KERATON RATU BOKO

Situs Candi/ Istana/ Keraton Ratu Boko

Gapura Kraton Ratu Boko 01 
Gerbang Gapura Keraton Ratu Boko (foto: ©2007 arie saksono) 

Kompleks Situs Istana atau Keraton Ratu Boko berada di puncak bukit dengan ketinggian sekitar 196 meter atau tepatnya 195, 97 meter di atas permukaan laut menempati areal seluas 250.000 m2. Keraton Ratu Boko terletak di Bukit Boko, sekitar 19 kilometer ke arah timur dari kota Yogyakarta (menuju ke arah Wonosari), dari arah barat kota Solo sekitar 50 kilometer dan sekitar 3 kilometer dari Candi Prambanan ke arah selatan.  

Kompleks Ratu Boko memiliki keunikan dan daya tarik tersendiri. Karena lokasinya berada di dataran tinggi, maka dari sini terlihat pemandangan yang memukau. Di arah utara Candi Prambanan dan Candi Kalasan dengan latar belakang pemandangan Gunung Merapi dengan suasana pedesaan dengan sawah menghijau di sekelilingnya. Selain itu, arah selatan, bila cuaca cerah, di kejauhan samar-samar dapat terlihat Pantai Selatan. 

Sejarah Keraton Ratu Boko

Keraton Ratu Boko hingga sekarang masih menjadi misteri yang belum dapat dijelaskan kapan dan oleh siapa nama tersebut diberikan. Kata Keraton berasal dari kata Ke-Ratu-an yang artinya istana atau tempat tinggal ratu atau berarti juga raja, sedangkan Boko berarti bangau (burung-). Hal ini masih menjadi pertanyaan siapa sebenarnya Raja Bangau tersebut, apakah penguasa pada zaman itu atau nama burung dalam arti sebenarnya yang dahulu sering hinggap di kawasan perbukitan Ratu Boko?.  

Reruntuhan Keraton Ratu Boko ini ditemukan pertama kali oleh Van Boeckholtz pada tahun 1790. Seabad setelah penemuan Van Boeckholtz, yaitu sekitar tahun 1890, FDK Bosch mengadakan riset arkeologis tentang peninggalan kepurbakalaan di selatan Candi Prambanan dalam laporan yang berjudul Kraton Van Ratoe Boko. 

Sumber prasasti yang dikeluarkan oleh Rakai Panangkaran tahun 746-784 Masehi, menyebutkan bahwa Keraton Ratu Boko merupakan Abhayagiri Vihara. Abhaya berarti tidak ada bahaya, Giri berarti bukit/ gunung, vihara berarti asrama/ tempat. Dengan demikian Abhayagiri Vihara berarti asrama/ tempat para bhiksu agama Budha yang terletak di atas bukit yang penuh kedamaian atau vihara tempat para Bhiksu mencari kedamaian, tempat menyepi dan memfokuskan diri pada kehidupan spiritual. Pada periode berikutnya tahun sekitar tahun 856 Masehi, kompleks Abhayagiri Vihara tersebut difungsikan sebagai Keraton Walaing oleh Rakai Walaing Pu Khumbayoni yang beragama Hindu. Oleh karena itu tidak mengherankan bila unsur agama Hindu dan Buddha tampak bercampur di bangunan ini. 

Struktur tata letak Keraton Ratu Boko

Istana Ratu Boko memiliki keunikan dibanding peninggalan sejarah lainnya. Jika bangunan lain umumnya berupa candi atau kuil, maka sesuai namanya, istana atau keraton ini menunjukkan ciri-ciri sebagai tempat tinggal. Hal itu terlihat dari adanya sisa bangunan di kompleks ini berupa tiang-tiang pemancang meski kini hanya tinggal batur-batur dari batu andesit, mengindikasikan bahwa dahulu terdapat bangunan yang berdiri di atasnya terbuat dari bahan kayu. Selain itu terdapat pula tanah ngarai yang luas dan subur di sebelah selatan untuk daerah pertanian dan di Bukit Boko terdapat kolam-kolam sebagai tandon penampung air yang berukuran kecil hingga besar.

KolamAir KratonRatuBoko02
Kolam-kolam penampung air di Keraton Ratu Boko (foto: ©2007 arie saksono) 

Kompleks bangunan di Bukit Boko disebut sebagai keraton. Hal tersebut disinggung dalam prasasti dan juga karena mirip dengan gambaran sebuah keraton. Kitab kesusasteraan Bharatayudah, Kresnayana, Gatotkacasraya, dan Bhomakawya, menyebutkan bahwa keraton merupakan kompleks bangunan yang dikelilingi pagar gapura, di dalamnya terdapat kolam dan sejumlah bangunan lain seperti bangunan pemujaan dan di luar keraton terdapat alun-alun. Dengan demikian kompleks bangunan ini diduga memang merupakan kompleks istana atau keraton. 

Tata ruang kompleks Keraton Ratu Boko relatif masih lengkap. Istana ini terbagi menjadi empat, yaitu tengah, barat, tenggara, dan timur.

  • Bagian tengah terdiri dari bangunan gapura utama, lapangan, Candi Pembakaran, kolam, batu berumpak, dan Paseban.
  • Bagian tenggara meliputi struktur lantai, gapura, batur pendopo, batur pringgitan, miniatur 3 candi, tembok keliling kompleks Keputren, dua kompleks kolam, dan reruntuhan stupa. Kedua kompleks kolam dibatasi pagar dan memiliki gapura sebagai jalan masuk. Di dasar kolam, dipahatkan lingga yoni, langsung pada batuan induk.
  • Bagian timur terdapat kompleks bangunan meliputi satu buah kolam dan dua buah gua yang disebut Gua Lanang dan Gua Wadon, Stupa Budha, sedangkan,
  • Bagian barat hanya terdiri atas perbukitan. 

Dari pintu gerbang istana menuju ke bagian tengah Bagian depan, yaitu bagian utama, terdapat dua buah gapura tinggi, gapura yang terdiri dari dua lapis. Gapura pertama memiliki 3 pintu sementara gapura kedua memiliki 5 pintu. Pada gapura pertama terdapat tulisan Panabwara. Kata itu, berdasarkan prasasti Wanua Tengah III, dituliskan oleh Rakai Panabwara, (keturunan Rakai Panangkaran) yang mengambil alih istana. Tujuan penulisan namanya adalah untuk melegitimasi kekuasaan, memberi kekuatan agar lebih agung dan memberi tanda bahwa bangunan itu adalah bangunan utama.

Gerbang Kraton Ratu Boko 03
Gapura Keraton Ratu Boko (foto: ©2007 arie saksono) 

Setelah melewati gapura utama ini, terdapat hamparan rumput luas, yaitu alun-alun. Sekitar 45 meter dari gapura kedua, sisi kiri alun-alun terdapat bangungan candi yang berbahan dasar batu putih sehingga disebut Candi Batu Putih. Tak jauh dari situ, akan ditemukan pula Candi Pembakaran. Candi itu berbentuk bujur sangkar (26 meter x 26 meter) dan memiliki 2 teras. Sesuai namanya candi ini digunakan untuk upacara pembakaran jenasah. Selain kedua candi itu, sebuah batu berumpak dan kolam akan ditemui kemudian bila anda berjalan kurang lebih 10 meter dari Candi Pembakaran. 

Candi Pembakaran_Kraton Boko 
Candi Pembakaran di Kompleks Ratu Boko (foto: arie saksono) 

Arah tenggara dari Candi Pembakaran terdapat sumur misteri. Konon, sumur tersebut bernama Amerta Mantana yang berarti air suci yang diberikan mantra. Airnya hingga kini masih sering dipakai. Masyarakat setempat mengatakan, air sumur itu dapat membawa keberuntungan. Umat Hindu menggunakannya untuk Upacara Tawur agung sehari sebelum Nyepi. Penggunaan air dalam upacara diyakini dapat mendukung tujuannya, yaitu untuk memurnikan diri kembali serta mengembalikan bumi dan isinya pada kondisi harmoni awal. Sehari sebelum Nyepi proses upacara ini dilaksanakan dari Candi Prambanan. 

Ke arah Barat, menyusuri Desa Dawung di lereng bukit, terdapat bekas kompleks keraton yaitu Paseban dan Batur Pendopo. Halaman paling depan terletak di sebelah barat, terdiri atas tiga teras. Masing-masing teras dipisahkan oleh pagar batu andesit setinggi 3,50 meter, dan tebing teras diperkuat dengan susunan batu andesit. Batas halaman sebelah selatan juga berupa pagar dari batu andesit, namun batas utara merupakan dinding bukit yang dipahat langsung.

Bangunan Kraton Ratu Boko 08 
Kompleks Keraton Ratu Boko (foto: ©2007 arie saksono)

Ke bagian timur istana, terdapat dua buah gua, kolam besar berukuran 20 meter x 50 meter dan stupa Budha yang terlihat tenang. Dua buah gua itu terbentuk dari batuan sedimen yang disebut Breksi Pumis. Gua yang berada lebih atas dinamakan Gua Lanang sedangkan yang berada di bawah disebut Gua Wadon. Persis di muka Gua Lanang terdapat sebuah kolam dan tiga stupa. Berdasarkan sebuah penelitian, diketahui bahwa stupa itu merupakan Aksobya, salah satu Pantheon Budha. 

Keraton Ratu Boko: Kombinasi Peninggalan Budha dan Hindu

Hal yang menarik di Keraton Ratu Boko, selain peninggalan Budha juga ditemukan benda-benda arkeologis peninggalan Hindu seperti lingga, yoni, arca durga, dan ganesha. Meski didirikan oleh seorang Budha, Keraton Ratu Boko merupakan sebuah situs kombinasi antara Budha dan Hindu, ini dapat dilihat dari bentuk-bentuk yang ada, yang biasanya terdapat pada candi Budha, selain itu terdapat pula tiga candi kecil sebagai elemen dari agama Hindu, dengan adanya Lingga dan Yoni, patung Dewi Durga, dan Ganesha, serta lempengan emas yang bertuliskan “Om Rudra ya namah swaha” sebagai bentuk pemujaan terhadap Dewa Rudra yang merupakan nama lain Dewa Siwa. Adanya unsur-unsur Hindu itu membuktikan adanya toleransi umat beragama yang tercermin dalam karya arsitektural. Pada masa itu Rakai Panangkaran yang merupakan pengikut Budha hidup berdampingan dengan para pengikut Hindu.

Lingga Kraton Ratu Boko 
Lingga simbol Hindu di Keraton Ratu Boko (foto: ©2007 arie saksono)

Awal Kejayaan tanah Sumatera

Kompleks Istana/ Keraton ratu Boko merupakan saksi bisu awal kejayaan di tanah Sumatera. Balaputradewa sempat melarikan diri ke istana ini sebelum ke Sumatera ketika diserang oleh Rakai Pikatan. Balaputradewa memberontak karena merasa dijadikan sebagai orang nomor dua di pemerintahan Kerajaan Mataram Kuno akibat pernikahan Rakai Pikatan dengan Pramudhawardani (saudara Balaputradewa). Setelah ia kalah dan melarikan diri ke Sumatera, Kemudian ia menjadi raja di Kerajaan Sriwijaya.

Pemandangan dari Bukit Boko
Pemandangan Gunung Merapi di kejauhan dari Bukit Boko (foto: ©2007 arie saksono) 

Pemandangan senja saat matahari terbenam dari atas kawasan Bukit Boko sangat indah. Di arah utara Candi Prambanan dan Candi Kalasan dengan latar belakang pemandangan Gunung Merapi dengan suasana pedesaan dengan sawah menghijau di sekelilingnya.

© 2007 arie saksono

16 Responses to KERATON RATU BOKO

  1. fani says:

    ratu boko mank indah banget n buat capek tapi nilai sejarahnya sangat tinggi, seandainya kebersihan dari candi tersebut dapat dijaga pas kan lebih indah dari sekarang.
    tq

  2. Kerajaan Sriwijaya terkenal akan kemasyurannya di dunia maritim menguasai hampir seluas asia, terimakasih atas info dan artikel anda pak, silahkan mengunjungi/link back ke kami. smg trs membuat tulisan mengenai adat dan budaya kita.
    wass
    http://sriwijaya.asia
    sriwijaya dot asia

  3. MiDev says:

    ….Kedaton Boko..cikal enigma.. Ujung geliat penyusuran Raga ‘tuk menyatu dg Sukma-nya…

  4. ILAL says:

    candi boko indah pas musim hujan ada rumput hijaunyaa dan terlihat segar, pas musim kemarau..gersang kyk padang pasir

  5. Rini says:

    Liburan kemaren ke Ratu Boko. Cuantik. Dapat gatisan suttle bus baru dari Prambanan pp. Turun lewat perkampungan, lewat sawah menghijau cantik. Terima kasih buat pengelola. Kata Pak Sopir itu suttle baru dioperasikan sejak 25 Desember 2008.

    Sayaaaaanngggggg buanget wisatawannya gak tahu malu. Buang sampah makanan dan minuman seenaknya sendiri. Di pinggir alun-alun ada yang jualan makanan dan minuman. Di alun-alun ada sepeda anak-anak teronggok. Di pendapa buat melihat pemandangan yang cantik itu penuh coretan yang kata-katanya sungguh keterlaluan. Pendapa yang “dijaga” Dewa Trimurti, tetapi tidak dijaga kebersihan dan keindahannya. Grafiti dengan kata-kata penghuni kebon binatang.

    Ayo dong, meniru Prambanan dan Borobudur. No snack no drink no rush.
    Salam

  6. iwan says:

    memng ada hubungan saudara dari jawa dan sumatera

  7. Henny Naga Putri says:

    Salam Indonesia,
    Arie,
    Arikel ini merupakan salah satu cara u/melestarikan budaya Indonesia,begitu juga para pembacanya.
    Lestarikan Budaya Indonesia!!!!!

  8. kasuary says:

    Ratu Boko itu siap? apa ia seorang ratu yang jahat atau baik. Sakti ga ya dia? Mungkin dia punya jurus2 silat yang sakti kayak di film2. Kesana ah, mau nyari senjatanya, mungkin siaapa tau masih ada….

  9. Lian says:

    Ratu boko itu bkan nma pmbuatnya,yg buat krton ratu boko itu nmanya Balaputradewa,dia itu adek ipar rakai pikatan yg buat candi prambanan,jika Rakai Pikatan itu dr krjaan Hindu,Balaputradewa mrupkan dri krjaan budha,dia buat ratu boko untuk benteng perthnan mkanya buatnya diatas bukit
    yg mmbangun candi-candi dsekitar jogya jateng sling berkaitan kok,sbagian bsar dibangun pda masa kerajaan Mataram Kuno untuk agama hindu,sdangkan candi agama budha dbangun pada dinasti Syailendra

  10. keraton ratu boko bukan situs kerajaan, tapi candi tempat bekaran jenazah Raja Jawa dan kerabat utamanya

  11. […] berdiam diri seperti di foto diatas dan dibawah ini. Untuk info selengkapnya bisa disimak di situs ini. Hujan di Keraton Ratu […]

  12. kerajaan boko sangat bersejarah bagi gw bkan karena sejarah nya aja yang bgs tapi tempatnya men jauh dan keren abisss

  13. suwarno says:

    sebenarnya situs kraton ratu baka itu sangat indah hanya karena letaknya yang harus masuk kedalam sehingga kalah dengan posisi candi prambanan,saya yakin dengan promosi yang dilakukan pemda jogja akan semakin tertarik untuk berkunjung ke situs kraton ratu baka yang sangat indah dan unik.

  14. cllinshelin says:

    boko wis ko ambek prabu badung cak lan lara jonggraNG KESABDO DADI WATUY CAK

  15. […] : 1 dan 2 Share this:TwitterFacebookTumblrPrintRedditDiggEmailLinkedInStumbleUponPinterestLike […]

  16. mir says:

    25 tahun lalu aku kesana… jadi wong Jogja mesti penasaran….membayangkan bagaimana suasana pada masa itu
    ……..twingggg

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: