Tangkuban Perahu – Pesona Misteri Sang Ratu

February 24, 2011


Kawah Ratu Tangkuban Perahu ©2009 arie saksono

…Vóór werd de tandoe (draagstoel) mijner vrouw gedragen door acht Soendaneezen. Zij trippen als zij dragen. Hun pas is kort, er is een rhythmiek in hunne veerende beweging, in den muzikalen tred hunner voeten, waaronder de opwaartsche weg als een instrument wordt, een klankbord van niet tot ons doordringende muziek. En de stille klanken stijgen, hooger en hooger den weg mede op…
(Louis Couperus, Oostwaard, ’S Gravenhage: Leopold Uitgeverij NV, 1923; hlm 135)

Meskipun bukan merupakan gunung berapi yang terbesar ataupun tertinggi di Pulau Jawa, namun sejak dahulu Gunung Tangkuban Perahu telah menarik perhatian banyak orang untuk berkunjung ke sini. Baik dari penjuru nusantara, orang-orang Belanda maupun Eropa yang dahulu bertugas di Hindia-Belanda (Indonesia). Namanya kerap mengisi catatan perjalanan para penjelajah, mulai dari Bujangga Manik dari Pakuan Pajajaran hingga Franz Wilhelm Junghuhn.

Dalam buku P.C. Molhuysen en P.J. Blok “Nieuw Nederlandsch biografisch woordenboek, Deel 6” terbitan tahun 1924, disebutkan gouverneur-generaal Abraham van Riebeeck pada tahun 1713 telah mendaki Gunung Tangkuban Perahu dan Papandayan dengan misi untuk mengenali situasi dan kondisi geografis daerah pegunungan di Pulau Jawa. Setelah perjalanannya itu, Riebeck mulai mengembangkan perkebunan kopi di sekitar daerah Jawa Barat.

Kemudian beberapa masa kemudian, Johannes Olivier Jz, sekertaris pemerintah Hindia Belanda yang bertugas di Palembang, dalam bukunya “Tafereelen en merkwaardigheden uit Oost-Indie” terbitan tahun 1836, mencatat banyak orang Eropa yang berkunjung mendaki Tangkuban Perahu, beberapa nama diantaranya, Dr. (Thomas) Horsfield, botanikus berkebangsaan Inggris pada tahun 1804, Heer Leschenault (Jean Baptiste Leschenault de la Tour), botanikus berkebangsaan Perancis, tahun 1805. Heer Valck yang pada saat itu menjabat sebagai Resident van Krawang tahun 1823. Ahli botani yang mengembangkan Kebun Raya Bogor, Prof. Carl Ludwig Blume di tahun 1824. Selain itu kawasan Tangkuban Perahu tak dapat dipisahkan dari nama Franz Wilhelm Junghuhn, seorang botanikus, geolog, yang mengembangkan perkebunan kina di sekitar kawasan ini. Junghuhn tercatat telah dua kali mengeksplorasi kawasan ini di tahun 1837 dan 1848. Dari perjalanannya menjelajahi pegunungan di Jawa, Junghuhn menuliskannya dalam buku Topografische und naturwissenschaftliche Reisen durch Java (Perjalanan Topografi dan Ilmiah Melintasi Java -(1845), hingga pada tahun 1864 Junghuhn meninggal dunia dan dimakamkan di kaki Gunung Tangkuban Perahu tepatnya di Desa Jayagiri, Lembang.

Perkumpulan Bandoeng Vooruit & Wisata Tangkuban Perahu
Berbeda dengan kegiatan wisata alam mendaki gunung lainnya, kawasan Gunung Tangkuban Perahu relatif mudah dicapai. Pengunjung tidak usah bersusah-payah berjam-jam atau bahkan berhari-hari mendaki untuk menikmati keindahan karena ada akses jalan yang bisa dilalui kendaraan bermotor roda empat hingga menuju bibir kawahnya.


ilustrasi perjalanan menuju Tangkuban Perahu di masa lampau

Louis Couperus, seorang novelis dan penulis berkebangsaan Belanda pun tak melewatkan kesempatan untuk mengunjungi Gunung Tangkuban Perahu dalam perjalanannya ke Nederland India/ Hindia-Belanda. Dalam bukunya yang berjudul Oostwaard terbit tahun 1923, Couperus menyebutkan bahwa untuk menuju ke sana Ia harus bersusah payah melintasi hutan dan mendaki gunung, sementara sang istri ditandu dengan draagstoel atau kursi tandu yang dipanggul oleh delapan orang. Namun kini situasi sudah berubah, tak usah bersusahpayah, siapapun dapat dengan mudah menikmati keindahan kawasan pegunungan Tangkuban Perahu beserta kawah-kawahnya. Gunung Tangkuban Perahu relatif mudah dicapai dengan kendaraan bermotor hingga ke pinggiran kawahnya.

Keberadaan akses jalan raya menuju kawasan Gunung Tangkuban Perahu tidak dapat dipisahkan dari peran perkumpulan “Bandoeng Vooruit”, sebuah organisasi orang-orang Belanda yang tinggal di Bandung. Misi mereka antara lain mengembangkan obyek wisata di wilayah Bandung. Menata dan merias penampilan kota Bandung sebagai daerah tujuan wisata sehingga menarik wisatawan sebanyak-banyaknya untuk datang berkunjung ke Bandung.

Pada sekitar tahun 1924, Heer W. H. Hoogland, ketua Bandoeng Vooruit sudah memikirkan kemungkinan pembangunan jalan raya menuju ke Kawah Ratu, kawah terbesar di kawasan Tangkuban Perahu. Sebelumnya Perhimpunan Sejarawan Alam (Natuur Historische Vereeniging) telah mempelopori pembukaan jalan setapak yang melintasi sebagian wilayah perkebunan Kina Pemanoekan (Pemanukan) dan Tjiasemlanden (Daerah Ciasem) dan sejak saat gunung Tangkuban Perahu menjadi sering didaki. Dan akhirnya pada tahun 1926 pembangunan jalan menuju kawasan Tangkuban Perahu dimulai.


Peta Tangkuban Perahu
(sumber gambar: L. Van der Pijl, Wandelgids voor den G Tangkoeban Prahoe, Bandoeng: Uitgave A.C. Nix & Co, 1932)

Pada bulan September tahun 1928 sekitar 4 kilometer jalan menuju Kawah Ratu dibuka untuk umum. L. Van der Pijl, dalam bukunya “Wandelgids voor den G. Tangkoeban Prahoe”, menyebutkan bahwa pembangunan jalan tersebut memakan total biaya f 30.000; (30.000 Gulden). Karena mahalnya biaya pembangunan dan perawatan fasilitas maka pengunjung yang melalui jalan dikenakan biaya sebesar f 2.50 (2.50 Gulden) bagi kendaraan roda empat dan f 1 (1 Gulden) untuk kendaraan bermotor roda dua. Kemudian jalan menuju Kawah Ratu itu dinamakan Hooglandweg mengacu pada nama Heer W. H. Hoogland, ketua perkumpulan Bandung Vooruit, pencetus ide pembangunan jalan yang hingga kini dapat dinikmati para pengunjung Gunung Tangkuban Perahu.

Berwisata di Kawah Gunung Tangkuban Perahu
Kawasan wisata Gunung Tangkuban Perahu terletak sekitar 30 kilometer di sebelah utara kota Bandung. Secara administratif kawasan Gunung Tangkuban Perahu sebelah selatan berada di bawah wilayah Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Sebelah Utara kecamatan Sagalaherang, dan sebelah timur laut kecamatan Jalancagak kabupaten Subang.

Puncak gunung tertinggi di kawasan Tangkuban Perahu berada pada ketinggian 2.084 meter di atas permukaan air laut. Kawasan ini merupakan salah satu tujuan wisata alam yang banyak dikunjungi wisatawan nusantara maupun mancanegara.

Menurut cerita rakyat setempat nama Tangkuban Perahu berkaitan dengan legenda Sangkuriang, yang dikisahkan jatuh cinta kepada ibunya, Dayang Sumbi. Untuk menggagalkan niat anaknya menikahinya, Dayang Sumbi mengajukan syarat, salah satunya Sangkuriang harus membuat perahu dalam semalam. Saat menyadari usahanya untuk memenuhi syarat itu gagal, Sangkuriang marah dan menendang perahu itu, sehingga mendarat dalam keadaan terbalik. Perahu inilah yang kemudian membentuk Gunung Tangkuban Parahu.

Gunung Tangkuban Perahu merupakan salah satu gunung berapi yang masih aktif di Pulau Jawa. Gunung ini termasuk dalam kategori jenis Strato dengan kawah ganda. Berdasarkan data yang ada sejak abad ke XIX, gunung api ini tidak pernah menunjukkan erupsi magmatik besar selain hanya berupa erupsi kecil yang melontarkan abu tanpa diikuti oleh leleran lava, awan panas ataupun lontaran batu pijar. Selama ini belum pernah ada catatan mengenai adanya banjir lahar yang menyertai letusannya. Letusan Gunung Tangkuban Perahu dapat digolongkan sebagai letusan kecil. Material vulkanik yang dilontarkan umumnya abu yang sebarannya terbatas di sekitar daerah puncak hingga beberapa kilometer. Semburan lumpur panas tercatat hanya terbatas di daerah sekitar kawah.

Letusan besar Gunung Tangkuban Perahu terakhir terjadi pada tahun 1910. Saat itu kolom asap membubung setinggi 2 km di atas dinding kawah, erupsi berasal dari kawah Ratu. Banyaknya letusan yang terjadi selama kurun waktu 1.5 abad terakhir menyebabkan banyaknya kawah di kawasan ini. Tangkuban Perahu memiliki 9 kawah yang masih aktif hingga sekarang. Kawah-kawah tersebut adalah Kawah Ratu, Kawah Upas, Kawah Domas, Kawah Ecoma, Kawah Jurig, Kawah Siluman, Kawah Baru, Kawah Lanang, Kawah Jarian dan Pangguyangan Badak. Di antara kawah-kawah tersebut, Kawah Ratu merupakan kawah yang terbesar, dikuti dengan Kawah Upas yang terletak bersebelahan dengan Kawah Ratu. Beberapa kawah mengeluarkan bau asap belerang, bahkan ada kawah yang dilarang untuk dituruni, karena kepulan asapnya mengandung racun.


Tangkoeban Prahoe 1910_Uitbarsting

Kawah Ratu merupakan kawah terbesar di kawasan Tangkuban Perahu. Kawah kedua terbesar adalah Kawah Upas yang terletak bersebelahan dengan Kawah Ratu, kawah ini bisa dicapai dengan berjalan kaki kurang lebih 30 menit, berjarak sekitar +/- 1,5 kilometer dari pos pengamatan, dengan mengitari tepian bibir Kawah Ratu secara berlawanan arah jarum jam.


Kawah Ratu Tangkuban Perahu foto ©2009 arie saksono

Kawah lainnya yang juga menarik untuk dikunjungi adalah Kawah Domas yang berada sekitar 1,2 kilometer di sebelah timur Kawah Ratu. Kawah ini dapat dicapai melalui jalur jalan setapak menurun melewati hutan dengan pepohonan yang rindang, beberapa bagian terdapat jalan yang curam. Berbeda dengan Kawah Ratu yang menawarkan pemandangan spektakuler berupa kawah luas, di Kawah Domas tampak terlihat hamparan bebatuan dan tebing putih kekuningan dengan celah-celah berongga yang mengeluarkan asap belerang.


Kawah Domas Tangkuban Perahu (foto ©2009 arie saksono)

Di lokasi ini pengunjung juga dapat menjumpai beberapa sumber air panas mendidih dengan aroma asap belerang. Pada sumber air panas tertentu digunakan oleh masyarakat sekitar untuk menyembuhkan penyakit kulit dan di sumber air panas lainnya digunakan untuk merebus telur. Dari Kawah Domas pengunjung dapat berjalan kembali mendaki menuju pelataran parkir Kawah Ratu atau dapat meniti jalan setapak mendatar menuju pelataran parkir bawah.

Menuju Tangkuban Perahu
Kawasan Gunung Tangkuban Perahu dapat dicapai dari kota Bandung menuju arah Utara melewati terminal bus/ angkot Ledeng, Kota Lembang dan kemudian menuju pintu gerbang atau loket masuk. Jalur lain melalui Kota Subang melalui tempat rekreasi dan perkebunan teh Ciater.

Bagi pengunjung yang suka berjalan kaki ataupun mungkin bersepeda terdapat jalan pintas melalui jalur setapak diantaranya melalui Desa Jayagiri, Lembang. Bila memilih jalur ini jangan lupa untuk singgah ke taman Cagar Alam Junghuhn. Di lokasi ini terdapat monument dan makam botanikus dan geolog Franz Wilhelm Junghuhn, yang dahulu terkenal sebagai penjelajah gunung-gunung di Jawa dan perintis pembudidayaan perkebunan tanaman kina di kawasan priangan Jawa Barat. Menjelang perang dunia ke-2, produksi dunia kina (de Cinchona Calisaya), sebagai bahan baku obat penyakit malaria, terbesar, sekitar 91% berasal dari Nederlands-Indie (Indonesia).

Pengunjung dengan angkutan umum dapat naik bis jurusan Bandung-Subang hingga ke pertigaan jalan menuju Tangkuban Perahu. Atau naik minibus jurusan Lembang-Tangkuban Perahu.

Insert
Sejarah Letusan Gunung Tangkuban Perahu, sumber: portal.vsi.esdm.go.id

1829 – erupsi abu dan batu dari kawah Ratu dan Domas
1846 – terjadi erupsi, peningkatan kegiatan
1896 – terbentuk fumarol baru di sebelah utara kawah Badak
1900 – erupsi uap dari kawah Ratu
1910 – kolom asap membubung setinggi 2 km di atas dinding kawah, erupsi berasal dari kawah Ratu
1926 – erupsi freatik di kawah Ratu membentuk lubang Ecoma
1935 – lapangan fumarol baru disebut Badak terjadi, 150 m ke arah selatan baratdaya dari kawah Ratu
1952 – erupsi abu didahului oleh erupsi hidrothermal (freatik)
1957 – erupsi freatik di kawah Ratu, terbentuk lubang kawah baru
1961, 1965, 1967 – erupsi freatik
1969 – erupsi freatik didahului oleh erupsi lemah menghasilkan abu
1971 – erupsi freatik
1983 – awan abu membubung setinggi 159 m di atas Kawah ratu
1992 – peningkatan kegiatan kuat dengan gempa seismik dangkal dengan erupsi freatik kecil
1994 – erupsi freatik di kawah Baru

©2009 arie saksono

Artikel mengenai Gunung Tangkuban Perahu ini pernah dimuat dalam Versi lain pada majalah National Geographic Traveler, Edisi Koleksi : 55 Pendakian Terindah; Desember 2009 by arie saksono



Advertisements

KAWAH PUTIH Ciwidey Bandung Selatan

March 10, 2008


Pemandangan Kawah putih (foto ©arie saksono)

Wilayah Kabupaten Bandung memiliki banyak tempat wisata yang menawarkan pemandangan yang indah beserta legenda-legenda yang menarik. Salah satunya adalah Kecamatan Ciwidey yang berada di selatan Kabupaten Bandung. Di kawasan ini terdapat objek wisata menarik yaitu Kawah Putih.
Kawah Putih adalah sebuah danau kawah dari Gunung Patuha dengan ketinggian 2.434 meter di atas permukaan laut dengan suhu antara 8-22°C. Di puncak Gunung Patuha itulah terdapat Kawah Saat, saat berarti surut dalam Bahasa Sunda, yang berada di bagian barat dan di bawahnya Kawah Putih dengan ketinggian 2.194 meter di atas permukaan laut. Kedua kawah itu terbentuk akibat letusan yang terjadi pada sekitar abad X dan XII silam.Kawah Putih ini terletak sekitar 46 km dari Kota Bandung atau 35 km dari ibukota Kabupaten Bandung, Soreang, menuju Ciwidey.


Bpk. Wagub Jawa Barat saat kunjungan Kawah Putih 2010 (©arie saksono)

Legenda Kawah Putih

Gunung Patuha konon berasal dari nama Pak Tua atau ”Patua”. Masyarakat setempat sering menyebutnya dengan Gunung Sepuh. Dahulu masyarakat setempat menganggap kawasan Gunung Patuha dan Kawah Putih ini sebagai daerah yang angker, tidak seorang pun yang berani menjamah atau menuju ke sana. Konon karena angkernya, burung pun yang terbang melintas di atas kawah akan mati.


Danau Kawah Putih (foto ©arie saksono)

Misteri keindahan danau Kawah Putih baru terungkap pada tahun 1837 oleh seorang peneliti botanis Belanda kelahiran Jerman, Dr. Franz Wilhelm Junghuhn (1809-1864) yang melakukan penelitian di kawasan ini. Sebagai seorang ilmuwan, Junghuhn tidak mempercayai begitu saja cerita masyarakat setempat. Saat ia melakukan perjalanan penelitiannya menembus hutan belantara Gunung Patuha, akhirnya ia menemukan sebuah danau kawah yang indah. Sebagaimana halnya sebuah kawah gunung, dari dalam danau keluar semburan aliran lava belerang beserta gas dan baunya yang menusuk hidung. Dari hal tersebut terungkap bahwa kandungan belerang yang sangat tinggi itulah yang menyebabkan burung enggan untuk terbang melintas di atas permukaan danau Kawah Putih.


Kawah Putih 1856, Java-Album, Franz Wilhelm Junghuhn

Karena kandungan belerang di danau kawah tersebut sangat tinggi, pada zaman pemerintahan Belanda sempat dibangun pabrik belerang dengan nama Zwavel OntginingKawah Putih’. Kemudian pada zaman Jepang, usaha tersebut dilanjutkan dengan nama Kawah Putih Kenzanka Gokoya Ciwidey yang langsung berada di bawah penguasaan militer Jepang.


Tambang belerang peninggalan jaman Belanda & Jepang (foto ©arie saksono)

Di sekitar kawasan Kawah Putih terdapat beberapa makam leluhur, antara lain makam Eyang Jaga Satru, Eyang Rongga Sadena, Eyang Camat, Eyang Ngabai, Eyang Barabak, Eyang Baskom, dan Eyang Jambrong. Salah satu puncak Gunung Patuha yakni Puncak Kapuk, konon merupakan tempat pertemuan para leluhur yang dipimpin oleh Eyang Jaga Satru. Konon, di tempat ini terkadang secara gaib terlihat sekumpulan domba berbulu putih yang oleh masyarakat disebut domba lukutan.


Sesepuh dan Juru kunci Kawah Putih hadir pada Festival Kawah Putih 2010

Danau Kawah Putih memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri. Air di danau kawahnya  dapat berubah warna, kadangkala berwarna hijau apel kebiru-biruan bila terik matahari dan cuaca terang, terkadang pula berwarna coklat susu. Paling sering terlihat airnya berwarna putih disertai kabut tebal di atas permukaan kawah. Selain permukaan kawah yang berwarna putih, pasir dan bebatuan di sekitarnya pun didominasi warna putih, oleh karena itu kawah tersebut dinamakan Kawah Putih.


Air danau Kawah Putih yang dapat berubah warna (foto ©arie saksono)

Menuju ke Kawah Putih

Sejak tahun 1987 PT. Perhutani (Persero) Unit III Jabar dan Banten mengembangkan kawasan Kawah Putih ini  menjadi sebuah objek wisata. Untuk tiket masuk areal objek wisata Kawah Putih, setiap orang dikenakan biaya Rp 10.000,00, (update harga tiket lihat keterangan di bawah) sudah termasuk premi asuransi. Objek wisata Kawah Putih dibuka mulai pukul 07.00 dan tutup pada pukul 17.00, setiap hari Senin sampai dengan Minggu. Fasilitas bagi pengunjung di sekitar Kawah Putih sudah cukup memadai dengan adanya areal parkir, transportasi transit menuju kawah, pusat informasi, mushala, dan warung-warung makanan.


Danau Kawah Putih kadang ditutupi halimun (foto ©arie saksono)

Untuk menuju ke sana, pengunjung dari Jakarta dapat melewati tol Cipularang terus menuju pintu keluar tol Kopo menuju Soreang ke arah selatan ke kota Ciwidey. Sekitar 20 – 30 menit dari kota Ciwidey terlihat tanda masuk menuju gerbang masuk objek wisata Kawah Putih yang ada di sebelah kiri jalan. Untuk menuju Kawah Putih dari gerbang masuk kawasan objek wisata Kawah Putih disarankan menggunakan kendaraan, jangan berjalan kaki karena jalan yang agak menanjak dan cukup jauh, yaitu sekitar 5,6 km atau sekitar 10 – 15 menit dengan kendaraan. Kendaraan pribadi dapat langung menuju tempat parkir luas yang tersedia tidak jauh dari kawah. Sementara pengunjung dengan rombongan besar yang menggunakan bis, atau transportasi umum dapat menggunakan kendaraan khusus yang ada di areal parkir dekat gerbang masuk untuk mencapai kawah dari pintu masuk. Kondisi jalan yang kecil dan menanjak tidak memungkinkan untuk dilalui kendaraan jenis bis besar maupun sedang.

Transportasi umum menuju Ciwidey dari Bandung dapat ditemui di Terminal Kebun Kalapa maupun Leuwi Panjang. Setelah sampai di Kota Ciwidey maka perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan angkutan pedesaan tujuan Situ Patengan. Angkutan pedesaan yang menuju Situ Patengan ini melintasi objek-objek wisata yang ada di kawasan Ciwidey yaitu Perkebunan Strawberry, Kawah Putih, Ranca Upas, & kolam renang air panas Cimanggu. Untuk dapat menjelajahi dan menikmati keindahan alam kawasan Ciwidey dan sekitarnya rasanya tidak cukup hanya satu hari.

© 2008-2010 arie saksono

Updated Harga Tiket Masuk dari pembaca:
Lihat komentar pengunjung di bawah ini:

Updated Tiket Masuk Kawah Putih per 12 Maret 2012:
Wisatawan Mancanegara: Rp. 30.000.
Wisatawan Nusantara : Rp. 15.000.
Ontang-anting : Rp. 10.000 PP (5.000 x 2)
Mobil sampai ke atas : Rp. 150.000.
Parkir Bus : Rp. 25.000.

 

yogi says:
September 19, 2010 at 18:32
update tarif masuk kawah putih hari ini (19/10/10):
orang: Rp.   26.000 (termasuk ongkos kendaraan ke atas-PP)
mobil: Rp. 150.000 (minibus)-sampai ke atas

Oman mengatakan:
Mei 18, 2010 pukul 18:28

Info kemarin tgl 17 Mei 2010.
Tiket masuk update 8 Mei 2010 (dibuka kembali)
Wisnus Rp 25.000,- / orang. (termasuk angkutan ke atas kawah)
Wisman Rp 50.000,- / orang.
Bermobil 1 orang Rp 165.000,- / (man)Rp 190.000,-
Bermobil 2 orang Rp 180.000,- / (man)Rp 230.000,-
Bermobil 3 orang Rp 195.000,- / (man)Rp 270.000,-
dst.