cianjur, Bandung, dan kota-kota lain yang berada dalam radius sekitar 100 kilometer dari Gunung Galunggung, termasuk juga hingga ke Jakarta.

Letusan Galunggung yang hebat, sanggup melontarkan debu vulkaniknya hingga membumbung tinggi ke angkasa. Pada 24 Juni 1982 sekitar pukul 20:40, sebuah pesawat boeing 747-236B dengan kode penerbangan G-BDXH milik maskapai penerbangan British Airways Flight 9 dengan 263 penumpang mengalami kerusakan pada ke-empat mesinnya saat melintas di atas samudera hindia sekitar sebelah selatan Pulau Jawa. Pesawat berangkat dari Bandara Heatrow London menuju Auckland Selandia Baru, dengan rute transit Bombay, Madras, Kuala Lumpur, Perth, Melbourne dan Auckland.

Pesawat bertolak dari bandara Sultan Abdul Aziz Shah, Kuala Lumpur, menuju Perth Australia, terbang melintasi Samudera Hindia dengan ketinggian sekitar 37000 kaki (sekitar 11 km) tanpa disadari pesawat terbang masuk ke dalam awan debu vulkanik yang dilontarkan oleh letusan Gunung Galunggung. Debu vulkanik tersebut menyebabkan keempat mesin pesawat mati hingga akhirnya pesawat mengalihkan rutenya menuju Jakarta, namun dapat mendarat darurat dengan aman.

Kedahsyatan letusan Galunggung di masa lalu telah banyak memakan korban harta dan jiwa. Namun demikian selang beberapa waktu setelah letusan, Galunggung memberikan kehidupan kembali bagi tumbuhan dan orang-orang yang tinggal di sekitarnya. Letusan Galunggung memuntahkan jutaan meter kubik lumpur dan pasir vulkanik ke kawasan Tasikmalaya dan sekitarnya, menjadikan kawasan ini subur. Muntahan lahar dingin mengalir mengikuti alur sungai. Aliran sungai dan saluran irigasi yang tertutup lumpur. Sehingga dibangun sebuah check dam (kantong lahar dingin) di daerah Sinagar sebagai tanggul pengaman limpahan banjir lahar dingin ke kawasan Kota Tasikmalaya. Tumpahan material lahar dingin berupa pasir vulkanik dimanfaatkan menjadi tambang pasir selain untuk meminimalkan bahaya banjir lahar dingin. Pasir Galunggung memiliki kualitas yang baik untuk digunakan sebagai bahan material bangunan maupun konstruksi jalan raya. Seiring dengan perkembangan usaha tambang pasir Galunggung, dahulu sempat dibangun jalur khusus jaringan rel Kereta Api menuju ke Stasiun Pirusa sukaratu check dam sinagar sebagai untuk mengangkut pasir dari Gunung Galungung ke Jakarta. Jalur ini ditutup pada tahun 1995.

Menuju Gunung Galunggung

Cerita-cerita kedahsyatan letusan Gunung Galunggung mengundang rasa penasaran orang untuk berkunjung ke sana. Saat ini Galunggung tengah tertidur sehingga aman untuk dikunjungi (sumber: Volcanological Survey of Indonesia, ESDM).

Gunung Galunggung relatif mudah dicapai dari Jakarta. Secara geografis, Gunung Galunggung berada di Desa Linggajati, Kecamatan Sukaratu, Kabupaten Tasikmalaya, Sekitar17 kilometer dari pusat Kota Tasikmalaya.

Untuk menuju ke sana terdapat dua alternatif kota sebagai awal perjalanan menuju ke sana yaitu melalui kota Tasikmalaya atau Singaparna yang nantinya juga akan bertemu di jalan utama menuju Galunggung yang merupakan jalur lalu lintas truk-truk pengangkut pasir.

Sejak dibukanya jalan tol Cipularang, perjalanan dari Jakarta ke Tasikmalaya dapat dicapai dalam waktu sekitar 5 jam saja, dahulu perjalanan dari Jakarta menuju Tasikmalaya via Puncak memakan waktu sekitar 7 hingga 8 jam. Transportasi umum dari Jakarta menuju Tasikmalaya tersedia setiap saat. Namun disarankan untuk berangkat pagi-pagi, sehingga dapat tiba di Tasikmalaya menjelang siang hari dan langsung melanjutkan perjalanan menuju Galunggung.

Klik pada gambar untuk memperbesar (sumber: Google)

Pengunjung yang menggunakan kendaraan pribadi dapat langsung menuju hingga ke areal parkir kawasan Gunung Galunggung, terdapat tiga alternatif:

Dari arah Jakarta atau Bandung setelah melewati Ciawi, Cisayong, sebelum masuk kota Tasikmalaya, di kecamatan Indihiang sebelum terminal bis Indihiang, ada jalan di sebelah kanan menuju Cipanas-Galunggung jaraknya sekitar + 12 km. Dari pusat kota Tasikmalaya langsung  ke arah Barat lewat Jl. Bantar-Tawangbanteng, jaraknya sekitar + 17 km sementara jika dari arah Bandung lewat Garut-Singaparna setelah simpang tiga dekat jembatan Cikunir belok ke arah kiri  + 14 km. Pengunjung dengan kendaraan besar, bis sedang atau besar disarankan untuk mengambil rute Bantar-Tawangbanteng yang sering dilalui truk-truk pengangkut pasir, karena bila melalui Indihiang terdapat jembatan kecil dan sempit yang hanya dapat dilalui satu kendaraan.

Bagi pengunjung dengan kendaraan umum dari arah Jakarta dan Bandung sebaiknya turun di Terminal Bus Tasikmalaya, karena tidak banyak angkutan umum yang lewat di jalur tersebut di atas. Kemudian, perjalanan dilanjutkan naik angkutan kota jurusan Terminal-Galunggung-Singaparna dengan ongkos sekitar Rp. 9.000 per orang. Turun di pintu masuk kawasan Cipanas Galunggung. Kemudian jalan kaki atau naik ojek hingga pelataran parkir di kaki anak tangga menuju kawah.

Alternatif lainnya dapat turun di perempatan Indihiang-Ciponyo (bilang saja ke kondektur mau ke Galunggung), lalu melanjutkan perjalanan dengan menggunakan ojek dengan tarif Rp. 20.000 hingga pintu gerbang objek wisata Galunggung dan ditambah lagi Rp. 15.000 untuk sampai anak tangga menuju  kawah.

Wisata Gunung Galunggung dan sekitarnya

Di kawasan Gunung Galunggung terdapat dua tempat objek wisata , yaitu Danau Kawah dan Pemandian air panas Cipanas. Dari pintu gerbang utama, pengunjung yang ingin ke danau kawah mengambil jalan ke arah kiri. Sedangkan pengunjung yang akan ke Pemandian Cipanas mengambil jalan ke arah kanan.

Tangga menuju Kawah Galunggung©2009 arie saksono

Untuk menikmati pemandangan kawah Gunung Galunggung pengunjung harus mendaki menapaki anak tangga yang berjumlah 620 anak tangga.Dari sana pengunjung dapat mencapai dasar kawah dengan menuruni jalan setapak sekitar 100 meter. Di dasar kawahnya, pengunjung dapat menikmati hamparan luas danau beserta alamnya yang eksotik, memancing aneka jenis ikan air tawar Danau Kawah. Namun demikian Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) atau Volcanological Survey of Indonesia (VSI) tidak merekomendasikan pengunjung untuk mandi, berenang ataupun bersampan di danau kawah. Selain itu juga terdapat sungai dari resapan Danau Kawah, gua, terowongan air menuju Sungai Cibanjaran dan Cikunir, serta masjid kecil yang terletak di sisi seberang kawah. Pada malam hari dari bibir kawahnya, saat cuaca cerah pengunjung dapat melihat keindahan gemerlap lampu-lampu Kota Tasikmalaya dan sekitarnya.

Klik pada gambar untuk memperbesar (sumber: Google)

Bila anda lelah sehabis menaiki tangga Galunggung, sekitar 3 kilometer dari kawah, menuju ke bawah, tidak begitu jauh dari pintu gerbang terdapat lokasi pemandian air panas Cipanas dan dapat dicapai dengan berjalan kaki. Di kawasan ini terdapat kolam renang, kamar mandi, dan bak rendam air panas. Selain itu, bila masih ada waktu, pengunjung juga dapat berjalan kaki menuju air terjun yang terletak tak jauh dari situ.

Selain Danau Kawah dan Pemandian Cipanas, di kawasan tersebut juga terdapat wanawisata (wisata hutan) yang memiliki areal sekitar 120 hektar yang dikelola pihak Perhutani. Kawasan ini berhawa sejuk, udaranya segar, dan teduh, sehingga cocok sekali dijadikan tempat untuk bersantai bersama keluarga atau berkemah.

Selain objek wisata Danau Kawah Galunggung dan pemandian air panas, bila masih ada waktu, maka tidak ada salahnya daam perjalanan pulang, singgah ke objek wisata Situ Gede atau Situ Ageng sebutan masyarakat setempat. Situ Gede adalah sebuah danau dengan luas sekitar 47 hektare. Danau ini terletak sekitar 5 kilometer dari Kota Tasikmalaya. Ditengah-tengah danau terdapat sebuah pulau seluas kurang lebih 1 hektar. Di pulau tersebut terdapat makam keramat Eyang Prabudilaya seorang tokoh legenda masyarakat Tasikmalaya. Di Situ Gede masyarakat dapat menikmati danau yang indah dan tenang dengan latar belakang Gunung Galunggung di kejauhan. Selain itu pengunjung dapat bersantai mengelilingi danau dengan rakit yang banyak disewakan disana.

Insert >>

Galunggung dan Asal Mula Nama Kota Tasikmalaya

Menurut beberapa sumber nama Tasikmalaya tak dapat dipisahkan dengan Gunung Galunggung. Tasikmalaya berasal dari dua kata, tasik dan malaya, mengacu pada kata keusik ngalayah dalam Bahasa Sunda. Keusik berarti pasir dan ngalayah berarti tumpah ruah. Sehingga kemungkinan besar penamaan Tasikmalaya berkaitan dengan letusan Gunung Galunggung di masa silam yang menumpahruahkan pasir ke kawasan ini. Pada saat letusan Galunggung tahun 1822 nama Tassik-malaijo atau Tassik-malaya sudah muncul dalam beberapa sumber buku. Jadi kemungkinan besar sebelumnya Galunggung sudah pernah meletus dengan hebat sehingga muncul nama Tasikmalaya.

Catatan Letusan Galunggung

Letusan pertama terjadi pada tanggal 8 Oktober 1822 diikuti letusan susulan tanggal 12 oktober 1822. Korban jiwa 4011 orang, 114 desa musnah.

Letusan kedua terjadi tahun 1894, selama 13 hari, tanggal 7-19 Oktober 1894. tanggal 27 dan 30 Oktober 1894, terjadi lahar yang mengalir pada alur sungai yang sama dengan lahar yang dihasilkan pada letusan 1822, 50 desa hancur.

Letusan ketiga tahun1918 terjadi selama 4 hari, tanggal 16 – 19 Juli 1918.

Letusan yang terakhir terjadi pada antara tahun 1982-83, terjadi selama 9 bulan, dari tanggal 5 April 1982 – 8 Januari 1983 dengan variasi periode letusan yang berlangsung selama beberapa jam hingga beberapa bulan. Korban jiwa18 orang, 22 desa ditinggal tanpa penghuni

©2009 arie saksono

Artikel mengenai Gunung Galunggung ini pernah dimuat dalam versi lain pada majalah National Geographic Traveler, Edisi Koleksi : 55 Pendakian Terindah; Desember 2009 by arie saksono



Kawasan ANCOL, Dulu dan Sekarang

November 13, 2008

ancol_senja
Ancol di saat senja  (foto: arie saksono) 2008

Sejarah
Di masa sekarang nama Ancol dikenal sebagai kawasan wisata. Karena di kawasan ini terdapat taman wisata dan rekreasi permainan terbesar dan terlengkap di Indonesia. Bila dirunut ke belakang, kawasan Ancol ternyata sudah berdiri sejak abad ke-17. Di antara nama kampung-kampung tua yang ada di Jakarta, salah satunya adalah Ancol. Kawasan Ancol terletak disebelah timur Kota Tua Jakarta, sampai batas kompleks Pelabuhan Tanjung Priuk. Kawasan tersebut kini dijadikan sebuah Kelurahan dengan nama yang sama, termasuk wilayah kecamatan Pademangan, Kotamadya Jakarta Utara.

Nama Ancol berarti tanah rendah berpaya-paya atau payau. Dahulu bila laut sedang pasang air payau kali Ancol berbalik ke darat menggenangi tanah sekitarnya sehingga terasa asin. Orang Belanda pada zaman VOC menyebut kawasan tersebut sebagai Zoute land atau “tanah asin” sebutan yang juga diberikan untuk kubu pertahanan yang dibangun di situ pada tahun 1656 (De Haan 1935:103 – 104). Untuk menghubungkan Kota Batavia yang pada zaman itu berbenteng dengan kubu tersebut, sebelumnya telah dibuat terusan, yaitu Terusan Ancol, yang sampai sekarang masih dapat dilayari perahu. Kemudian dibangun pula jalan yang sejajar dengan terusan yang kini telah dibangun jalan tol yang menghubungkan Priok – Ancol – Kota – Cengkareng.

ancol_rach
Lukisan benteng Belanda di kawasan Ancol
Johannes Rach (1720-1783) – National Library of Indonesia

Pembuatan terusan, jalan dan kubu pertahanan di situ, karena dianggap strategis dalam dalam rangka pertahanan kota Batavia. Sifat strategis kawasan Ancol rupanya sudah dirasakan pada masa agama Islam mulai tersebar di daerah pesisir Kerajaan Sunda. Dalam Koropak 406, Carita Parahiyangan, Ancol disebut – sebut sebagai salah satu medan perang disamping Kalapa Tanjung Wahanten (Banten) dan tempat – tempat lainnya pada masa pemerintahan Surawisessa (1521 – 1535).

Karena letaknya yang dekat dengan benteng atau kastil Belanda di Sunda Kelapa, maka kawasan ini turut mengalami perjalanan sejarah kota Batavia atau Jakarta. Pada masa itu, salah satu Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Adriaan Valckenier 1737-1741 , memiliki rumah peristirahatan sangat indah di tepi pantai.

Bintang Mas Ancol, Oey Tambah Sia
Seiring perjalanan waktu, kawasan itu kemudian berkembang menjadi tempat wisata. Hingga kemudian di sekitar pertengahan abad ke 19 nama Ancol kembali terdengar kembali. Seorang Cina kaya raya Oey Tambahsia memiliki rumah peristirahatan dan pelesiran (suhian) bernama Bintang Mas di kawasan Ancol ini.

Oey Tambahsia adalah anak dari raja tembakau Oey Thoa, pedagang besar Cina yang berasal dari Pekalongan, Jawa Tengah. Ia memiliki toko tembakau terbesar di kawasan Jalan Toko Tiga Glodok. Di Betawi keluarga Oey Thoa cukup terkenal karena kekayaannya. Sayangnya, pedagang kaya raya ini mati muda, Ia meninggalkan warisan melimpah pada putranya, Oey Tambahsia, yang masih muda belia.

Karena kaya ia bahkan memiliki rumah pelesiran pribadi, ia menjadikan tempat ini bukan hanya untuk bersenang-senang, tetapi juga tempat penampungan para wanita yang tergoda akan rayuan, ketampanan, dan harta bendanya. Termasuk sejumlah wanita Belanda yang berselingkuh dari suaminya. Bahkan ada sebuah cerita tentang istri seorang tukang kelontong yang berparas cantik juga rela meninggalkan suaminya dan kemudian tinggal bersama Tambahsia di tempat peristirahatannya di Bintang Mas, Ancol. Mengetahui, istrinya dilarikan ke Ancol, babah tukang kelontong ini segera mencarinya ke Ancol. Namun Pria yang ingin mempertahankan kehormatan dan harga dirinya sebagai suami ini dianggap telah mengganggu kesenangan Tambahsia, dan akhirnya ia dihabisi nyawanya. Si playboy kaya raya ini memang kejam dan banyak kejahatan yang telah dilakukannya, hingga akhirnya pengadilan Batavia menjatuhi Oey Tambahsia si playboy Betawi ini hukuman mati di tiang gantungan.

Si Manis Jembatan Ancol
Nama Ancol tidak dapat dipisahkan dari cerita Siti Ariah atau Mariam, yang lebih populer di masyarakat Jakarta sebagai Si Manis Jembatan Ancol. Hantu cantik yang kabarnya sering menampakkan diri di sekitar kawasan Ancol. Menurut cerita, Siti Ariah adalah sosok perempuan Betawi yang hidup pada awal abad ke-19 di kampung Ancol. Suatu hari ia dilamar seorang cukong kaya raya yang suka perempuan muda. Namun ia menolak lamaran cukong tersebut karena sudah memiliki kekasih dan ia tak mau hanya jadikan gendaknya. Karena ditolak, sang cukong kaya itu marah bukan kepalang karena merasa dihina. Sementara Siti Ariah, memberontak dan memilih melarikan diri. Karena ulahnya, ibunya harus menanggung derita, dianiaya habis-habisan oleh si cukong kaya.

Seorang centeng si cukong memburu Ariah dan berhasil menangkapnya. Terjadilah pergulatan yang sengit sebelum akhirnya Ariah dilumpuhkan. Perempuan malang itu tercebur ke kubangan lumpur yang coklat dan ia meregang nyawa di sana. Menurut laporan, jenazah Ariah dibuang dan ditemukan di area persawahan di daerah Sunter, tak jauh dari Ancol, Jakarta sekarang, pada tahun 1817, tak selang lama sejak saat pelariannya.

ancol_1948
Kawasan Ancol 1948 – (source: internet;unknown?)

Tempat Eksekusi Orang Belanda
Ketika Perang Dunia II meletus disusul perang kemerdekaan, nama Ancol terlupakan. Seperti biasa Sungai Ciliwung masih leluasa menumpahkan air dan lumpurnya ke sana sehingga mengubah kawasan tersebut menjadi kotor, kumuh, dan berlumpur. Kawasan yang semula cantik, berubah menjadi menyeramkan dan Ancol sempat mendapat julukan tempat jin buang anak.

Pada masa pendudukan Jepang, Ancol sempat menjadi tempat pembuangan bagi mayat-mayat korban eksekusi tentara Jepang. Pada masa itu banyak orang Belanda, pria dan wanita yang melawan pemerintah pendudukan Jepang dieksekusi dan kemudian mayatnya dibuang, dikuburkan tanpa nama di kawasan rawa-rawa sekitar Ancol. Hingga di kemudian hari, mayat-mayat tersebut digali kembali dan dimakamkan kembali sebagaimana mestinya di pemakaman yang kini dinamakan Taman Makam Kehormatan Belanda atau Ereveld Ancol yang kini berada di dalam kawasan sebelah timur Taman Impian Jaya Ancol.

Pembangunan Kawasan Ancol
Kemudian pada saat Jakarta mulai dengan berbagai proyek pembangunan di awal tahun 1960-an muncul usulan agar kawasan itu difungsikan menjadi daerah industri. Namun, usul itu ditolak oleh Presiden Soekarno. Bung Karno ingin membangun kawasan itu sebagai daerah wisata. Lewat Keputusan Presiden pada akhir Desember 1965, Bung Karno memerintahkan kepada Gubernur DKI Jaya waktu itu, dr. Soemarno, sebagai pelaksana pembangunan proyek Taman Impian Jaya Ancol. Proyek pembangunan ini baru terlaksana di bawah pimpinan Ali Sadikin yang ketika itu menjadi Gubernur Jakarta. Pembangunan Ancol dilaksanakan oleh PD Pembangunan Jaya di bawah pimpinan Ir. Ciputra.

Ciri khas kawasan wisata Ancol di masa awal berdirinya ditandai dengan dibangunnya Teater Mobil pada tahun 1970. Kemudian Ancol pun sempat terkenal menjadi saksi bahwa judi sempat dilegalkan di Jakarta dengan dibukanya tempat judi Copacabana di kawasan ini.

Sarana rekreasi berikut yang dibangun makin mempopulerkan keberadaan Taman Impian Jaya Ancol, tidak saja di kalangan masyarakat ibu kota, tetapi juga seluruh Indonesia. Pembangunan berbagai proyek terus berlanjut hingga kini. Pedagang kaki lima ditata, hotel dibangun, lapangan golf, dan beragam permainan dihadirkan. Hal itu berarti sarana rekreasi dan hiburan di Taman Impian Jaya Ancol akan semakin lengkap. Pada tahun-tahun berikutnya, pengadaan sarana rekreasi dan hiburan diarahkan pada sarana hiburan berteknologi tinggi. Hal itu telah dimulai dengan dibangunnya kawasan Taman Impian “Dunia Fantasi” tahap I pada tahun 1985. Di masa sekarang, Taman Impian Jaya Ancol yang berdiri pada lahan seluas 552 hektar, telah menjadi tempat wisata dan rekreasi permainan terbesar dan terlengkap di Indonesia.

© 2008 arie saksono

Sumber:
http://www.ancol.com
http://www.id.wikipedia.org
http://www.budayajakarta.com
http://www.ogs.nl
berbagai sumber lainnya

Ingin tahu lebih banyak mengenai Teluk Jakarta dan kawasan wisata Ancol? temukan ulasan sejarah panjang kawasan ini di :

National Geographic Traveler; edisi Mei-Juni 2009 :)

National geographic Traveler_Arie03National geographic Traveler_Arie01

Salam Indonesia > arie


Sapta Pesona Pariwisata Indonesia

November 12, 2008

sapta-pesona-logo1
Pesona Sapta Pesona Pariwisata Indonesia

Beberapa tahun lalu pariwisata Indonesia sempat mengalami kejayaan. Bila dibandingkan dengan masa sekarang, memang secara kuantitas jumlah wisatawan terus meningkat, namun seharusnya sudah lebih jauh dari itu.
Pada program Visit Indonesia Year 1991 dahulu dikampanyekan program Sapta Pesona. Hal tersebut menunjukkan hasil yang memuaskan terbukti dengan terlampuinya target kunjungan wisata.

Visit Indonesia 1991
Pada tahun 1991 badak bercula satu binatang khas daerah Ujung Kulon, Jawa Barat digunakan sebagai maskot tahun kunjungan Indonesia 1991 (Visit Indonesia Year 1991). Ini merupakan kampanye promosi pariwisata Indonesia ke seluruh dunia oleh Departemen Pariwisata Pos dan Telekomunikasi (sekarang: Departemen Kebudayaan dan Pariwisata).

Pada program Visit Indonesia 2008 sekarang ini agaknya patut diingatkan kampanye yang sama, agar program pembangunan pariwisata Indonesia dapat berjalan dengan baik dan dapat menunjukkan hasil yang nyata bagi pembangunan nasional serta tidak dijalankan dengan setengah hati oleh segenap lapisan elemen bangsa.

Tujuan diselenggarakan program Sapta Pesona adalah untuk meningkatkan kesadaran, rasa tanggung jawab segenap lapisan masyarakat, baik pemerintah, swasta maupun masyarakat luas untuk mampu bertindak dan mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Logo Sapta Pesona ditetapkan dengan Keputusan Menteri Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi Nomor: KM.5/UM.209/MPPT-89 tentang Pedoman Penyelenggaraan Sapta Pesona.

Logo Sapta Pesona dilambangkan dengan Matahari yang bersinar sebanyak 7 buah yang terdiri atas unsur:

  1. Keamanan
  2. Ketertiban
  3. Kebersihan
  4. Kesejukan
  5. Keindahan
  6. Keramahan
  7. Kenangan

Uraian makna program Sapta Pesona merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan dalam program-program pembangunan kepariwisataan sebagai sektor andalan devisa Nasional:

1.  AMAN
~   Suatu kondisi lingkungan destinasi wisata yang memberi rasa tenang, bebas dari rasa takut dan kecemasan wisatawan.
~   Daerah tujuan wisata dengan lingkungan yang membuat nyaman wisatawan dalam melakukan kunjungan.
~   Menolong, melindungi, menjaga, memelihara, memberi dan meminimalkan resiko buruk bagi wisatawan yang berkunjung.

2.  TERTIB
~   Destinasi yang mencerminkan sikap disiplin, teratur dan profeional, sehingga memberi kenyamanan kunjungan wisatawan.
~   Ikut serta memelihara lingkungan
~   Mewujudkan Budaya Antri
~   Taat aturan/ tepat waktu
~   Teratur, rapi dan lancar

3.  BERSIH
~   Layanan destinasi yang mencerminkan keadaan bersih, sehat hingga memberi rasa nyaman bagi kunjungan wisatawan
~   Berpikiran positif pangkal hidup bersih
~   Tidak asal buang sampah/ limbah
~   Menjaga kebersihan Obyek Wisata
~   Menjaga lingkungan yang bebas polusi
~   Menyiapkan makanan yang higienis
~   Berpakaian yang bersih dan rapi

4.  SEJUK
~   Destinasi wisata yang sejuk dan teduh akan memberikan perasaan nyaman dan betah bagi kunjungan wisatawan.
~   Menanam pohon dan penghijauan
~   Memelihara penghijauan di lingkungan tempat tinggal terutama jalur wisata
~   Menjaga kondisi sejuk di area publik,restoran, penginapan dan sarana fasilitas wisata lain

5.  INDAH
~   Destinasi wisata yang mencerminkan keadaan indah menarik yang memberi rasa kagum dan kesan mendalam wisatawan.
~   Menjaga keindahan obyek dan daya tarik wisata dalam tatanan harmonis yang alami
~   Lingkungan tempat tinggal yang teratur, tertib dan serasi dengan karakter serta istiadat lokal
~   Keindahan vegetasi dan tanaman peneduh sebagai elemen estetika lingkungan

6.  RAMAH TAMAH
~   Sikap masyarakat yang mencerminkan suasana akrab, terbuka dan menerima hingga wisatawan betah atas kunjungannya
~   Jadi tuan rumah yang baik & rela membantu para wisatawan
~   Memberi informasi tentang adat istiadat secara spontan
~   Bersikap menghargai/toleran terhadap wisatawan yang datang
~   Menampilkan senyum dan keramah-tamahan yang tulus.
~   Tidak mengharapkan sesuatu atas jasa telah yang diberikan

7.  KENANGAN
~   Kesan pengalaman di suatu destinasi wisata akan menyenangkan wisatawan dan membekas kenangan yang indah, hingga mendorong pasar kunjungan wisata ulang
~   Menggali dan mengangkat budaya lokal
~   Menyajikan makanan/ minuman khas yang unik, bersih dan sehat
~   Menyediakan cendera mata yang menarik

Sumber logo Sapta Pesona: http://www.budpar.go.id
Foto: arie saksono n70


Jumlah Pulau di Indonesia – Indonesia Islands

May 21, 2008

 

 

Beberapa pulau di antara ribuan pulau Indonesia (foto: arie saksono)

 

Berdasarkan data Departemen Dalam Negeri Republik Indonesia tahun 2004, jumlah pulau di Indonesia tercatat sebanyak 17.504 buah. 7.870 di antaranya telah mempunyai nama, sedangkan 9.634 belum memiliki nama.

 

JUMLAH PULAU di INDONESIA tahun 2004

No.

Provinsi

Jumlah Pulau

Total  Jumlah

Bernama

Belum bernama

1.

N. Aceh Darussalam

205

458

663

2.

Sumatra Utara

237

182

419

3.

Sumatra Barat

200

191

391

4.

Riau

73

66

139

5.

Jambi

16

3

19

6.

Sumatra Selatan

43

10

53

7.

Bengkulu

23

24

47

8.

Lampung

86

102

188

9.

Kep. Bangka Belitung

311

639

950

10.

Kepulauan Riau

1.350

1.058

2.408

11.

DKI Jakarta

111

107

218

12.

Jawa Barat

19

112

131

13.

Jawa Tengah

47

249

296

14.

DI Yogyakarta

22

1

23

15.

Jawa Timur

232

55

287

16.

Banten

48

83

131

17.

Bali

25

60

85

18.

Nusa Tenggara Barat

461

403

864

19.

Nusa Tenggara Timur

473

719

1.192

20.

Kalimantan Barat

246

93

339

21.

Kalimantan Tengah

27

5

32

22.

Kalimantan Selatan

164

156

320

23.

Kalimantan Timur

232

138

370

24.

Sulawesi Utara

310

358

668

25.

Sulawesi Tengah

139

611

750

26.

Sulawesi Selatan

190

105

295

27.

Sulawesi Tenggara

361

290

651

28.

Gorontalo

96

40

136

29.

Maluku

741

681

1.422

30.

Maluku Utara

125

1.349

1.474

31.

Papua

301

297

598

32.

Irian Jaya Barat

956

989

1.945

         Total

7.870

9.634

17.504

 

Sumber data: Departemen Dalam Negeri Republik Indonesia 2004

 

Departemen Kelautan dan Perikanan menargetkan pada 2012 seluruh pulau telah didaftarkan ke Perserikatan Bangsa-Bangsa. Sejak Agustus 2007 Indonesia telah mendapatkan registrasi 4981 pulau dari United Nations Group of Expert on Geographical Names (UNGEGN). Jumlah ini akan ditambah paling tidak mencapai 11 ribu pada 2012 nanti. Menteri Kelautan dan Perikanan Freddy Numberi mengatakan dalam sebuah jumpa pers di kantornya (26/8/09) “Kalau masih ada sisa kami setor lagi 2017,” paparnya. Badan PBB yang menangani masalah pulau ini bersidang tiap lima tahun sekali untuk memutuskan keberadaan suatu pulau di tiap negara. Jumlah sekarang tercatat 17.480 pulau. Freddy memprediksikan jumlah pulau akan jauh dibawah itu jika sudah diverifikasi. “Karena dulu didaftar awal hanya berdasar estimasi dan pantauan satelit,”imbuhnya. Kesalahan pantauan satelit, ia mencontohkan, kawasan mangrove dan pulau karang dideteksi sebagai pulau. Keuntungan registrasi pulau-pulau ini adalah, apabila ada pulau perbatasan yang bermasalah akan maka dimenangkan negara yang mendaftar pertama. (>tempointeraktif, 26 Agustus 2009)

Sementara data terakhir menurut Dirjen Kelautan Pesisir dan Pulau-pulau Kecil (KP3K), Sudirman Saad, mengatakan bahwa hasil survei dan verifikasi terakhir Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) diketahui bahwa Indonesia hanya memiliki sekitar 13.000 pulau yang menyebar dari Sabang hingga Merauke. Sudirman menambahkan pada tahun 2012 nanti seluruh nama pulau yang dimiliki Indonesia sebanyak lebih dari 13.000 pulau tersebut sudah akan terdeposit di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Sebelumnya, data yang sering dijadikan rujukan menyebutkan bahwa Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia yang memiliki garis pantai terpanjang keempat di dunia memiliki 17.480 pulau. (>antaranews, 17 Agustus 2010)


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 45 other followers