Mencoba Mengungkap Misteri Koin Gunung Padang

September 21, 2014

0.5 cent 1859_arie copy

identitas Koin Gunung Padang_1A

Update picture 01/09/2014: Koin Nederlandsch Indie 1/2 cent 1859 & 1860 sebagai pembanding Koin temuan di Gunung Padang.-Koleksi pribadi-

Keberadaan situs Gunung Padang hingga kini masih menyimpan misteri. Situs ini terletak di kabupaten berada di perbatasan Dusun Gunungpadang dan Panggulan, Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur. Sejak zaman Belanda situs ini sudah menarik perhatian banyak ilmuwan untuk mencoba mengungkap rahasia dibalik tumpukan bebatuan yang menyerupai pyramid ini.

Menurut data literatur pada tahun 1891, DR. R. D. M. Verbeek, sudah memasukkan Gunung Padang dalam tulisannya mengenai daftar tempat-tempat bersejarah di Pulau Jawa. “Oudheden van Java. Lijst der Voornaamste Overblijfselen uit den Hindoetijd op Java met Eene Oudheidkundige Kaart” yang dipublikasikan dalam buku “Verhandelingen van Het Bataviaasch Genootschap der Kunsten en Wetenschappen, Deel XLVI” diterbitkan oleh Lansdrukkerij Batavia – M Nijhoff ’s Hage tahun 1891.

Dalam tulisannya tersebut, Verbeek menyebutkan :

38. Goenoeng Padang.

District Peser, afdeeling Tjiandjoer, Blad K. XIII.

Op den bergtop Goenoeng Padang, nabij Goenoeng mélati, eene opeenvolging van 4 terrassen, door trappen van ruwe steenen verbonden, met ruwe platte steenen bevloerd en met talrijke scherpe en zuilvórmige rechtopstaande andesietsteenen versierd. Op ieder terras een heuveltje, waarschijnlijk een graf, met steenen omzet en bedekt, en van boven met 2 spitse steenen voorzien. In 1890 door den heer De Corte bezocht

.. Di puncak Gunung Padang, dekat Gunung Melati, terdapat undakan yang terdiri dari 4 teras yang dihubungkan dengan tangga batu yang kasar dan dengan dasar yang terbuat dari batu datar yang kasar dan dengan dihiasi oleh banyak batuan andesit berbentuk pilar/ tugu yang berdiri tegak. Pada tiap teras terdapat gundukan yang kemungkinan kuburan, ditutupi dan dilingkari dengan batu, dan atas dengan 2 batu tajam. dikunjungi oleh tuan Corte pada tahun 1890 ..

saksono_arie-01X

saksono_arie-03A_1

Itulah keterangan singkat yang ditulis Verbeek. Sementara beberapa tahun berikutnya pada tahun 1914, N.J. Krom menuliskan kembali keterangan yang serupa mengenai situs Gunung Padang ini dalam Rapporten van de Oudheidkundige Dienst (berisi semacam laporan inventarisasi peninggalan-peninggalan bersejarah yang ada di Nederlands Indie pada saat itu). Selebihnya belum ada penelitian maupun karya tulis ilmiah yang mendalam mengenai asal usul situs Gunung Padang ini.

Dalam kurun waktu sejak publikasi buku Bataviaasch Genootschap Der Kunsten En Wetenschappen yang memuat keterangan situs Gunung Padang tersebut kemungkinan pemerintah Hindia Belanda memang sedang disibukkan dengan proyek prestisius pemugaran Candi Borobudur yang dipimpin oleh Theodor van Erp tahun 1900- 1911 hingga akhirnya terhenti oleh pecahnya perang dunia kedua tahun 1940. Sehingga status Situs Gunung Padang pada masa itu masih sebatas pada proyek inventarisasi saja belum masuk pada proses penelitian maupun pemugaran. Pemerintah Hindia Belanda masih mencurahkan perhatian dan dana ke proyek pemugaran Candi Borobudur untuk menandingi pemerintah kolonial Perancis di Kamboja dengan proyek pemugaran Ankor Wat-nya yang tampil pada pameran Kolonial Perancis dan pameran Universal di Paris dan Marseille antara tahun 1889 dan 1937. Hingga akhirnya Indonesia merdeka pada tahun 1945 situs Gunung Padang masih tetap menjadi misteri, pemerintah Hindia Belanda meninggalkannya sebagai pekerjaan rumah bagi pemerintah Indonesia untuk diungkap, membuka tabir rahasia dibaliknya.

Tulisan beserta sedikit data sejarah di atas merupakan pengantar dari topik utama sebenarnya yang ingin dibicarakan dalam artikel ini mengenai koin kuno yang ditemukan di Gunung Padang. Sebagaimana yang ramai diberitakan, tim peneliti Gunung Padang berhasil menemukan sekeping koin pada 14 dan 15 September 2014. Pro-kontra pendapat dan analisa mengenai koin ini banyak mewarnai pemberitaan sejak pemberitaan penemuan koin. Penulis sempat mengirimkan informasi beserta foto perbandingan yang sama dengan dibawah, mengenai koin Gunung Padang ini ke redaksi detik.com, pada tanggal 19 September 2014 namun karena terbatasnya ruang maka penulis memutuskan untuk mencoba mengungkap lebih detail di blog ini sebagai sarana untuk berbagi informasi. http://news.detik.com/read/2014/09/19/161134/2695565/10/lebih-seksama-melihat-perbandingan-koin-misterius-gunung-padang-dan-koin-era-belanda

>Mencermati koin temuan di situs Gunung Padang, menurut saya koin tersebut identik dengan Koin Hindia Belanda/ Nederlandsch Indie nominal 1/2 cent periode 1855-1909.

Gambar koin A memperlihatkan bagian belakang koin temuan Gunung Padang yang sudah aus kehijauan karena korosi oksidasi. Warna koin temuan di situs Gunung Padang kehijauan merupakan ciri patina lapisan verdigris (tembaga karbonat) yang biasa ditemui pada proses korosi koin ataupun logam tembaga tua.

Identifikasi selanjutnya dilakukan melalui metode sederhana berupa kesamaan ukuran diameter dan kesamaan ciri yang masih dapat nampak -tersisa dari koin Gunung Padang. Ciri-ciri tersebut dapat terlihat dari kesamaan aksara/ tulisan Arab Melayu dan aksara Jawa yang sudah ditandai dengan lingkaran warna merah dan hijau. Untuk mempermudah, posisi letak kedua koin harus disesuaikan agar dapat diperbandingkan kesamaannya.
Berikut gambar ketiga koin tersebut yang sudah dipadupadankan:

arie_saksono_coin_copy

keterangan gambar:
Koin A: Koin temuan Gunung Padang
Koin B: Koin Hindia Belanda/ Netherlandsch Indie 1/2 Cent 1855-1909
Koin C: Koin Hindia Belanda/ Netherlandsch Indie 1/2 Cent 1914-1945

arie_saksono_coin_copy1 copy

Gambar di atas adalah bagian belakang koin yang bertuliskan aksara Jawa dan Arab-Melayu yang menyatakan besaran nominal koin, setengah sen.

Spesifikasi Koin:
Komposisi: Copper/ Tembaga
Berat: 2.3000gr
Diameter: 17mm

Perbandingan lain dengan foto koin Gunung Padang dari Twitter Tim GP
foto koin pembanding sudah dirotasi agar posisi sama dengan karakteristik koin temuan Gunung Padang

koin gunung padang copy1

Koin Hindia Belanda pecahan kecil 1/2 cent ada dua jenis cetakan, periode pertama 1855-1909 dan periode kedua 1914-1945 (selanjutnya setelah Indonesia Merdeka – koin sdh tdk dicetak –tidak berlaku).

Karakteristik dari koin ½ sen periode pertama 1855-1909
ned indie stngah cent 1855 copy
Observe / bagian depan
Lambang Kerajaan Belanda dengan Mahkota yang berada di antara tahun cetakan (1855 s/d 1909)

arie coin degenMercuriusstaf

Di sebelah kiri pedang dan sebelah kanan tongkat Mercurius, semuanya berada dalam bidang Parelrand / lingkar mutiara.
Sisi atas terdapat tulisan Nederlandsch Indie, bawah nilai nominal ½ Cent

Ned Indie setengah sen_descript copy

Reverse / bagian belakang
Di dalam (parelrand) lingkar mutiara – lingkaran titik-titik yang berjumlah 86, terdapat tulisan aksara Arab-Melayu, tertulis:
saperdoewaratoes roepijah

arabic schrift 0.5_arie cent_arie    arabic schrift 0.5_arie cent_arie_1

tulisan aksara Jawa melingkar diluar lingkar mutiara, tertulis:
sapararongatoes roepiah

java schrift 0.5 cent_arie

Perbedaan pada periode pertama paruh kedua (1902-1909)
ada sedikit perbedaan pada koin ½ cent yaitu pada bagian depan coin, Muntmeestertekens/ ciri utama koin yang ada pada bagian depan koin, di kiri dan kanan Schildwapen (Lambang Belanda) berupa Hellebaard, Hellebaard met ster, Zeepaardje en Druiventros

hlbrdstr  zeepdje

> Perbedaan utama pada bagian belakang/ reverse dari koin ½ sen periode pertama 1855-1909 dengan periode kedua 1914-1945 adalah pada koin periode pertama aksara Arab nampak tidak banyak memenuhi bidang dalam lingkar mutiara sementara pada koin periode kedua tulisan atau aksara arab pada koin lebih memenuhi bidang dalam Parelrand / lingkar mutiara (atau motif “gawangan”) dengan adanya Tashkil pada aksara Arab/-Melayu. (lihat gambar koin C)
Untuk aksara/ tulisan Jawa terdapat jarak antara – dengan parelrand / lingkaran mutiara, sementara pada koin periode berikutnya (periode 1914-1945 > koin C) tulisan aksara Jawa lebih dekat pada pinggir lingkaran mutiara.

1936A copy

Beberapa orang sempat menduga bahwa koin Gunung Padang serupa dengan koin Hindia Belanda/ Nederlandsch Indie pecahan 2 ½ cents tahun 1945, karena ada beberapa ciri yang mirip. Namun demikian melihat dari ukuran diameter koin 2 ½ cents adalah 31mm, ini jelas sekali berbeda dengan koin temuan Gunung Padang yang hanya 17mm. Sebagaimana dijelaskan di atas, bahwa tulisan Arab Melayu ataupun Jawa menyatakan besaran nominal koin, jadi jelas sekali beda, meskipun nampak sedikit kesamaan pada tulisan Jawa yang melingkari pinggiran koin. Selain itu juga koin Ned. Indie keluaran 1945 memiliki tipe tulisan huruf Arab Melayu-nya lebih modern dengan Tashkil-diacritics yang lebih memenuhi bidang dalam lingkaran mutiara. Sehingga jelas koin Nederlandsch Indie 2 ½ cents yang lebih dikenal dengan koin benggol tersebut tidak identik sama dengan koin temuan Gunung Padang dibandingkan dengan koin Nederlandsch Indie ½ cent keluaran periode 1855-1909.

benggol 2.5 cents 1945

Berdasarkan uraian di atas, dapat asumsikan bahwa koin 1/2 cent tersebut kemungkinan terjatuh dari orang-orang (Belanda) yang pada masa tersebut sudah pernah berada (meneliti) di situs Gunung Padang pada periode waktu tahun 1890-an (de Corte – Verbeek) hingga 1914 (N.J. Krom). Hingga akhirnya ditemukan kembali oleh Tim Peneliti Gunung Padang pada tengah malam 14-15 September 2014. Semoga tulisan ini dapat membantu mengungkap rahasia koin misterius situs Gunung Padang.

salam,
arie.

Sumber gambar:
Koin A: news.detik*com
Koin B: www*ngccoin*com
Koin C: Koleksi pribadi
Netscher,E., Van der Chijs, J.A, 1863, De munten van Nederlansch Indië; Beschreven en Afgebeeld: Batavia Lange & co.
twitter*com/TimRisetMandiri
__________., Officiele Katalogus 1978; voor Munten en Bankbiljetten van Nederland, Munten van Suriname, Curacao, Ned. Antillen en Ned. Indie: Uitgeverij Excellent BV: Nederland

Referensi:
Netscher,E., Van der Chijs, J.A, 1863, De munten van Nederlansch Indië; Beschreven en Afgebeeld: Batavia Lange & co
__________., Officiele Katalogus 1978; voor Munten en Bankbiljetten van Nederland, Munten van Suriname, Curacao, Ned. Antillen en Ned. Indie: Uitgeverij Excellent BV: Nederland
Verbeek, R. D. M. DR, 1891, Verhandelingen Van Het Bataviaasch Genootschap Der Kunsten En Wetenschappen, Deel XLVI: Lansdrukkerij Batavia – M Nijhoff ’s Hage
www*ngccoin*com
en*numista*com


Tangkuban Perahu – Pesona Misteri Sang Ratu

February 24, 2011


Kawah Ratu Tangkuban Perahu ©2009 arie saksono

…Vóór werd de tandoe (draagstoel) mijner vrouw gedragen door acht Soendaneezen. Zij trippen als zij dragen. Hun pas is kort, er is een rhythmiek in hunne veerende beweging, in den muzikalen tred hunner voeten, waaronder de opwaartsche weg als een instrument wordt, een klankbord van niet tot ons doordringende muziek. En de stille klanken stijgen, hooger en hooger den weg mede op…
(Louis Couperus, Oostwaard, ’S Gravenhage: Leopold Uitgeverij NV, 1923; hlm 135)

Meskipun bukan merupakan gunung berapi yang terbesar ataupun tertinggi di Pulau Jawa, namun sejak dahulu Gunung Tangkuban Perahu telah menarik perhatian banyak orang untuk berkunjung ke sini. Baik dari penjuru nusantara, orang-orang Belanda maupun Eropa yang dahulu bertugas di Hindia-Belanda (Indonesia). Namanya kerap mengisi catatan perjalanan para penjelajah, mulai dari Bujangga Manik dari Pakuan Pajajaran hingga Franz Wilhelm Junghuhn.

Dalam buku P.C. Molhuysen en P.J. Blok “Nieuw Nederlandsch biografisch woordenboek, Deel 6” terbitan tahun 1924, disebutkan gouverneur-generaal Abraham van Riebeeck pada tahun 1713 telah mendaki Gunung Tangkuban Perahu dan Papandayan dengan misi untuk mengenali situasi dan kondisi geografis daerah pegunungan di Pulau Jawa. Setelah perjalanannya itu, Riebeck mulai mengembangkan perkebunan kopi di sekitar daerah Jawa Barat.

Kemudian beberapa masa kemudian, Johannes Olivier Jz, sekertaris pemerintah Hindia Belanda yang bertugas di Palembang, dalam bukunya “Tafereelen en merkwaardigheden uit Oost-Indie” terbitan tahun 1836, mencatat banyak orang Eropa yang berkunjung mendaki Tangkuban Perahu, beberapa nama diantaranya, Dr. (Thomas) Horsfield, botanikus berkebangsaan Inggris pada tahun 1804, Heer Leschenault (Jean Baptiste Leschenault de la Tour), botanikus berkebangsaan Perancis, tahun 1805. Heer Valck yang pada saat itu menjabat sebagai Resident van Krawang tahun 1823. Ahli botani yang mengembangkan Kebun Raya Bogor, Prof. Carl Ludwig Blume di tahun 1824. Selain itu kawasan Tangkuban Perahu tak dapat dipisahkan dari nama Franz Wilhelm Junghuhn, seorang botanikus, geolog, yang mengembangkan perkebunan kina di sekitar kawasan ini. Junghuhn tercatat telah dua kali mengeksplorasi kawasan ini di tahun 1837 dan 1848. Dari perjalanannya menjelajahi pegunungan di Jawa, Junghuhn menuliskannya dalam buku Topografische und naturwissenschaftliche Reisen durch Java (Perjalanan Topografi dan Ilmiah Melintasi Java -(1845), hingga pada tahun 1864 Junghuhn meninggal dunia dan dimakamkan di kaki Gunung Tangkuban Perahu tepatnya di Desa Jayagiri, Lembang.

Perkumpulan Bandoeng Vooruit & Wisata Tangkuban Perahu
Berbeda dengan kegiatan wisata alam mendaki gunung lainnya, kawasan Gunung Tangkuban Perahu relatif mudah dicapai. Pengunjung tidak usah bersusah-payah berjam-jam atau bahkan berhari-hari mendaki untuk menikmati keindahan karena ada akses jalan yang bisa dilalui kendaraan bermotor roda empat hingga menuju bibir kawahnya.


ilustrasi perjalanan menuju Tangkuban Perahu di masa lampau

Louis Couperus, seorang novelis dan penulis berkebangsaan Belanda pun tak melewatkan kesempatan untuk mengunjungi Gunung Tangkuban Perahu dalam perjalanannya ke Nederland India/ Hindia-Belanda. Dalam bukunya yang berjudul Oostwaard terbit tahun 1923, Couperus menyebutkan bahwa untuk menuju ke sana Ia harus bersusah payah melintasi hutan dan mendaki gunung, sementara sang istri ditandu dengan draagstoel atau kursi tandu yang dipanggul oleh delapan orang. Namun kini situasi sudah berubah, tak usah bersusahpayah, siapapun dapat dengan mudah menikmati keindahan kawasan pegunungan Tangkuban Perahu beserta kawah-kawahnya. Gunung Tangkuban Perahu relatif mudah dicapai dengan kendaraan bermotor hingga ke pinggiran kawahnya.

Keberadaan akses jalan raya menuju kawasan Gunung Tangkuban Perahu tidak dapat dipisahkan dari peran perkumpulan “Bandoeng Vooruit”, sebuah organisasi orang-orang Belanda yang tinggal di Bandung. Misi mereka antara lain mengembangkan obyek wisata di wilayah Bandung. Menata dan merias penampilan kota Bandung sebagai daerah tujuan wisata sehingga menarik wisatawan sebanyak-banyaknya untuk datang berkunjung ke Bandung.

Pada sekitar tahun 1924, Heer W. H. Hoogland, ketua Bandoeng Vooruit sudah memikirkan kemungkinan pembangunan jalan raya menuju ke Kawah Ratu, kawah terbesar di kawasan Tangkuban Perahu. Sebelumnya Perhimpunan Sejarawan Alam (Natuur Historische Vereeniging) telah mempelopori pembukaan jalan setapak yang melintasi sebagian wilayah perkebunan Kina Pemanoekan (Pemanukan) dan Tjiasemlanden (Daerah Ciasem) dan sejak saat gunung Tangkuban Perahu menjadi sering didaki. Dan akhirnya pada tahun 1926 pembangunan jalan menuju kawasan Tangkuban Perahu dimulai.


Peta Tangkuban Perahu
(sumber gambar: L. Van der Pijl, Wandelgids voor den G Tangkoeban Prahoe, Bandoeng: Uitgave A.C. Nix & Co, 1932)

Pada bulan September tahun 1928 sekitar 4 kilometer jalan menuju Kawah Ratu dibuka untuk umum. L. Van der Pijl, dalam bukunya “Wandelgids voor den G. Tangkoeban Prahoe”, menyebutkan bahwa pembangunan jalan tersebut memakan total biaya f 30.000; (30.000 Gulden). Karena mahalnya biaya pembangunan dan perawatan fasilitas maka pengunjung yang melalui jalan dikenakan biaya sebesar f 2.50 (2.50 Gulden) bagi kendaraan roda empat dan f 1 (1 Gulden) untuk kendaraan bermotor roda dua. Kemudian jalan menuju Kawah Ratu itu dinamakan Hooglandweg mengacu pada nama Heer W. H. Hoogland, ketua perkumpulan Bandung Vooruit, pencetus ide pembangunan jalan yang hingga kini dapat dinikmati para pengunjung Gunung Tangkuban Perahu.

Berwisata di Kawah Gunung Tangkuban Perahu
Kawasan wisata Gunung Tangkuban Perahu terletak sekitar 30 kilometer di sebelah utara kota Bandung. Secara administratif kawasan Gunung Tangkuban Perahu sebelah selatan berada di bawah wilayah Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Sebelah Utara kecamatan Sagalaherang, dan sebelah timur laut kecamatan Jalancagak kabupaten Subang.

Puncak gunung tertinggi di kawasan Tangkuban Perahu berada pada ketinggian 2.084 meter di atas permukaan air laut. Kawasan ini merupakan salah satu tujuan wisata alam yang banyak dikunjungi wisatawan nusantara maupun mancanegara.

Menurut cerita rakyat setempat nama Tangkuban Perahu berkaitan dengan legenda Sangkuriang, yang dikisahkan jatuh cinta kepada ibunya, Dayang Sumbi. Untuk menggagalkan niat anaknya menikahinya, Dayang Sumbi mengajukan syarat, salah satunya Sangkuriang harus membuat perahu dalam semalam. Saat menyadari usahanya untuk memenuhi syarat itu gagal, Sangkuriang marah dan menendang perahu itu, sehingga mendarat dalam keadaan terbalik. Perahu inilah yang kemudian membentuk Gunung Tangkuban Parahu.

Gunung Tangkuban Perahu merupakan salah satu gunung berapi yang masih aktif di Pulau Jawa. Gunung ini termasuk dalam kategori jenis Strato dengan kawah ganda. Berdasarkan data yang ada sejak abad ke XIX, gunung api ini tidak pernah menunjukkan erupsi magmatik besar selain hanya berupa erupsi kecil yang melontarkan abu tanpa diikuti oleh leleran lava, awan panas ataupun lontaran batu pijar. Selama ini belum pernah ada catatan mengenai adanya banjir lahar yang menyertai letusannya. Letusan Gunung Tangkuban Perahu dapat digolongkan sebagai letusan kecil. Material vulkanik yang dilontarkan umumnya abu yang sebarannya terbatas di sekitar daerah puncak hingga beberapa kilometer. Semburan lumpur panas tercatat hanya terbatas di daerah sekitar kawah.

Letusan besar Gunung Tangkuban Perahu terakhir terjadi pada tahun 1910. Saat itu kolom asap membubung setinggi 2 km di atas dinding kawah, erupsi berasal dari kawah Ratu. Banyaknya letusan yang terjadi selama kurun waktu 1.5 abad terakhir menyebabkan banyaknya kawah di kawasan ini. Tangkuban Perahu memiliki 9 kawah yang masih aktif hingga sekarang. Kawah-kawah tersebut adalah Kawah Ratu, Kawah Upas, Kawah Domas, Kawah Ecoma, Kawah Jurig, Kawah Siluman, Kawah Baru, Kawah Lanang, Kawah Jarian dan Pangguyangan Badak. Di antara kawah-kawah tersebut, Kawah Ratu merupakan kawah yang terbesar, dikuti dengan Kawah Upas yang terletak bersebelahan dengan Kawah Ratu. Beberapa kawah mengeluarkan bau asap belerang, bahkan ada kawah yang dilarang untuk dituruni, karena kepulan asapnya mengandung racun.


Tangkoeban Prahoe 1910_Uitbarsting

Kawah Ratu merupakan kawah terbesar di kawasan Tangkuban Perahu. Kawah kedua terbesar adalah Kawah Upas yang terletak bersebelahan dengan Kawah Ratu, kawah ini bisa dicapai dengan berjalan kaki kurang lebih 30 menit, berjarak sekitar +/- 1,5 kilometer dari pos pengamatan, dengan mengitari tepian bibir Kawah Ratu secara berlawanan arah jarum jam.


Kawah Ratu Tangkuban Perahu foto ©2009 arie saksono

Kawah lainnya yang juga menarik untuk dikunjungi adalah Kawah Domas yang berada sekitar 1,2 kilometer di sebelah timur Kawah Ratu. Kawah ini dapat dicapai melalui jalur jalan setapak menurun melewati hutan dengan pepohonan yang rindang, beberapa bagian terdapat jalan yang curam. Berbeda dengan Kawah Ratu yang menawarkan pemandangan spektakuler berupa kawah luas, di Kawah Domas tampak terlihat hamparan bebatuan dan tebing putih kekuningan dengan celah-celah berongga yang mengeluarkan asap belerang.


Kawah Domas Tangkuban Perahu (foto ©2009 arie saksono)

Di lokasi ini pengunjung juga dapat menjumpai beberapa sumber air panas mendidih dengan aroma asap belerang. Pada sumber air panas tertentu digunakan oleh masyarakat sekitar untuk menyembuhkan penyakit kulit dan di sumber air panas lainnya digunakan untuk merebus telur. Dari Kawah Domas pengunjung dapat berjalan kembali mendaki menuju pelataran parkir Kawah Ratu atau dapat meniti jalan setapak mendatar menuju pelataran parkir bawah.

Menuju Tangkuban Perahu
Kawasan Gunung Tangkuban Perahu dapat dicapai dari kota Bandung menuju arah Utara melewati terminal bus/ angkot Ledeng, Kota Lembang dan kemudian menuju pintu gerbang atau loket masuk. Jalur lain melalui Kota Subang melalui tempat rekreasi dan perkebunan teh Ciater.

Bagi pengunjung yang suka berjalan kaki ataupun mungkin bersepeda terdapat jalan pintas melalui jalur setapak diantaranya melalui Desa Jayagiri, Lembang. Bila memilih jalur ini jangan lupa untuk singgah ke taman Cagar Alam Junghuhn. Di lokasi ini terdapat monument dan makam botanikus dan geolog Franz Wilhelm Junghuhn, yang dahulu terkenal sebagai penjelajah gunung-gunung di Jawa dan perintis pembudidayaan perkebunan tanaman kina di kawasan priangan Jawa Barat. Menjelang perang dunia ke-2, produksi dunia kina (de Cinchona Calisaya), sebagai bahan baku obat penyakit malaria, terbesar, sekitar 91% berasal dari Nederlands-Indie (Indonesia).

Pengunjung dengan angkutan umum dapat naik bis jurusan Bandung-Subang hingga ke pertigaan jalan menuju Tangkuban Perahu. Atau naik minibus jurusan Lembang-Tangkuban Perahu.

Insert
Sejarah Letusan Gunung Tangkuban Perahu, sumber: portal.vsi.esdm.go.id

1829 – erupsi abu dan batu dari kawah Ratu dan Domas
1846 – terjadi erupsi, peningkatan kegiatan
1896 – terbentuk fumarol baru di sebelah utara kawah Badak
1900 – erupsi uap dari kawah Ratu
1910 – kolom asap membubung setinggi 2 km di atas dinding kawah, erupsi berasal dari kawah Ratu
1926 – erupsi freatik di kawah Ratu membentuk lubang Ecoma
1935 – lapangan fumarol baru disebut Badak terjadi, 150 m ke arah selatan baratdaya dari kawah Ratu
1952 – erupsi abu didahului oleh erupsi hidrothermal (freatik)
1957 – erupsi freatik di kawah Ratu, terbentuk lubang kawah baru
1961, 1965, 1967 – erupsi freatik
1969 – erupsi freatik didahului oleh erupsi lemah menghasilkan abu
1971 – erupsi freatik
1983 – awan abu membubung setinggi 159 m di atas Kawah ratu
1992 – peningkatan kegiatan kuat dengan gempa seismik dangkal dengan erupsi freatik kecil
1994 – erupsi freatik di kawah Baru

©2009 arie saksono

Artikel mengenai Gunung Tangkuban Perahu ini pernah dimuat dalam Versi lain pada majalah National Geographic Traveler, Edisi Koleksi : 55 Pendakian Terindah; Desember 2009 by arie saksono




2010 in review_www.ariesaksono.wordpress.com

January 3, 2011

The stats helper monkeys at WordPress.com mulled over how this blog did in 2010, and here’s a high level summary of its overall blog health:

Healthy blog!

The Blog-Health-o-Meter™ reads Wow.

Crunchy numbers

Featured image

The Louvre Museum has 8.5 million visitors per year. This blog was viewed about 140,000 times in 2010. If it were an exhibit at The Louvre Museum, it would take 6 days for that many people to see it.

In 2010, there was 1 new post, growing the total archive of this blog to 39 posts. There were 12 pictures uploaded, taking up a total of 949kb. That’s about a picture per month.

The busiest day of the year was September 21st with 934 views. The most popular post that day was Masjid Kubah Emas – Dian Al Mahri.

Where did they come from?

The top referring sites in 2010 were search.conduit.com, google.co.id, id.wikipedia.org, kaskus.us, and facebook.com.

Some visitors came searching, mostly for masjid, monas, gambar masjid, candi borobudur, and sejarah candi borobudur.

Attractions in 2010

These are the posts and pages that got the most views in 2010.

1

Masjid Kubah Emas – Dian Al Mahri May 2008
48 comments

2

CANDI BOROBUDUR warisan luhur bangsa January 2008
82 comments

3

Monumen Nasional-Tugu MONAS January 2008
44 comments

4

KAWAH PUTIH Ciwidey Bandung Selatan March 2008
130 comments

5

Legenda REOG PONOROGO dan WAROK November 2007
51 comments


Lambang Kota Batavia & DKI Jakarta

April 8, 2009

symbol-batavia-jkt logo-batavia
Leeuw en Batavia Schildwapen (Museum Sejarah Jakarta) – Lambang Batavia

logo-dki logo-jakarta-dki
Lambang DKI Jakarta

uang-coen-batavia1 uang-coen-batavia2
Logo Batavia pada uang 1000 Gulden Coen Mercurius tahun 1919 (http://www.uang-kuno.com)

logo-batavia-kota-tua logo-batavia-kota-tua2
symbol-batavia_kota-tua
Lambang kota Batavia hingga kini masih terpampang di beberapa gedung tua di kawasan kota tua Jakarta (Foto: ©2008 arie saksono)

logo-dki-arti1

Lambang kota Jakarta bentuknya merupakan perisai bersegi lima.

Keterangan gambar :

  1. Dalam perisai garis yang bertepi kuning melambangkan pintu gerbang (Ibukota RI) dengan dasar biru
  2. Ditengah-tengah berdiri Monumen Nasional warna putih lambang kesuburan
  3. Monumen Nasional dilingkari padi dan kapas lambang keadilan.
  4. Sebelah bawah terdapat ombak laut lambang kota pelabuhan dan negara kepulauan.

Kota Batavia dahulu didirikan pada tahun 1621 oleh Jan Pieterszoon Coen. Coen menggunakan semboyan hidupnya Dispereert niet, ontziet uw vijanden niet, want God is met onsmenjadi semboyan/ motto kota Batavia, singkatnya “Dispereert niet” yang berarti “Jangan putus asa”.


Kini Kota Jakarta menyandang semboyan “Jaya Raya” pada lambang kota, yang berarti Jaya dan Besar/ Agung, sesuai dengan posisinya sekarang sebagai Ibukota Republik Indonesia.

©2009 arie saksono

Sumber logo DKI Jakarta : http://www.jakarta .go.id



Kawasan ANCOL, Dulu dan Sekarang

November 13, 2008

ancol_senja
Ancol di saat senja  (foto: arie saksono) 2008

Sejarah
Di masa sekarang nama Ancol dikenal sebagai kawasan wisata. Karena di kawasan ini terdapat taman wisata dan rekreasi permainan terbesar dan terlengkap di Indonesia. Bila dirunut ke belakang, kawasan Ancol ternyata sudah berdiri sejak abad ke-17. Di antara nama kampung-kampung tua yang ada di Jakarta, salah satunya adalah Ancol. Kawasan Ancol terletak disebelah timur Kota Tua Jakarta, sampai batas kompleks Pelabuhan Tanjung Priuk. Kawasan tersebut kini dijadikan sebuah Kelurahan dengan nama yang sama, termasuk wilayah kecamatan Pademangan, Kotamadya Jakarta Utara.

Nama Ancol berarti tanah rendah berpaya-paya atau payau. Dahulu bila laut sedang pasang air payau kali Ancol berbalik ke darat menggenangi tanah sekitarnya sehingga terasa asin. Orang Belanda pada zaman VOC menyebut kawasan tersebut sebagai Zoute land atau “tanah asin” sebutan yang juga diberikan untuk kubu pertahanan yang dibangun di situ pada tahun 1656 (De Haan 1935:103 – 104). Untuk menghubungkan Kota Batavia yang pada zaman itu berbenteng dengan kubu tersebut, sebelumnya telah dibuat terusan, yaitu Terusan Ancol, yang sampai sekarang masih dapat dilayari perahu. Kemudian dibangun pula jalan yang sejajar dengan terusan yang kini telah dibangun jalan tol yang menghubungkan Priok – Ancol – Kota – Cengkareng.

ancol_rach
Lukisan benteng Belanda di kawasan Ancol
Johannes Rach (1720-1783) – National Library of Indonesia

Pembuatan terusan, jalan dan kubu pertahanan di situ, karena dianggap strategis dalam dalam rangka pertahanan kota Batavia. Sifat strategis kawasan Ancol rupanya sudah dirasakan pada masa agama Islam mulai tersebar di daerah pesisir Kerajaan Sunda. Dalam Koropak 406, Carita Parahiyangan, Ancol disebut – sebut sebagai salah satu medan perang disamping Kalapa Tanjung Wahanten (Banten) dan tempat – tempat lainnya pada masa pemerintahan Surawisessa (1521 – 1535).

Karena letaknya yang dekat dengan benteng atau kastil Belanda di Sunda Kelapa, maka kawasan ini turut mengalami perjalanan sejarah kota Batavia atau Jakarta. Pada masa itu, salah satu Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Adriaan Valckenier 1737-1741 , memiliki rumah peristirahatan sangat indah di tepi pantai.

Bintang Mas Ancol, Oey Tambah Sia
Seiring perjalanan waktu, kawasan itu kemudian berkembang menjadi tempat wisata. Hingga kemudian di sekitar pertengahan abad ke 19 nama Ancol kembali terdengar kembali. Seorang Cina kaya raya Oey Tambahsia memiliki rumah peristirahatan dan pelesiran (suhian) bernama Bintang Mas di kawasan Ancol ini.

Oey Tambahsia adalah anak dari raja tembakau Oey Thoa, pedagang besar Cina yang berasal dari Pekalongan, Jawa Tengah. Ia memiliki toko tembakau terbesar di kawasan Jalan Toko Tiga Glodok. Di Betawi keluarga Oey Thoa cukup terkenal karena kekayaannya. Sayangnya, pedagang kaya raya ini mati muda, Ia meninggalkan warisan melimpah pada putranya, Oey Tambahsia, yang masih muda belia.

Karena kaya ia bahkan memiliki rumah pelesiran pribadi, ia menjadikan tempat ini bukan hanya untuk bersenang-senang, tetapi juga tempat penampungan para wanita yang tergoda akan rayuan, ketampanan, dan harta bendanya. Termasuk sejumlah wanita Belanda yang berselingkuh dari suaminya. Bahkan ada sebuah cerita tentang istri seorang tukang kelontong yang berparas cantik juga rela meninggalkan suaminya dan kemudian tinggal bersama Tambahsia di tempat peristirahatannya di Bintang Mas, Ancol. Mengetahui, istrinya dilarikan ke Ancol, babah tukang kelontong ini segera mencarinya ke Ancol. Namun Pria yang ingin mempertahankan kehormatan dan harga dirinya sebagai suami ini dianggap telah mengganggu kesenangan Tambahsia, dan akhirnya ia dihabisi nyawanya. Si playboy kaya raya ini memang kejam dan banyak kejahatan yang telah dilakukannya, hingga akhirnya pengadilan Batavia menjatuhi Oey Tambahsia si playboy Betawi ini hukuman mati di tiang gantungan.

Si Manis Jembatan Ancol
Nama Ancol tidak dapat dipisahkan dari cerita Siti Ariah atau Mariam, yang lebih populer di masyarakat Jakarta sebagai Si Manis Jembatan Ancol. Hantu cantik yang kabarnya sering menampakkan diri di sekitar kawasan Ancol. Menurut cerita, Siti Ariah adalah sosok perempuan Betawi yang hidup pada awal abad ke-19 di kampung Ancol. Suatu hari ia dilamar seorang cukong kaya raya yang suka perempuan muda. Namun ia menolak lamaran cukong tersebut karena sudah memiliki kekasih dan ia tak mau hanya jadikan gendaknya. Karena ditolak, sang cukong kaya itu marah bukan kepalang karena merasa dihina. Sementara Siti Ariah, memberontak dan memilih melarikan diri. Karena ulahnya, ibunya harus menanggung derita, dianiaya habis-habisan oleh si cukong kaya.

Seorang centeng si cukong memburu Ariah dan berhasil menangkapnya. Terjadilah pergulatan yang sengit sebelum akhirnya Ariah dilumpuhkan. Perempuan malang itu tercebur ke kubangan lumpur yang coklat dan ia meregang nyawa di sana. Menurut laporan, jenazah Ariah dibuang dan ditemukan di area persawahan di daerah Sunter, tak jauh dari Ancol, Jakarta sekarang, pada tahun 1817, tak selang lama sejak saat pelariannya.

ancol_1948
Kawasan Ancol 1948 – (source: internet;unknown?)

Tempat Eksekusi Orang Belanda
Ketika Perang Dunia II meletus disusul perang kemerdekaan, nama Ancol terlupakan. Seperti biasa Sungai Ciliwung masih leluasa menumpahkan air dan lumpurnya ke sana sehingga mengubah kawasan tersebut menjadi kotor, kumuh, dan berlumpur. Kawasan yang semula cantik, berubah menjadi menyeramkan dan Ancol sempat mendapat julukan tempat jin buang anak.

Pada masa pendudukan Jepang, Ancol sempat menjadi tempat pembuangan bagi mayat-mayat korban eksekusi tentara Jepang. Pada masa itu banyak orang Belanda, pria dan wanita yang melawan pemerintah pendudukan Jepang dieksekusi dan kemudian mayatnya dibuang, dikuburkan tanpa nama di kawasan rawa-rawa sekitar Ancol. Hingga di kemudian hari, mayat-mayat tersebut digali kembali dan dimakamkan kembali sebagaimana mestinya di pemakaman yang kini dinamakan Taman Makam Kehormatan Belanda atau Ereveld Ancol yang kini berada di dalam kawasan sebelah timur Taman Impian Jaya Ancol.

Pembangunan Kawasan Ancol
Kemudian pada saat Jakarta mulai dengan berbagai proyek pembangunan di awal tahun 1960-an muncul usulan agar kawasan itu difungsikan menjadi daerah industri. Namun, usul itu ditolak oleh Presiden Soekarno. Bung Karno ingin membangun kawasan itu sebagai daerah wisata. Lewat Keputusan Presiden pada akhir Desember 1965, Bung Karno memerintahkan kepada Gubernur DKI Jaya waktu itu, dr. Soemarno, sebagai pelaksana pembangunan proyek Taman Impian Jaya Ancol. Proyek pembangunan ini baru terlaksana di bawah pimpinan Ali Sadikin yang ketika itu menjadi Gubernur Jakarta. Pembangunan Ancol dilaksanakan oleh PD Pembangunan Jaya di bawah pimpinan Ir. Ciputra.

Ciri khas kawasan wisata Ancol di masa awal berdirinya ditandai dengan dibangunnya Teater Mobil pada tahun 1970. Kemudian Ancol pun sempat terkenal menjadi saksi bahwa judi sempat dilegalkan di Jakarta dengan dibukanya tempat judi Copacabana di kawasan ini.

Sarana rekreasi berikut yang dibangun makin mempopulerkan keberadaan Taman Impian Jaya Ancol, tidak saja di kalangan masyarakat ibu kota, tetapi juga seluruh Indonesia. Pembangunan berbagai proyek terus berlanjut hingga kini. Pedagang kaki lima ditata, hotel dibangun, lapangan golf, dan beragam permainan dihadirkan. Hal itu berarti sarana rekreasi dan hiburan di Taman Impian Jaya Ancol akan semakin lengkap. Pada tahun-tahun berikutnya, pengadaan sarana rekreasi dan hiburan diarahkan pada sarana hiburan berteknologi tinggi. Hal itu telah dimulai dengan dibangunnya kawasan Taman Impian “Dunia Fantasi” tahap I pada tahun 1985. Di masa sekarang, Taman Impian Jaya Ancol yang berdiri pada lahan seluas 552 hektar, telah menjadi tempat wisata dan rekreasi permainan terbesar dan terlengkap di Indonesia.

© 2008 arie saksono

Sumber:
http://www.ancol.com
http://www.id.wikipedia.org
http://www.budayajakarta.com
http://www.ogs.nl
berbagai sumber lainnya

Ingin tahu lebih banyak mengenai Teluk Jakarta dan kawasan wisata Ancol? temukan ulasan sejarah panjang kawasan ini di :

National Geographic Traveler; edisi Mei-Juni 2009 🙂

National geographic Traveler_Arie03National geographic Traveler_Arie01

Salam Indonesia > arie


Sapta Pesona Pariwisata Indonesia

November 12, 2008

sapta-pesona-logo1
Pesona Sapta Pesona Pariwisata Indonesia

Beberapa tahun lalu pariwisata Indonesia sempat mengalami kejayaan. Bila dibandingkan dengan masa sekarang, memang secara kuantitas jumlah wisatawan terus meningkat, namun seharusnya sudah lebih jauh dari itu.
Pada program Visit Indonesia Year 1991 dahulu dikampanyekan program Sapta Pesona. Hal tersebut menunjukkan hasil yang memuaskan terbukti dengan terlampuinya target kunjungan wisata.

Visit Indonesia 1991
Pada tahun 1991 badak bercula satu binatang khas daerah Ujung Kulon, Jawa Barat digunakan sebagai maskot tahun kunjungan Indonesia 1991 (Visit Indonesia Year 1991). Ini merupakan kampanye promosi pariwisata Indonesia ke seluruh dunia oleh Departemen Pariwisata Pos dan Telekomunikasi (sekarang: Departemen Kebudayaan dan Pariwisata).

Pada program Visit Indonesia 2008 sekarang ini agaknya patut diingatkan kampanye yang sama, agar program pembangunan pariwisata Indonesia dapat berjalan dengan baik dan dapat menunjukkan hasil yang nyata bagi pembangunan nasional serta tidak dijalankan dengan setengah hati oleh segenap lapisan elemen bangsa.

Tujuan diselenggarakan program Sapta Pesona adalah untuk meningkatkan kesadaran, rasa tanggung jawab segenap lapisan masyarakat, baik pemerintah, swasta maupun masyarakat luas untuk mampu bertindak dan mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Logo Sapta Pesona ditetapkan dengan Keputusan Menteri Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi Nomor: KM.5/UM.209/MPPT-89 tentang Pedoman Penyelenggaraan Sapta Pesona.

Logo Sapta Pesona dilambangkan dengan Matahari yang bersinar sebanyak 7 buah yang terdiri atas unsur:

  1. Keamanan
  2. Ketertiban
  3. Kebersihan
  4. Kesejukan
  5. Keindahan
  6. Keramahan
  7. Kenangan

Uraian makna program Sapta Pesona merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan dalam program-program pembangunan kepariwisataan sebagai sektor andalan devisa Nasional:

1.  AMAN
~   Suatu kondisi lingkungan destinasi wisata yang memberi rasa tenang, bebas dari rasa takut dan kecemasan wisatawan.
~   Daerah tujuan wisata dengan lingkungan yang membuat nyaman wisatawan dalam melakukan kunjungan.
~   Menolong, melindungi, menjaga, memelihara, memberi dan meminimalkan resiko buruk bagi wisatawan yang berkunjung.

2.  TERTIB
~   Destinasi yang mencerminkan sikap disiplin, teratur dan profeional, sehingga memberi kenyamanan kunjungan wisatawan.
~   Ikut serta memelihara lingkungan
~   Mewujudkan Budaya Antri
~   Taat aturan/ tepat waktu
~   Teratur, rapi dan lancar

3.  BERSIH
~   Layanan destinasi yang mencerminkan keadaan bersih, sehat hingga memberi rasa nyaman bagi kunjungan wisatawan
~   Berpikiran positif pangkal hidup bersih
~   Tidak asal buang sampah/ limbah
~   Menjaga kebersihan Obyek Wisata
~   Menjaga lingkungan yang bebas polusi
~   Menyiapkan makanan yang higienis
~   Berpakaian yang bersih dan rapi

4.  SEJUK
~   Destinasi wisata yang sejuk dan teduh akan memberikan perasaan nyaman dan betah bagi kunjungan wisatawan.
~   Menanam pohon dan penghijauan
~   Memelihara penghijauan di lingkungan tempat tinggal terutama jalur wisata
~   Menjaga kondisi sejuk di area publik,restoran, penginapan dan sarana fasilitas wisata lain

5.  INDAH
~   Destinasi wisata yang mencerminkan keadaan indah menarik yang memberi rasa kagum dan kesan mendalam wisatawan.
~   Menjaga keindahan obyek dan daya tarik wisata dalam tatanan harmonis yang alami
~   Lingkungan tempat tinggal yang teratur, tertib dan serasi dengan karakter serta istiadat lokal
~   Keindahan vegetasi dan tanaman peneduh sebagai elemen estetika lingkungan

6.  RAMAH TAMAH
~   Sikap masyarakat yang mencerminkan suasana akrab, terbuka dan menerima hingga wisatawan betah atas kunjungannya
~   Jadi tuan rumah yang baik & rela membantu para wisatawan
~   Memberi informasi tentang adat istiadat secara spontan
~   Bersikap menghargai/toleran terhadap wisatawan yang datang
~   Menampilkan senyum dan keramah-tamahan yang tulus.
~   Tidak mengharapkan sesuatu atas jasa telah yang diberikan

7.  KENANGAN
~   Kesan pengalaman di suatu destinasi wisata akan menyenangkan wisatawan dan membekas kenangan yang indah, hingga mendorong pasar kunjungan wisata ulang
~   Menggali dan mengangkat budaya lokal
~   Menyajikan makanan/ minuman khas yang unik, bersih dan sehat
~   Menyediakan cendera mata yang menarik

Sumber logo Sapta Pesona: http://www.budpar.go.id
Foto: arie saksono n70


Patung Pembebasan Irian Barat

November 12, 2008

 

 

ppem-irian0051

Patung Pembebasan Irian Barat lapangan Banteng

(foto: ©2008 arie saksono)

 

Patung yang berada di tengah-tengah lapangan Banteng ini dibuat pada tahun 1962, pada waktu bangsa Indonesia sedang berjuang untuk membebaskan wilayah Irian Barat (Irian Jaya, kemudian sekarang menjadi Papua).

Ide pembuatan patung berasal dari Bung Karno, kemudian “diterjemahkan” oleh Henk Ngantung dalam bentuk sketsa. Ide tersebut tercetus dari pidato Bung Karno di Yogyakarta. Pidato Bung Karno telah menggerakkan massa untuk bertekad membebaskan saudara-saudaranya di Irian Barat dari belenggu penjajahan Belanda.

Patung ini menggambarkan seorang yang telah berhasil membebaskan belenggu (maksudnya adalah penjajahan Belanda).

 

Data Patung Pembebasan Irian Barat

Patung terbuat dari perunggu dengan berat kurang lebih 8 ton

Tinggi patung dari kaki sampai kepala 9 meter, tinggi keseluruhan sampai ujung tangan kurang lebih 11 meter

Tinggi kaki patung (voetstuk) 20 meter terhitung dari jembatan, sedangkan dari landasan bawah 25 meter

Pelaksana PN Hutama Karya dengan arsitek Silaban

Pelaksana pematung: Team pematung Keluarga Arca Yogyakarta

Lama pembuatan kurang lebih 1 tahun

Diresmikan pada tanggal 17 Agustus 1963 oleh Bung Karno

 

ppem-irian0081

Simbol kebebasan dari belenggu–penjajah (foto: ©2008 arie saksono)

 

Patung ini ditempatkan di Lapangan Banteng, karena lokasi ini strategis dan luas, memenuhi persyaratan untuk penempatan patung setinggi ini. Lapangan Banteng pada waktu itu merupakan pintu gerbang bagi tamu-tamu yang datang dari lapangan terbang Kemayoran. Sehingga penempatan Patung Pembebasan Irian Barat akan menimbulkan kesan estetis dan historis bagi ibukota Jakarta.

 

Sumber:

 ______., Sejarah Singkat Patung-Patung dan Monumen di Jakarta, Jakarta: Pemerintah Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta Dinas Museum dan Sejarah, 1992 

 

© 2008 arie saksono