Mencoba Mengungkap Misteri Koin Gunung Padang

September 21, 2014

0.5 cent 1859_arie copy

identitas Koin Gunung Padang_1A

Update picture 01/09/2014: Koin Nederlandsch Indie 1/2 cent 1859 & 1860 sebagai pembanding Koin temuan di Gunung Padang.-Koleksi pribadi-

Keberadaan situs Gunung Padang hingga kini masih menyimpan misteri. Situs ini terletak di kabupaten berada di perbatasan Dusun Gunungpadang dan Panggulan, Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur. Sejak zaman Belanda situs ini sudah menarik perhatian banyak ilmuwan untuk mencoba mengungkap rahasia dibalik tumpukan bebatuan yang menyerupai pyramid ini.

Menurut data literatur pada tahun 1891, DR. R. D. M. Verbeek, sudah memasukkan Gunung Padang dalam tulisannya mengenai daftar tempat-tempat bersejarah di Pulau Jawa. “Oudheden van Java. Lijst der Voornaamste Overblijfselen uit den Hindoetijd op Java met Eene Oudheidkundige Kaart” yang dipublikasikan dalam buku “Verhandelingen van Het Bataviaasch Genootschap der Kunsten en Wetenschappen, Deel XLVI” diterbitkan oleh Lansdrukkerij Batavia – M Nijhoff ’s Hage tahun 1891.

Dalam tulisannya tersebut, Verbeek menyebutkan :

38. Goenoeng Padang.

District Peser, afdeeling Tjiandjoer, Blad K. XIII.

Op den bergtop Goenoeng Padang, nabij Goenoeng mélati, eene opeenvolging van 4 terrassen, door trappen van ruwe steenen verbonden, met ruwe platte steenen bevloerd en met talrijke scherpe en zuilvórmige rechtopstaande andesietsteenen versierd. Op ieder terras een heuveltje, waarschijnlijk een graf, met steenen omzet en bedekt, en van boven met 2 spitse steenen voorzien. In 1890 door den heer De Corte bezocht

.. Di puncak Gunung Padang, dekat Gunung Melati, terdapat undakan yang terdiri dari 4 teras yang dihubungkan dengan tangga batu yang kasar dan dengan dasar yang terbuat dari batu datar yang kasar dan dengan dihiasi oleh banyak batuan andesit berbentuk pilar/ tugu yang berdiri tegak. Pada tiap teras terdapat gundukan yang kemungkinan kuburan, ditutupi dan dilingkari dengan batu, dan atas dengan 2 batu tajam. dikunjungi oleh tuan Corte pada tahun 1890 ..

saksono_arie-01X

saksono_arie-03A_1

Itulah keterangan singkat yang ditulis Verbeek. Sementara beberapa tahun berikutnya pada tahun 1914, N.J. Krom menuliskan kembali keterangan yang serupa mengenai situs Gunung Padang ini dalam Rapporten van de Oudheidkundige Dienst (berisi semacam laporan inventarisasi peninggalan-peninggalan bersejarah yang ada di Nederlands Indie pada saat itu). Selebihnya belum ada penelitian maupun karya tulis ilmiah yang mendalam mengenai asal usul situs Gunung Padang ini.

Dalam kurun waktu sejak publikasi buku Bataviaasch Genootschap Der Kunsten En Wetenschappen yang memuat keterangan situs Gunung Padang tersebut kemungkinan pemerintah Hindia Belanda memang sedang disibukkan dengan proyek prestisius pemugaran Candi Borobudur yang dipimpin oleh Theodor van Erp tahun 1900- 1911 hingga akhirnya terhenti oleh pecahnya perang dunia kedua tahun 1940. Sehingga status Situs Gunung Padang pada masa itu masih sebatas pada proyek inventarisasi saja belum masuk pada proses penelitian maupun pemugaran. Pemerintah Hindia Belanda masih mencurahkan perhatian dan dana ke proyek pemugaran Candi Borobudur untuk menandingi pemerintah kolonial Perancis di Kamboja dengan proyek pemugaran Ankor Wat-nya yang tampil pada pameran Kolonial Perancis dan pameran Universal di Paris dan Marseille antara tahun 1889 dan 1937. Hingga akhirnya Indonesia merdeka pada tahun 1945 situs Gunung Padang masih tetap menjadi misteri, pemerintah Hindia Belanda meninggalkannya sebagai pekerjaan rumah bagi pemerintah Indonesia untuk diungkap, membuka tabir rahasia dibaliknya.

Tulisan beserta sedikit data sejarah di atas merupakan pengantar dari topik utama sebenarnya yang ingin dibicarakan dalam artikel ini mengenai koin kuno yang ditemukan di Gunung Padang. Sebagaimana yang ramai diberitakan, tim peneliti Gunung Padang berhasil menemukan sekeping koin pada 14 dan 15 September 2014. Pro-kontra pendapat dan analisa mengenai koin ini banyak mewarnai pemberitaan sejak pemberitaan penemuan koin. Penulis sempat mengirimkan informasi beserta foto perbandingan yang sama dengan dibawah, mengenai koin Gunung Padang ini ke redaksi detik.com, pada tanggal 19 September 2014 namun karena terbatasnya ruang maka penulis memutuskan untuk mencoba mengungkap lebih detail di blog ini sebagai sarana untuk berbagi informasi. http://news.detik.com/read/2014/09/19/161134/2695565/10/lebih-seksama-melihat-perbandingan-koin-misterius-gunung-padang-dan-koin-era-belanda

>Mencermati koin temuan di situs Gunung Padang, menurut saya koin tersebut identik dengan Koin Hindia Belanda/ Nederlandsch Indie nominal 1/2 cent periode 1855-1909.

Gambar koin A memperlihatkan bagian belakang koin temuan Gunung Padang yang sudah aus kehijauan karena korosi oksidasi. Warna koin temuan di situs Gunung Padang kehijauan merupakan ciri patina lapisan verdigris (tembaga karbonat) yang biasa ditemui pada proses korosi koin ataupun logam tembaga tua.

Identifikasi selanjutnya dilakukan melalui metode sederhana berupa kesamaan ukuran diameter dan kesamaan ciri yang masih dapat nampak -tersisa dari koin Gunung Padang. Ciri-ciri tersebut dapat terlihat dari kesamaan aksara/ tulisan Arab Melayu dan aksara Jawa yang sudah ditandai dengan lingkaran warna merah dan hijau. Untuk mempermudah, posisi letak kedua koin harus disesuaikan agar dapat diperbandingkan kesamaannya.
Berikut gambar ketiga koin tersebut yang sudah dipadupadankan:

arie_saksono_coin_copy

keterangan gambar:
Koin A: Koin temuan Gunung Padang
Koin B: Koin Hindia Belanda/ Netherlandsch Indie 1/2 Cent 1855-1909
Koin C: Koin Hindia Belanda/ Netherlandsch Indie 1/2 Cent 1914-1945

arie_saksono_coin_copy1 copy

Gambar di atas adalah bagian belakang koin yang bertuliskan aksara Jawa dan Arab-Melayu yang menyatakan besaran nominal koin, setengah sen.

Spesifikasi Koin:
Komposisi: Copper/ Tembaga
Berat: 2.3000gr
Diameter: 17mm

Perbandingan lain dengan foto koin Gunung Padang dari Twitter Tim GP
foto koin pembanding sudah dirotasi agar posisi sama dengan karakteristik koin temuan Gunung Padang

koin gunung padang copy1

Koin Hindia Belanda pecahan kecil 1/2 cent ada dua jenis cetakan, periode pertama 1855-1909 dan periode kedua 1914-1945 (selanjutnya setelah Indonesia Merdeka – koin sdh tdk dicetak –tidak berlaku).

Karakteristik dari koin ½ sen periode pertama 1855-1909
ned indie stngah cent 1855 copy
Observe / bagian depan
Lambang Kerajaan Belanda dengan Mahkota yang berada di antara tahun cetakan (1855 s/d 1909)

arie coin degenMercuriusstaf

Di sebelah kiri pedang dan sebelah kanan tongkat Mercurius, semuanya berada dalam bidang Parelrand / lingkar mutiara.
Sisi atas terdapat tulisan Nederlandsch Indie, bawah nilai nominal ½ Cent

Ned Indie setengah sen_descript copy

Reverse / bagian belakang
Di dalam (parelrand) lingkar mutiara – lingkaran titik-titik yang berjumlah 86, terdapat tulisan aksara Arab-Melayu, tertulis:
saperdoewaratoes roepijah

arabic schrift 0.5_arie cent_arie    arabic schrift 0.5_arie cent_arie_1

tulisan aksara Jawa melingkar diluar lingkar mutiara, tertulis:
sapararongatoes roepiah

java schrift 0.5 cent_arie

Perbedaan pada periode pertama paruh kedua (1902-1909)
ada sedikit perbedaan pada koin ½ cent yaitu pada bagian depan coin, Muntmeestertekens/ ciri utama koin yang ada pada bagian depan koin, di kiri dan kanan Schildwapen (Lambang Belanda) berupa Hellebaard, Hellebaard met ster, Zeepaardje en Druiventros

hlbrdstr  zeepdje

> Perbedaan utama pada bagian belakang/ reverse dari koin ½ sen periode pertama 1855-1909 dengan periode kedua 1914-1945 adalah pada koin periode pertama aksara Arab nampak tidak banyak memenuhi bidang dalam lingkar mutiara sementara pada koin periode kedua tulisan atau aksara arab pada koin lebih memenuhi bidang dalam Parelrand / lingkar mutiara (atau motif “gawangan”) dengan adanya Tashkil pada aksara Arab/-Melayu. (lihat gambar koin C)
Untuk aksara/ tulisan Jawa terdapat jarak antara – dengan parelrand / lingkaran mutiara, sementara pada koin periode berikutnya (periode 1914-1945 > koin C) tulisan aksara Jawa lebih dekat pada pinggir lingkaran mutiara.

1936A copy

Beberapa orang sempat menduga bahwa koin Gunung Padang serupa dengan koin Hindia Belanda/ Nederlandsch Indie pecahan 2 ½ cents tahun 1945, karena ada beberapa ciri yang mirip. Namun demikian melihat dari ukuran diameter koin 2 ½ cents adalah 31mm, ini jelas sekali berbeda dengan koin temuan Gunung Padang yang hanya 17mm. Sebagaimana dijelaskan di atas, bahwa tulisan Arab Melayu ataupun Jawa menyatakan besaran nominal koin, jadi jelas sekali beda, meskipun nampak sedikit kesamaan pada tulisan Jawa yang melingkari pinggiran koin. Selain itu juga koin Ned. Indie keluaran 1945 memiliki tipe tulisan huruf Arab Melayu-nya lebih modern dengan Tashkil-diacritics yang lebih memenuhi bidang dalam lingkaran mutiara. Sehingga jelas koin Nederlandsch Indie 2 ½ cents yang lebih dikenal dengan koin benggol tersebut tidak identik sama dengan koin temuan Gunung Padang dibandingkan dengan koin Nederlandsch Indie ½ cent keluaran periode 1855-1909.

benggol 2.5 cents 1945

Berdasarkan uraian di atas, dapat asumsikan bahwa koin 1/2 cent tersebut kemungkinan terjatuh dari orang-orang (Belanda) yang pada masa tersebut sudah pernah berada (meneliti) di situs Gunung Padang pada periode waktu tahun 1890-an (de Corte – Verbeek) hingga 1914 (N.J. Krom). Hingga akhirnya ditemukan kembali oleh Tim Peneliti Gunung Padang pada tengah malam 14-15 September 2014. Semoga tulisan ini dapat membantu mengungkap rahasia koin misterius situs Gunung Padang.

salam,
arie.

Sumber gambar:
Koin A: news.detik*com
Koin B: www*ngccoin*com
Koin C: Koleksi pribadi
Netscher,E., Van der Chijs, J.A, 1863, De munten van Nederlansch Indië; Beschreven en Afgebeeld: Batavia Lange & co.
twitter*com/TimRisetMandiri
__________., Officiele Katalogus 1978; voor Munten en Bankbiljetten van Nederland, Munten van Suriname, Curacao, Ned. Antillen en Ned. Indie: Uitgeverij Excellent BV: Nederland

Referensi:
Netscher,E., Van der Chijs, J.A, 1863, De munten van Nederlansch Indië; Beschreven en Afgebeeld: Batavia Lange & co
__________., Officiele Katalogus 1978; voor Munten en Bankbiljetten van Nederland, Munten van Suriname, Curacao, Ned. Antillen en Ned. Indie: Uitgeverij Excellent BV: Nederland
Verbeek, R. D. M. DR, 1891, Verhandelingen Van Het Bataviaasch Genootschap Der Kunsten En Wetenschappen, Deel XLVI: Lansdrukkerij Batavia – M Nijhoff ’s Hage
www*ngccoin*com
en*numista*com


Tangkuban Perahu – Pesona Misteri Sang Ratu

February 24, 2011


Kawah Ratu Tangkuban Perahu ©2009 arie saksono

…Vóór werd de tandoe (draagstoel) mijner vrouw gedragen door acht Soendaneezen. Zij trippen als zij dragen. Hun pas is kort, er is een rhythmiek in hunne veerende beweging, in den muzikalen tred hunner voeten, waaronder de opwaartsche weg als een instrument wordt, een klankbord van niet tot ons doordringende muziek. En de stille klanken stijgen, hooger en hooger den weg mede op…
(Louis Couperus, Oostwaard, ’S Gravenhage: Leopold Uitgeverij NV, 1923; hlm 135)

Meskipun bukan merupakan gunung berapi yang terbesar ataupun tertinggi di Pulau Jawa, namun sejak dahulu Gunung Tangkuban Perahu telah menarik perhatian banyak orang untuk berkunjung ke sini. Baik dari penjuru nusantara, orang-orang Belanda maupun Eropa yang dahulu bertugas di Hindia-Belanda (Indonesia). Namanya kerap mengisi catatan perjalanan para penjelajah, mulai dari Bujangga Manik dari Pakuan Pajajaran hingga Franz Wilhelm Junghuhn.

Dalam buku P.C. Molhuysen en P.J. Blok “Nieuw Nederlandsch biografisch woordenboek, Deel 6” terbitan tahun 1924, disebutkan gouverneur-generaal Abraham van Riebeeck pada tahun 1713 telah mendaki Gunung Tangkuban Perahu dan Papandayan dengan misi untuk mengenali situasi dan kondisi geografis daerah pegunungan di Pulau Jawa. Setelah perjalanannya itu, Riebeck mulai mengembangkan perkebunan kopi di sekitar daerah Jawa Barat.

Kemudian beberapa masa kemudian, Johannes Olivier Jz, sekertaris pemerintah Hindia Belanda yang bertugas di Palembang, dalam bukunya “Tafereelen en merkwaardigheden uit Oost-Indie” terbitan tahun 1836, mencatat banyak orang Eropa yang berkunjung mendaki Tangkuban Perahu, beberapa nama diantaranya, Dr. (Thomas) Horsfield, botanikus berkebangsaan Inggris pada tahun 1804, Heer Leschenault (Jean Baptiste Leschenault de la Tour), botanikus berkebangsaan Perancis, tahun 1805. Heer Valck yang pada saat itu menjabat sebagai Resident van Krawang tahun 1823. Ahli botani yang mengembangkan Kebun Raya Bogor, Prof. Carl Ludwig Blume di tahun 1824. Selain itu kawasan Tangkuban Perahu tak dapat dipisahkan dari nama Franz Wilhelm Junghuhn, seorang botanikus, geolog, yang mengembangkan perkebunan kina di sekitar kawasan ini. Junghuhn tercatat telah dua kali mengeksplorasi kawasan ini di tahun 1837 dan 1848. Dari perjalanannya menjelajahi pegunungan di Jawa, Junghuhn menuliskannya dalam buku Topografische und naturwissenschaftliche Reisen durch Java (Perjalanan Topografi dan Ilmiah Melintasi Java -(1845), hingga pada tahun 1864 Junghuhn meninggal dunia dan dimakamkan di kaki Gunung Tangkuban Perahu tepatnya di Desa Jayagiri, Lembang.

Perkumpulan Bandoeng Vooruit & Wisata Tangkuban Perahu
Berbeda dengan kegiatan wisata alam mendaki gunung lainnya, kawasan Gunung Tangkuban Perahu relatif mudah dicapai. Pengunjung tidak usah bersusah-payah berjam-jam atau bahkan berhari-hari mendaki untuk menikmati keindahan karena ada akses jalan yang bisa dilalui kendaraan bermotor roda empat hingga menuju bibir kawahnya.


ilustrasi perjalanan menuju Tangkuban Perahu di masa lampau

Louis Couperus, seorang novelis dan penulis berkebangsaan Belanda pun tak melewatkan kesempatan untuk mengunjungi Gunung Tangkuban Perahu dalam perjalanannya ke Nederland India/ Hindia-Belanda. Dalam bukunya yang berjudul Oostwaard terbit tahun 1923, Couperus menyebutkan bahwa untuk menuju ke sana Ia harus bersusah payah melintasi hutan dan mendaki gunung, sementara sang istri ditandu dengan draagstoel atau kursi tandu yang dipanggul oleh delapan orang. Namun kini situasi sudah berubah, tak usah bersusahpayah, siapapun dapat dengan mudah menikmati keindahan kawasan pegunungan Tangkuban Perahu beserta kawah-kawahnya. Gunung Tangkuban Perahu relatif mudah dicapai dengan kendaraan bermotor hingga ke pinggiran kawahnya.

Keberadaan akses jalan raya menuju kawasan Gunung Tangkuban Perahu tidak dapat dipisahkan dari peran perkumpulan “Bandoeng Vooruit”, sebuah organisasi orang-orang Belanda yang tinggal di Bandung. Misi mereka antara lain mengembangkan obyek wisata di wilayah Bandung. Menata dan merias penampilan kota Bandung sebagai daerah tujuan wisata sehingga menarik wisatawan sebanyak-banyaknya untuk datang berkunjung ke Bandung.

Pada sekitar tahun 1924, Heer W. H. Hoogland, ketua Bandoeng Vooruit sudah memikirkan kemungkinan pembangunan jalan raya menuju ke Kawah Ratu, kawah terbesar di kawasan Tangkuban Perahu. Sebelumnya Perhimpunan Sejarawan Alam (Natuur Historische Vereeniging) telah mempelopori pembukaan jalan setapak yang melintasi sebagian wilayah perkebunan Kina Pemanoekan (Pemanukan) dan Tjiasemlanden (Daerah Ciasem) dan sejak saat gunung Tangkuban Perahu menjadi sering didaki. Dan akhirnya pada tahun 1926 pembangunan jalan menuju kawasan Tangkuban Perahu dimulai.


Peta Tangkuban Perahu
(sumber gambar: L. Van der Pijl, Wandelgids voor den G Tangkoeban Prahoe, Bandoeng: Uitgave A.C. Nix & Co, 1932)

Pada bulan September tahun 1928 sekitar 4 kilometer jalan menuju Kawah Ratu dibuka untuk umum. L. Van der Pijl, dalam bukunya “Wandelgids voor den G. Tangkoeban Prahoe”, menyebutkan bahwa pembangunan jalan tersebut memakan total biaya f 30.000; (30.000 Gulden). Karena mahalnya biaya pembangunan dan perawatan fasilitas maka pengunjung yang melalui jalan dikenakan biaya sebesar f 2.50 (2.50 Gulden) bagi kendaraan roda empat dan f 1 (1 Gulden) untuk kendaraan bermotor roda dua. Kemudian jalan menuju Kawah Ratu itu dinamakan Hooglandweg mengacu pada nama Heer W. H. Hoogland, ketua perkumpulan Bandung Vooruit, pencetus ide pembangunan jalan yang hingga kini dapat dinikmati para pengunjung Gunung Tangkuban Perahu.

Berwisata di Kawah Gunung Tangkuban Perahu
Kawasan wisata Gunung Tangkuban Perahu terletak sekitar 30 kilometer di sebelah utara kota Bandung. Secara administratif kawasan Gunung Tangkuban Perahu sebelah selatan berada di bawah wilayah Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Sebelah Utara kecamatan Sagalaherang, dan sebelah timur laut kecamatan Jalancagak kabupaten Subang.

Puncak gunung tertinggi di kawasan Tangkuban Perahu berada pada ketinggian 2.084 meter di atas permukaan air laut. Kawasan ini merupakan salah satu tujuan wisata alam yang banyak dikunjungi wisatawan nusantara maupun mancanegara.

Menurut cerita rakyat setempat nama Tangkuban Perahu berkaitan dengan legenda Sangkuriang, yang dikisahkan jatuh cinta kepada ibunya, Dayang Sumbi. Untuk menggagalkan niat anaknya menikahinya, Dayang Sumbi mengajukan syarat, salah satunya Sangkuriang harus membuat perahu dalam semalam. Saat menyadari usahanya untuk memenuhi syarat itu gagal, Sangkuriang marah dan menendang perahu itu, sehingga mendarat dalam keadaan terbalik. Perahu inilah yang kemudian membentuk Gunung Tangkuban Parahu.

Gunung Tangkuban Perahu merupakan salah satu gunung berapi yang masih aktif di Pulau Jawa. Gunung ini termasuk dalam kategori jenis Strato dengan kawah ganda. Berdasarkan data yang ada sejak abad ke XIX, gunung api ini tidak pernah menunjukkan erupsi magmatik besar selain hanya berupa erupsi kecil yang melontarkan abu tanpa diikuti oleh leleran lava, awan panas ataupun lontaran batu pijar. Selama ini belum pernah ada catatan mengenai adanya banjir lahar yang menyertai letusannya. Letusan Gunung Tangkuban Perahu dapat digolongkan sebagai letusan kecil. Material vulkanik yang dilontarkan umumnya abu yang sebarannya terbatas di sekitar daerah puncak hingga beberapa kilometer. Semburan lumpur panas tercatat hanya terbatas di daerah sekitar kawah.

Letusan besar Gunung Tangkuban Perahu terakhir terjadi pada tahun 1910. Saat itu kolom asap membubung setinggi 2 km di atas dinding kawah, erupsi berasal dari kawah Ratu. Banyaknya letusan yang terjadi selama kurun waktu 1.5 abad terakhir menyebabkan banyaknya kawah di kawasan ini. Tangkuban Perahu memiliki 9 kawah yang masih aktif hingga sekarang. Kawah-kawah tersebut adalah Kawah Ratu, Kawah Upas, Kawah Domas, Kawah Ecoma, Kawah Jurig, Kawah Siluman, Kawah Baru, Kawah Lanang, Kawah Jarian dan Pangguyangan Badak. Di antara kawah-kawah tersebut, Kawah Ratu merupakan kawah yang terbesar, dikuti dengan Kawah Upas yang terletak bersebelahan dengan Kawah Ratu. Beberapa kawah mengeluarkan bau asap belerang, bahkan ada kawah yang dilarang untuk dituruni, karena kepulan asapnya mengandung racun.


Tangkoeban Prahoe 1910_Uitbarsting

Kawah Ratu merupakan kawah terbesar di kawasan Tangkuban Perahu. Kawah kedua terbesar adalah Kawah Upas yang terletak bersebelahan dengan Kawah Ratu, kawah ini bisa dicapai dengan berjalan kaki kurang lebih 30 menit, berjarak sekitar +/- 1,5 kilometer dari pos pengamatan, dengan mengitari tepian bibir Kawah Ratu secara berlawanan arah jarum jam.


Kawah Ratu Tangkuban Perahu foto ©2009 arie saksono

Kawah lainnya yang juga menarik untuk dikunjungi adalah Kawah Domas yang berada sekitar 1,2 kilometer di sebelah timur Kawah Ratu. Kawah ini dapat dicapai melalui jalur jalan setapak menurun melewati hutan dengan pepohonan yang rindang, beberapa bagian terdapat jalan yang curam. Berbeda dengan Kawah Ratu yang menawarkan pemandangan spektakuler berupa kawah luas, di Kawah Domas tampak terlihat hamparan bebatuan dan tebing putih kekuningan dengan celah-celah berongga yang mengeluarkan asap belerang.


Kawah Domas Tangkuban Perahu (foto ©2009 arie saksono)

Di lokasi ini pengunjung juga dapat menjumpai beberapa sumber air panas mendidih dengan aroma asap belerang. Pada sumber air panas tertentu digunakan oleh masyarakat sekitar untuk menyembuhkan penyakit kulit dan di sumber air panas lainnya digunakan untuk merebus telur. Dari Kawah Domas pengunjung dapat berjalan kembali mendaki menuju pelataran parkir Kawah Ratu atau dapat meniti jalan setapak mendatar menuju pelataran parkir bawah.

Menuju Tangkuban Perahu
Kawasan Gunung Tangkuban Perahu dapat dicapai dari kota Bandung menuju arah Utara melewati terminal bus/ angkot Ledeng, Kota Lembang dan kemudian menuju pintu gerbang atau loket masuk. Jalur lain melalui Kota Subang melalui tempat rekreasi dan perkebunan teh Ciater.

Bagi pengunjung yang suka berjalan kaki ataupun mungkin bersepeda terdapat jalan pintas melalui jalur setapak diantaranya melalui Desa Jayagiri, Lembang. Bila memilih jalur ini jangan lupa untuk singgah ke taman Cagar Alam Junghuhn. Di lokasi ini terdapat monument dan makam botanikus dan geolog Franz Wilhelm Junghuhn, yang dahulu terkenal sebagai penjelajah gunung-gunung di Jawa dan perintis pembudidayaan perkebunan tanaman kina di kawasan priangan Jawa Barat. Menjelang perang dunia ke-2, produksi dunia kina (de Cinchona Calisaya), sebagai bahan baku obat penyakit malaria, terbesar, sekitar 91% berasal dari Nederlands-Indie (Indonesia).

Pengunjung dengan angkutan umum dapat naik bis jurusan Bandung-Subang hingga ke pertigaan jalan menuju Tangkuban Perahu. Atau naik minibus jurusan Lembang-Tangkuban Perahu.

Insert
Sejarah Letusan Gunung Tangkuban Perahu, sumber: portal.vsi.esdm.go.id

1829 – erupsi abu dan batu dari kawah Ratu dan Domas
1846 – terjadi erupsi, peningkatan kegiatan
1896 – terbentuk fumarol baru di sebelah utara kawah Badak
1900 – erupsi uap dari kawah Ratu
1910 – kolom asap membubung setinggi 2 km di atas dinding kawah, erupsi berasal dari kawah Ratu
1926 – erupsi freatik di kawah Ratu membentuk lubang Ecoma
1935 – lapangan fumarol baru disebut Badak terjadi, 150 m ke arah selatan baratdaya dari kawah Ratu
1952 – erupsi abu didahului oleh erupsi hidrothermal (freatik)
1957 – erupsi freatik di kawah Ratu, terbentuk lubang kawah baru
1961, 1965, 1967 – erupsi freatik
1969 – erupsi freatik didahului oleh erupsi lemah menghasilkan abu
1971 – erupsi freatik
1983 – awan abu membubung setinggi 159 m di atas Kawah ratu
1992 – peningkatan kegiatan kuat dengan gempa seismik dangkal dengan erupsi freatik kecil
1994 – erupsi freatik di kawah Baru

©2009 arie saksono

Artikel mengenai Gunung Tangkuban Perahu ini pernah dimuat dalam Versi lain pada majalah National Geographic Traveler, Edisi Koleksi : 55 Pendakian Terindah; Desember 2009 by arie saksono




Mengagumi Sang Macan Tidur; Gunung Galunggung

May 13, 2010

Keindahan Danau Kawah Gunung Galunggung ©2009 arie saksono

…Tusschen een en twee ure, des namiddags, trok een zware slag de aandacht der bewoners naar den kant der vallei. Van de voet van den Galoenggoeng, op de plaats waar zich de kom van de Tjikoenir bevindt, zagen zij met vervaarlijke snelheid een ontzaggelijken kolom van rook en damp opstijgen, die met ene geweldige kracht opwaart gedreven werd. Deze reusachtige zuil bedekte weldra den geheelen berg, en verspreidde eene volslagen duisternis over de geheele omstrek…

…Sekitar pukul satu atau dua siang, bunyi gemuruh dahsyat menarik perhatian penduduk ke arah sisi lembah. Dari kaki Gunung Galunggung, di tempat kolam hulu sungai Cikunir berada, mereka melihat dengan kecepatan luar biasa kolom asap dan uap naik ke atas, dengan kekuatan dahsyat membumbung tinggi ke udara. Kolom raksasa ini segera menutupi hampir keseluruhan gunung, dan menebarkan kegelapan ke seluruh wilayah…

(Johannes Olivier Jz, Tafereelen en merkwaardigheden uit Oost-Indie, Amsterdam: G.J.A Beijerinck,1836: hlm 271)

Demikianlah kutipan rekaman dahsyatnya letusan Gunung Galunggung yang terjadi pada tanggal 8 oktober 1822 sebagaimana yang ditulis oleh Johannes Olivier Jz dalam buku “Tafereelen en merkwaardigheden uit Oost-Indie” terbitan tahun 1836. Dalam bukunya, Olivier menuliskan secara gamblang urutan kejadian letusan Gunung Galunggung saat itu yang menelan korban ribuan jiwa.

Kawah Gunung Galunggung sedang terlelap ©2009 arie saksono

Gambaran kengerian akibat letusan Galunggung tersebut kini sirna sudah, digantikan indahnya pemandangan hamparan daratan hijau subur membentang seluas mata memandang yang dapat dijumpai dari puncak bibir kawah Gunung Galunggung. Setelah letusan besar yang terjadi, terbentuklah danau kawah yang luas dengan anak gunung yang menyerupai pulau kecil di tengah danau. Galunggung yang tengah tidur sekarang aman dikunjungi orang-orang yang ingin mengagumi pesona sisa kedahsyatan letusan Gunung Galunggung di masa silam.

Gunung Galunggung dengan ketinggian 2.168 meter di atas permukaan laut merupakan salah satu gunung berapi tipe strato di Pulau Jawa yang masih aktif. Di dalam pembagian fisiografi Jawa Barat, termasuk di dalam zona gunung api kwarter yang terbentuk di bagian tengah daerah Jawa Barat. Menurut Volcanological Survey of Indonesia (VSI), kawasan Gunung Galunggung meliputi areal seluas ± 275 km2 dengan diameter sekitar 27 km (barat laut-tenggara) dan 13 km (timur laut-barat daya). Sebelah barat Gunung Galunggung berbatasan dengan Gunung Karasak, sebelah utara dengan Gunung Talagabodas, sebelah timur dengan Gunung Sawal dan di sebelah selatan berbatasan dengan batuan tersier Pegunungan Selatan. Gunung Galunggung dibagi dalam tiga satuan morfologi, yaitu: Kerucut Gunung Api,  Kaldera, dan Perbukitan Sepuluh Ribu. Karakter letusan Gunung Galunggung umumnya berupa erupsi leleran lava sampai dengan letusan yang sangat dahsyat yang berlangsung secara singkat atau lama.

Sumber: Franz Wilhelm Junghuhn, Java; Deszelfs Gedaante, Bekleeding en Inwendige Structuur, Amsterdam: P.N. van Kampen, 1853

Galunggung, Salah Satu Pusat Spiritual Sunda

Catatan sejarah wilayah Galunggung dimulai pada abad ke XII. Di kawasan ini terdapat suatu Rajyamandala (kerajaan bawahan) Galunggung yang berpusat di Rumantak, yang sekarang masuk dalam wilayah Desa Linggawangi, Kecamatan Leuwisari, Tasikmalaya. Galunggung merupakan salah satu pusat spiritual kerajaan Sunda pra Pajajaran, dengan tokoh pimpinannya Batari Hyang pada abad ke-XII. Saat pengaruh Islam menguat, pusat tersebut pindah ke daerah Pamijahan dengan Syeikh Abdul Muhyi (abad ke XVII) sebagai tokoh ulama panutan. Sumber prasasti Geger Hanjuang yang ditemukan di sana menyebutkan bahwa pada tahun 1033 Saka atau 1111 Masehi, Batari Hyang membuat susuk/ parit pertahanan. Peristiwa nyusuk atau pembuatan parit ini berarti menandai adanya penobatan kekuasaan baru di sana (di wilayah Galunggung). Sementara naskah Sunda kuno lain adalah Amanat Galunggung yang merupakan kumpulan naskah yang ditemukan di kabuyutan Ciburuy, Garut Selatan berisi petuah–petuah yang disampaikan oleh Rakyan Darmasiksa, penguasa Galunggung pada masa itu kepada anaknya.

Sementara Prabu Jaya Pakuan alias Bujangga Manik, seorang resi Hindu dari Kerajaan Sunda, Pakuan Pajajaran yang telah  melakukan dua kali perjalanan dari Pakuan Pajajaran ke Jawa sempat menuliskan Galunggung dalam catatan perjalanannya. Namun demikian tak banyak informasi mengenai Galunggung yang didapat dari naskah ini.

Sadatang ka Saung Galah, sadiri aing ti inya, Saung Galah kaleu(m)pangan, kapungkur Gunung Galunggung, katukang na Panggarangan,ngalalar na Pada Beunghar, katukang na Pamipiran.

(Sesampai di Saung Galah berangkatlah aku dari sana ditelusuri Saung Galah, Gunung Galunggung di belakang saya, melewati Panggarangan, melalui Pada Beunghar, Pamipiran ada di belakangku.)

Latusan Dahsyat Galunggung

Menurut catatan sejarah Gunung Galunggung telah meletus sebanyak empat kali, yaitu pada tahun 1822, 1894, 1918 dan dalam kurun waktu tahun 1982-1983. Johannes Olivier Jz dalam bukunya menyebutkankan bahwa sebelum tahun 1822,  tidak ditemukan data tertulis ataupun sumber lisan tentang letusan Gunung Galunggung di masa lampau, baik yang berasal dari sumber asing maupun sumber lokal masyarakat setempat. Naskah-naskah Sunda kuno pun tidak ada yang secara explisit menceritakan mengenai letusan Galunggung di masa silam.

Letusan pertama Gunung Galunggung terjadi pada tanggal 8 Oktober 1822 antara jam 13.00 hingga 16.00 WIB, dan disertai beberapa aktivitas vulkanik dan letusan yang tercatat berlangsung hingga tanggal 12 Oktober 1822. Menurut buku Johannes Olivier Jz, “Tafereelen en merkwaardigheden uit Oost-Indie” terbit tahun 1836, sebelum letusan terjadi, sekitar bulan Juli 1822, warga yang berada di sekitar aliran sungai Cikunir, yang berhulu pada Gunung Galunggung, merasakan keanehan yang terjadi pada air sungai. Air Sungai berubah menjadi keruh, tercium bau belerang dan air terasa sedikit pahit. Selain itu warga yang menyeberangi sungai menemukan bekas buih putih pada kaki mereka. Tak lama kemudian kepala Distrik Singaparna segera melakukan penyelidikan. Utusan kepala distrik memeriksa dan mengikuti aliran sungai menuju hulu pada kolam air terjun Bamboelan, di sana mereka menemukan air di kolam tersebut sangat keruh dan hangat. Beberapa waktu kemudian air sungai menjadi kembali jernih namun bau belerang masih tetap ada. Berselang tiga bulan kemudian pada 8 oktober 1822 tanpa ada tanda-tanda di langit, meletuslah sang Galunggung dengan dahsyatnya. Bumi bergetar. Langit bergemuruh. Tanpa peringatan apa-apa Galunggung langsung memuntahkan abu, pasir dan material vulkanik lainnya membumbung tinggi ke angkasa.

Letusan Galunggung pada tahun 1822 ini tercatat sebagai salah satu letusan gunung api yang paling mematikan di dunia karena memakan banyak korban jiwa. Olivier menjabarkan, Di Distrikt Radjapolla (Rajapolah) terdapat 9 kampung yang musnah akibat lumpur panas namun hanya 9 orang tewas, sementara Distrikt Indihiang merupakan kawasan terparah, sekitar 45 kampung tertimbun lumpur, 1100 orang tewas. Di Tassik-malayoe (Tasikmalaya) 14 kampung musnah, 900 orang tewas, sementara di distrikt Singaparna 35 kampung musnah dan 1500 orang menjadi korban. Sementara dalam buku Franz Wilhelm Junghuhn (“Java; Deszelfs Gedaante, Bekleeding en Inwendige Structuur”, Amsterdam, 1853, hlm 143) menyebutkan setelah penelitian resmi yang dilakukan pemerintah (Hindia Belanda) tahun ditetapkan jumlah korban sebanyak 4011 jiwa dan 114 desa musnah. Resident der Pranger Regentschap pada masa itu, Baron R. Van Der Capellen, segera turun tangan setelah mendengar kabar meletusnya Galunggung. Bersama seorang dokter yang bernama Bruininga menolong para pengungsi dan korban letusan Galunggung. Karena besarnya letusan maka Olivier menyebutnya sebagai “Letusan gunung terbesar yang akan terus ada dalam ingatan orang-orang di Pulau Jawa”

Catatan terakhir letusan Gunung Galunggung terjadi pada tanggal 5 April 1982. Letusan disertai dengan suara dentuman dan gemuruh, pijaran api, dan kilatan petir halilintar. Kegiatan letusan terakhir ini berlangsung selama 9 bulan dan berakhir pada 8 Januari 1983. Letusan terakhirnya bertipe vulcanian vertical (seperti letusan cendawan bom atom), yang semburannya mencapai 20 kilometer ke angkasa. Letusan tersebut juga diikuti dengan semburan piroclastic (debu halus) yang menghujani Tasikmalaya, Garut, Cianjur, Bandung, dan kota-kota lain yang berada dalam radius sekitar 100 kilometer dari Gunung Galunggung, termasuk juga hingga ke Jakarta.

Letusan Galunggung yang hebat, sanggup melontarkan debu vulkaniknya hingga membumbung tinggi ke angkasa. Pada 24 Juni 1982 sekitar pukul 20:40, sebuah pesawat boeing 747-236B dengan kode penerbangan G-BDXH milik maskapai penerbangan British Airways Flight 9 dengan 263 penumpang mengalami kerusakan pada ke-empat mesinnya saat melintas di atas samudera hindia sekitar sebelah selatan Pulau Jawa. Pesawat berangkat dari Bandara Heatrow London menuju Auckland Selandia Baru, dengan rute transit Bombay, Madras, Kuala Lumpur, Perth, Melbourne dan Auckland.

Pesawat bertolak dari bandara Sultan Abdul Aziz Shah, Kuala Lumpur, menuju Perth Australia, terbang melintasi Samudera Hindia dengan ketinggian sekitar 37000 kaki (sekitar 11 km) tanpa disadari pesawat terbang masuk ke dalam awan debu vulkanik yang dilontarkan oleh letusan Gunung Galunggung. Debu vulkanik tersebut menyebabkan keempat mesin pesawat mati hingga akhirnya pesawat mengalihkan rutenya menuju Jakarta, namun dapat mendarat darurat dengan aman.

Kedahsyatan letusan Galunggung di masa lalu telah banyak memakan korban harta dan jiwa. Namun demikian selang beberapa waktu setelah letusan, Galunggung memberikan kehidupan kembali bagi tumbuhan dan orang-orang yang tinggal di sekitarnya. Letusan Galunggung memuntahkan jutaan meter kubik lumpur dan pasir vulkanik ke kawasan Tasikmalaya dan sekitarnya, menjadikan kawasan ini subur. Muntahan lahar dingin mengalir mengikuti alur sungai. Aliran sungai dan saluran irigasi yang tertutup lumpur. Sehingga dibangun sebuah check dam (kantong lahar dingin) di daerah Sinagar sebagai tanggul pengaman limpahan banjir lahar dingin ke kawasan Kota Tasikmalaya. Tumpahan material lahar dingin berupa pasir vulkanik dimanfaatkan menjadi tambang pasir selain untuk meminimalkan bahaya banjir lahar dingin. Pasir Galunggung memiliki kualitas yang baik untuk digunakan sebagai bahan material bangunan maupun konstruksi jalan raya. Seiring dengan perkembangan usaha tambang pasir Galunggung, dahulu sempat dibangun jalur khusus jaringan rel Kereta Api menuju ke Stasiun Pirusa sukaratu check dam sinagar sebagai untuk mengangkut pasir dari Gunung Galungung ke Jakarta. Jalur ini ditutup pada tahun 1995.

Menuju Gunung Galunggung

Cerita-cerita kedahsyatan letusan Gunung Galunggung mengundang rasa penasaran orang untuk berkunjung ke sana. Saat ini Galunggung tengah tertidur sehingga aman untuk dikunjungi (sumber: Volcanological Survey of Indonesia, ESDM).

Gunung Galunggung relatif mudah dicapai dari Jakarta. Secara geografis, Gunung Galunggung berada di Desa Linggajati, Kecamatan Sukaratu, Kabupaten Tasikmalaya, Sekitar17 kilometer dari pusat Kota Tasikmalaya.

Untuk menuju ke sana terdapat dua alternatif kota sebagai awal perjalanan menuju ke sana yaitu melalui kota Tasikmalaya atau Singaparna yang nantinya juga akan bertemu di jalan utama menuju Galunggung yang merupakan jalur lalu lintas truk-truk pengangkut pasir.

Sejak dibukanya jalan tol Cipularang, perjalanan dari Jakarta ke Tasikmalaya dapat dicapai dalam waktu sekitar 5 jam saja, dahulu perjalanan dari Jakarta menuju Tasikmalaya via Puncak memakan waktu sekitar 7 hingga 8 jam. Transportasi umum dari Jakarta menuju Tasikmalaya tersedia setiap saat. Namun disarankan untuk berangkat pagi-pagi, sehingga dapat tiba di Tasikmalaya menjelang siang hari dan langsung melanjutkan perjalanan menuju Galunggung.

Klik pada gambar untuk memperbesar (sumber: Google)

Pengunjung yang menggunakan kendaraan pribadi dapat langsung menuju hingga ke areal parkir kawasan Gunung Galunggung, terdapat tiga alternatif:

Dari arah Jakarta atau Bandung setelah melewati Ciawi, Cisayong, sebelum masuk kota Tasikmalaya, di kecamatan Indihiang sebelum terminal bis Indihiang, ada jalan di sebelah kanan menuju Cipanas-Galunggung jaraknya sekitar + 12 km. Dari pusat kota Tasikmalaya langsung  ke arah Barat lewat Jl. Bantar-Tawangbanteng, jaraknya sekitar + 17 km sementara jika dari arah Bandung lewat Garut-Singaparna setelah simpang tiga dekat jembatan Cikunir belok ke arah kiri  + 14 km. Pengunjung dengan kendaraan besar, bis sedang atau besar disarankan untuk mengambil rute Bantar-Tawangbanteng yang sering dilalui truk-truk pengangkut pasir, karena bila melalui Indihiang terdapat jembatan kecil dan sempit yang hanya dapat dilalui satu kendaraan.

Bagi pengunjung dengan kendaraan umum dari arah Jakarta dan Bandung sebaiknya turun di Terminal Bus Tasikmalaya, karena tidak banyak angkutan umum yang lewat di jalur tersebut di atas. Kemudian, perjalanan dilanjutkan naik angkutan kota jurusan Terminal-Galunggung-Singaparna dengan ongkos sekitar Rp. 9.000 per orang. Turun di pintu masuk kawasan Cipanas Galunggung. Kemudian jalan kaki atau naik ojek hingga pelataran parkir di kaki anak tangga menuju kawah.

Alternatif lainnya dapat turun di perempatan Indihiang-Ciponyo (bilang saja ke kondektur mau ke Galunggung), lalu melanjutkan perjalanan dengan menggunakan ojek dengan tarif Rp. 20.000 hingga pintu gerbang objek wisata Galunggung dan ditambah lagi Rp. 15.000 untuk sampai anak tangga menuju  kawah.

Wisata Gunung Galunggung dan sekitarnya

Di kawasan Gunung Galunggung terdapat dua tempat objek wisata , yaitu Danau Kawah dan Pemandian air panas Cipanas. Dari pintu gerbang utama, pengunjung yang ingin ke danau kawah mengambil jalan ke arah kiri. Sedangkan pengunjung yang akan ke Pemandian Cipanas mengambil jalan ke arah kanan.

Tangga menuju Kawah Galunggung©2009 arie saksono

Untuk menikmati pemandangan kawah Gunung Galunggung pengunjung harus mendaki menapaki anak tangga yang berjumlah 620 anak tangga.Dari sana pengunjung dapat mencapai dasar kawah dengan menuruni jalan setapak sekitar 100 meter. Di dasar kawahnya, pengunjung dapat menikmati hamparan luas danau beserta alamnya yang eksotik, memancing aneka jenis ikan air tawar Danau Kawah. Namun demikian Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) atau Volcanological Survey of Indonesia (VSI) tidak merekomendasikan pengunjung untuk mandi, berenang ataupun bersampan di danau kawah. Selain itu juga terdapat sungai dari resapan Danau Kawah, gua, terowongan air menuju Sungai Cibanjaran dan Cikunir, serta masjid kecil yang terletak di sisi seberang kawah. Pada malam hari dari bibir kawahnya, saat cuaca cerah pengunjung dapat melihat keindahan gemerlap lampu-lampu Kota Tasikmalaya dan sekitarnya.

Klik pada gambar untuk memperbesar (sumber: Google)

Bila anda lelah sehabis menaiki tangga Galunggung, sekitar 3 kilometer dari kawah, menuju ke bawah, tidak begitu jauh dari pintu gerbang terdapat lokasi pemandian air panas Cipanas dan dapat dicapai dengan berjalan kaki. Di kawasan ini terdapat kolam renang, kamar mandi, dan bak rendam air panas. Selain itu, bila masih ada waktu, pengunjung juga dapat berjalan kaki menuju air terjun yang terletak tak jauh dari situ.

Selain Danau Kawah dan Pemandian Cipanas, di kawasan tersebut juga terdapat wanawisata (wisata hutan) yang memiliki areal sekitar 120 hektar yang dikelola pihak Perhutani. Kawasan ini berhawa sejuk, udaranya segar, dan teduh, sehingga cocok sekali dijadikan tempat untuk bersantai bersama keluarga atau berkemah.

Selain objek wisata Danau Kawah Galunggung dan pemandian air panas, bila masih ada waktu, maka tidak ada salahnya daam perjalanan pulang, singgah ke objek wisata Situ Gede atau Situ Ageng sebutan masyarakat setempat. Situ Gede adalah sebuah danau dengan luas sekitar 47 hektare. Danau ini terletak sekitar 5 kilometer dari Kota Tasikmalaya. Ditengah-tengah danau terdapat sebuah pulau seluas kurang lebih 1 hektar. Di pulau tersebut terdapat makam keramat Eyang Prabudilaya seorang tokoh legenda masyarakat Tasikmalaya. Di Situ Gede masyarakat dapat menikmati danau yang indah dan tenang dengan latar belakang Gunung Galunggung di kejauhan. Selain itu pengunjung dapat bersantai mengelilingi danau dengan rakit yang banyak disewakan disana.

Insert >>

Galunggung dan Asal Mula Nama Kota Tasikmalaya

Menurut beberapa sumber nama Tasikmalaya tak dapat dipisahkan dengan Gunung Galunggung. Tasikmalaya berasal dari dua kata, tasik dan malaya, mengacu pada kata keusik ngalayah dalam Bahasa Sunda. Keusik berarti pasir dan ngalayah berarti tumpah ruah. Sehingga kemungkinan besar penamaan Tasikmalaya berkaitan dengan letusan Gunung Galunggung di masa silam yang menumpahruahkan pasir ke kawasan ini. Pada saat letusan Galunggung tahun 1822 nama Tassik-malaijo atau Tassik-malaya sudah muncul dalam beberapa sumber buku. Jadi kemungkinan besar sebelumnya Galunggung sudah pernah meletus dengan hebat sehingga muncul nama Tasikmalaya.

Catatan Letusan Galunggung

Letusan pertama terjadi pada tanggal 8 Oktober 1822 diikuti letusan susulan tanggal 12 oktober 1822. Korban jiwa 4011 orang, 114 desa musnah.

Letusan kedua terjadi tahun 1894, selama 13 hari, tanggal 7-19 Oktober 1894. tanggal 27 dan 30 Oktober 1894, terjadi lahar yang mengalir pada alur sungai yang sama dengan lahar yang dihasilkan pada letusan 1822, 50 desa hancur.

Letusan ketiga tahun1918 terjadi selama 4 hari, tanggal 16 – 19 Juli 1918.

Letusan yang terakhir terjadi pada antara tahun 1982-83, terjadi selama 9 bulan, dari tanggal 5 April 1982 – 8 Januari 1983 dengan variasi periode letusan yang berlangsung selama beberapa jam hingga beberapa bulan. Korban jiwa18 orang, 22 desa ditinggal tanpa penghuni

©2009 arie saksono

Artikel mengenai Gunung Galunggung ini pernah dimuat dalam versi lain pada majalah National Geographic Traveler, Edisi Koleksi : 55 Pendakian Terindah; Desember 2009 by arie saksono



Masjid Kubah Emas – Dian Al Mahri

May 10, 2008


Masjid Kubah Emas Dian Al Mahri (foto: arie saksono)

Masjid Dian Al Mahri atau yang lebih dikenal dengan Masjid Kubah Emas berada di Jalan Maruyung raya, Kel. Meruyung, Kecamatan Limo, Kota Depok. Masjid megah ini berkapasitas 20 ribu jemaah berdiri kokoh di atas lahan seluas 70 hektare. Masjid ini mulai dibangun April 1999 oleh seorang dermawan, pengusaha asal Banten bernama Hj Dian Juriah Maimun Al Rasyid, istri dari Drs H. Maimun Al Rasyid, yang membeli tanah kawasan ini sejak tahun 1996. Rencananya, selain masjid, lahan ini akan dijadikan Islamic Centre. Nantinya akan ada lembaga dakwah, dan rumah tinggal. Semua bangunan tersebut merupakan bagian dari konsep pengembangan sebuah kawasan terpadu yang diberi nama Kawasan Islamic Center Dian Al-Mahri.

Masjid Dian Al Mahri dibuka untuk umum pada tanggal 31 Desember 2006, bertepatan dengan Idul Adha 1427 H yang kedua kalinya pada tahun itu. Pembangunannya sudah berlangsung sejak tahun 1999, namun baru dibuka untuk umum pada tanggal 31 Desember 2006. Setelah shalat Idul Adha, pemilik masjid langsung meresmikan masjid ini. Ada sekitar 5 ribu jemaah yang mengikuti prosesi peresmian masjid ini.

Spesifikasi Masjid

Bangunan masjid memiliki luas area sebesar 60 x 120 meter atau sekitar 8.000 meter persegi. terdiri dari bangunan utama, mezamin, halaman dalam, selasar atas, selasar luar, ruang sepatu, dan ruang wudhu. Masjid mampu menampung 15 ribu jemaah shalat dan 20 ribu jemaah taklim. Masjid ini merupakan salah satu di antara masjid-masjid termegah di Asia Tenggara.

Masjid Dian Al Mahri memiliki 5 kubah. Satu kubah utama dan 4 kubah kecil. Seluruh kubah dilapisi emas setebal 2 sampai 3 milimeter dan mozaik kristal. Kubah utama bentuknya menyerupai kubah Taj Mahal. Kubah tersebut memiliki diameter bawah 16 meter, diameter tengah 20 meter, dan tinggi 25 meter. Sementara 4 kubah kecil lainnya memiliki diameter bawah 6 meter, tengah 7 meter, dan tinggi 8 meter.

Relief hiasan di atas tempat imam terbuat dari emas 18 karat. Begitu juga pagar di lantai dua dan hiasan kaligrafi di langit-langit masjid. Sedangkan mahkota pilar masjid yang berjumlah 168 buah berlapis bahan prado atau sisa emas.

Ruang utama masjid memiliki ukuran 45×57 meter, dapat menampung sebanyak 8.000 jamaah. Masjid ini memiliki 6 minaret berbentuk segi enam yang tingginya masing-masing 40 meter. 6 minaret ini dibalut granit abu-abu dari itali dengan ornamen yang melingkar. Pada puncak minaret terdapat kubah berlapis mozaik emas 24 karat.
Kubah masjid ini mengacu kubah yang digunakan masjid-masjid Persia dan India. Lima kubah melambangkan rukun Islam, seluruhnya dibalut mozaik berlapis emas 24 karat yang materialnya diimpor dari Italia.

Pada langit-langit kubah terdapat lukisan langit yang warnanya dapat berubah sesuai dengan warna langit pada waktu-waktu sholat dengan menggunakan teknologi tata cahaya yang diprogram dengan komputer.

Interior masjid ini menampilkan pilar-pilar kokoh yang tinggi menjulang untuk menciptakan skala ruang yang agung. Ruang masjid didominasi warna monokrom dengan unsur utama warna krem, untuk memberi karakter ruang yang tenang dan hangat. Materialnya terbuat dari bahan marmer yang diimpor dari Turki dan Italia. Di tengah ruang, tergantung lampu yang terbuat dari kuningan berlapis emas seberat 2,7 ton, yang dikerjakan oleh ahli dari Italia.

Kemegahan Masjid Kubah Emas Dian Al Mahri

Emas pada Masjid Dian Al Mahri

Masjid ini disebut dengan Masjid Kubah Emas, sesuai namanya masjid ini memang menggunakan material emas dengan 3 teknik pemasangan: pertama, serbuk emas (prada) yang terpasang di mahkota/pilar, kedua gold plating yang terdapat pada lampu gantung, ralling tangga mezanin, pagar mezanin, ornament kaligrafi kalimat tasbih di pucuk langit-langit kubah dan ornament dekoratif diatas mimbar mihrab, yang ketiga gold mozaik solid yang terdapat di kubah utama dan kubah menara.

Pengurus dan pengelola masjid tidak mengungkapkan informasi mengenai total biaya pembangunan dan juga berat emas keseluruhan yang ada di kompleks masjid ini. Hanya ada informasi ketebalan emas yang melapisi kubah. Setiap kubah memiliki ketebalan emas 2 sampai 3 milimeter. Sekitar 2 container lempengan emas didatangkan dari Italia untuk melapisi kubah masjid ini. Emas kubah tersebut kemudian dilapisi lagi dengan mozaik kristal.

Update informasi; Beberapa waktu yang lalu pengurus dan pengelola masjid telah mengungkapkan biaya pembangunan masjid ini dalam sebuah program infotainment televisi swasta. Disebutkan bahwa biaya pembangunan sebesar 20 trilyun rupiah sebagai nazar atas kesembuhan dari sakit yang diderita sang pemilik Masjid Kubah Emas ini.

Perlu diketahui bagi Pengunjung:

Masjid ini terbuka untuk umum, namun demikian ada beberapa bagian yang harus tetap steril seperti menara masjid. Meskipun dibuka untuk umum, namun Masjid Dian Al Mahri tutup pada hari Kamis, menurut pengurus masjid, hari kamis digunakan untuk keperluan persiapan ibadah shalat Jumat keesokan harinya. Sedangkan pada hari lainnya masjid dibuka pada pukul 10.00 pagi hingga 20.00 malam dan untuk shalat subuh hingga pukul 07.00 pagi (keterangan selengkapnya dapat ditanyakan pada pengurus masjid). Jumlah pengunjung biasanya membeludak pada hari Jumat sampai Minggu. Saat Shalat Jumat, minimal 5 ribu jemaah memadati masjid. Sementara pada hari Minggu, jumlah pengunjung biasanya mencapai 10 ribu orang. Sedangkan pada hari-hari biasa, jumlah jemaah tidak terlalu banyak.

Pengunjung bebas keluar masuk masjid, namun demikian ada beberapa aturan yang harus dipatuhi agar suasana ibadah tetap nyaman. Misalnya pengunjung dilarang membawa makanan dan minuman ke lingkungan masjid. Anak di bawah usia 9 tahun juga dilarang memasuki lingkungan masjid.

Untuk masuk ke dalam masjid, diwajibkan memakai pakaian yang menutup aurat, sehingga kalau berkunjung kesana khususnya kaum hawa harus mengenakan jilbab. Alas kaki/sandal harus dititipkan ke bagian penitipan, dan tidak boleh ditinggal diluar. Tempat penitipan alas kaki pada jam-jam shalat menjadi sangat ramai dan penuh. Pada siang hari halaman luar lantai depan masjid sangat panas namun pengurus masjid memberikan karpet plastik untuk mengurangi panasnya lantai halaman masjid. Pengunjung dilarang menginjak rumput yang ada di taman sekitar mesjid. Bagi pengunjung yang ingin berteduh dan sekedar beristirahat, di seberang masjid ada ruang serbaguna yang disediakan. Biasanya para pengunjung menggelar tikar di ruang serba guna ini sambil mengagumi keindahan masjid ini.

Untuk masuk ke dalam masjid, diwajibkan memakai pakaian yang menutup aurat, sehingga kalau berkunjung kesana khususnya kaum hawa harus mengenakan jilbab. Alas kaki/sandal harus dititipkan ke bagian penitipan, dan tidak boleh ditinggal diluar. Tempat penitipan alas kaki pada jam-jam shalat menjadi sangat ramai dan penuh. Pada siang hari halaman luar lantai depan masjid sangat panas namun pengurus masjid memberikan karpet plastik untuk mengurangi panasnya lantai halaman masjid. Pengunjung dilarang menginjak rumput yang ada di taman sekitar mesjid. Bagi pengunjung yang ingin berteduh dan sekedar beristirahat, di seberang masjid ada ruang serbaguna yang disediakan. Biasanya para pengunjung menggelar tikar di ruang serba guna ini sambil mengagumi keindahan masjid ini.

Rute Menuju ke Masjid Kubah Emas

Jalan yang lebih mudah dan tidak berliku-liku untuk menuju ke Masjid Kubah Emas lebih baik melewati RS Fatmawati. Dari arah Jakarta masuk tol arah ke Pondok Indah dan keluar Fatmawati dan belok ke kiri, bila tidak lewat tol ikuti jalan TB Simatupang hingga belok ke kiri RS Fatmawati. Setelah itu ikuti jalan, melewati dua lampu merah hingga pasar Pondok Labu dan sampai di kampus UPN, kemudian ambil ke arah kanan. Ikuti jalan melewati Golf Pangkalan Jati sampai lampu merah dan belok ke kiri ke arah Depok. Jalan ini tinggal lurus saja terus sampai ke Cinere Mall, melewati SPBU, terus hingga sampai Masjid Dian Al-Mahri yang ada di sebelah kiri jalan. Selepas Cinere Mall, memasuki daerah Limo Maruyung kondisi jalan menuju ke lokasi agak rusak berlubang dan cukup sempit hanya 2 jalur, dan harus sedikit mengantri bila berpapasan dengan rombongan yang menggunakan bis-bis besar pariwisata. Jalan lain menuju masjid ini yaitu melalui jalan Sawangan Depok dan Karang Tengah Lebak Bulus yang nantinya juga akan bertemu dengan jalan Limo – Maruyung Raya.

©2008 arie saksono

Sumber:

Buletin Dian Al-Mahri

http://www.pikiran-rakyat.com

http://www.id.wikipedia.org

berbagai sumber lain

 

Peta ke Masjid Kubah Emas (klik untuk memperbesar)
peta-menuju-masjid-kubah-emas
Sumber: Google Map


KAWAH PUTIH Ciwidey Bandung Selatan

March 10, 2008


Pemandangan Kawah putih (foto ©arie saksono)

Wilayah Kabupaten Bandung memiliki banyak tempat wisata yang menawarkan pemandangan yang indah beserta legenda-legenda yang menarik. Salah satunya adalah Kecamatan Ciwidey yang berada di selatan Kabupaten Bandung. Di kawasan ini terdapat objek wisata menarik yaitu Kawah Putih.
Kawah Putih adalah sebuah danau kawah dari Gunung Patuha dengan ketinggian 2.434 meter di atas permukaan laut dengan suhu antara 8-22°C. Di puncak Gunung Patuha itulah terdapat Kawah Saat, saat berarti surut dalam Bahasa Sunda, yang berada di bagian barat dan di bawahnya Kawah Putih dengan ketinggian 2.194 meter di atas permukaan laut. Kedua kawah itu terbentuk akibat letusan yang terjadi pada sekitar abad X dan XII silam.Kawah Putih ini terletak sekitar 46 km dari Kota Bandung atau 35 km dari ibukota Kabupaten Bandung, Soreang, menuju Ciwidey.


Bpk. Wagub Jawa Barat saat kunjungan Kawah Putih 2010 (©arie saksono)

Legenda Kawah Putih

Gunung Patuha konon berasal dari nama Pak Tua atau ”Patua”. Masyarakat setempat sering menyebutnya dengan Gunung Sepuh. Dahulu masyarakat setempat menganggap kawasan Gunung Patuha dan Kawah Putih ini sebagai daerah yang angker, tidak seorang pun yang berani menjamah atau menuju ke sana. Konon karena angkernya, burung pun yang terbang melintas di atas kawah akan mati.


Danau Kawah Putih (foto ©arie saksono)

Misteri keindahan danau Kawah Putih baru terungkap pada tahun 1837 oleh seorang peneliti botanis Belanda kelahiran Jerman, Dr. Franz Wilhelm Junghuhn (1809-1864) yang melakukan penelitian di kawasan ini. Sebagai seorang ilmuwan, Junghuhn tidak mempercayai begitu saja cerita masyarakat setempat. Saat ia melakukan perjalanan penelitiannya menembus hutan belantara Gunung Patuha, akhirnya ia menemukan sebuah danau kawah yang indah. Sebagaimana halnya sebuah kawah gunung, dari dalam danau keluar semburan aliran lava belerang beserta gas dan baunya yang menusuk hidung. Dari hal tersebut terungkap bahwa kandungan belerang yang sangat tinggi itulah yang menyebabkan burung enggan untuk terbang melintas di atas permukaan danau Kawah Putih.


Kawah Putih 1856, Java-Album, Franz Wilhelm Junghuhn

Karena kandungan belerang di danau kawah tersebut sangat tinggi, pada zaman pemerintahan Belanda sempat dibangun pabrik belerang dengan nama Zwavel OntginingKawah Putih’. Kemudian pada zaman Jepang, usaha tersebut dilanjutkan dengan nama Kawah Putih Kenzanka Gokoya Ciwidey yang langsung berada di bawah penguasaan militer Jepang.


Tambang belerang peninggalan jaman Belanda & Jepang (foto ©arie saksono)

Di sekitar kawasan Kawah Putih terdapat beberapa makam leluhur, antara lain makam Eyang Jaga Satru, Eyang Rongga Sadena, Eyang Camat, Eyang Ngabai, Eyang Barabak, Eyang Baskom, dan Eyang Jambrong. Salah satu puncak Gunung Patuha yakni Puncak Kapuk, konon merupakan tempat pertemuan para leluhur yang dipimpin oleh Eyang Jaga Satru. Konon, di tempat ini terkadang secara gaib terlihat sekumpulan domba berbulu putih yang oleh masyarakat disebut domba lukutan.


Sesepuh dan Juru kunci Kawah Putih hadir pada Festival Kawah Putih 2010

Danau Kawah Putih memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri. Air di danau kawahnya  dapat berubah warna, kadangkala berwarna hijau apel kebiru-biruan bila terik matahari dan cuaca terang, terkadang pula berwarna coklat susu. Paling sering terlihat airnya berwarna putih disertai kabut tebal di atas permukaan kawah. Selain permukaan kawah yang berwarna putih, pasir dan bebatuan di sekitarnya pun didominasi warna putih, oleh karena itu kawah tersebut dinamakan Kawah Putih.


Air danau Kawah Putih yang dapat berubah warna (foto ©arie saksono)

Menuju ke Kawah Putih

Sejak tahun 1987 PT. Perhutani (Persero) Unit III Jabar dan Banten mengembangkan kawasan Kawah Putih ini  menjadi sebuah objek wisata. Untuk tiket masuk areal objek wisata Kawah Putih, setiap orang dikenakan biaya Rp 10.000,00, (update harga tiket lihat keterangan di bawah) sudah termasuk premi asuransi. Objek wisata Kawah Putih dibuka mulai pukul 07.00 dan tutup pada pukul 17.00, setiap hari Senin sampai dengan Minggu. Fasilitas bagi pengunjung di sekitar Kawah Putih sudah cukup memadai dengan adanya areal parkir, transportasi transit menuju kawah, pusat informasi, mushala, dan warung-warung makanan.


Danau Kawah Putih kadang ditutupi halimun (foto ©arie saksono)

Untuk menuju ke sana, pengunjung dari Jakarta dapat melewati tol Cipularang terus menuju pintu keluar tol Kopo menuju Soreang ke arah selatan ke kota Ciwidey. Sekitar 20 – 30 menit dari kota Ciwidey terlihat tanda masuk menuju gerbang masuk objek wisata Kawah Putih yang ada di sebelah kiri jalan. Untuk menuju Kawah Putih dari gerbang masuk kawasan objek wisata Kawah Putih disarankan menggunakan kendaraan, jangan berjalan kaki karena jalan yang agak menanjak dan cukup jauh, yaitu sekitar 5,6 km atau sekitar 10 – 15 menit dengan kendaraan. Kendaraan pribadi dapat langung menuju tempat parkir luas yang tersedia tidak jauh dari kawah. Sementara pengunjung dengan rombongan besar yang menggunakan bis, atau transportasi umum dapat menggunakan kendaraan khusus yang ada di areal parkir dekat gerbang masuk untuk mencapai kawah dari pintu masuk. Kondisi jalan yang kecil dan menanjak tidak memungkinkan untuk dilalui kendaraan jenis bis besar maupun sedang.

Transportasi umum menuju Ciwidey dari Bandung dapat ditemui di Terminal Kebun Kalapa maupun Leuwi Panjang. Setelah sampai di Kota Ciwidey maka perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan angkutan pedesaan tujuan Situ Patengan. Angkutan pedesaan yang menuju Situ Patengan ini melintasi objek-objek wisata yang ada di kawasan Ciwidey yaitu Perkebunan Strawberry, Kawah Putih, Ranca Upas, & kolam renang air panas Cimanggu. Untuk dapat menjelajahi dan menikmati keindahan alam kawasan Ciwidey dan sekitarnya rasanya tidak cukup hanya satu hari.

© 2008-2010 arie saksono

Updated Harga Tiket Masuk dari pembaca:
Lihat komentar pengunjung di bawah ini:

Updated Tiket Masuk Kawah Putih per 12 Maret 2012:
Wisatawan Mancanegara: Rp. 30.000.
Wisatawan Nusantara : Rp. 15.000.
Ontang-anting : Rp. 10.000 PP (5.000 x 2)
Mobil sampai ke atas : Rp. 150.000.
Parkir Bus : Rp. 25.000.

 

yogi says:
September 19, 2010 at 18:32
update tarif masuk kawah putih hari ini (19/10/10):
orang: Rp.   26.000 (termasuk ongkos kendaraan ke atas-PP)
mobil: Rp. 150.000 (minibus)-sampai ke atas

Oman mengatakan:
Mei 18, 2010 pukul 18:28

Info kemarin tgl 17 Mei 2010.
Tiket masuk update 8 Mei 2010 (dibuka kembali)
Wisnus Rp 25.000,- / orang. (termasuk angkutan ke atas kawah)
Wisman Rp 50.000,- / orang.
Bermobil 1 orang Rp 165.000,- / (man)Rp 190.000,-
Bermobil 2 orang Rp 180.000,- / (man)Rp 230.000,-
Bermobil 3 orang Rp 195.000,- / (man)Rp 270.000,-
dst.


Logo Visit Indonesia Year 2008

December 16, 2007

Visit Indonesia Year 2008

 

VISIT INDONESIA YEAR (VIY) 2008 to celebrate a century since its National Awakening Year (when Indonesians first united to fight Dutch colonials).

Pemerintah Indonesia menetapkan tahun 2008 sebagai Tahun Kunjungan Indonesia atau Visit Indonesia Year 2008 dalam rangka memperingati 100 tahun Kebangkitan Nasional.

Tema Tahun Kunjungan Wisata kali ini adalah memperingati 100 tahun Kebangkitan Nasional, yang di-Inggris-kan menjadi “Visit Indonesia Year 2008. Celebrating 100 Years of National Awakening”. Awalnya terdapat kesalahan tata bahasa dalam slogan promosi pariwisata tersebut. Kata “National” sebelumnya ditulis “Nation” sehingga slogan pada awalnya “Visit Indonesia Year 2008. Celebrating 100 Years of Nation’s Awakening”.

Logo Visit Indonesia Year 2008

Visit Indonesia Year 2008, Celebrating 100 years of National Awakening

[Klik untuk ukuran lebih besar format jpg]

Sumber gambar: www.my-Indonesia.info

Logo Visit Indonesia Year 2008-Hitam

garuda concept VIY

Konsep logo Visit Indonesia Year 2008 mempunyai makna:

  1. Bentuk atau gambar logo berbentuk siluet burung garuda mengambil konsep Garuda Pancasila sebagai dasar negara
  2. Lima sila dari Pancasila digambarkan berupa 5 garis warna yang berbeda dan merupakan simbol diversity Indonesia yang penuh dengan keanekaragaman.
  3. Logo diolah menjadi bentuk dan warna yang dinamis sebagai perwujudan dari Dinamika Indonesia yang sedang berkembang.
  4. Jenis huruf dari logo mengambil dari elemen otentik Indonesia yang disempurnakan dengan sentuhan modern.