Mencoba Mengungkap Misteri Koin Gunung Padang

September 21, 2014

0.5 cent 1859_arie copy

identitas Koin Gunung Padang_1A

Update picture 01/09/2014: Koin Nederlandsch Indie 1/2 cent 1859 & 1860 sebagai pembanding Koin temuan di Gunung Padang.-Koleksi pribadi-

Keberadaan situs Gunung Padang hingga kini masih menyimpan misteri. Situs ini terletak di kabupaten berada di perbatasan Dusun Gunungpadang dan Panggulan, Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur. Sejak zaman Belanda situs ini sudah menarik perhatian banyak ilmuwan untuk mencoba mengungkap rahasia dibalik tumpukan bebatuan yang menyerupai pyramid ini.

Menurut data literatur pada tahun 1891, DR. R. D. M. Verbeek, sudah memasukkan Gunung Padang dalam tulisannya mengenai daftar tempat-tempat bersejarah di Pulau Jawa. “Oudheden van Java. Lijst der Voornaamste Overblijfselen uit den Hindoetijd op Java met Eene Oudheidkundige Kaart” yang dipublikasikan dalam buku “Verhandelingen van Het Bataviaasch Genootschap der Kunsten en Wetenschappen, Deel XLVI” diterbitkan oleh Lansdrukkerij Batavia – M Nijhoff ’s Hage tahun 1891.

Dalam tulisannya tersebut, Verbeek menyebutkan :

38. Goenoeng Padang.

District Peser, afdeeling Tjiandjoer, Blad K. XIII.

Op den bergtop Goenoeng Padang, nabij Goenoeng mélati, eene opeenvolging van 4 terrassen, door trappen van ruwe steenen verbonden, met ruwe platte steenen bevloerd en met talrijke scherpe en zuilvórmige rechtopstaande andesietsteenen versierd. Op ieder terras een heuveltje, waarschijnlijk een graf, met steenen omzet en bedekt, en van boven met 2 spitse steenen voorzien. In 1890 door den heer De Corte bezocht

.. Di puncak Gunung Padang, dekat Gunung Melati, terdapat undakan yang terdiri dari 4 teras yang dihubungkan dengan tangga batu yang kasar dan dengan dasar yang terbuat dari batu datar yang kasar dan dengan dihiasi oleh banyak batuan andesit berbentuk pilar/ tugu yang berdiri tegak. Pada tiap teras terdapat gundukan yang kemungkinan kuburan, ditutupi dan dilingkari dengan batu, dan atas dengan 2 batu tajam. dikunjungi oleh tuan Corte pada tahun 1890 ..

saksono_arie-01X

saksono_arie-03A_1

Itulah keterangan singkat yang ditulis Verbeek. Sementara beberapa tahun berikutnya pada tahun 1914, N.J. Krom menuliskan kembali keterangan yang serupa mengenai situs Gunung Padang ini dalam Rapporten van de Oudheidkundige Dienst (berisi semacam laporan inventarisasi peninggalan-peninggalan bersejarah yang ada di Nederlands Indie pada saat itu). Selebihnya belum ada penelitian maupun karya tulis ilmiah yang mendalam mengenai asal usul situs Gunung Padang ini.

Dalam kurun waktu sejak publikasi buku Bataviaasch Genootschap Der Kunsten En Wetenschappen yang memuat keterangan situs Gunung Padang tersebut kemungkinan pemerintah Hindia Belanda memang sedang disibukkan dengan proyek prestisius pemugaran Candi Borobudur yang dipimpin oleh Theodor van Erp tahun 1900- 1911 hingga akhirnya terhenti oleh pecahnya perang dunia kedua tahun 1940. Sehingga status Situs Gunung Padang pada masa itu masih sebatas pada proyek inventarisasi saja belum masuk pada proses penelitian maupun pemugaran. Pemerintah Hindia Belanda masih mencurahkan perhatian dan dana ke proyek pemugaran Candi Borobudur untuk menandingi pemerintah kolonial Perancis di Kamboja dengan proyek pemugaran Ankor Wat-nya yang tampil pada pameran Kolonial Perancis dan pameran Universal di Paris dan Marseille antara tahun 1889 dan 1937. Hingga akhirnya Indonesia merdeka pada tahun 1945 situs Gunung Padang masih tetap menjadi misteri, pemerintah Hindia Belanda meninggalkannya sebagai pekerjaan rumah bagi pemerintah Indonesia untuk diungkap, membuka tabir rahasia dibaliknya.

Tulisan beserta sedikit data sejarah di atas merupakan pengantar dari topik utama sebenarnya yang ingin dibicarakan dalam artikel ini mengenai koin kuno yang ditemukan di Gunung Padang. Sebagaimana yang ramai diberitakan, tim peneliti Gunung Padang berhasil menemukan sekeping koin pada 14 dan 15 September 2014. Pro-kontra pendapat dan analisa mengenai koin ini banyak mewarnai pemberitaan sejak pemberitaan penemuan koin. Penulis sempat mengirimkan informasi beserta foto perbandingan yang sama dengan dibawah, mengenai koin Gunung Padang ini ke redaksi detik.com, pada tanggal 19 September 2014 namun karena terbatasnya ruang maka penulis memutuskan untuk mencoba mengungkap lebih detail di blog ini sebagai sarana untuk berbagi informasi. http://news.detik.com/read/2014/09/19/161134/2695565/10/lebih-seksama-melihat-perbandingan-koin-misterius-gunung-padang-dan-koin-era-belanda

>Mencermati koin temuan di situs Gunung Padang, menurut saya koin tersebut identik dengan Koin Hindia Belanda/ Nederlandsch Indie nominal 1/2 cent periode 1855-1909.

Gambar koin A memperlihatkan bagian belakang koin temuan Gunung Padang yang sudah aus kehijauan karena korosi oksidasi. Warna koin temuan di situs Gunung Padang kehijauan merupakan ciri patina lapisan verdigris (tembaga karbonat) yang biasa ditemui pada proses korosi koin ataupun logam tembaga tua.

Identifikasi selanjutnya dilakukan melalui metode sederhana berupa kesamaan ukuran diameter dan kesamaan ciri yang masih dapat nampak -tersisa dari koin Gunung Padang. Ciri-ciri tersebut dapat terlihat dari kesamaan aksara/ tulisan Arab Melayu dan aksara Jawa yang sudah ditandai dengan lingkaran warna merah dan hijau. Untuk mempermudah, posisi letak kedua koin harus disesuaikan agar dapat diperbandingkan kesamaannya.
Berikut gambar ketiga koin tersebut yang sudah dipadupadankan:

arie_saksono_coin_copy

keterangan gambar:
Koin A: Koin temuan Gunung Padang
Koin B: Koin Hindia Belanda/ Nederlandsch Indie 1/2 Cent 1855-1909
Koin C: Koin Hindia Belanda/ Nederlandsch Indie 1/2 Cent 1914-1945

arie_saksono_coin_copy1 copy

Gambar di atas adalah bagian belakang koin yang bertuliskan aksara Jawa dan Arab-Melayu yang menyatakan besaran nominal koin, setengah sen.

Spesifikasi Koin:
Komposisi: Copper/ Tembaga
Berat: 2.3000gr
Diameter: 17mm

Perbandingan lain dengan foto koin Gunung Padang dari Twitter Tim GP
foto koin pembanding sudah dirotasi agar posisi sama dengan karakteristik koin temuan Gunung Padang

koin gunung padang copy1

Koin Hindia Belanda pecahan kecil 1/2 cent ada dua jenis cetakan, periode pertama 1855-1909 dan periode kedua 1914-1945 (selanjutnya setelah Indonesia Merdeka – koin sdh tdk dicetak –tidak berlaku).

Karakteristik dari koin ½ sen periode pertama 1855-1909
ned indie stngah cent 1855 copy
Observe / bagian depan
Lambang Kerajaan Belanda dengan Mahkota yang berada di antara tahun cetakan (1855 s/d 1909)

arie coin degenMercuriusstaf

Di sebelah kiri pedang dan sebelah kanan tongkat Mercurius, semuanya berada dalam bidang Parelrand / lingkar mutiara.
Sisi atas terdapat tulisan Nederlandsch Indie, bawah nilai nominal ½ Cent

Ned Indie setengah sen_descript copy

Reverse / bagian belakang
Di dalam (parelrand) lingkar mutiara – lingkaran titik-titik yang berjumlah 86, terdapat tulisan aksara Arab-Melayu, tertulis:
saperdoewaratoes roepijah

arabic schrift 0.5_arie cent_arie    arabic schrift 0.5_arie cent_arie_1

tulisan aksara Jawa melingkar diluar lingkar mutiara, tertulis:
sapararongatoes roepiah

java schrift 0.5 cent_arie

Perbedaan pada periode pertama paruh kedua (1902-1909)
ada sedikit perbedaan pada koin ½ cent yaitu pada bagian depan coin, Muntmeestertekens/ ciri utama koin yang ada pada bagian depan koin, di kiri dan kanan Schildwapen (Lambang Belanda) berupa Hellebaard, Hellebaard met ster, Zeepaardje en Druiventros

hlbrdstr  zeepdje

> Perbedaan utama pada bagian belakang/ reverse dari koin ½ sen periode pertama 1855-1909 dengan periode kedua 1914-1945 adalah pada koin periode pertama aksara Arab nampak tidak banyak memenuhi bidang dalam lingkar mutiara sementara pada koin periode kedua tulisan atau aksara arab pada koin lebih memenuhi bidang dalam Parelrand / lingkar mutiara (atau motif “gawangan”) dengan adanya Tashkil pada aksara Arab/-Melayu. (lihat gambar koin C)
Untuk aksara/ tulisan Jawa terdapat jarak antara – dengan parelrand / lingkaran mutiara, sementara pada koin periode berikutnya (periode 1914-1945 > koin C) tulisan aksara Jawa lebih dekat pada pinggir lingkaran mutiara.

1936A copy

Beberapa orang sempat menduga bahwa koin Gunung Padang serupa dengan koin Hindia Belanda/ Nederlandsch Indie pecahan 2 ½ cents tahun 1945, karena ada beberapa ciri yang mirip. Namun demikian melihat dari ukuran diameter koin 2 ½ cents adalah 31mm, ini jelas sekali berbeda dengan koin temuan Gunung Padang yang hanya 17mm. Sebagaimana dijelaskan di atas, bahwa tulisan Arab Melayu ataupun Jawa menyatakan besaran nominal koin, jadi jelas sekali beda, meskipun nampak sedikit kesamaan pada tulisan Jawa yang melingkari pinggiran koin. Selain itu juga koin Ned. Indie keluaran 1945 memiliki tipe tulisan huruf Arab Melayu-nya lebih modern dengan Tashkil-diacritics yang lebih memenuhi bidang dalam lingkaran mutiara. Sehingga jelas koin Nederlandsch Indie 2 ½ cents yang lebih dikenal dengan koin benggol tersebut tidak identik sama dengan koin temuan Gunung Padang dibandingkan dengan koin Nederlandsch Indie ½ cent keluaran periode 1855-1909.

benggol 2.5 cents 1945

Berdasarkan uraian di atas, dapat asumsikan bahwa koin 1/2 cent tersebut kemungkinan terjatuh dari orang-orang (Belanda) yang pada masa tersebut sudah pernah berada (meneliti) di situs Gunung Padang pada periode waktu tahun 1890-an (de Corte – Verbeek) hingga 1914 (N.J. Krom). Hingga akhirnya ditemukan kembali oleh Tim Peneliti Gunung Padang pada tengah malam 14-15 September 2014. Semoga tulisan ini dapat membantu mengungkap rahasia koin misterius situs Gunung Padang.

salam,
arie.

Sumber gambar:
Koin A: news.detik*com
Koin B: www*ngccoin*com
Koin C: Koleksi pribadi
Netscher,E., Van der Chijs, J.A, 1863, De munten van Nederlansch Indië; Beschreven en Afgebeeld: Batavia Lange & co.
twitter*com/TimRisetMandiri
__________., Officiele Katalogus 1978; voor Munten en Bankbiljetten van Nederland, Munten van Suriname, Curacao, Ned. Antillen en Ned. Indie: Uitgeverij Excellent BV: Nederland

Referensi:
Netscher,E., Van der Chijs, J.A, 1863, De munten van Nederlansch Indië; Beschreven en Afgebeeld: Batavia Lange & co
__________., Officiele Katalogus 1978; voor Munten en Bankbiljetten van Nederland, Munten van Suriname, Curacao, Ned. Antillen en Ned. Indie: Uitgeverij Excellent BV: Nederland
Verbeek, R. D. M. DR, 1891, Verhandelingen Van Het Bataviaasch Genootschap Der Kunsten En Wetenschappen, Deel XLVI: Lansdrukkerij Batavia – M Nijhoff ’s Hage
www*ngccoin*com
en*numista*com

Advertisements

2010 in review_www.ariesaksono.wordpress.com

January 3, 2011

The stats helper monkeys at WordPress.com mulled over how this blog did in 2010, and here’s a high level summary of its overall blog health:

Healthy blog!

The Blog-Health-o-Meter™ reads Wow.

Crunchy numbers

Featured image

The Louvre Museum has 8.5 million visitors per year. This blog was viewed about 140,000 times in 2010. If it were an exhibit at The Louvre Museum, it would take 6 days for that many people to see it.

In 2010, there was 1 new post, growing the total archive of this blog to 39 posts. There were 12 pictures uploaded, taking up a total of 949kb. That’s about a picture per month.

The busiest day of the year was September 21st with 934 views. The most popular post that day was Masjid Kubah Emas – Dian Al Mahri.

Where did they come from?

The top referring sites in 2010 were search.conduit.com, google.co.id, id.wikipedia.org, kaskus.us, and facebook.com.

Some visitors came searching, mostly for masjid, monas, gambar masjid, candi borobudur, and sejarah candi borobudur.

Attractions in 2010

These are the posts and pages that got the most views in 2010.

1

Masjid Kubah Emas – Dian Al Mahri May 2008
48 comments

2

CANDI BOROBUDUR warisan luhur bangsa January 2008
82 comments

3

Monumen Nasional-Tugu MONAS January 2008
44 comments

4

KAWAH PUTIH Ciwidey Bandung Selatan March 2008
130 comments

5

Legenda REOG PONOROGO dan WAROK November 2007
51 comments


JEMBATAN SURAMADU – Surabaya Madura

June 19, 2009

Suramadu

Sumber foto: suramadu.com

Akhirnya selesai sudah proyek raksasa yang telah ditunggu-tunggu warga Surabaya dan Madura. Jembatan Suramadu yang menghubungkan Pulau Jawa dengan Pulau Madura sepanjang 5.438 meter sudah dapat dilalui. Selama pembangunan jembatan ini melibatkan lebih dari 2.500 pekerja. Pihak Cina sebagai pemberi pinjaman sekaligus kontraktor memberikan jaminan 100 tahun dari segi desain Jembatan Suramadu.

Jembatan Suramadu diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudoyono pada 10 Juni 2009. Dalam kesempatan itu SBY berpesan kepada Gubernur Jatim agar pembangunan Jembatan Suramadu ini bisa meningkatkan pembangunan di Jatim. Acara peresmian dilaksanakan di kaki jembatan sisi Pulau Madura, di Desa Sukolilo Barat, Kecamatan Labang, Kabupaten Bangkalan.

Pada tanggal 13 Juni 2009 pukul 13.00, PT. Jasa Marga mulai membuka jalur tol Jembatan Suramadu bagi masyarakat umum. Masa uji coba dicanangkan selama tiga hari hingga tanggal 17 Juni 2009. Selama masa itu masyarakat yang melintas tidak dikenakan biaya tol. Berbeda dengan konsep jalan tol lainnya, maka di Jembatan Suramadu sepeda motor diperbolehkan melintasi jalur tol ini. Namun demikian PT. Jasa Marga menerapkan peraturan sesuai dengan Undang-Undang RI Nomor 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas, antara lain yaitu pengendara sepeda motor maksimal 2 orang dan wajib mengenakan helm pengaman.

Suramadu2

Sumber foto: suramadu.com

Menanggapi besarnya kekuatan angin di sekitar Jembatan Suramadu, Kepala Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional Wilayah V, A.G. Ismail, menjelaskan, saat ini Direktorat Jenderal (Ditjen) Bina Marga sedang menyiapkan sistem peringatan dini yang disertai Standar Operasional dan Prosedur (SOP) mengenai kecepatan angin.

“Nantinya saat kecepatan angin mencapai 30 kilometer per jam, kendaraan roda dua diberi peringatan saat akan masuk jembatan, bila angin telah 40 kilometer per jam maka motor tidak boleh melintas, sementara untuk mobil akan dilarang bila kecepatan angin mencapai 65 kilometer per jam,” ungkapnya.

Suramadu3

Sumber foto: suramadu.com

Tarif Tol Jembatan Suramadu

Sesudah masa uji coba berakhir maka pihak pengelola PT. Jasa Marga akan memberlakukan tarif tol sesuai dengan SK Menteri Pekerjaan Umum Nomor 395/Kpts/m/2009 tanggal 10 Juni 2009.

Tarif Kendaraan Golongan I (Sedan, Jip, Pikap, Bus, atau Angk. Umum)
Rp. 30.000;
Tarif Kendaraan Golongan II (Truk dengan dua gardan)
Rp. 45.000;
Tarif Kendaraan Golongan III (Truk dengan tiga gardan)
Rp. 60.000;
Tarif Kendaraan Golongan IV (Truk dengan empat gardan)
Rp. 75.000;
Tarif Kendaraan Golongan V (Truk dengan lima gardan atau lebih)
Rp. 90.000;

Sementara tarif tol untuk Sepeda Motor Rp. 3.000;

©2009 arie saksono

Sumber:
-pu.go.id
-suramadu.com
-Kompas


KASONGAN-Sentra Industri Gerabah

April 13, 2009

kasongan071
Gerbang masuk daerah Kasongan (foto: ©2007 arie saksono)

Kasongan adalah nama sebuah desa yang terletak di daerah dataran rendah bertanah gamping di Pedukuhan Kajen, Bangunjiwo, Kecamatan Kasihan, sekitar 8 km ke arah barat daya dari pusat Kota Yogyakarta atau sekitar 15-20 menit berkendara dari pusat kota Yogyakarta.
Desa Kasongan merupakan sentra industri kerajinan gerabah. Gerabah adalah perkakas yang terbuat dari tanah liat atau tanah lempung. Kawasan ini merupakan wilayah pemukiman para pembuat barang-barang kerajinan berupa perabotan dapur dan juga beraneka macam barang-barang sejenisnya yang sebagian besar menggunakan tanah liat sebagai bahan baku.
Dahulu, pembuatan gerabah di desa ini terbatas untuk peralatan keperluan rumah tangga, seperti kendi (wadah air minum), kendil (wadah untuk memasak), gentong (wadah air), anglo (kompor – tempat pembakaran dengan bahan bakar arang untuk memasak), dan sejenisnya.
Sejalan dengan perkembangan jaman, sekarang ini pembuatan gerabah tidak hanya terbatas pada perabotan rumah tangga saja, namun juga barang-barang lain sejenis yang memiliki nilai jual tinggi di pasaran.

Asal usul daerah Kasongan menjadi sentra industri gerabah
Pada masa penjajahan Belanda, salah satu daerah di sebelah selatan kota Yogyakarta pernah terjadi peristiwa yang mengejutkan warga setempat, yaitu seekor kuda milik Reserse Belanda ditemukan mati di atas lahan sawah milik seorang warga. Hal tersebut membuat warga ketakutan setengah mati. Karena takut akan hukuman, warga akhirnya melepaskan hak tanahnya dan tidak mengakui tanahnya lagi. Hal ini diikuti oleh warga lainnya. Tanah yang telah dilepas inipun kemudian diakui oleh penduduk desa lain. Warga yang takut akhirnya berdiam diri di sekitar rumah mereka. Karena tidak memiliki lahan persawahan lagi, maka untuk mengisi hari, mereka memanfaatkan apa saja yang ada di sekitar. Mereka memanfaatkan tanah yang ada, kemudian mengempal-ngempalnya yang ternyata tidak pecah bila disatukan, lalu mulai membentuknya menjadi berbagai fungsi yang cenderung untuk jadi barang keperluan dapur atau mainan anak-anak. Berawal dari keseharian nenek moyang mereka itulah yang akhirnya kebiasaan itu diturunkan hingga generasi sekarang yang memilih menjadi perajin keramik untuk perabot dapur dan mainan hingga kini.

kasongan0731 kasongan075
Kesibukan sehari-hari warga Kasongan (foto: ©2007 arie saksono)

kasongan087 kasongan088
Proses pembakaran tradisional dengan bahan bakar sabut kelapa
(foto: ©2007 arie saksono)

Proses Pembuatan
Pada dasarnya proses pembuatan gerabah dibagi dalam dua bagian besar, yakni dengan cara cetak untuk pembuatan dalam jumlah banyak (masal) atau langsung dengan tangan. Untuk proses pembuatan dengan menggunakan tangan pada keramik yang berbentuk silinder (jambangan, pot, guci), dilakukan dengan menambahkan sedikit demi sedikit tanah liat diatas tempat yang bisa diputar. Salah satu tangan pengrajin akan berada disisi dalam sementara yang lainnya berada diluar. Dengan memutar alas tersebut, otomatis tanah yang ada diatas akan membentuk silinder dengan besaran diameter dan ketebalan yang diatur melalui proses penekanan dan penarikan tanah yang ada pada kedua telapak tangan pengrajin.
Pembuatan gerabah atau keramik, mulai dari proses penggilingan, pembentukan bahan dengan menggunakan perbot, hingga penjemuran produk biasanya memakan waktu 2-4 hari. Produk yang telah dijemur itu kemudian dibakar, sebelum akhirnya proses finishing dengan menggunakan cat tembok atau cat genteng. Sebuah galeri di Kasongan biasanya merupakan usaha keluarga yang diwariskan secara turun temurun, mereka bekerja secara kolektif. Sekarang pembuatan keramik melibatkan tetangga sekitar tempat tinggal pemilik galeri, namun pihak keluarga tetap bertanggung jawab untuk pemilihan bahan dan pengawasan produksi.

Keramik Desain Modern
Pada awalnya keramik ini tidak memiliki corak desain sama sekali. Namun legenda matinya seekor kuda telah menginspirasi para pengrajin untuk memunculkan motif kuda pada banyak produk, terutama kuda-kuda pengangkut gerabah atau gendeng lengkap dengan keranjang yang diletakkan di atas kuda, selain dari motif katak, ayam jago dan gajah.
Perkembangan zaman dengan masuknya pengaruh modern dan budaya luar melalui berbagai media telah membawa perubahan di Kasongan. Setelah kawasan Kasongan pertama kali diperkenalkan oleh Sapto Hudoyo sekitar 1971-1972 dengan sentuhan seni dan komersil serta dalam skala besar dikomersilkan oleh Sahid Keramik sekitar tahun 1980-an, kini wisatawan dapat menjumpai berbagai aneka motif pada keramik. Bahkan wisatawan dapat memesan jenis motif menurut keinginan seperti burung merak, naga, bunga mawar dan banyak lainnya.

Kerajinan gerabah yang dijual di desa Kasongan bervariasi, mulai dari barang-barang unik ukuran kecil untuk souvenir (biasanya untuk souvenir pengantin), hiasan, pot untuk tanaman, interior (lampu hias, patung, furniture, etc), meja kursi, dan masih banyak lagi jenisnya.
Bahkan dalam perkembangannya, produk desa wisata ini juga bervariasi meliputi bunga tiruan dari daun pisang, perabotan dari bambu, topeng-topengan dan masih banyak yang lainnya.

Hasil produksi gerabah Kasongan di masa sekarang sudah mencakup banyak jenis. Tidak lagi terbatas pada perabotan dapur saja (kendil, kuali, pengaron, dandang, dan lainnya) serta mainan anak-anak (alat bunyi-bunyian, katak, celengan). Di kawasan Kasongan akan terlihat galeri-galeri keramik di sepanjang jalan yang menjual berbagai barang hiasan dan souvenir. Bentuk dan fungsinya pun sudah beraneka ragam, mulai dari asbak rokok kecil atau pot dan vas bunga yang berukuran besar, mencapai bahu orang dewasa. Barang hias pun tidak hanya yang memiliki fungsi, tetapi juga barang-barang hiasan dekorasi serta souvenir perkawinan.

kasongan081 kasongan083
Pengepakan kerajinan buatan warga Kasongan siap ekspor (foto: ©2007 arie saksono)

Salah satu produk yang cukup terkenal adalah sepasang patung pengantin dalam posisi duduk berdampingan. Patung ini dikenal dengan nama Loro Blonyo. Patung ini diadopsi dari sepasang patung pengantin milik Kraton Yogyakarta. Dalam bahasa Jawa, Loro berarti dua atau sepasang, sementara Blonyo berarti dirias melalui prosesi pemandian dan didandani.
Namun demikian makna sebenarnya akan Loro Blonyo masih menjadi pertanyaan para pekerja di Kasongan. Kepercayaan patung Loro Blonyo akan membawa keberuntungan dan membuat kehidupan rumah tangga langgeng bila diletakkan di dalam rumah membawa pengaruh positif terhadap penjualan sepasang patung keramik ini.

kasongan085 kasongan089
(foto: ©2007 arie saksono)

Wisatawan manca negara yang menyukai model patung Loro Blonyo, memesan khusus dengan berbagai bentuk seperti penari, pemain gitar, peragawati dan lain sebagainya. Pakaiannya pun tidak lagi memakai adat Jawa, selain mengadopsi pakaian khas beberapa negara, yang paling banyak memakai motif Bali dan Thailand, bahkan patung prajurit teracota dapat dijumpai di sini. Beberapa galeri keramik sekarang telah menjual sepasang patung unik ini yang terus diproduksi dengan beberapa bentuk dan model yang berbeda-beda.

Wisata Desa Kasongan
Di masa sekarang pengunjung dapat menjumpai berbagai produk kerajinan tangan selain gerabah. Pendatang yang membuka galeri di Kasongan turut mempengaruhi berkembangnya jenis usaha kerajinan di sini. Produk yang dijual masih termasuk kerajinan lokal seperti kerajinan kayu kelapa, kerajinan tumbuhan yang dikeringkan atau kerajinan kerang. Usaha kerajinan Kasongan berkembang mengikuti arus dan peluang yang ada. Namun demikian kerajinan gerabah tetap menjadi tonggak utama mata pencaharian warga setempat. Kerajinan keramik dengan berbagai bentuk dan motif yang modern bahkan artistik, dan berbagai kerajinan lainnya sebagai tambahan adalah daya tarik Kasongan hingga saat ini. Kasongan kini telah menjadi tempat wisata yang menarik dengan barang indah hasil keahlian penduduk setempat mengolah tanah liat.

©2007 arie saksono


Lambang Kota Batavia & DKI Jakarta

April 8, 2009

symbol-batavia-jkt logo-batavia
Leeuw en Batavia Schildwapen (Museum Sejarah Jakarta) – Lambang Batavia

logo-dki logo-jakarta-dki
Lambang DKI Jakarta

uang-coen-batavia1 uang-coen-batavia2
Logo Batavia pada uang 1000 Gulden Coen Mercurius tahun 1919 (http://www.uang-kuno.com)

logo-batavia-kota-tua logo-batavia-kota-tua2
symbol-batavia_kota-tua
Lambang kota Batavia hingga kini masih terpampang di beberapa gedung tua di kawasan kota tua Jakarta (Foto: ©2008 arie saksono)

logo-dki-arti1

Lambang kota Jakarta bentuknya merupakan perisai bersegi lima.

Keterangan gambar :

  1. Dalam perisai garis yang bertepi kuning melambangkan pintu gerbang (Ibukota RI) dengan dasar biru
  2. Ditengah-tengah berdiri Monumen Nasional warna putih lambang kesuburan
  3. Monumen Nasional dilingkari padi dan kapas lambang keadilan.
  4. Sebelah bawah terdapat ombak laut lambang kota pelabuhan dan negara kepulauan.

Kota Batavia dahulu didirikan pada tahun 1621 oleh Jan Pieterszoon Coen. Coen menggunakan semboyan hidupnya Dispereert niet, ontziet uw vijanden niet, want God is met onsmenjadi semboyan/ motto kota Batavia, singkatnya “Dispereert niet” yang berarti “Jangan putus asa”.


Kini Kota Jakarta menyandang semboyan “Jaya Raya” pada lambang kota, yang berarti Jaya dan Besar/ Agung, sesuai dengan posisinya sekarang sebagai Ibukota Republik Indonesia.

©2009 arie saksono

Sumber logo DKI Jakarta : http://www.jakarta .go.id



Sapta Pesona Pariwisata Indonesia

November 12, 2008

sapta-pesona-logo1
Pesona Sapta Pesona Pariwisata Indonesia

Beberapa tahun lalu pariwisata Indonesia sempat mengalami kejayaan. Bila dibandingkan dengan masa sekarang, memang secara kuantitas jumlah wisatawan terus meningkat, namun seharusnya sudah lebih jauh dari itu.
Pada program Visit Indonesia Year 1991 dahulu dikampanyekan program Sapta Pesona. Hal tersebut menunjukkan hasil yang memuaskan terbukti dengan terlampuinya target kunjungan wisata.

Visit Indonesia 1991
Pada tahun 1991 badak bercula satu binatang khas daerah Ujung Kulon, Jawa Barat digunakan sebagai maskot tahun kunjungan Indonesia 1991 (Visit Indonesia Year 1991). Ini merupakan kampanye promosi pariwisata Indonesia ke seluruh dunia oleh Departemen Pariwisata Pos dan Telekomunikasi (sekarang: Departemen Kebudayaan dan Pariwisata).

Pada program Visit Indonesia 2008 sekarang ini agaknya patut diingatkan kampanye yang sama, agar program pembangunan pariwisata Indonesia dapat berjalan dengan baik dan dapat menunjukkan hasil yang nyata bagi pembangunan nasional serta tidak dijalankan dengan setengah hati oleh segenap lapisan elemen bangsa.

Tujuan diselenggarakan program Sapta Pesona adalah untuk meningkatkan kesadaran, rasa tanggung jawab segenap lapisan masyarakat, baik pemerintah, swasta maupun masyarakat luas untuk mampu bertindak dan mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Logo Sapta Pesona ditetapkan dengan Keputusan Menteri Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi Nomor: KM.5/UM.209/MPPT-89 tentang Pedoman Penyelenggaraan Sapta Pesona.

Logo Sapta Pesona dilambangkan dengan Matahari yang bersinar sebanyak 7 buah yang terdiri atas unsur:

  1. Keamanan
  2. Ketertiban
  3. Kebersihan
  4. Kesejukan
  5. Keindahan
  6. Keramahan
  7. Kenangan

Uraian makna program Sapta Pesona merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan dalam program-program pembangunan kepariwisataan sebagai sektor andalan devisa Nasional:

1.  AMAN
~   Suatu kondisi lingkungan destinasi wisata yang memberi rasa tenang, bebas dari rasa takut dan kecemasan wisatawan.
~   Daerah tujuan wisata dengan lingkungan yang membuat nyaman wisatawan dalam melakukan kunjungan.
~   Menolong, melindungi, menjaga, memelihara, memberi dan meminimalkan resiko buruk bagi wisatawan yang berkunjung.

2.  TERTIB
~   Destinasi yang mencerminkan sikap disiplin, teratur dan profeional, sehingga memberi kenyamanan kunjungan wisatawan.
~   Ikut serta memelihara lingkungan
~   Mewujudkan Budaya Antri
~   Taat aturan/ tepat waktu
~   Teratur, rapi dan lancar

3.  BERSIH
~   Layanan destinasi yang mencerminkan keadaan bersih, sehat hingga memberi rasa nyaman bagi kunjungan wisatawan
~   Berpikiran positif pangkal hidup bersih
~   Tidak asal buang sampah/ limbah
~   Menjaga kebersihan Obyek Wisata
~   Menjaga lingkungan yang bebas polusi
~   Menyiapkan makanan yang higienis
~   Berpakaian yang bersih dan rapi

4.  SEJUK
~   Destinasi wisata yang sejuk dan teduh akan memberikan perasaan nyaman dan betah bagi kunjungan wisatawan.
~   Menanam pohon dan penghijauan
~   Memelihara penghijauan di lingkungan tempat tinggal terutama jalur wisata
~   Menjaga kondisi sejuk di area publik,restoran, penginapan dan sarana fasilitas wisata lain

5.  INDAH
~   Destinasi wisata yang mencerminkan keadaan indah menarik yang memberi rasa kagum dan kesan mendalam wisatawan.
~   Menjaga keindahan obyek dan daya tarik wisata dalam tatanan harmonis yang alami
~   Lingkungan tempat tinggal yang teratur, tertib dan serasi dengan karakter serta istiadat lokal
~   Keindahan vegetasi dan tanaman peneduh sebagai elemen estetika lingkungan

6.  RAMAH TAMAH
~   Sikap masyarakat yang mencerminkan suasana akrab, terbuka dan menerima hingga wisatawan betah atas kunjungannya
~   Jadi tuan rumah yang baik & rela membantu para wisatawan
~   Memberi informasi tentang adat istiadat secara spontan
~   Bersikap menghargai/toleran terhadap wisatawan yang datang
~   Menampilkan senyum dan keramah-tamahan yang tulus.
~   Tidak mengharapkan sesuatu atas jasa telah yang diberikan

7.  KENANGAN
~   Kesan pengalaman di suatu destinasi wisata akan menyenangkan wisatawan dan membekas kenangan yang indah, hingga mendorong pasar kunjungan wisata ulang
~   Menggali dan mengangkat budaya lokal
~   Menyajikan makanan/ minuman khas yang unik, bersih dan sehat
~   Menyediakan cendera mata yang menarik

Sumber logo Sapta Pesona: http://www.budpar.go.id
Foto: arie saksono n70


Patung Jenderal Sudirman-Jakarta

May 28, 2008

2008_0501jktcity00782291
Patung Jenderal Sudirman di jalan protokol ibukota ©2008 arie saksono

Sebuah patung megah patung Jenderal Sudirman mewarnai Ibu Kota Jakarta. Patung berukuran 12 meter itu terdiri atas, tinggi patung 6,5 meter dan voetstuk atau penyangga 5,5 meter, terletak di kawasan Dukuh Atas, tepatnya depan Gedung BNI, di tengah ruas jalan yang membelah Jalan Sudirman dan berbatasan dengan Jalan Thamrin. Patung ini terbuat dari perunggu seberat 4 ton dengan anggaran sebesar Rp 3,5 miliar dan dikerjakan oleh seniman sekaligus dosen seni rupa Institut Teknologi Bandung, Sunario.

Sosok Jenderal Sudirman digambarkan berdiri kokoh menghormat dan kepala sedikit mendongak ke atas untuk memberi kesan dinamis. Karena berdiri di tengah kawasan yang penuh dengan beragam aktivitas, patung sengaja didesain sederhana dan tidak memerlukan banyak rincian.


Patung Jenderal Sudirman dalam adegan film Nagabonar 2

Rencana pembangunan patung Sudirman dan sejumlah patung yang akan menghiasi jalan protokol sesuai nama jalan mencuat pada September 2001. Rencana itu merupakan realisasi sayembara patung pahlawan yang dilakukan tahun 1999. Lokasi patung merupakan satu garis lurus yang berujung dari Patung Pemuda Membangun di Kebayoran sampai tugu Monumen Nasional.

2008_0501jktcity007682
Panglima Besar Jenderal Sudirman ©2008 arie saksono

Biaya pembangunan patung yang menelan dana Rp 6,6 miliar berasal dari pengusaha, bukan dari APBD DKI. Sebagai kompensasinya pengusaha mendapat dua titik reklame di lokasi strategis, Dukuh Atas. Sementara yang menentukan penyandang dana diserahkan kepada keluarga Sudirman. Pengusaha yang telah ditunjuk mendanai pembangunan patung, yakni PT. Patriamega. Sebagai kompensasinya, PT. Patriamega memperoleh dua titik reklame di lahan strategis di Dukuh Atas, yakni di titik A dan 6B. Bagi kalangan penyelenggara reklame, titik tersebut adalah sangat strategis dan nilai jualnya paling mahal.


Menurut rencana patung Jenderal Sudirman sedianya akan diresmikan 22 Juni 2003 bertepatan HUT ke-476 Jakarta, namun tidak terealisasi. Peresmian akhirnya dilaksanakan tanggal 16 Agustus 2003. Peresmian sempat diwarnai unjuk rasa sekelompok pemuda. Panglima Besar Kemerdekaan RI yang seharusnya menjadi simbol semangat perjuangan bangsa Indonesia kini telah pudar makna kepahlawanannya. Karena Jenderal Sudirman digambarkan sedang dalam posisi menghormat. Posisi patung dianggap tidak pada tempatnya karena sebagai Panglima Besar, Sudirman tidak selayaknya menghormat kepada sembarang warga yang melintasi jalan, yang justru seharusnya menghormati. Hal ini pula yang sempat diangkat dalam film Nagabonar 2. Meski demikian Gubernur DKI Sutiyoso didampingi Kepala Dinas Pertamanan DKI Maurits Napitupulu dan salah satu keluarga besar Jenderal Sudirman, Hanung Faini, tetap meresmikan berdirinya Patung Jenderal Sudirman itu.

Jenderal Sudirman adalah pemimpin pasukan gerilya pada masa perang kemerdekaan (1945-1949). Ia menyandang anugerah Panglima Besar. Jasa dan pengabdiannya kepada bangsa dan negera layak dikenang dan diabadikan.


©2008 arie saksono


Sumber:

Kompas, Rabu, 02 Juli 2003, Agustus 2003, Patung Sudirman Setinggi 11 Meter Warnai Wajah Jakarta

Kompas, Minggu, 17 Agustus 2003,Peresmian Patung Sudirman Diwarnai Unjuk Rasa

Kompas, Rabu, 24 September 2003,Dana Patung Sudirman Diduga Dikorupsi

-Berbagai sumber lain