JEMBATAN SURAMADU – Surabaya Madura

June 19, 2009

Suramadu

Sumber foto: suramadu.com

Akhirnya selesai sudah proyek raksasa yang telah ditunggu-tunggu warga Surabaya dan Madura. Jembatan Suramadu yang menghubungkan Pulau Jawa dengan Pulau Madura sepanjang 5.438 meter sudah dapat dilalui. Selama pembangunan jembatan ini melibatkan lebih dari 2.500 pekerja. Pihak Cina sebagai pemberi pinjaman sekaligus kontraktor memberikan jaminan 100 tahun dari segi desain Jembatan Suramadu.

Jembatan Suramadu diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudoyono pada 10 Juni 2009. Dalam kesempatan itu SBY berpesan kepada Gubernur Jatim agar pembangunan Jembatan Suramadu ini bisa meningkatkan pembangunan di Jatim. Acara peresmian dilaksanakan di kaki jembatan sisi Pulau Madura, di Desa Sukolilo Barat, Kecamatan Labang, Kabupaten Bangkalan.

Pada tanggal 13 Juni 2009 pukul 13.00, PT. Jasa Marga mulai membuka jalur tol Jembatan Suramadu bagi masyarakat umum. Masa uji coba dicanangkan selama tiga hari hingga tanggal 17 Juni 2009. Selama masa itu masyarakat yang melintas tidak dikenakan biaya tol. Berbeda dengan konsep jalan tol lainnya, maka di Jembatan Suramadu sepeda motor diperbolehkan melintasi jalur tol ini. Namun demikian PT. Jasa Marga menerapkan peraturan sesuai dengan Undang-Undang RI Nomor 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas, antara lain yaitu pengendara sepeda motor maksimal 2 orang dan wajib mengenakan helm pengaman.

Suramadu2

Sumber foto: suramadu.com

Menanggapi besarnya kekuatan angin di sekitar Jembatan Suramadu, Kepala Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional Wilayah V, A.G. Ismail, menjelaskan, saat ini Direktorat Jenderal (Ditjen) Bina Marga sedang menyiapkan sistem peringatan dini yang disertai Standar Operasional dan Prosedur (SOP) mengenai kecepatan angin.

“Nantinya saat kecepatan angin mencapai 30 kilometer per jam, kendaraan roda dua diberi peringatan saat akan masuk jembatan, bila angin telah 40 kilometer per jam maka motor tidak boleh melintas, sementara untuk mobil akan dilarang bila kecepatan angin mencapai 65 kilometer per jam,” ungkapnya.

Suramadu3

Sumber foto: suramadu.com

Tarif Tol Jembatan Suramadu

Sesudah masa uji coba berakhir maka pihak pengelola PT. Jasa Marga akan memberlakukan tarif tol sesuai dengan SK Menteri Pekerjaan Umum Nomor 395/Kpts/m/2009 tanggal 10 Juni 2009.

Tarif Kendaraan Golongan I (Sedan, Jip, Pikap, Bus, atau Angk. Umum)
Rp. 30.000;
Tarif Kendaraan Golongan II (Truk dengan dua gardan)
Rp. 45.000;
Tarif Kendaraan Golongan III (Truk dengan tiga gardan)
Rp. 60.000;
Tarif Kendaraan Golongan IV (Truk dengan empat gardan)
Rp. 75.000;
Tarif Kendaraan Golongan V (Truk dengan lima gardan atau lebih)
Rp. 90.000;

Sementara tarif tol untuk Sepeda Motor Rp. 3.000;

©2009 arie saksono

Sumber:
-pu.go.id
-suramadu.com
-Kompas


Jumlah Pulau di Indonesia – Indonesia Islands

May 21, 2008

 

 

Beberapa pulau di antara ribuan pulau Indonesia (foto: arie saksono)

 

Berdasarkan data Departemen Dalam Negeri Republik Indonesia tahun 2004, jumlah pulau di Indonesia tercatat sebanyak 17.504 buah. 7.870 di antaranya telah mempunyai nama, sedangkan 9.634 belum memiliki nama.

 

JUMLAH PULAU di INDONESIA tahun 2004

No.

Provinsi

Jumlah Pulau

Total  Jumlah

Bernama

Belum bernama

1.

N. Aceh Darussalam

205

458

663

2.

Sumatra Utara

237

182

419

3.

Sumatra Barat

200

191

391

4.

Riau

73

66

139

5.

Jambi

16

3

19

6.

Sumatra Selatan

43

10

53

7.

Bengkulu

23

24

47

8.

Lampung

86

102

188

9.

Kep. Bangka Belitung

311

639

950

10.

Kepulauan Riau

1.350

1.058

2.408

11.

DKI Jakarta

111

107

218

12.

Jawa Barat

19

112

131

13.

Jawa Tengah

47

249

296

14.

DI Yogyakarta

22

1

23

15.

Jawa Timur

232

55

287

16.

Banten

48

83

131

17.

Bali

25

60

85

18.

Nusa Tenggara Barat

461

403

864

19.

Nusa Tenggara Timur

473

719

1.192

20.

Kalimantan Barat

246

93

339

21.

Kalimantan Tengah

27

5

32

22.

Kalimantan Selatan

164

156

320

23.

Kalimantan Timur

232

138

370

24.

Sulawesi Utara

310

358

668

25.

Sulawesi Tengah

139

611

750

26.

Sulawesi Selatan

190

105

295

27.

Sulawesi Tenggara

361

290

651

28.

Gorontalo

96

40

136

29.

Maluku

741

681

1.422

30.

Maluku Utara

125

1.349

1.474

31.

Papua

301

297

598

32.

Irian Jaya Barat

956

989

1.945

         Total

7.870

9.634

17.504

 

Sumber: Departemen Dalam Negeri Republik Indonesia 2004

 


Kerajaan Boti di Pulau Timor

May 20, 2008

Kawasan pegunungan Timor Tengah Selatan (foto: arie saksono)


Kabupaten Timor Tengah Selatan yang terletak di Pulau Timor, Nusa Tenggara Timur banyak menyimpan ragam suku budaya. Di kabupaten yang berpenduduk sekitar 400 ribu jiwa ini dahulu terdapat beberapa kerajaan-kerajaan kecil seperti. Salah satu yang masih tersisa hingga kini adalah Kerajaan Boti yang mendiami kawasan pegunungan di kecamatan Kie, Kabupaten Timor Tengah Selatan.


Kondisi jalan menuju Desa Boti (foto: arie saksono)


Suku Boti merupakan keturunan dari suku asli pulau Timor, Atoni Metu. Wilayah kerajaan Boti terletak sekitar 40 km dari kota kabupaten Timor Tengah Selatan, So’e, secara administratif kini menjadi desa Boti kecamatan Kie. Karena letaknya yang sulit dicapai di tengah pegunungan, desa Boti seakan tertutup dari peradaban modern dan perkembangan zaman.

Berjalannya perputaran roda waktu seakan tidak menyentuh kerajaan Boti. Warga Boti hingga kini masih hidup dalam kesahajaan mereka dan tetap memegang teguh pada tradisi leluhur mereka. Kehidupan warga Boti hingga kini masih bergantung pada kerasnya alam daratan Pulau Timor.


Raja Boti yang Bersahaja

Raja Boti, Usif Nama Benu, baru saja menggantikan ayahnya, Usif Nune Benu yang wafat pada bulan Maret 2005. Usif adalah sebutan atau gelar yang diberikan Suku Boti terhadap raja mereka yang juga merupakan pemimpin adat dan spiritual warga Boti. Sejak meninggalnya Usif Nune Benu, orang Boti menjalani masa berkabung, karena itu selama tiga tahun lamanya orang Boti tidak mengadakan pesta-pesta adat. Menurut sang Raja baru, Usif Nama Benu, biasanya mereka mengadakan kegiatan pesta adat seusai panen namun selama masa berkabung ini ditiadakan untuk menghormati sang ayah Usif Nune Benu.


Almarhum Raja Boti Usif Nune Benu

Masyarakat Suku Boti berkabung selama 3 tahun setelah wafatnya

Raja Boti Usif Nune Benu pada bulan Maret 2005


Raja Boti, Usif Nama Benu (foto: arie saksono)


Suku Boti dikenal sangat memegang teguh keyakinan dan kepercayaan mereka yang disebut Halaika. Mereka percaya pada dua penguasa alam yaitu Uis Pah dan Uis Neno. Uis Pah sebagai mama atau ibu yang mengatur, mengawasi, dan menjaga kehidupan alam semesta beserta isinya termasuk manusia. Sedangkan Uis Neno sebagai papa atau bapak yang merupakan penguasa alam baka yang akan menentukan seseorang bisa masuk surga atau neraka berdasarkan perbuatannya di dunia.


Lopo, bangunan tempat warga Boti berkumpul (foto: arie saksono)


Menurut falsafah hidup orang Boti manusia akan selamat dan sejahtera bila merawat dan melestarikan lingkungan hidup. Dalam kehidupan keseharian mereka segala sesuatu mereka dapatkan dari alam seperti halnya keperluan sandang yang dibuat dari benang kapas dan pewarna yang mereka dapatkan dari tumbuhan di lingkungan sekitar mereka.


Kegiatan sehari-hari menenun dan memintal (foto: arie saksono)


Berkumpul sambil ber-sirihpinang sepulang dari ladang (foto: arie saksono)


Dalam kehidupan sehari-hari ada pembagian tugas yang jelas antara kaum lelaki dan perempuan. Para lelaki bertugas mengurusi permasalahan di luar rumah, seperti berkebun, dan berburu. Sementara urusan rumah tangga, diserahkan kepada kaum perempuan. Meskipun pembagian peran ini biasa dijumpai dalam sistem kekerabatan, ada satu hal yang membuat warga Boti agak berbeda, mereka menganut monogami atau hanya beristri satu. Seorang lelaki Boti yang sudah menikah, dilarang memotong rambutnya. Sehingga bila rambut mereka semakin panjang, mereka akan menggelungnya seperti konde.


Bila kepercayaan dan aturan adat Boti dilanggar, maka akan dikenakan sanksi, tidak akan diakui sebagai penganut kepercayaan Halaika, berarti harus keluar dari komunitas suku Boti, sebagaimana yang terjadi pada putra sulung Laka Benu, kakak dari Raja Usif Nama Benu. Laka Benu yang seharusnya menjadi putra mahkota, memeluk agama Kristen sehingga ia harus meninggalkan komunitas Boti.

Menurut Molo Benu, yang juga merupakan adik dari Usif Nama Benu, untuk dapat terus menjaga dan menjalankan adat dan kepercayaan mereka, anak-anak dalam satu keluarga dibagi dua, separuh dari anak-anak mereka diperbolehkan bersekolah sementara yang lainnya tidak diperkenankan bersekolah dengan tujuan agar dapat teguh memegang adat tradisi mereka. Aturan pendidikan bagi anak-anak Boti bertujuan agar tercipta keseimbangan antara kehidupan masa sekarang dengan kehidupan berdasarkan adat dan tradisi yang sudah diwariskan oleh leluhur mereka.


Banyak kaum tua Boti yang tidak lancar bahkan tidak bisa berbahasa Indonesia termasuk sang raja. Sehari-hari mereka menggunakan bahasa daerah Dawan. Namun demikian bahasa bukan halangan bagi warga Boti untuk menyambut tamu-tamu mereka yang datang ke desa mereka. Keramahan dan senyum hangat mereka rasanya sudah lebih dari cukup sebagai media komunikasi, simbol keterbukaan mereka terhadap para pengunjung yang ingin merasakan kedamaian dan kesahajaan di Desa Boti.


© 2005 arie saksono


Raja Boti Usif Nama Benu & arie, Juli 2005


De Eerste Expeditie naar INDIË

December 12, 2007

Houtman, Cornelis de (ca. 1565 – 1599, vermoord te Atjeh)Hij vertrok in 1595 voor de eerste expeditie. Hij kwam in 1596 in Bantam/Banten, dat dan de belangrijkste peperhaven is. Retour in 1597 met slechts drie licht beladen schepen en 1/3 van oorspronkelijke bemanning.

Eerste Expeditie Hieronder een meer uitgebreide beschrijving:

In 1594 kwamen in Amsterdam negen man bijeen en namen het initiatief voor een eerste reis naar Indië. Het waren: Hendrik Hudde, Reinier Pauw, Pieter Hasselaar, Arent ten Grootenhuis, Hendrik Buyck, Syvert Sem, Jan Poppen, Jan Karel en Dirck van Os. Zij brachten geld bijeen (276.000 gulden) voor handelsgoederen, om schepen te bouwen en personeel aan te werven. Aan het hoofd van deze tocht stond Cornelis de Houtman, als oppercommies of opperkoopman. Na de tocht werd alles van de hand gedaan, de specerijen verkocht en het personeel ontslagen: ze waren net uit de kosten gekomen. De schepen: Mauritius, Hollandia, Amsterdam, Duyfken

  1. Mauritius, 85 man (met De Houtman), 200 last (één last is ca. 2 ton)

  2. Hollandia, 85 man, 200 last

  3. Amsterdam, 59 man, 100 last

  4. Duyfken, 20 man, 25 last, als verkenningsjacht (scheepstype Pinas), geschikt voor o.a. ondiepe wateren

Van de 249 opvarenden kwamen na een reis van twee jaar en vier maanden slechts 87 levend terug in patria, plus nog twee na een volgende reis

10-03-1595 zeilt de vloot weg uit Amsterdam om naar Texel te varen voor de laatste voorbereidingen en de laatste passagiers.

02-04-1595 wordt zee gekozen

04-07-1595 wordt de evenaar gepasseerd

04-08-1595 komt men aan op Kaap de Goede Hoop

18-09-1595 komt de vloot op Madagascar aan

02-03-1596 vertrekt men definitief vanaf Madagascar

05-06-1596 komt men bij het eerste Indische eiland: Enggano, ten westen van zuidelijk Sumatra

12-06-1596 is men op Sumatra zelf

23-06-1596 komt men op de rede van Banten. De Houtman e.a. anderen worden gevangen gehouden. Na het betalen van een fiks losgeld en ook met een redelijke hoeveelheid peper wordt vertrokken.

13-11-1596 komt de vloot op de rede van Soenda Kelapa.

18-11-1596 vandaar vertrokken

02-12-1596 in Sidajoe (Oost-Java); daar worden ze aangevallen, en er vallen vele doden

05-12-1596 vertrokken

06-12-1596 op Madoera, waar nu de Hollanders zelf het vuur openen, uit angst voor een herhaling van de gebeurtenissen in Sidajoe.

11-01-1597 wordt de ‘Amsterdam’ in brand gestoken: door een rif was ze ernstig beschadigd, bovendien waren er te weinig bemanningsleden over om alle schepen voldoende te bemannen

28-01-1597 aankomst op Bali, waar voor het eerst de sfeer echt ontspannen is.

26-02-1597 vertrek vanaf Bali, met nog 90 van de oorspronkelijke 249 personen. Twee personen blijven op Bali: de eerste is Emanuel Rodenburg, die op de tweede reis van De Houtman in juli 1601 wordt opgehaald. De tweede is Jan Janssen de Roy uit Amsterdam (volgens het verslag van de tweede reis), echter in het verslag van de eerste reis wordt gesproken over Jacob Claes van Delft.

07-06-1597 wordt de evenaar gepasseerd

11-08-1597 komt men op Texel aan.

Bron: http://home.planet.nl/~eljee/

Versi Bahasa Indonesia:

Ekspedisi Pertama ke Hindia (kepulauan Indonesia)

de houtman cornelis

Cornelis de Houtman (lahir sekitar tahun 1565 – 1599, tewas di Aceh)

Pada tahun 1595 ia berangkat memimpin ekspedisi pertama. Pada tahun 1596 tiba di Bantam/ Banten yang pada saat itu merupakan pelabuhan lada terpenting. Perjalanan pulang ke negeri Belanda pada tahun 1597 dengan tiga kapal bermuatan ringan dan hanya 1/3 dari jumlah total anak buahnya semula.

Ekspedisi pertama, dibawah ini gambaran lengkap perjalanan:

Pada tahun 1594 sembilan orang berkumpul di kota Amsterdam dan mengambil inisiatif untuk sebuah pelayaran ke Hindia (Kepulauan Indonesia) mereka adalah: Hendrik Hudde, Reinier Pauw, Pieter Hasselaar, Arent ten Grootenhuis, Hendrik Buyck, Syvert Sem, Jan Poppen, Jan Karel en Dirck van Os. Mereka bersama-sama mengumpulkan uang (276.000 gulden) untuk barang-barang dagangan, untuk membangun kapal dan merekrut orang. Pemimpin perjalanan adalah Cornelis de Houtman, ia berperan sebagai oppercommies of opperkoopman atau kepala bagian pembelian. Setelah perjalanan semuanya sudah beres, rempah-rempah dijual dan pekerja diberhentikan: semuanya impas.

De eerste VOC schepen

Kapal-kapal: Mauritius, Hollandia, Amsterdam, Duyfken

  1. Mauritius, 85 orang (termasuk de Houtman), 200 muatan (satu muatan beratnya kira-kira 2 ton)

  2. Hollandia, 85 orang, 200 muatan

  3. Amsterdam, 59 orang, 100 muatan

  4. Duyfken, 20 orang, 25 muatan, berfungsi sebagai kapal intai (tipe kapal pinas), antara lain cocok untuk perairan dangkal.

Setelah pelayaran selama 2 tahun 4 bulan, dari 249 orang yang ikut dalam perjalanan tersebut hanya 87 orang saja yang hidup kembali ke negeri Belanda, ditambah 2 orang lagi yang ikut kembali setelah pelayaran berikutnya. (pada ekspedisi pertama 2 orang anak buah Cornelis de Houtman tinggal di pulau Bali dan dijemput kembali pada saat kapal belanda berikutnya singgah di sana)

10-03-1595  Armada berangkat berlayar dari Amsterdam ke pulau Texel untuk persiapan dan penumpang terakhir.

02-04-1595  Memilih rute laut.

04-07-1595  Melewati khatulistiwa.

04-08-1595  Tiba di Tanjung Harapan – Afrika.

18-09-1595  Armada tiba di pulau Madagaskar.

02-03-1596  Secara definitif berangkat meninggalkan Madagaskar.

05-06-1596  Tiba di pulau Hindia yang pertama: pulau Enggano, di sebelah barat pulau Sumatera bagian selatan.

12-06-1596  Tiba di pulau Sumatera.

23-06-1596  Tiba di pelabuhan Banten. De Houtman dan yang lainnya ditangkap. Setelah membayar uang pembebasan dan juga sejumlah lada yang pantas mereka meneruskan perjalanan.

Bantam rede passar
Marktplaats te Bantam (Pasar di Bantam), I. Commelin, Begin ende Voortgangh I, Amsterdam 1646, Eerste Schipvaart, plaat 17; Sumber: www.voc-kennisentrum.nl/gewest-bantam.html

aanval aan de rede van Bantam
Kapal-kapal Belanda pertama di pelabuhan Banten dalam pertempuran pada 07 September 1596

13-11-1596 Tiba di pelabuhan Sunda Kalapa

Batavia
Pemandangan Batavia; Sumber: www.vocsite.nl/geschiedenis/handelposten/batavia.html

18-11-1596  Berangkat dari pelabuhan Sunda Kalapa.

02-12-1596  Di Sidajoe Jawa Timur; mereka diserang, dan jatuh banyak korban tewas.

05-12-1596  Berlayar kembali.

06-12-1596  Di pulau Madura, Orang Belanda memulai penyerangan, sebagai antisipasi, takut kejadian penyerangan di Sidajoe terulang.

11-01-1597  Kapal Amsterdam dibakar: rusak parah karena karang, lagipula jumlah anak buah kapal terlalu sedikit untuk cukup mengawaki semua kapal.

28-01-1597 Tiba di pulau Bali, dimana untuk pertama kalinya suasana benar-benar menyenangkan.

26-02-1597  Berangkat dari pulau Bali, dengan hanya 90 orang yang tersisa dari 249 orang. Dua orang tinggal di Bali; 1. Emanuel Rodenburg, yang pada pelayaran kedua de Houtman pada bulan Juli 1601 dijemput pulang. 2. Jan Janssen de Roy dari Amsterdam (berdasarkan laporan pelayaran kedua), dalam laporan pelayaran pertama juga dibicarakan tentang nama Jacob Claes van Delft.

07-06-1597  Melintasi khatulistiwa.

11-08-1597  Tiba (kembali) di pulau Texel – Negeri Belanda.

©2007 arie saksono
Diterjemahkan dari http://home.planet.nl/~eljee/


Pelabuhan Sunda Kelapa

November 27, 2007

Sunda Kelapa
Senja di Pelabuhan Sunda Kalapa (foto: ©2005 Arie Saksono)

Sejarah kota metropolitan Jakarta bermula di sini…

Sejarah Pelabuhan Sunda Kelapa

Nama Pelabuhan Sunda Kelapa sudah terdengar sejak abad ke-12 masehi. Pada masa itu pelabuhan ini sudah dikenal sebagai pelabuhan lada milik kerajaan Hindu Sunda terakhir di Jawa Barat, Pakuan Pajajaran, yang berpusat di sekitar Kota Bogor sekarang. Para pedagang nusantara kerap singgah di Sunda Kalapa di antaranya berasal dari Palembang, Tanjungpura, Malaka, Makasar dan Madura dan bahkan kapal-kapal asing dari Cina Selatan, Gujarat/ India Selatan, dan Arab sudah berlabuh di pelabuhan ini membawa barang-barang seperti porselen, kopi, sutra, kain, wangi-wangian, kemenyan, kuda, anggur, dan zat warna untuk ditukar dengan lada dan rempah-rempah yang menjadi komoditas unggulan pada saat itu. Para pelaut Cina menyebut Sunda Kalapa dengan nama Kota Ye-cheng yang berarti kota Kelapa. Hal ini kemungkinan disebabkan banyaknya pohon kelapa yang tumbuh di sekitar pelabuhan Sunda Kalapa kala itu.

Bangsa Eropa pertama asal Portugis di bawah pimpinan de Alvin tiba pertama kali di Sunda Kelapa dengan armada empat buah kapal pada tahun 1513, sekitar dua tahun setelah menaklukkan kota Malaka. Mereka datang untuk mencari peluang perdagangan rempah-rempah dengan dunia barat. Karena dari Malaka mereka mendengar kabar bahwa Sunda Kalapa merupakan pelabuhan lada yang utama di kawasan ini. Menurut catatan perjalanan Tome Pires pada masa itu Sunda Kalapa merupakan pelabuhan yang sibuk namun diatur dengan baik.

Beberapa tahun kemudian Portugis datang kembali dibawah pimpinan Enrique Leme dengan membawa hadiah bagi Raja Sunda Pajajaran. Mereka diterima dengan baik dan pada tanggal 21 Agustus 1522 ditandatangani perjanjian antara Portugis dan Kerajaan Sunda Pajajaran. Perjanjian diabadikan pada prasasti batu Padrao yang kini dapat dilihat di Museum Nasional. Dengan perjanjian tersebut Portugis berhak membangun pos dagang dan benteng di Sunda Kalapa. Pajajaran berharap Portugis dapat membantu menghadapi serangan kerajaan-kerajaan Islam seperti Demak dan Cirebon seiring dengan menguatnya pengaruh Islam di Pulau Jawa yang mengancam keberadaan kerajaan Hindu Sunda Pajajaran.

Pada tahun 1527 saat armada kapal Portugis kembali di bawah pimpinan Francesco de Sa dengan persiapan untuk membangun benteng di Sunda Kalapa, ternyata gabungan kekuatan Muslim Cirebon dan Demak berjumlah 1.452 prajurit di bawah pimpinan Fatahillah, sudah menguasai Sunda Kelapa. Sehingga pada saat berlabuh Portugis diserang dan berhasil dikalahkan. Atas kemenangannya terhadap Kerajaan Sunda Pajajaran dan Portugis, pada tanggal 22 Juni 1527 Fatahillah mengganti nama kota pelabuhan Sunda Kalapa menjadi Jayakarta yang berarti “kemenangan yang nyata”.

Kedatangan Belanda di Jayakarta

Armada kapal asal Belanda dibawah pimpinan Cornelis de Houtman tiba pertama kali di Sunda Kalapa (Jayakarta) pada 13 November 1596 dengan tujuan yang sama, mencari rempah-rempah. Rempah-rempah pada saat itu menjadi komoditas unggulan di Belanda karena berbagai khasiatnya seperti obat, penghangat badan, dan bahan wangi-wangian.

Para pedagang Belanda (yang kemudian tergabung dalam VOC) pada tahun 1610 mendapat sambutan hangat dari Pangeran Jayawikarta atau Wijayakarta penguasa Jayakarta yang merupakan pengikut Sultan Banten dan membuat perjanjian. Belanda diijinkan membangun gudang dan pos dagang yang terbuat dari kayu di sebelah timur muara sungai Ciliwung.

Suasana Sunda Kalapa
Suasana di Pelabuhan Sunda Kalapa (foto: ©2005 Arie Saksono)

Melihat potensi pendapatan yang tinggi dari penjualan rempah-rempah di negara asalnya, VOC mengingkari perjanjian, bangunan gudang yang terbuat dari kayu tersebut dibangun kembali dengan material yang kuat dan mendirikan pos dagang sekaligus benteng di selatan Pelabuhan Sunda Kelapa pada tahun 1613. kemudian pada tahun 1618 Belanda membangun benteng. Benteng ini berfungsi sebagai gudang penyimpanan barang, juga digunakan sebagai benteng perlawanan dari pasukan Inggris yang juga berniat untuk menguasai perdagangan di Nusantara. Benteng tersebut dibangun kawasan Pelabuhan Sunda Kelapa. Pada tahun 1839 di lokasi ini didirikan Menara Syahbandar (Uitkijk atau outlook post) yang berfungsi sebagai kantor pabean, atau pengumpulan pajak dari barang-barang yang diturunkan di pelabuhan. Lokasi menara ini merupakan salah satu sudut bastion Culemborg (benteng) yang tersisa.

Pelabuhan Sunda Kelapa di masa sekarang

Pelabuhan Sunda Kelapa kini merupakan pelabuhan bongkar muat barang, terutama kayu dari Pulau Kalimantan. Di sepanjang pelabuhan berjajar kapal-kapal phinisi atau Bugis Schooner dengan bentuk khas, meruncing pada salah satu ujungnya dan berwarna-warni pada badan kapal. Setiap hari tampak pemandangan para pekerja yang sibuk naik turun kapal untuk bongkar muat.

Pelabuhan Sunda Kelapa terletak di ujung sebelah utara kota Jakarta, di teluk Jakarta, atau tepatnya terletak di jalan Baruna Raya No. 2 Jakarta Utara, lebih kurang 8 Km sebelah barat pelabuhan laut Tanjung Priok. Luas area pelabuhan Sunda Kelapa adalah 631.000 m2, sedangkan luas perairannya adalah 12.090.000 m2. Alur pelabuhannya sepanjang 2 mil dan lebar 100 m2 dibatasi dengan beton.

Bongkar muat kayu Sunda Kelapa
Bongkar muat kayu di Sunda Kalapa (foto: ©2005 Arie Saksono)

Di samping pelabuhan terdapat pasar ikan yang tetap ramai hingga kini. Di depan areal menuju pasar ikan terdapat menara pengawas atau yang dulu dikenal dengan Uitkijk toren. Sekitar 50 meter ke arah barat menara atau terdapat Museum Bahari. Di dalam museum ini dapat disaksikan peralatan asli, replika, gambar-gambar dan foto-foto yang berhubungan dengan dunia bahari di Indonesia, mulai dari zaman kerajaan hingga ekspedisi modern. Museum ini dahulu merupakan bangunan gudang tempat menyimpan barang-barang dagang VOC di abad 17 dan 18, dan tetap dipertahankan kondisi aslinya untuk kegiatan pariwisata. Pada sisi utara museum masih terdapat benteng asli yang menjadi benteng bagian utara. Memasuki Jln. Tongkol di selatan museum, kita akan tiba di lokasi bekas galangan kapal VOC atau dikenal juga dengan VOC Shipyard atau VOC dock. Dahulu kapal-kapal yang rusak diperbaiki di tempat ini. Bangunan panjang dengan jendela-jendela segi tiga di atapnya kini direvitalisasi sebagai restoran dengan tetap mempertahankan arsitektur aslinya.

Kapal Phinisi
Kapal kayu Phinisi di Sunda Kalapa (foto: ©2005 Arie Saksono)

Di sekitar kawasan pelabuhan Sunda Kelapa hingga kini masih terdapat beberapa peninggalan Belanda yaitu gedung-gedung yang berarsitektur indah dan megah yang sekarang ini difungsikan sebagai museum yaitu Museum Bahari, bekas galangan kapal VOC, Museum Fatahillah, Museum Wayang dan lain sebagainya. Sekitar 2 km dari pelabuhan ini terdapat stasiun kereta api Kota atau BEOS (Batavia En OmStreken). Wilayah ini merupakan daerah yang ramai dan padat dengan adanya pusat -pusat pertokoan dan bisnis yang ada di sekitarnya. Karena itu sejak dahulu kala pelabuhan Sunda Kelapa sudah merupakan pelabuhan penting karena merupakan wilayah yang strategis dan dekat dari pusat kota.

©2007 arie saksono

Sumber :

  • Karel Mardijker., “Fatahillah kwam uit Arabie en Stichtte Djakarta”, DJakarta: Kolff Nieuws, Juli 1956
  • Heuken SJ, Adolf., Historical Sites of Jakarta, Jakarta: Yayasan Cipta Loka Caraka, 1982
  • & berbagai sumber lain