Mencoba Mengungkap Misteri Koin Gunung Padang

September 21, 2014

0.5 cent 1859_arie copy

identitas Koin Gunung Padang_1A

Update picture 01/09/2014: Koin Nederlandsch Indie 1/2 cent 1859 & 1860 sebagai pembanding Koin temuan di Gunung Padang.-Koleksi pribadi-

Keberadaan situs Gunung Padang hingga kini masih menyimpan misteri. Situs ini terletak di kabupaten berada di perbatasan Dusun Gunungpadang dan Panggulan, Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur. Sejak zaman Belanda situs ini sudah menarik perhatian banyak ilmuwan untuk mencoba mengungkap rahasia dibalik tumpukan bebatuan yang menyerupai pyramid ini.

Menurut data literatur pada tahun 1891, DR. R. D. M. Verbeek, sudah memasukkan Gunung Padang dalam tulisannya mengenai daftar tempat-tempat bersejarah di Pulau Jawa. “Oudheden van Java. Lijst der Voornaamste Overblijfselen uit den Hindoetijd op Java met Eene Oudheidkundige Kaart” yang dipublikasikan dalam buku “Verhandelingen van Het Bataviaasch Genootschap der Kunsten en Wetenschappen, Deel XLVI” diterbitkan oleh Lansdrukkerij Batavia – M Nijhoff ’s Hage tahun 1891.

Dalam tulisannya tersebut, Verbeek menyebutkan :

38. Goenoeng Padang.

District Peser, afdeeling Tjiandjoer, Blad K. XIII.

Op den bergtop Goenoeng Padang, nabij Goenoeng mélati, eene opeenvolging van 4 terrassen, door trappen van ruwe steenen verbonden, met ruwe platte steenen bevloerd en met talrijke scherpe en zuilvórmige rechtopstaande andesietsteenen versierd. Op ieder terras een heuveltje, waarschijnlijk een graf, met steenen omzet en bedekt, en van boven met 2 spitse steenen voorzien. In 1890 door den heer De Corte bezocht

.. Di puncak Gunung Padang, dekat Gunung Melati, terdapat undakan yang terdiri dari 4 teras yang dihubungkan dengan tangga batu yang kasar dan dengan dasar yang terbuat dari batu datar yang kasar dan dengan dihiasi oleh banyak batuan andesit berbentuk pilar/ tugu yang berdiri tegak. Pada tiap teras terdapat gundukan yang kemungkinan kuburan, ditutupi dan dilingkari dengan batu, dan atas dengan 2 batu tajam. dikunjungi oleh tuan Corte pada tahun 1890 ..

saksono_arie-01X

saksono_arie-03A_1

Itulah keterangan singkat yang ditulis Verbeek. Sementara beberapa tahun berikutnya pada tahun 1914, N.J. Krom menuliskan kembali keterangan yang serupa mengenai situs Gunung Padang ini dalam Rapporten van de Oudheidkundige Dienst (berisi semacam laporan inventarisasi peninggalan-peninggalan bersejarah yang ada di Nederlands Indie pada saat itu). Selebihnya belum ada penelitian maupun karya tulis ilmiah yang mendalam mengenai asal usul situs Gunung Padang ini.

Dalam kurun waktu sejak publikasi buku Bataviaasch Genootschap Der Kunsten En Wetenschappen yang memuat keterangan situs Gunung Padang tersebut kemungkinan pemerintah Hindia Belanda memang sedang disibukkan dengan proyek prestisius pemugaran Candi Borobudur yang dipimpin oleh Theodor van Erp tahun 1900- 1911 hingga akhirnya terhenti oleh pecahnya perang dunia kedua tahun 1940. Sehingga status Situs Gunung Padang pada masa itu masih sebatas pada proyek inventarisasi saja belum masuk pada proses penelitian maupun pemugaran. Pemerintah Hindia Belanda masih mencurahkan perhatian dan dana ke proyek pemugaran Candi Borobudur untuk menandingi pemerintah kolonial Perancis di Kamboja dengan proyek pemugaran Ankor Wat-nya yang tampil pada pameran Kolonial Perancis dan pameran Universal di Paris dan Marseille antara tahun 1889 dan 1937. Hingga akhirnya Indonesia merdeka pada tahun 1945 situs Gunung Padang masih tetap menjadi misteri, pemerintah Hindia Belanda meninggalkannya sebagai pekerjaan rumah bagi pemerintah Indonesia untuk diungkap, membuka tabir rahasia dibaliknya.

Tulisan beserta sedikit data sejarah di atas merupakan pengantar dari topik utama sebenarnya yang ingin dibicarakan dalam artikel ini mengenai koin kuno yang ditemukan di Gunung Padang. Sebagaimana yang ramai diberitakan, tim peneliti Gunung Padang berhasil menemukan sekeping koin pada 14 dan 15 September 2014. Pro-kontra pendapat dan analisa mengenai koin ini banyak mewarnai pemberitaan sejak pemberitaan penemuan koin. Penulis sempat mengirimkan informasi beserta foto perbandingan yang sama dengan dibawah, mengenai koin Gunung Padang ini ke redaksi detik.com, pada tanggal 19 September 2014 namun karena terbatasnya ruang maka penulis memutuskan untuk mencoba mengungkap lebih detail di blog ini sebagai sarana untuk berbagi informasi. http://news.detik.com/read/2014/09/19/161134/2695565/10/lebih-seksama-melihat-perbandingan-koin-misterius-gunung-padang-dan-koin-era-belanda

>Mencermati koin temuan di situs Gunung Padang, menurut saya koin tersebut identik dengan Koin Hindia Belanda/ Nederlandsch Indie nominal 1/2 cent periode 1855-1909.

Gambar koin A memperlihatkan bagian belakang koin temuan Gunung Padang yang sudah aus kehijauan karena korosi oksidasi. Warna koin temuan di situs Gunung Padang kehijauan merupakan ciri patina lapisan verdigris (tembaga karbonat) yang biasa ditemui pada proses korosi koin ataupun logam tembaga tua.

Identifikasi selanjutnya dilakukan melalui metode sederhana berupa kesamaan ukuran diameter dan kesamaan ciri yang masih dapat nampak -tersisa dari koin Gunung Padang. Ciri-ciri tersebut dapat terlihat dari kesamaan aksara/ tulisan Arab Melayu dan aksara Jawa yang sudah ditandai dengan lingkaran warna merah dan hijau. Untuk mempermudah, posisi letak kedua koin harus disesuaikan agar dapat diperbandingkan kesamaannya.
Berikut gambar ketiga koin tersebut yang sudah dipadupadankan:

arie_saksono_coin_copy

keterangan gambar:
Koin A: Koin temuan Gunung Padang
Koin B: Koin Hindia Belanda/ Nederlandsch Indie 1/2 Cent 1855-1909
Koin C: Koin Hindia Belanda/ Nederlandsch Indie 1/2 Cent 1914-1945

arie_saksono_coin_copy1 copy

Gambar di atas adalah bagian belakang koin yang bertuliskan aksara Jawa dan Arab-Melayu yang menyatakan besaran nominal koin, setengah sen.

Spesifikasi Koin:
Komposisi: Copper/ Tembaga
Berat: 2.3000gr
Diameter: 17mm

Perbandingan lain dengan foto koin Gunung Padang dari Twitter Tim GP
foto koin pembanding sudah dirotasi agar posisi sama dengan karakteristik koin temuan Gunung Padang

koin gunung padang copy1

Koin Hindia Belanda pecahan kecil 1/2 cent ada dua jenis cetakan, periode pertama 1855-1909 dan periode kedua 1914-1945 (selanjutnya setelah Indonesia Merdeka – koin sdh tdk dicetak –tidak berlaku).

Karakteristik dari koin ½ sen periode pertama 1855-1909
ned indie stngah cent 1855 copy
Observe / bagian depan
Lambang Kerajaan Belanda dengan Mahkota yang berada di antara tahun cetakan (1855 s/d 1909)

arie coin degenMercuriusstaf

Di sebelah kiri pedang dan sebelah kanan tongkat Mercurius, semuanya berada dalam bidang Parelrand / lingkar mutiara.
Sisi atas terdapat tulisan Nederlandsch Indie, bawah nilai nominal ½ Cent

Ned Indie setengah sen_descript copy

Reverse / bagian belakang
Di dalam (parelrand) lingkar mutiara – lingkaran titik-titik yang berjumlah 86, terdapat tulisan aksara Arab-Melayu, tertulis:
saperdoewaratoes roepijah

arabic schrift 0.5_arie cent_arie    arabic schrift 0.5_arie cent_arie_1

tulisan aksara Jawa melingkar diluar lingkar mutiara, tertulis:
sapararongatoes roepiah

java schrift 0.5 cent_arie

Perbedaan pada periode pertama paruh kedua (1902-1909)
ada sedikit perbedaan pada koin ½ cent yaitu pada bagian depan coin, Muntmeestertekens/ ciri utama koin yang ada pada bagian depan koin, di kiri dan kanan Schildwapen (Lambang Belanda) berupa Hellebaard, Hellebaard met ster, Zeepaardje en Druiventros

hlbrdstr  zeepdje

> Perbedaan utama pada bagian belakang/ reverse dari koin ½ sen periode pertama 1855-1909 dengan periode kedua 1914-1945 adalah pada koin periode pertama aksara Arab nampak tidak banyak memenuhi bidang dalam lingkar mutiara sementara pada koin periode kedua tulisan atau aksara arab pada koin lebih memenuhi bidang dalam Parelrand / lingkar mutiara (atau motif “gawangan”) dengan adanya Tashkil pada aksara Arab/-Melayu. (lihat gambar koin C)
Untuk aksara/ tulisan Jawa terdapat jarak antara – dengan parelrand / lingkaran mutiara, sementara pada koin periode berikutnya (periode 1914-1945 > koin C) tulisan aksara Jawa lebih dekat pada pinggir lingkaran mutiara.

1936A copy

Beberapa orang sempat menduga bahwa koin Gunung Padang serupa dengan koin Hindia Belanda/ Nederlandsch Indie pecahan 2 ½ cents tahun 1945, karena ada beberapa ciri yang mirip. Namun demikian melihat dari ukuran diameter koin 2 ½ cents adalah 31mm, ini jelas sekali berbeda dengan koin temuan Gunung Padang yang hanya 17mm. Sebagaimana dijelaskan di atas, bahwa tulisan Arab Melayu ataupun Jawa menyatakan besaran nominal koin, jadi jelas sekali beda, meskipun nampak sedikit kesamaan pada tulisan Jawa yang melingkari pinggiran koin. Selain itu juga koin Ned. Indie keluaran 1945 memiliki tipe tulisan huruf Arab Melayu-nya lebih modern dengan Tashkil-diacritics yang lebih memenuhi bidang dalam lingkaran mutiara. Sehingga jelas koin Nederlandsch Indie 2 ½ cents yang lebih dikenal dengan koin benggol tersebut tidak identik sama dengan koin temuan Gunung Padang dibandingkan dengan koin Nederlandsch Indie ½ cent keluaran periode 1855-1909.

benggol 2.5 cents 1945

Berdasarkan uraian di atas, dapat asumsikan bahwa koin 1/2 cent tersebut kemungkinan terjatuh dari orang-orang (Belanda) yang pada masa tersebut sudah pernah berada (meneliti) di situs Gunung Padang pada periode waktu tahun 1890-an (de Corte – Verbeek) hingga 1914 (N.J. Krom). Hingga akhirnya ditemukan kembali oleh Tim Peneliti Gunung Padang pada tengah malam 14-15 September 2014. Semoga tulisan ini dapat membantu mengungkap rahasia koin misterius situs Gunung Padang.

salam,
arie.

Sumber gambar:
Koin A: news.detik*com
Koin B: www*ngccoin*com
Koin C: Koleksi pribadi
Netscher,E., Van der Chijs, J.A, 1863, De munten van Nederlansch Indië; Beschreven en Afgebeeld: Batavia Lange & co.
twitter*com/TimRisetMandiri
__________., Officiele Katalogus 1978; voor Munten en Bankbiljetten van Nederland, Munten van Suriname, Curacao, Ned. Antillen en Ned. Indie: Uitgeverij Excellent BV: Nederland

Referensi:
Netscher,E., Van der Chijs, J.A, 1863, De munten van Nederlansch Indië; Beschreven en Afgebeeld: Batavia Lange & co
__________., Officiele Katalogus 1978; voor Munten en Bankbiljetten van Nederland, Munten van Suriname, Curacao, Ned. Antillen en Ned. Indie: Uitgeverij Excellent BV: Nederland
Verbeek, R. D. M. DR, 1891, Verhandelingen Van Het Bataviaasch Genootschap Der Kunsten En Wetenschappen, Deel XLVI: Lansdrukkerij Batavia – M Nijhoff ’s Hage
www*ngccoin*com
en*numista*com


MUSEUM NASIONAL INDONESIA – Museum Gajah, Jakarta

March 25, 2008

museum nasional RI Jakarta
Museum Nasional Republik Indonesia–Jakarta (foto: ©2008 arie saksono)

Bataviaasch Genootschap 1870 Bataviaasch Genootschap 1880
Bataviaasch Genootschap 1870 & Bataviaasch Genootschap 1880
Halaman depan Museum tahun 1870 belum ada patung Gajah

Bataviaasch Genootschap 1902 Museum Nasional 2008
Bataviaasch Genootschap 1902 & Museum Nasional 2008

Sejarah Museum Nasional
Sejarah Museum Nasional dimulai pada tanggal 24 April 1778 dengan dibentuknya sebuah wadah perkumpulan intelektual dan ilmuwan Belanda yang berada di Hindia Belanda, tepatnya di kota Batavia, yang bernama Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (Perkumpulan (-warga) Batavia untuk Seni dan Ilmu Pengetahuan). Lembaga ini memiliki tujuan untuk mempromosikan penelitian dalam bidang seni dan ilmu pengetahuan, khususnya di bidang sejarah, arkeologi, etnografi, dan mempublikasikan berbagai penemuan-penemuan di bidang tersebut.

Salah seorang pendiri, J.C.M. Radermacher menyumbangkan bangunan, koleksi buku-buku dan benda-benda budaya yang merupakan awal berharga untuk sebuah museum dan perpustakaan bagi masyarakat. Karena semakin meningkatnya jumlah koleksi, Jenderal Sir Thomas Stamford Raffles pada awal abad ke 19 membangun tempat baru di Jalan Majapahit no. 3, di pavilyun gedung Harmonie dan menamakannya Literary Society. Kemudian pada periode berikutnya tahun 1862 pemerintah Hindia Belanda memutuskan untuk membangun gedung museum baru yang tidak hanya berfungsi sebagai kantor tetapi juga sebagai tempat perawatan dan memamerkan koleksi-koleksi yang ada.

Arca Nandi Museum Nasional
Arca Nandi di halaman tengah Museum nasional (foto: arie saksono)

Museum ini dibuka secara resmi pada tahun 1868. Museum ini dikenal sebagai Gedung Gajah atau Gedung Arca, karena terdapat patung gajah yang terbuat dari perunggu di halaman depan yang merupakan pemberian dari Raja Siam (Thailand) pada bulan Maret 1871. Patung Gajah yang sama juga diberikan kepada negara Singapura dan hingga kini masih berada di Raffles Museum Singapura. Sedangkan disebut sebagai gedung arca karena di sini terdapat berbagai jenis dan bentuk patung/ arca dari berbagai babakan periode sejarah nusantara.

Gajah Museum Nasional prasasti Chulalonkorn_Gajah
Museum Nasional dan patung Gajah dari Raja Siam (foto: arie saksono)

Geschenk van Zijne Majesteit SOMDETCH PHRA PARAMINDR MAHA CHULALONKORN, Eersten Koning van Siam, aangeboden aan de stad..(- Batavia)  ter herinnering aan zijn bezoek in de maand Maart 1871

(Hadiah dari yang mulia Somdetch Phra Paramarindr Maha CHULALONKORN, Raja Siam (Thailand) yang pertama, diberikan kepada kota.. >Batavia [terhapus, tetapi kemungkinan besar mengacu ke kota Batavia] sebagai kenang-kenangan atas kunjungannya pada bulan Maret 1871)

Kanon Museum Nasional
Kanon atau meriam VOC yang berada di sisi kiri & kanan patung Gajah, dibuat tahun 1676 oleh J. Burgerhuys dan yang satunya tahun 1696 dibuat oleh A. van Ommen (foto: arie saksono)

Pada tanggal 29 Februari 1950 lembaga ini menjadi Lembaga Kebudayaan Indonesia (Indonesia Culture Council) dan selanjutnya pada tanggal 17 September 1962 diserahkan kepada pemerintah Indonesia dan menjadi Museum Pusat. Berdasarkan keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 092/0/1979 tanggal 28 Mei 1979 menjadi Museum Nasional.

Museum Nasional berfungsi tidak hanya sebagai lembaga studi dan penelitian warisan budaya bangsa tapi juga berfungsi sebagai pusat informasi yang bersifat edukatif, kultural dan rekreatif. Sejarah panjang Museum Nasional tersebut menjadikan museum ini museum terbesar dan tertua di Indonesia.

Koleksi Museum Nasional
Museum Nasional memiliki banyak koleksi benda-benda budaya dari seluruh Nusantara. Di antaranya termasuk koleksi arca-arca, prasasti yang berasal dari kerajaan-kerajaan di Nusantara dan benda-benda seni budaya serta beraneka ragam benda-benda yang digunakan pada upacara tradisi dan ritual dari berbagai suku bangsa yang ada di Indonesia.

Hingga saat ini koleksi yang dikelola Museum Nasional berjumlah lebih dari 141.000. benda, terdiri atas tujuh jenis koleksi yaitu koleksi prasejarah, arkeologi, keramik, numismatik dan heraldik, sejarah, etnografi dan geografi. Koleksi tersebut dapat disaksikan dalam 9 ruangan berbeda, yaitu: Ruang Etnografi, Ruang Perunggu, Pra-Sejarah, Ruang Keramik, Ruang Tekstil, Ruang Numismatik & Heraldik, Ruang Relik Sejarah, Ruang Patung Batu, dan Ruang Khazanah.

Dahulu Museum Nasional juga memiliki perpustakaan yang menyimpan koleksi berupa naskah-naskah manuskrip kuno, namun setelah gedung Perpustakaan Nasional RI yang terletak di Jalan Salemba 27 Jakarta Pusat didirikan, naskah-naskah tersebut dan koleksi perpustakaan Museum Nasional kini disimpan di Perpustakaan Nasional.

Sumber koleksi banyak berasal dari penggalian arkeologis, hibah kolektor sejak masa Hindia Belanda dan juga pembelian. Koleksi keramik dan koleksi etnografi Indonesia di museum ini terbanyak dan terlengkap di dunia. Museum ini merupakan museum pertama dan terbesar di Asia Tenggara.

Sejak tahun 1822 pemerintah kolonial Hindia Belanda memerintahkan agar semua benda-benda sejarah, seni, budaya atau sejenisnya dari seluruh kepulauan nusantara yang didapatkan melalui ekspedisi ilmiah, ekspedisi militer, atau dikumpulkan oleh pegawai pemerintah, misionaris dan penyebar agama diserahkan kepada Bataviaasch Genootschap di Batavia. Selanjutnya perkumpulan Batavia akan mengajukan pembagian antara Batavia dan Nederland (Kerajaan Belanda). Sebagian dari koleksi ditempatkan di Museum Bataviaasch Genootschap dan sebagian lainnya ditempatkan di Rijksmuseum voor Volkenkunde di Leiden.

Setelah kemerdekaan Republik Indonesia nama Museum van het Bataviaasch Genootschap menjadi Museum Nasional Republik Indonesia. Kemudian setelah Perang Dunia ke-2, pihak pemerintah Republik Indonesia dan Kerajaan Belanda secara teratur mengadakan pembicaraan bilateral mengenai pengembalian hak warisan budaya. Diskusi ini pada akhirnya menghasilkan persetujuan Wassenaar yang memutuskan pemilik sah atas warisan budaya tersebut. Sebagai kelanjutan dari persetujuan ini, pada tahun 1978 sebuah hasil ukiran batu maha karya yaitu Arca Prajnaparamita bersama dengan sejumlah besar harta karun Lombok dikembalikan kepada Indonesia. Kini benda-benda tersebut dapat disaksikan di Museum Nasional Republik Indonesia, Jakarta.

prajnaparamita godin van de opperstewijsheid
Arca Prajnaparamita

Koleksi arca Buddha tertua di Museum ini berupa arca Buddha Dipangkara yang terbuat dari perunggu, disimpan dalam Ruang Perunggu dalam lemari kaca tersendiri, sementara arca Hindu tertua di Nusantara yaitu arca Wisnu Cibuaya berasal dari sekitar abad ke 4 Masehi berada di ruang arca batu terhalang oleh arca Ganesha dari Candi Banon.

Pengunjung Museum nasional dapat memilih koleksi mana yang akan dilihat di sini, sesuai dengan ketertarikan dan minat mereka. Bila ingin melihat koleksi benda-benda yang terbuat dari emas, logam mulia dan batu-batuan berharga yang berasal dari kerajaan-kerajaan di nusantara, maka saat masuk museum belok ke kiri dan naik tangga menuju Ruang Khazanah emas atau Treasure Room dan berjalan searah jarum jam. Sementara apabila ingin melihat koleksi etnografi maka belok ke kanan dan berjalan berlawanan arah jarum jam. Koleksi arca atau patung ada di bagian tengah dan di halaman tengah museum.

Salah satu ruangan yang menarik lainnya di Museum Nasional adalah Ruang Thailand atau Thai Room. Ruang ini menyajikan berbagai benda-benda sejarah dari Thailand. Salah satunya adalah patung dan topeng Thotsakan Vishnukarman yang berwarna hijau. Topeng ini tampak eksotis dan menarik, warnanya yang hijau terlihat unik dan ekspresif seakan-akan hidup.

Ruang Khazanah Emas> The Treasure Rooms
Ruang Khazanah emas dibagi dua bagian, Ruang Arkeologi dan Ruang Etnografi. Di ruangan ini terdapat lebih dari 200 item benda-benda koleksi  yang terbuat dari emas dan perak, benda-benda tersebut lebih banyak yang ditemukan secara tidak disengaja dibandingkan yang ditemukan melalui penggalian arkeologis.

Pada tahun 1990 seorang petani di Wonoboyo Klaten Jawa Tengah menemukan harta karun terpendam yang berasal dari periode Jawa Klasik sekitar abad ke-5 hingga ke-15 masehi. Harta karun tersebut kebanyakan berupa benda-benda perhiasan yang terbuat dari emas dan perak, secara keseluruhan beratnya lebih dari 35 kilogram. Harta karun Wonoboyo kemungkinan terpendam lava dari letusan dahsyat Gunung Merapi pada sekitar awal abad ke-10. Benda-benda ini merupakan penemuan terbesar abad ini di Indonesia dan sekarang dapat disaksikan di ruang Khazanah Arkeologi.

Koleksi di ruang Khazanah Etnografi terdiri dari benda-benda yang berasal dari abad ke-18 hingga abad ke-20 Masehi. Kebanyakan benda-benda tersebut terbuat dari emas 14-24 karat dan banyak di antaranya yang dihiasi dengan batu-batu mulia.Selama berabad-abad Indonesia dikenal sebagai negeri yang kaya akan emas dan logam mulia lainnya. Benda-benda budaya dibuat dengan beberapa teknik pembuatan yang sesuai dengan babakan periode kebudayaan yang ada.

Koleksi yang ada di Museum Nasional merupakan warisan luhur bangsa Indonesia yang tidak ternilai harganya. Keberadaan benda-benda di ruang Khazanah ini merupakan bukti sejarah atas peradaban budaya yang tinggi dari kerajaan-kerajaan yang pernah berkuasa di Indonesia dan hal ini tidak hanya sekedar dinilai dari bahan baku pembuatan benda tersebut namun nilai sejarah yang dikandungnya yang membuatnya sangat tidak ternilai. Tidak mengherankan museum ini telah mengalami beberapa kali kasus pencurian. Pada tahun 1960-an, terjadi kasus pencurian koleksi emas yang dilakukan oleh kelompok Kusni Kasdut. Pada tahun 1979 terjadi pula kasus pencurian koleksi uang logam. Pada tahun 1987 beberapa koleksi keramik senilai Rp. 1,5 milyar. Terakhir pada tahun 1996 kasus pencurian lukisan yang akhirnya bisa ditemukan kembali di Singapura.

Gedung Baru Museum Nasional
Museum Nasional sekarang ini terdiri dari dua unit, yaitu Gedung Museum Nasional (Unit A) serta bangunan baru, Gedung Arca (Unit B) yang mulai dibangun sejak tahun 1996, dan diresmikan oleh Presiden SBY tanggal 20 Juni 2007. Konsep penataan pameran di Gedung Arca diberi tema “Keanekaragaman Budaya Dalam Kesatuan”. Tema yang mencerminkan keanekaragaman kebudayaan bangsa sebagai modal bangsa. Konsep penataan tiap lantai di Gedung Arca yang terdiri dari 4 lantai. Lantai 1 bertemakan Manusia dan Lingkungan, Lantai 2 IPTEK, Lantai 3 Organisasi Sosial dan Pola Pemukiman dan Lantai 4 Khasanah Emas dan Keramik.

Jam Buka Museum:
Museum Nasional buka mulai pukul 08.30 hingga 14.30 pada hari Selasa, Rabu, Kamis dan Minggu. Pukul 08.30 hingga 11.30 pada hari Jumat dan pukul 08.30 hingga 13.30 pada hari Sabtu. Museum Nasional tutup pada hari Senin dan hari libur nasional.

Update Infomasi 2015:
Selasa 08.00 – 16.00 WIB
Rabu 08.00 – 16.00 WIB
Kamis 08.00 – 16.00 WIB
Jumat 08.00 – 11.30 WIB — 13.00 – 16.00
Sabtu 08.00 – 17.00 WIB
Minggu 08.00 – 17.00 WIB
Museum Nasional tutup pada hari Senin dan hari libur nasional.

Tiket Masuk
Dewasa Rp. 750; Anak di bawah umur 17 tahun dan pelajar Rp. 250.
Asing/ Mancanegara Rp. 10.000.

Dewasa Rp. 750; Anak di bawah umur 17 tahun dan pelajar Rp. 250.
Asing/ Mancanegara Rp. 10.000.

Update Infomasi 2015:
Dewasa Rp. 5.000
Anak-anak Rp. 2.000
Rombongan Minimal 20 orang:
Dewasa Rp. 5.000
Anak-anak Rp. 2.000

Asing/ Mancanegara Dewasa & Anak-anak  Rp. 10.000.
Museum Nasional

Lokasi & Tempat Parkir:
Museum Nasional terletak di Jalan Merdeka Barat No. 12 Jakarta Pusat, di seberang sisi sebelah barat Monumen Nasional dan sesudah Kantor Departemen Pertahanan RI ke arah utara/ Harmoni . Halaman depan dapat menampung mobil dan bis, dan selain itu terdapat tempat parkir yang luas di basement gedung Arca (gedung B)

Tata Tertib Museum
Pengunjung Museum Nasional diminta untuk tidak merokok, makan, dan minum di seluruh area museum dan dilarang untuk menyentuh benda-benda koleksi yang ada di museum.

©2008 arie saksono

Sumber:
-Leaflet Museum Nasional
-Heuken SJ, Adolf., Historical Sites of Jakarta, Jakarta: Cipta Loka Caraka, 1982
-museumnasional.org
-pelita.nl
-wikipedia.org
-presidensby.info
sumber lainnya ++


KERATON RATU BOKO

March 10, 2008

Situs Candi/ Istana/ Keraton Ratu Boko

Gapura Kraton Ratu Boko 01 
Gerbang Gapura Keraton Ratu Boko (foto: ©2007 arie saksono) 

Kompleks Situs Istana atau Keraton Ratu Boko berada di puncak bukit dengan ketinggian sekitar 196 meter atau tepatnya 195, 97 meter di atas permukaan laut menempati areal seluas 250.000 m2. Keraton Ratu Boko terletak di Bukit Boko, sekitar 19 kilometer ke arah timur dari kota Yogyakarta (menuju ke arah Wonosari), dari arah barat kota Solo sekitar 50 kilometer dan sekitar 3 kilometer dari Candi Prambanan ke arah selatan.  

Kompleks Ratu Boko memiliki keunikan dan daya tarik tersendiri. Karena lokasinya berada di dataran tinggi, maka dari sini terlihat pemandangan yang memukau. Di arah utara Candi Prambanan dan Candi Kalasan dengan latar belakang pemandangan Gunung Merapi dengan suasana pedesaan dengan sawah menghijau di sekelilingnya. Selain itu, arah selatan, bila cuaca cerah, di kejauhan samar-samar dapat terlihat Pantai Selatan. 

Sejarah Keraton Ratu Boko

Keraton Ratu Boko hingga sekarang masih menjadi misteri yang belum dapat dijelaskan kapan dan oleh siapa nama tersebut diberikan. Kata Keraton berasal dari kata Ke-Ratu-an yang artinya istana atau tempat tinggal ratu atau berarti juga raja, sedangkan Boko berarti bangau (burung-). Hal ini masih menjadi pertanyaan siapa sebenarnya Raja Bangau tersebut, apakah penguasa pada zaman itu atau nama burung dalam arti sebenarnya yang dahulu sering hinggap di kawasan perbukitan Ratu Boko?.  

Reruntuhan Keraton Ratu Boko ini ditemukan pertama kali oleh Van Boeckholtz pada tahun 1790. Seabad setelah penemuan Van Boeckholtz, yaitu sekitar tahun 1890, FDK Bosch mengadakan riset arkeologis tentang peninggalan kepurbakalaan di selatan Candi Prambanan dalam laporan yang berjudul Kraton Van Ratoe Boko. 

Sumber prasasti yang dikeluarkan oleh Rakai Panangkaran tahun 746-784 Masehi, menyebutkan bahwa Keraton Ratu Boko merupakan Abhayagiri Vihara. Abhaya berarti tidak ada bahaya, Giri berarti bukit/ gunung, vihara berarti asrama/ tempat. Dengan demikian Abhayagiri Vihara berarti asrama/ tempat para bhiksu agama Budha yang terletak di atas bukit yang penuh kedamaian atau vihara tempat para Bhiksu mencari kedamaian, tempat menyepi dan memfokuskan diri pada kehidupan spiritual. Pada periode berikutnya tahun sekitar tahun 856 Masehi, kompleks Abhayagiri Vihara tersebut difungsikan sebagai Keraton Walaing oleh Rakai Walaing Pu Khumbayoni yang beragama Hindu. Oleh karena itu tidak mengherankan bila unsur agama Hindu dan Buddha tampak bercampur di bangunan ini. 

Struktur tata letak Keraton Ratu Boko

Istana Ratu Boko memiliki keunikan dibanding peninggalan sejarah lainnya. Jika bangunan lain umumnya berupa candi atau kuil, maka sesuai namanya, istana atau keraton ini menunjukkan ciri-ciri sebagai tempat tinggal. Hal itu terlihat dari adanya sisa bangunan di kompleks ini berupa tiang-tiang pemancang meski kini hanya tinggal batur-batur dari batu andesit, mengindikasikan bahwa dahulu terdapat bangunan yang berdiri di atasnya terbuat dari bahan kayu. Selain itu terdapat pula tanah ngarai yang luas dan subur di sebelah selatan untuk daerah pertanian dan di Bukit Boko terdapat kolam-kolam sebagai tandon penampung air yang berukuran kecil hingga besar.

KolamAir KratonRatuBoko02
Kolam-kolam penampung air di Keraton Ratu Boko (foto: ©2007 arie saksono) 

Kompleks bangunan di Bukit Boko disebut sebagai keraton. Hal tersebut disinggung dalam prasasti dan juga karena mirip dengan gambaran sebuah keraton. Kitab kesusasteraan Bharatayudah, Kresnayana, Gatotkacasraya, dan Bhomakawya, menyebutkan bahwa keraton merupakan kompleks bangunan yang dikelilingi pagar gapura, di dalamnya terdapat kolam dan sejumlah bangunan lain seperti bangunan pemujaan dan di luar keraton terdapat alun-alun. Dengan demikian kompleks bangunan ini diduga memang merupakan kompleks istana atau keraton. 

Tata ruang kompleks Keraton Ratu Boko relatif masih lengkap. Istana ini terbagi menjadi empat, yaitu tengah, barat, tenggara, dan timur.

  • Bagian tengah terdiri dari bangunan gapura utama, lapangan, Candi Pembakaran, kolam, batu berumpak, dan Paseban.
  • Bagian tenggara meliputi struktur lantai, gapura, batur pendopo, batur pringgitan, miniatur 3 candi, tembok keliling kompleks Keputren, dua kompleks kolam, dan reruntuhan stupa. Kedua kompleks kolam dibatasi pagar dan memiliki gapura sebagai jalan masuk. Di dasar kolam, dipahatkan lingga yoni, langsung pada batuan induk.
  • Bagian timur terdapat kompleks bangunan meliputi satu buah kolam dan dua buah gua yang disebut Gua Lanang dan Gua Wadon, Stupa Budha, sedangkan,
  • Bagian barat hanya terdiri atas perbukitan. 

Dari pintu gerbang istana menuju ke bagian tengah Bagian depan, yaitu bagian utama, terdapat dua buah gapura tinggi, gapura yang terdiri dari dua lapis. Gapura pertama memiliki 3 pintu sementara gapura kedua memiliki 5 pintu. Pada gapura pertama terdapat tulisan Panabwara. Kata itu, berdasarkan prasasti Wanua Tengah III, dituliskan oleh Rakai Panabwara, (keturunan Rakai Panangkaran) yang mengambil alih istana. Tujuan penulisan namanya adalah untuk melegitimasi kekuasaan, memberi kekuatan agar lebih agung dan memberi tanda bahwa bangunan itu adalah bangunan utama.

Gerbang Kraton Ratu Boko 03
Gapura Keraton Ratu Boko (foto: ©2007 arie saksono) 

Setelah melewati gapura utama ini, terdapat hamparan rumput luas, yaitu alun-alun. Sekitar 45 meter dari gapura kedua, sisi kiri alun-alun terdapat bangungan candi yang berbahan dasar batu putih sehingga disebut Candi Batu Putih. Tak jauh dari situ, akan ditemukan pula Candi Pembakaran. Candi itu berbentuk bujur sangkar (26 meter x 26 meter) dan memiliki 2 teras. Sesuai namanya candi ini digunakan untuk upacara pembakaran jenasah. Selain kedua candi itu, sebuah batu berumpak dan kolam akan ditemui kemudian bila anda berjalan kurang lebih 10 meter dari Candi Pembakaran. 

Candi Pembakaran_Kraton Boko 
Candi Pembakaran di Kompleks Ratu Boko (foto: arie saksono) 

Arah tenggara dari Candi Pembakaran terdapat sumur misteri. Konon, sumur tersebut bernama Amerta Mantana yang berarti air suci yang diberikan mantra. Airnya hingga kini masih sering dipakai. Masyarakat setempat mengatakan, air sumur itu dapat membawa keberuntungan. Umat Hindu menggunakannya untuk Upacara Tawur agung sehari sebelum Nyepi. Penggunaan air dalam upacara diyakini dapat mendukung tujuannya, yaitu untuk memurnikan diri kembali serta mengembalikan bumi dan isinya pada kondisi harmoni awal. Sehari sebelum Nyepi proses upacara ini dilaksanakan dari Candi Prambanan. 

Ke arah Barat, menyusuri Desa Dawung di lereng bukit, terdapat bekas kompleks keraton yaitu Paseban dan Batur Pendopo. Halaman paling depan terletak di sebelah barat, terdiri atas tiga teras. Masing-masing teras dipisahkan oleh pagar batu andesit setinggi 3,50 meter, dan tebing teras diperkuat dengan susunan batu andesit. Batas halaman sebelah selatan juga berupa pagar dari batu andesit, namun batas utara merupakan dinding bukit yang dipahat langsung.

Bangunan Kraton Ratu Boko 08 
Kompleks Keraton Ratu Boko (foto: ©2007 arie saksono)

Ke bagian timur istana, terdapat dua buah gua, kolam besar berukuran 20 meter x 50 meter dan stupa Budha yang terlihat tenang. Dua buah gua itu terbentuk dari batuan sedimen yang disebut Breksi Pumis. Gua yang berada lebih atas dinamakan Gua Lanang sedangkan yang berada di bawah disebut Gua Wadon. Persis di muka Gua Lanang terdapat sebuah kolam dan tiga stupa. Berdasarkan sebuah penelitian, diketahui bahwa stupa itu merupakan Aksobya, salah satu Pantheon Budha. 

Keraton Ratu Boko: Kombinasi Peninggalan Budha dan Hindu

Hal yang menarik di Keraton Ratu Boko, selain peninggalan Budha juga ditemukan benda-benda arkeologis peninggalan Hindu seperti lingga, yoni, arca durga, dan ganesha. Meski didirikan oleh seorang Budha, Keraton Ratu Boko merupakan sebuah situs kombinasi antara Budha dan Hindu, ini dapat dilihat dari bentuk-bentuk yang ada, yang biasanya terdapat pada candi Budha, selain itu terdapat pula tiga candi kecil sebagai elemen dari agama Hindu, dengan adanya Lingga dan Yoni, patung Dewi Durga, dan Ganesha, serta lempengan emas yang bertuliskan “Om Rudra ya namah swaha” sebagai bentuk pemujaan terhadap Dewa Rudra yang merupakan nama lain Dewa Siwa. Adanya unsur-unsur Hindu itu membuktikan adanya toleransi umat beragama yang tercermin dalam karya arsitektural. Pada masa itu Rakai Panangkaran yang merupakan pengikut Budha hidup berdampingan dengan para pengikut Hindu.

Lingga Kraton Ratu Boko 
Lingga simbol Hindu di Keraton Ratu Boko (foto: ©2007 arie saksono)

Awal Kejayaan tanah Sumatera

Kompleks Istana/ Keraton ratu Boko merupakan saksi bisu awal kejayaan di tanah Sumatera. Balaputradewa sempat melarikan diri ke istana ini sebelum ke Sumatera ketika diserang oleh Rakai Pikatan. Balaputradewa memberontak karena merasa dijadikan sebagai orang nomor dua di pemerintahan Kerajaan Mataram Kuno akibat pernikahan Rakai Pikatan dengan Pramudhawardani (saudara Balaputradewa). Setelah ia kalah dan melarikan diri ke Sumatera, Kemudian ia menjadi raja di Kerajaan Sriwijaya.

Pemandangan dari Bukit Boko
Pemandangan Gunung Merapi di kejauhan dari Bukit Boko (foto: ©2007 arie saksono) 

Pemandangan senja saat matahari terbenam dari atas kawasan Bukit Boko sangat indah. Di arah utara Candi Prambanan dan Candi Kalasan dengan latar belakang pemandangan Gunung Merapi dengan suasana pedesaan dengan sawah menghijau di sekelilingnya.

© 2007 arie saksono


ARCA DEWI DURGA Mahisasuramardhini

February 20, 2008

Durga Mahisasuramardhini

durga

Arca Dewi DurgaMahesasuramardhini dari Candi Singosari Jawa Timur

Arca-arca peninggalan masa lampau, zaman kerajaan-kerajaan bercorak Hindu Budha di Nusantara tidak hanya menampilkan keindahan semata. Arca-arca tersebut banyak memiliki makna yang berkaitan dengan cerita sejarah, legenda, mitologi, dan unsur religius yang terkandung di balik keindahannya itu sendiri.

Durgamahasisuramardhini yang merupakan gabungan dari kata Durga, Mahisa, Asura, dan Mardhini. Arca Dewi Durga memiliki banyak tangan, lebih dari 8, 12 atau pada beberapa arca sampai dengan 16. Dewi Durga adalah nama sakti atau istri Dewa Siwa, Mahisa adalah kerbau, Asura berarti raksasa, sedang Mardhini berarti menghancurkan atau membunuh. Jadi, Durgamahasisuramardhini berarti Dewi Durga yang sedang membunuh raksasa yang ada di dalam tubuh seekor kerbau. Durga merupakan tokoh dewi yang terkenal di India, dan juga sangat di puja-puja dalam agama Hindu. Dia dipuja di musim gugur pada pertengahan kedua bulan Asvina di propinsi India Timur Laut.

Dewi Durga pembunuh mahisa (kerbau) yang penjelmaan asura (raksasa musuh para dewa yang sering menyerang khayangan). Dewi Durga ditugaskan untuk menghalau asura. Asura bisa menjelma jadi berbagai macam bentuk, misalnya gajah, singa, kerbau. Sebelum muncul wujud aslinya, diwujudkan dengan mahisa (kerbau). Setelah mahisa dibunuh ditombak dengan trisula, muncul wujud aslinya (asura). Menjelma keluarnya dari ubun-ubun (kepala).

Sebagai dewi yang digambarkan sedang berperang, Durga membawa senjata. Tangan atasnya membawa cakra dan yang dibekali oleh dewa wisnu. Dia juga bawa pedang yang panjang dan busur panah dengan mata panahnya. Tangan sebelah kanan depan menarik ekor dari kerbau (mahisa yang sudah mati). Tangan kiri menjambak rambut asura. Tangan lainnya bawa pitaka (perisai) dan Cangka, dibuat dari cangkang kerang pemberian Dewa Wisnu. Durga digambarkan dalam adegan kemenangan setelah berhasil mengalahkan asura yang berubah bentuk seperti kerbau yang sangat besar.

Durga museum nasional1  Durga Museum Nasional2   

Beberapa Arca Dewi Durga Mahesasuramardhani Museum Nasional Jakarta (foto: ©2007 arie saksono)

Menurut naskah Devi Mahatya, diceritakan bahwa para dewa pada suatu ketika dikalahkan oleh para asura atau raksasa dibawah pimpinan Mahisasura. Para dewa memohon pertolongan Dewa Siwa dan Dewa Wisnu untuk dapat mengalahkan dan mengusir para asura yang telah mengganggu khayangan. Mendengar peristiwa yang menimpa para dewa, Dewa Siwa dan Dewa Wisnu menjadi sangat marah akan perbuatan para asura, sehingga dari mulut mereka keluar lidah api yang menyala-nyala. Lidah api juga keluar dari tubuh dewa-dewa yang lain. Kekuatan lidah api bergabung menerangi semua penjuru yang akhirnya mengumpulkan dan membentuk tubuh seorang wanita yang sangat cantik dan jadilah Dewi Durga.

Siwa memberikan Trisulanya, Wisnu memberikan Cakra, Baruna memberikan sebuah Sangkha dan Pasa, kalung mutiara dan sepasang pakaian yang tidak bisa rusak, Agni memberikan tombak, Maruta memberi busur dengan anak panahnya, Indra memberi Fajra dan Ganta, Yama memberi Kamandalu, Kala memberi pedang dan perisai, Vivakarma memberi kapak yang mengkilap beserta senjata dan baju sirah yang tidak tembus senjata, Himavat memberikan seekor singa sebagai wahana, Kuwera memberi mangkuk yang penuh dengan anggur, dan Sesa memberikan sebuah kalung ular yang dihiasi dengan permata yang besar.

Melalui Dewi Durga, para dewa akhirnya berhasil mengalahkan Mahisasura dengan menginjak lehernya. Dari kepala atau mulut Mahisa keluar wujud Asura-raksasa dan segera dibunuhnya.

Berdasarkan latar belakang cerita tersebut, Durgamahasisuramardhini biasa digambarkan sedang membunuh Mahisasura, dengan jumlah tangan yang bervariasi, trisula menusuk di leher mahisa. Dia memiliki tiga mata, dada membusung, pinggang ramping, dan berdiri dalam sikap Tribhangga, rambut Jatamahkota, sedang Asura digambarkan dalam bentuk kerbau dengan darah mengalir di lehernya, berbaring di bawah kaki durga. Pada beberapa arca dewi Durga kaki kanannya  biasanya digambarkan berada diatas singa, sedang kaki kirinya menginjak punggung kerbau, dan singa digambarkan sedang mencakar kerbau. Di candi-candi, ia biasanya menempati relung sebelah utara.

©2007 arie saksono


ARCA SIWA BHAIRAWA Museum Nasional

January 21, 2008

Arca Sywa/ Shiwa/ Shiva Bhairawa

Arca Shiwa Bhairawa
Arca Bhairawa di Museum Nasional Jakarta (foto: arie saksono)

Arca Bhairawa Museum Nasional di Jakarta ditemukan di kawasan persawahan di tepi sungai di Padang Roco, Kabupaten Sawahlunto, Sumatera Barat. Arca Bhairawa dengan tinggi lebih dari 3 meter ini merupakan jenis arca Tantrayana. Arca Bhairawa tidak dalam kondisi utuh lagi, terutama sandarannya. Arca ini tidak banyak dijumpai di Jawa, karena berasal dari Sumatera. Sebelum ditemukan hanya sebagian saja dari arca ini yang menyeruak dari dalam tanah. Masyarakat setempat tidak menyadari bahwa itu merupakan bagian dari arca sehingga memanfaatkannya sebagai batu asah dan untuk menumbuk padi. Hal ini dapat dilihat pada kaki sebelah kirinya yang halus dan sisi dasar sebelah kiri arca yang berlubang.

Arca Bhairawa tangannya ada yang dua dan ada yang empat. Namun arca di sini hanya memiliki dua tangan. Tangan kiri memegang mangkuk berisi darah manusia dan tangan kanan membawa pisau belati. Jika tangannya ada empat, maka biasanya dua tangan lainnya memegang tasbih dan gendang kecil yang bisa dikaitkan di pinggang, untuk menari di lapangan mayat damaru/ ksetra. Penggambaran Bhairawa membawa pisau konon untuk upacara ritual Matsya atau Mamsa. Membawa mangkuk itu untuk menampung darah untuk upacara minum darah. Sementara tangan yang satu lagi membawa tasbih. Wahana atau kendaraan Syiwa dalam perwujudan sebagi Syiwa Bhairawa adalah serigala karena upacara dilakukan di lapangan mayat dan serigala merupakan hewan pemakan mayat. Walaupun banyak di Sumatera, beberapa ditemukan juga di Jawa Timur dan Bali. Bhairawa merupakan Dewa Siwa dalam salah satu aspek perwujudannya. Bhairawa digambarkan bersifat ganas, memiliki taring, dan sangat besar seperti raksasa. Bhairawa yang berkategori ugra (ganas).

Bhairawa mangkuk&belati
Arca Bhairawa memegang mangkuk dan belati (foto: Arie saksono)

Bhairawa bayi&tengkorak
Siwa berdiri di atas mayat bayi korban dan tengkorak (foto: arie saksono)

Arca Perwujudan Adityawarman
Arca ini berdiri di atas mayat dengan singgasana dari tengkorak kepala. Arca Siwa Bhairawa ini konon merupakan arca perwujudan Raja Adithyawarman, pendiri Kerajaan Pagaruyung di Sumatra Barat pada tahun 1347. Nama Adityawarman sendiri berasal dari kata bahasa Sansekerta, yang artinya kurang lebih ialah “Yang berperisai matahari” (adhitya: matahari, varman: perisai). Adithyawarman adalah seorang panglima Kerajaan Majapahit yang berdarah Melayu. Ia adalah anak dari Adwaya Brahman atau Mahesa Anabrang, seorang senopati Kerajaan Singasari yang diutus dalam Ekspedisi Pamalayu dan Dara Jingga, seorang puteri dari raja Sri Tribhuwanaraja Mauliwarmadewa dari Kerajaan Dharmasraya.Kitab Pararaton menyebutkan bahwa Raden Wijaya memperistri seorang putri Sumatera bernama Dara Petak dan memiliki anak yang bernama Kalagemet. Seorang kerabat raja bergelar “dewa” (bangsawan) memperistri putri lainnya bernama Dara Jingga, dan memiliki anak yang bernama “Tuhan Janaka“, yang lebih dikenal sebagai Adityawarman. Di dekat Istano Basa, Batusangkar, ada sekelompok batu prasasti yang menceritakan tidak saja sejarah Minang, tapi sepenggal sejarah Nusantara secara utuh. Dari buku panduan disebutkan bahwa batu-batu prasasti yang disebut “Prasasti Adityawarman” itu menghubungkan Nusantara secara keseluruhan berkaitan dengan Kerajaan Majapahit.

Di dalam beberapa babad di Jawa dan Bali, Adityawarman juga dikenal dengan nama Arya Damar dan merupakan sepupu sedarah dari pihak ibu dengan Raja Majapahit kedua, yaitu Sri Jayanegara atau Raden Kala Gemet. Diperkirakan Adityawarman dibesarkan di lingkungan istana Majapahit, yang kemudian membuatnya memainkan peranan penting dalam politik dan ekspansi Majapahit. Saat dewasa ia diangkat menjadi Wrddhamantri atau menteri senior, bergelar “Arrya Dewaraja Pu Aditya“. Demikian pula dengan adanya prasasti pada Candi Jago di Malang (bertarikh 1265 Saka atau 1343 M), yang menyebutkan bahwa Adityawarman menempatkan arca Maňjuçrī (salah satu sosok bodhisattva) di tempat pendarmaan Jina (Buddha) dan membangun candi Buddha di Bumi Jawa untuk menghormati orang tua dan para kerabatnya.

Adityawarman, Majapahit dan Pagaruyung
Adityawarman turut serta dalam ekspansi Majapahit ke Bali pada tahun 1343 yang dipimpin oleh Gajah Mada. Babad Arya Tabanan, menyebutkan bahwa Gajah Mada dibantu seorang ksatria keturunan Kediri bernama Arya Damar, yang merupakan nama alias Adityawarman. Diceritakan bahwa ia dan saudara-saudaranya membantu Gajah Mada memimpin pasukan-pasukan Majapahit untuk menyerbu Pejeng, Gianyar, yang merupakan pusat Kerajaan Bedahulu, dari berbagai penjuru. Kerajaan Bedahulu adalah kerajaan kuno yang berdiri sejak abad ke-8 sampai abad ke-14 di pulau Bali, dan diperintah oleh raja-raja keturunan dinasti Warmadewa. Ketika menyerang Bali, Raja Bali yang menguasai saat itu adalah seorang Bhairawis penganut ajaran Tantrayana. Untuk mengalahkan Raja Bali itu, maka Adityawarman juga menganut Bhairawis untuk mengimbangkan kekuatan. Pertempuran yang terjadi berakhir dengan kekalahan Bedahulu, dan patih Bedahulu Kebo Iwa gugur sementara raja Sri Astasura Ratna Bumi Banten pergi mengasingkan diri. Setelah Bali berhasil ditaklukan, Arya Damar (Adityawarman) kembali ke Majapahit dan diangkat menjadi raja di Palembang. Sebagian saudara-saudara Arya Damar ada yang menetap di Bali, dan di kemudian hari salah seorang keturunannya mendirikan Kerajaan Badung di Denpasar.

shiva Bhairawa

Pada saat melakukan politik ekspansi di tanah Melayu, Adityawarman diberi tanggung jawab sebagai wakil (uparaja) Kerajaan Majapahit. Segera setelah Adityawarman tiba di Sumatera, ia menyusun dan mendirikan kembali Kerajaan Mauliawarmmadewa, menaklukan sisa-sisa Kerajaan Sriwijaya, dan akhirnya juga mendirikan Kerajaan Pagarruyung/ Pagaruyung (Minangkabau) di Sumatra Barat dan mengangkat dirinya sebagai Mahãrãjãdhirãja (1347). Sepeninggalnya, kekuasaan Adityawarman di Pagaruyung diteruskan oleh anaknya yang bernama Ananggawarman. Keturunan Adityawarman dan Ananggawarman selanjutnya agaknya bukanlah raja-raja yang kuat. Pemerintahan kemudian digantikan oleh orang Minangkabau sendiri yaitu Rajo Tigo Selo, yang dibantu oleh Basa Ampat Balai. Daerah-daerah Siak, Kampar dan Indragiri kemudian lepas dan ditaklukkan oleh Kesultanan Malaka dan Kesultanan Aceh, dan kemudian menjadi kerajaan-kerajaan merdeka.

Aliran Tantrayana
Menurut catatan sejarah, Raja Kertanegara dari Kerajaan Singasari, saat diserang oleh tentara Kerajaan Kediri (1292) sedang pesta makan minum sampai mabuk. Kenyataannya adalah bahwa pada saat serbuan tentara Kediri tersebut Kertanegara bersama dengan para patihnya, para Mahãwrddhamantri dan para pendeta-pendeta terkemukannya sedang melakukan upacara-upacara Tantrayana.

Bhairawa Kertanegara
Arca Bhairawa perwujudan Raja Kertanegara dari Candi Singosari kini masih tersimpan di Tropen Museum Leiden Belanda

Bhairawa Replika
Replika Arca Bhairawa perwujudan Raja Kertanegara dari Candi Singosari di Museum Nasional Jakarta (foto: arie saksono)

Kertanegara adalah seorang penganut setia aliran Budha Tantra. Prasasti tahun 1289 pada lapik arca Joko Dolok di surabaya menyatakan bahwa Krtanegara telah dinobatkan sebagai Jina (Dhyani Buddha) yaitu sebagai Aksobya, dan Joko Dolok itu adalah arca perwujudannya. Sebagai Jina, Kertanegara bergelar Jnanaciwabajra. Setelah wafat ia dinamakan Çiwabuddha yaitu dalam kitab Pararaton dan dalam Nagarakartagama >Mokteng (yang wafat di) Çiwabuddhaloka sedangkan dalam prasasti lain >Lina ring (yang wafat di) Çiwabuddhalaya. Kertanegara dimuliakan di Candi Jawi sebagai Bhatara Çiwabuddha/ SiwaBuddha di Sagala bersama dengan permaisurinya Bajradewi, sebagai Jina (Wairocana) dengan Locana dan di Candi Singosari sebagai Bhaiwara.

Istilah Tantrayana ini berasal dari akar kata “Tan”  yang artinya memaparkan kesaktian atau kekuatan daripada Dewa itu. Di India penganut Tantrisme banyak terdapat di India Selatan dibandingkan dengan India Utara. Kitab kitab yang memuat ajaran Tantrayana banyak sekali antara lain : Maha Nirwana Tantra, Kularnawa Tantra, Tantra Bidhana, Yoginirdaya Tantra, Tantra sara. Tantrayana berkembang luas sampai ke Cina, Tibet, dan Indonesia dari Tantrisme munculah suatu faham “Bhirawa” atau “Bhairawa” yang artinya hebat.

Bhairawa tantra
Ciri khas arca aliran Tantrayana berdiri di atas tengkorak (foto: arie saksono)

Paham Bhirawa secara khusus memuja kehebatan daripada sakti, dengan cara-cara khusus. Bhairawa berkembang hingga ke Cina, Tibet, dan Indonesia. Di nusantara masuknya saktiisme, Tantrisma dan Bhairawa, dimulai sejak abad ke VII melalui kerajan Sriwijaya di Sumatra, sebagaimana diberikan terdapat pada prasasti Palembang tahun 684, berasal dari India selatan dan Tibet. Dari bukti peninggalan purbakala dapat diketahui ada tiga peninggalan purbakala yaitu : Bhairawa Heruka yang terdapat di Padang Lawas Sumatra barat, Bhairawa Kalacakra yang dianut oleh Kertanegara – Raja Singasari Jawa Timur, serta oleh Adityawarman pada zaman Gajah Mada di Majapahit, dan Bhairawa Bima di Bali yang arcanya kini ada di Kebo Edan – Bedulu Gianyar.

Dalam upacara memuja Bhairawa yang dilakukan oleh para penganut aliran Tantrayana yaitu cara yang dilakukan oleh umat Hindu/ Budha untuk dapat bersatu dengan dewa pada saat mereka masih hidup karena pada umumnya mereka bersatu atau bertemu dengan para dewa pada saat setelah meninggal sehingga mereka melakukan upacara jalan pintas yang disebut dengan Upacara ritual Pancamakarapuja.

Pancamakarapuja adalah upacara ritual dengan melakukan 5 hal yang dilarang dikenal dengan 5 MA:

  1. MADA atau mabuk-mabukan
  2. MAUDRA atau tarian melelahkan hingga jatuh pingsan
  3. MAMSA atau makan daging mayat dan minum darah
  4. MATSYA atau makan ikan gembung beracun
  5. MAITHUNA atau bersetubuh secara berlebihan

Mereka melakukan upacara tersebut di Ksetra atau lapangan untuk membakar mayat atau kuburan sebelum mayat di bakar saat gelap bulan.

Pada zaman dahulu penjagaan keamanan dan pengendalian pemerintahan di wilayah kekuasaan berdasarkan pada kharisma dan kekuasaan raja. Kertanegara menganut Bhairawa Kalacakra untuk mengimbangi kekuatan Kaisar Khu Bhi Lai Khan di Cina yang menganut Bhairawa Heruka. Kebo Paru, Patih Singasari menganut Bhairawa Bhima untuk mengimbangi Raja Bali yang kharismanya sangat tinggi pada jaman itu. Adityawarman menganut Bhairawa Kalacakra untuk mengimbangi raja-raja Pagaruyung di Sumatra barat yang menganut Bhairawa Heruka.

Aliran-aliran Bhairawa cenderung bersifat politik, untuk mendapatkan kharisma besar yang diperlukan dalam pengendalian pemerintahan dan menjaga keamanan wilayah kekuasaan (kerajaan), seperti halnya pemimpin dari kalangan militer di masa sekarang. Karena itu raja-raja dan petinggi pemerintahan serta pemimpin masyarakat pada zaman dahulu banyak yang menganut aliran ini.

©2008 arie saksono