Museum Fatahilah Jakarta – Story about Si Jagur

December 19, 2007

One of the Unique Collections of the Jakarta History Museum

museum fatahilah
Museum Sejarah Jakarta/ The Jakarta History Museum (foto: arie saksono)

If you have time, take a visit to Museum Sejarah Jakarta or Jakarta History Museum, the formerly Batavia City Hall, Stadhuis van Batavia. Beside all the collections displayed in the museum, have a look at the big old bronze cannon at the backyard of the museum. The cannon have been transferred many times. The formerly location was near the old drawbridge (ophaalbrug-Dutch) Kota Intan at Kali Besar Street, West Jakarta, in the area of the demolished castle Batavia, then it was placed on the front yard, on the northern side of the museum square, between two buildings opposite the museum. Finally 0n 24 November 2002 this has been placed on the recent location on the backyard of the Jakarta History Museum.

Oud stadhuis

old city hall
Old pictures of the Batavia City Hall (Stadhuis van Batavia)

ophaal brug batavia
The old drawbridge (De Hoenderpasar ophaalbrug) old city Batavia (foto: arie saksono)

The cannon is known as Portuguese cannon, made by MT Bocarro in Macao to strengthen the Portuguese fort in Malacca. It was brought to Batavia by the Dutch after the fall of Malacca in 1641. Then it was placed on a bastion of the old castle Batavia controlling the harbor. When the castle of Batavia was demolished by Governor General Deandels in 1809, the cannon had been forgotten of just left behind because of its heavy weight.

The cannon bear the Latin inscription: “EX ME IPSA RENATA SUM” (-out of my self I was reborn-) this may allude to the fact that it was recast from an older one. Other source said that it was remade from 16 small cannons. The body is made from iron metal with total length of 380 cm. The diameter of snout of the frontage cannon is 39 cm (inner) and 50 cm (circular outer), cannon snout 158 cm, circular of smallest cannon body 122 cm, circular of biggest cannon body 206 cm, wide of cannon body is 100 cm. The total weight of the cannon is 7000 pound or 3, 5 ton. The serial number is 27012.

The cannon shows the special design of a clenched fist “Mano in fica” which in Indonesia is a symbol of cohabitation. For that reason it was once reputed to a font of fertility. Women used to offer flowers before this talisman on Thursday, concluding their ritual by sitting on top of it or just stroke the fist. To counteract this superstition the cannon was transferred to a museum for some years.

meriam si Jagur
Symbol “Mano in fica” (foto: arie saksono)

Javanese story about Si Jagur
There is also a Javanese story about Si Jagur. It tells us that the King of Pajajaran or Sunda once had a bad dream in which he heard the thunder of a powerful weapon unknown to his people. He ordered his prime minister, the Patih, to look for such a weapon. He even threatened the man, whose name Kyai Setomo, with death if he failed to produce the wonder weapon of the king’s dream. The patih went home and discussed his sad and bitter fate with his wife. Then they closed their home in order to Semedi, to meditate. After some days waiting in vain for news from his Patih the king became angry. He sent his soldiers to search Kyai Setomo’s house, but they didn’t find the man, but only two big strange pipes. When the king himself rushed to see the strange things, he immediately recognized them as the weapon he heard in his dream. It appeared that the Patih Kyai Setomo and his wife Nyai Setomi had been transformed into two cannons.
Not long after this happened the great king of central Java, Sultan Agung, heard about it and ordered both cannons to be bought immediately to his capital Solo. But the male cannon Kyai Setomo, refused to move to the court of the sultan and fled on his own strength back to Batavia. Because it was night he could not enter the castle which was already closed. So he stayed at the gates. The next morning the people of Batavia were very astonished and regarded the cannon as Keramat (holy), offering little paper umbrella to protect him from the heat of the day, flowers and many other kind of offerings. They called him Kyai Jagur, “Hon. Mr. Robust (or Mr. Fertility). His wife, Nyai Setomi was taken to Solo, where she still rests today lonely and sometimes weeping..

Source :
Heuken SJ, Adolf., Historical Sites of Jakarta, Jakarta: Yayasan Cipta Loka Caraka, 1982
Other written and spoken sources

©2007 arie saksono


Patung Selamat Datang

December 19, 2007

Patung Selamat Datang & Bundaran Hotel Indonesia

Patung-selamat-datang
Menyambut tamu yang datang ke kota Jakarta ©2008 arie saksono

Patung atau Tugu Selamat Datang di depan Hotel Indonesia ini dibuat dalam rangka persiapan penyelenggaraan ASIAN GAMES ke IV di Jakarta pada tahun 1962. Tujuan pembangunan patung ini adalah untuk menyambut tamu-tamu yang tiba di Jakarta dalam rangka pesta olah raga tersebut. Patung tersebut menggambarkan dua orang pemuda-i yang membawa bunga sebagai penyambutan tamu.

Patung Selamat Datang HI
Patung Selamat Datang & air mancur Bundaran HI ©2006 arie saksono

Hotel Indonesia pada waktu itu merupakan pintu gerbang masuk ibukota Jakarta dan juga merupakan pintu gerbang rangkaian kegiatan pertandingan yang diselenggarakan di Istora Senayan. Pada masa itu semua tamu asing yang datang di Jakarta masuk melalui bandara Internasional Kemayoran dan langsung menuju ke hotel Indonesia yang menjadi tempat penginapan bagi mereka, sehingga sebelum mereka memasuki hotel maka mereka akan mendapatkan patung Selamat Datang ini di depannya.

Ide pembuatan patung ini berasal dari Presiden Soekarno dan design awalnya dikerjakan oleh Henk Ngantung yang pada saat itu merupakan wakil Gubernur DKI Jakarta. Patung terbuat dari perunggu. Tinggi patung dari kepala sampai kaki 5 meter. Sedangkan tinggi seluruhnya dari kaki hingga tangan yang melambai adalah 7 meter. Sementara tinggi voetstuk atau kaki patung adalah 10 meter dikerjakan oleh PN. Pembangunan Perumahan. Pelaksana pembuatan patung adalah team pematung Keluarga Arca pimpinan Edhi Sunarso di Karangwuni. Pada saat pembuatan presiden Soekarno didampingi Duta Besar Amerika pada saat itu Mr. Jones beserta para menteri sempat berkunjung ke sanggar Edhi Sunarso. Pembuatan patung ini memakan waktu sekitar satu tahun. Diresmikan oleh Bung Karno pada tahun 1962.

Pada tahun 22 Juni 2002, tepat pada saat perayaan hari jadi kota Jakarta yang ke 475 air mancur di Bundaran HI itu direnovasi dengan biaya senilai Rp 14 miliar yang didapat dari hasil kompensasi sepuluh titik reklame. Penataan kembali atau renovasi air mancur dilakukan karena dinilai kuno, ketinggalan zaman, dan banyak kerusakan. Air mancur yang mempunyai lima variasi pancaran air dijalankan dengan program komputer dan mulai diuji coba pada 12 Juni 2002. Sejak itu, pengelolaan dan pengawasan air mancur diserahkan kepada Pemprov DKI oleh pihak ketiga yang merenovasinya. Patung ini hingga sekarang masih tetap merupakan patung kebanggaan kota Jakarta yang tidak pernah lelah menyambut dan mengucapkan selamat datang bagi para tamu pengunjung Ibu Kota Jakarta.

©2007 arie saksono

Sumber:
_______., Sejarah Singkat Patung-Patung dan Monumen di Jakarta, Jakarta: Pemerintah Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta Dinas Museum dan Sejarah, 1992.
– Harian Kompas, “Kabel Terbakar, Air di Bundaran HI Tak Bisa Mancur”, 20 Agustus 2004.


Logo Visit Indonesia Year 2008

December 16, 2007

Visit Indonesia Year 2008

 

VISIT INDONESIA YEAR (VIY) 2008 to celebrate a century since its National Awakening Year (when Indonesians first united to fight Dutch colonials).

Pemerintah Indonesia menetapkan tahun 2008 sebagai Tahun Kunjungan Indonesia atau Visit Indonesia Year 2008 dalam rangka memperingati 100 tahun Kebangkitan Nasional.

Tema Tahun Kunjungan Wisata kali ini adalah memperingati 100 tahun Kebangkitan Nasional, yang di-Inggris-kan menjadi “Visit Indonesia Year 2008. Celebrating 100 Years of National Awakening”. Awalnya terdapat kesalahan tata bahasa dalam slogan promosi pariwisata tersebut. Kata “National” sebelumnya ditulis “Nation” sehingga slogan pada awalnya “Visit Indonesia Year 2008. Celebrating 100 Years of Nation’s Awakening”.

Logo Visit Indonesia Year 2008

Visit Indonesia Year 2008, Celebrating 100 years of National Awakening

[Klik untuk ukuran lebih besar format jpg]

Sumber gambar: www.my-Indonesia.info

Logo Visit Indonesia Year 2008-Hitam

garuda concept VIY

Konsep logo Visit Indonesia Year 2008 mempunyai makna:

  1. Bentuk atau gambar logo berbentuk siluet burung garuda mengambil konsep Garuda Pancasila sebagai dasar negara
  2. Lima sila dari Pancasila digambarkan berupa 5 garis warna yang berbeda dan merupakan simbol diversity Indonesia yang penuh dengan keanekaragaman.
  3. Logo diolah menjadi bentuk dan warna yang dinamis sebagai perwujudan dari Dinamika Indonesia yang sedang berkembang.
  4. Jenis huruf dari logo mengambil dari elemen otentik Indonesia yang disempurnakan dengan sentuhan modern.

 

 


Travel Warning Indonesia

December 15, 2007

Kemarin, waktu sedang mencari artikel travel warning di google, kebetulan ketemu gambar ini. terus iseng2 di edit biar agak bagusan dikit, jadinya begini ni.. 

Indonesia Indonesie Travel Warning

Dalam rangka memperingati SUMPAH PEMUDA, 28 Oktober 2007, dan mengabarkan keindahan negeri ini melalui kampanye TRAVEL WARNING: INDONESIA, DANGEROUSLY BEAUTIFUL..

 


De Eerste Expeditie naar INDIË

December 12, 2007

Houtman, Cornelis de (ca. 1565 – 1599, vermoord te Atjeh)Hij vertrok in 1595 voor de eerste expeditie. Hij kwam in 1596 in Bantam/Banten, dat dan de belangrijkste peperhaven is. Retour in 1597 met slechts drie licht beladen schepen en 1/3 van oorspronkelijke bemanning.

Eerste Expeditie Hieronder een meer uitgebreide beschrijving:

In 1594 kwamen in Amsterdam negen man bijeen en namen het initiatief voor een eerste reis naar Indië. Het waren: Hendrik Hudde, Reinier Pauw, Pieter Hasselaar, Arent ten Grootenhuis, Hendrik Buyck, Syvert Sem, Jan Poppen, Jan Karel en Dirck van Os. Zij brachten geld bijeen (276.000 gulden) voor handelsgoederen, om schepen te bouwen en personeel aan te werven. Aan het hoofd van deze tocht stond Cornelis de Houtman, als oppercommies of opperkoopman. Na de tocht werd alles van de hand gedaan, de specerijen verkocht en het personeel ontslagen: ze waren net uit de kosten gekomen. De schepen: Mauritius, Hollandia, Amsterdam, Duyfken

  1. Mauritius, 85 man (met De Houtman), 200 last (één last is ca. 2 ton)

  2. Hollandia, 85 man, 200 last

  3. Amsterdam, 59 man, 100 last

  4. Duyfken, 20 man, 25 last, als verkenningsjacht (scheepstype Pinas), geschikt voor o.a. ondiepe wateren

Van de 249 opvarenden kwamen na een reis van twee jaar en vier maanden slechts 87 levend terug in patria, plus nog twee na een volgende reis

10-03-1595 zeilt de vloot weg uit Amsterdam om naar Texel te varen voor de laatste voorbereidingen en de laatste passagiers.

02-04-1595 wordt zee gekozen

04-07-1595 wordt de evenaar gepasseerd

04-08-1595 komt men aan op Kaap de Goede Hoop

18-09-1595 komt de vloot op Madagascar aan

02-03-1596 vertrekt men definitief vanaf Madagascar

05-06-1596 komt men bij het eerste Indische eiland: Enggano, ten westen van zuidelijk Sumatra

12-06-1596 is men op Sumatra zelf

23-06-1596 komt men op de rede van Banten. De Houtman e.a. anderen worden gevangen gehouden. Na het betalen van een fiks losgeld en ook met een redelijke hoeveelheid peper wordt vertrokken.

13-11-1596 komt de vloot op de rede van Soenda Kelapa.

18-11-1596 vandaar vertrokken

02-12-1596 in Sidajoe (Oost-Java); daar worden ze aangevallen, en er vallen vele doden

05-12-1596 vertrokken

06-12-1596 op Madoera, waar nu de Hollanders zelf het vuur openen, uit angst voor een herhaling van de gebeurtenissen in Sidajoe.

11-01-1597 wordt de ‘Amsterdam’ in brand gestoken: door een rif was ze ernstig beschadigd, bovendien waren er te weinig bemanningsleden over om alle schepen voldoende te bemannen

28-01-1597 aankomst op Bali, waar voor het eerst de sfeer echt ontspannen is.

26-02-1597 vertrek vanaf Bali, met nog 90 van de oorspronkelijke 249 personen. Twee personen blijven op Bali: de eerste is Emanuel Rodenburg, die op de tweede reis van De Houtman in juli 1601 wordt opgehaald. De tweede is Jan Janssen de Roy uit Amsterdam (volgens het verslag van de tweede reis), echter in het verslag van de eerste reis wordt gesproken over Jacob Claes van Delft.

07-06-1597 wordt de evenaar gepasseerd

11-08-1597 komt men op Texel aan.

Bron: http://home.planet.nl/~eljee/

Versi Bahasa Indonesia:

Ekspedisi Pertama ke Hindia (kepulauan Indonesia)

de houtman cornelis

Cornelis de Houtman (lahir sekitar tahun 1565 – 1599, tewas di Aceh)

Pada tahun 1595 ia berangkat memimpin ekspedisi pertama. Pada tahun 1596 tiba di Bantam/ Banten yang pada saat itu merupakan pelabuhan lada terpenting. Perjalanan pulang ke negeri Belanda pada tahun 1597 dengan tiga kapal bermuatan ringan dan hanya 1/3 dari jumlah total anak buahnya semula.

Ekspedisi pertama, dibawah ini gambaran lengkap perjalanan:

Pada tahun 1594 sembilan orang berkumpul di kota Amsterdam dan mengambil inisiatif untuk sebuah pelayaran ke Hindia (Kepulauan Indonesia) mereka adalah: Hendrik Hudde, Reinier Pauw, Pieter Hasselaar, Arent ten Grootenhuis, Hendrik Buyck, Syvert Sem, Jan Poppen, Jan Karel en Dirck van Os. Mereka bersama-sama mengumpulkan uang (276.000 gulden) untuk barang-barang dagangan, untuk membangun kapal dan merekrut orang. Pemimpin perjalanan adalah Cornelis de Houtman, ia berperan sebagai oppercommies of opperkoopman atau kepala bagian pembelian. Setelah perjalanan semuanya sudah beres, rempah-rempah dijual dan pekerja diberhentikan: semuanya impas.

De eerste VOC schepen

Kapal-kapal: Mauritius, Hollandia, Amsterdam, Duyfken

  1. Mauritius, 85 orang (termasuk de Houtman), 200 muatan (satu muatan beratnya kira-kira 2 ton)

  2. Hollandia, 85 orang, 200 muatan

  3. Amsterdam, 59 orang, 100 muatan

  4. Duyfken, 20 orang, 25 muatan, berfungsi sebagai kapal intai (tipe kapal pinas), antara lain cocok untuk perairan dangkal.

Setelah pelayaran selama 2 tahun 4 bulan, dari 249 orang yang ikut dalam perjalanan tersebut hanya 87 orang saja yang hidup kembali ke negeri Belanda, ditambah 2 orang lagi yang ikut kembali setelah pelayaran berikutnya. (pada ekspedisi pertama 2 orang anak buah Cornelis de Houtman tinggal di pulau Bali dan dijemput kembali pada saat kapal belanda berikutnya singgah di sana)

10-03-1595  Armada berangkat berlayar dari Amsterdam ke pulau Texel untuk persiapan dan penumpang terakhir.

02-04-1595  Memilih rute laut.

04-07-1595  Melewati khatulistiwa.

04-08-1595  Tiba di Tanjung Harapan – Afrika.

18-09-1595  Armada tiba di pulau Madagaskar.

02-03-1596  Secara definitif berangkat meninggalkan Madagaskar.

05-06-1596  Tiba di pulau Hindia yang pertama: pulau Enggano, di sebelah barat pulau Sumatera bagian selatan.

12-06-1596  Tiba di pulau Sumatera.

23-06-1596  Tiba di pelabuhan Banten. De Houtman dan yang lainnya ditangkap. Setelah membayar uang pembebasan dan juga sejumlah lada yang pantas mereka meneruskan perjalanan.

Bantam rede passar
Marktplaats te Bantam (Pasar di Bantam), I. Commelin, Begin ende Voortgangh I, Amsterdam 1646, Eerste Schipvaart, plaat 17; Sumber: www.voc-kennisentrum.nl/gewest-bantam.html

aanval aan de rede van Bantam
Kapal-kapal Belanda pertama di pelabuhan Banten dalam pertempuran pada 07 September 1596

13-11-1596 Tiba di pelabuhan Sunda Kalapa

Batavia
Pemandangan Batavia; Sumber: www.vocsite.nl/geschiedenis/handelposten/batavia.html

18-11-1596  Berangkat dari pelabuhan Sunda Kalapa.

02-12-1596  Di Sidajoe Jawa Timur; mereka diserang, dan jatuh banyak korban tewas.

05-12-1596  Berlayar kembali.

06-12-1596  Di pulau Madura, Orang Belanda memulai penyerangan, sebagai antisipasi, takut kejadian penyerangan di Sidajoe terulang.

11-01-1597  Kapal Amsterdam dibakar: rusak parah karena karang, lagipula jumlah anak buah kapal terlalu sedikit untuk cukup mengawaki semua kapal.

28-01-1597 Tiba di pulau Bali, dimana untuk pertama kalinya suasana benar-benar menyenangkan.

26-02-1597  Berangkat dari pulau Bali, dengan hanya 90 orang yang tersisa dari 249 orang. Dua orang tinggal di Bali; 1. Emanuel Rodenburg, yang pada pelayaran kedua de Houtman pada bulan Juli 1601 dijemput pulang. 2. Jan Janssen de Roy dari Amsterdam (berdasarkan laporan pelayaran kedua), dalam laporan pelayaran pertama juga dibicarakan tentang nama Jacob Claes van Delft.

07-06-1597  Melintasi khatulistiwa.

11-08-1597  Tiba (kembali) di pulau Texel – Negeri Belanda.

©2007 arie saksono
Diterjemahkan dari http://home.planet.nl/~eljee/