ARCA GANESHA

May 22, 2008

 

 

Arca Ganesha Museum Nasional 

 

Pada arca hindu dikenal istilah antropomorsis, adalah penggambaran manusia setengah binatang. Ganesha merupakan salah satu arca antropomorsis. Ciri khususnya adalah digambarkan sebagai manusia berkepala gajah (setengah gajah).

Ganesha digambarkan dengan bermacam-macam, ada yang duduk, ada yang berdiri, dan kadang digambarkan sedang menari. Jika dalam posisi duduk, ganesha tidak dapat bersila, karena Ganesha selalu digambarkan berperut buncit.

 

Ganesha memiliki rambut yang disanggul ke atas menyerupai mahkota. Mahkota-nya berbentuk bulan sabit dan di atas bulan sabit ada tengkoraknya yang disebut Ardhacandrakapala, sebagai pertanda bahwa adalah anak Dewa Siwa. Ciri lainnya adalah trinetra, yang hanya dimiliki oleh Siwa dan Ganesha. Telinganya telinga gajah, dengan belalainya. Belalainya selalu menuju ke kiri menghisap madu yang ada di mangkuk pada tangan sebelah kirinya melambangkan karakter kekanak-kanakan dalam diri Ganesha, yang menyatakan bahwa ia adalah seorang anak. Mangkok tersebut kadangkala digambarkan sebagai batok kepala, batok kepala yang dibelah. Simbol yang menggambarkan Ganesha sedang menyerap otak (kepala).  Ganesha disebut dewa ilmu pengetahuan karena ganesha digambarkan sedang menyerap otak, dimana otak digambarkan sebagai sumber asal akal manusia yang merupakan sumber ilmu pengetahuan.

 

Ganesha memiliki 4 tangan atau disebut juga catur biuja. Hal inilah yang membedakan manusia dengan dewa. Dari keempat tangan, tangan yang di depan sebelah kanan membawa gading yang patah (ekadanta). Ada juga arca yang digambarkan utuh dan ada juga yang digambarkan patah. Patahan gading itu dapat digunakan ganesha untuk membunuh musuhnya.

 

 

Patung Batara Gana (Ganesha) di Candi Prambanan

 

Tangan sebelah kanan belakang membawa tasbih, sementara tangan kiri belakang membawa kapak. Sebagaimana penggambaran arca dewa lainnya, arca patung Ganesha memiliki lingkaran suci atau cahaya di belakang kepalanya, dalam bahasa sansekerta disebut Sirascakra (sira berarti kepala, cakra berarti roda atau lingkaran). Namun demikian arca Ganesha ada yang digambarkan dengan sandaran dan tanpa sandaran. Bila ditempatkan di tengah relung candi biasanya tidak memiliki sandaran. Ganesha juga memiliki tali kasta atau Upawita ular, selain itu juga dilengkapi dengan kalung, kelat bahu, gelang tangan dan gelang kaki.

 

Arca Ganesha lainnya digambarkan sedang berdiri dan mengangkat satu kakinya. Itu adalah Ganesha yang digambarkan sedang menari, oleh karena itu disebut juga raja tari. Ayahnya, Dewa Siwa sebenarnya yang disebut raja tari. Tarian Ganesha bisa dibilang tarian jenaka, karena badannya yang gemuk. Ganesha banyak disukai karena tingkah lakunya yang jenaka.

 

 

 

 

Beberapa jenis bentuk penggambaran Arca Ganesha

sumber gambar:  http://www.katinkahesselink.net.

 

Ganesha juga dikenal sebagai dewa penghalau bahaya atau pengusir rintangan. Selain itu Ganesha juga disebut ganapatya, pemimpin para gana, murid-murid Dewa Siwa. Ganesha dianggap sebagai panglima tinggi diantara jajaran ketentaraan Dewa Siwa. Karena itu Ganesha juga dikenal juga sebagai dewa perang. Wahana atau kendaraan Ganesha adalah tikus.

 

Ganesha berkepala gajah?

Kitab Siwa Purana menceritakan, pada suatu Dewi Parvati/ Parwati (istri Dewa Siwa) ingin mandi. Karena tidak ingin diganggu, maka ia menciptakan seorang anak laki-laki yang diberi nama Ganesha. Ia berpesan kepada Ganesha agar tidak mengizinkan siapapun masuk ke rumahnya saat Dewi Parwati mandi dan hanya boleh menuruti perintah Dewi Parwati saja. Pesan dan perintah tersebut dilaksanakan dengan baik oleh Ganesha.

Syahdan Dewa Siwa suami Dewi Parwati pulang dan hendak masuk ke rumahnya, namun ia tidak dapat masuk karena dihadang oleh anak kecil yang menjaga rumahnya. Ganesha melarangnya karena ia melaksanakan perintah Dewi Parwati. Dewa Siwa menjelaskan bahwa ia suami dewi Parwati dan rumah yang dijaga Ganesha adalah rumahnya juga. Namun Ganesha tidak mau mendengarkan perintah Dewa Siwa, sesuai dengan perintah ibunya untuk tidak mendengar perintah siapapun. Dewa Siwa kehilangan kesabarannya dan bertarung dengan Ganesha. Pertarungan amat sengit sampai akhirnya Dewa Siwa menggunakan Trisulanya dan memenggal kepala Ganesha. Saat Dewi Parwati selesai mandi, ia menemukan putranya sudah tak bernyawa. Mengetahui putranya dibunuh oleh Dewa Siwa, ia menjadi amat marah dan menuntut agar anaknya dihidupkan kembali.

Dewa Siwa tersadar akan perbuatannya dan ia menyanggupi permohonan istrinya. Dewa Siwa kemudian menemui Dewa Brahma menceritakan kejadian tersebut. Kemudian atas saran Dewa Brahma, Dewa Siwa mengutus abdinya, Gana, untuk memenggal kepala makhluk apapun yang dilihatnya pertama kali yang menghadap ke utara. Ketika turun ke dunia, Gana mendapati seekor gajah dengan kepala menghadap utara. Saat mengetahui kepalanya akan dipenggal sang gajah melawan hingga salah satu gadingnya patah. Namun kepala gajah itu pun akhirnya dapat dipenggal dan digunakan untuk menggantikan kepala Ganesha, hingga akhirnya Ganesha dihidupkan kembali oleh Dewa Siwa.

 

2007 arie saksono

 

Advertisements

ARCA SIWA BHAIRAWA Museum Nasional

January 21, 2008

Arca Sywa/ Shiwa/ Shiva Bhairawa

Arca Shiwa Bhairawa
Arca Bhairawa di Museum Nasional Jakarta (foto: arie saksono)

Arca Bhairawa Museum Nasional di Jakarta ditemukan di kawasan persawahan di tepi sungai di Padang Roco, Kabupaten Sawahlunto, Sumatera Barat. Arca Bhairawa dengan tinggi lebih dari 3 meter ini merupakan jenis arca Tantrayana. Arca Bhairawa tidak dalam kondisi utuh lagi, terutama sandarannya. Arca ini tidak banyak dijumpai di Jawa, karena berasal dari Sumatera. Sebelum ditemukan hanya sebagian saja dari arca ini yang menyeruak dari dalam tanah. Masyarakat setempat tidak menyadari bahwa itu merupakan bagian dari arca sehingga memanfaatkannya sebagai batu asah dan untuk menumbuk padi. Hal ini dapat dilihat pada kaki sebelah kirinya yang halus dan sisi dasar sebelah kiri arca yang berlubang.

Arca Bhairawa tangannya ada yang dua dan ada yang empat. Namun arca di sini hanya memiliki dua tangan. Tangan kiri memegang mangkuk berisi darah manusia dan tangan kanan membawa pisau belati. Jika tangannya ada empat, maka biasanya dua tangan lainnya memegang tasbih dan gendang kecil yang bisa dikaitkan di pinggang, untuk menari di lapangan mayat damaru/ ksetra. Penggambaran Bhairawa membawa pisau konon untuk upacara ritual Matsya atau Mamsa. Membawa mangkuk itu untuk menampung darah untuk upacara minum darah. Sementara tangan yang satu lagi membawa tasbih. Wahana atau kendaraan Syiwa dalam perwujudan sebagi Syiwa Bhairawa adalah serigala karena upacara dilakukan di lapangan mayat dan serigala merupakan hewan pemakan mayat. Walaupun banyak di Sumatera, beberapa ditemukan juga di Jawa Timur dan Bali. Bhairawa merupakan Dewa Siwa dalam salah satu aspek perwujudannya. Bhairawa digambarkan bersifat ganas, memiliki taring, dan sangat besar seperti raksasa. Bhairawa yang berkategori ugra (ganas).

Bhairawa mangkuk&belati
Arca Bhairawa memegang mangkuk dan belati (foto: Arie saksono)

Bhairawa bayi&tengkorak
Siwa berdiri di atas mayat bayi korban dan tengkorak (foto: arie saksono)

Arca Perwujudan Adityawarman
Arca ini berdiri di atas mayat dengan singgasana dari tengkorak kepala. Arca Siwa Bhairawa ini konon merupakan arca perwujudan Raja Adithyawarman, pendiri Kerajaan Pagaruyung di Sumatra Barat pada tahun 1347. Nama Adityawarman sendiri berasal dari kata bahasa Sansekerta, yang artinya kurang lebih ialah “Yang berperisai matahari” (adhitya: matahari, varman: perisai). Adithyawarman adalah seorang panglima Kerajaan Majapahit yang berdarah Melayu. Ia adalah anak dari Adwaya Brahman atau Mahesa Anabrang, seorang senopati Kerajaan Singasari yang diutus dalam Ekspedisi Pamalayu dan Dara Jingga, seorang puteri dari raja Sri Tribhuwanaraja Mauliwarmadewa dari Kerajaan Dharmasraya.Kitab Pararaton menyebutkan bahwa Raden Wijaya memperistri seorang putri Sumatera bernama Dara Petak dan memiliki anak yang bernama Kalagemet. Seorang kerabat raja bergelar “dewa” (bangsawan) memperistri putri lainnya bernama Dara Jingga, dan memiliki anak yang bernama “Tuhan Janaka“, yang lebih dikenal sebagai Adityawarman. Di dekat Istano Basa, Batusangkar, ada sekelompok batu prasasti yang menceritakan tidak saja sejarah Minang, tapi sepenggal sejarah Nusantara secara utuh. Dari buku panduan disebutkan bahwa batu-batu prasasti yang disebut “Prasasti Adityawarman” itu menghubungkan Nusantara secara keseluruhan berkaitan dengan Kerajaan Majapahit.

Di dalam beberapa babad di Jawa dan Bali, Adityawarman juga dikenal dengan nama Arya Damar dan merupakan sepupu sedarah dari pihak ibu dengan Raja Majapahit kedua, yaitu Sri Jayanegara atau Raden Kala Gemet. Diperkirakan Adityawarman dibesarkan di lingkungan istana Majapahit, yang kemudian membuatnya memainkan peranan penting dalam politik dan ekspansi Majapahit. Saat dewasa ia diangkat menjadi Wrddhamantri atau menteri senior, bergelar “Arrya Dewaraja Pu Aditya“. Demikian pula dengan adanya prasasti pada Candi Jago di Malang (bertarikh 1265 Saka atau 1343 M), yang menyebutkan bahwa Adityawarman menempatkan arca Maňjuçrī (salah satu sosok bodhisattva) di tempat pendarmaan Jina (Buddha) dan membangun candi Buddha di Bumi Jawa untuk menghormati orang tua dan para kerabatnya.

Adityawarman, Majapahit dan Pagaruyung
Adityawarman turut serta dalam ekspansi Majapahit ke Bali pada tahun 1343 yang dipimpin oleh Gajah Mada. Babad Arya Tabanan, menyebutkan bahwa Gajah Mada dibantu seorang ksatria keturunan Kediri bernama Arya Damar, yang merupakan nama alias Adityawarman. Diceritakan bahwa ia dan saudara-saudaranya membantu Gajah Mada memimpin pasukan-pasukan Majapahit untuk menyerbu Pejeng, Gianyar, yang merupakan pusat Kerajaan Bedahulu, dari berbagai penjuru. Kerajaan Bedahulu adalah kerajaan kuno yang berdiri sejak abad ke-8 sampai abad ke-14 di pulau Bali, dan diperintah oleh raja-raja keturunan dinasti Warmadewa. Ketika menyerang Bali, Raja Bali yang menguasai saat itu adalah seorang Bhairawis penganut ajaran Tantrayana. Untuk mengalahkan Raja Bali itu, maka Adityawarman juga menganut Bhairawis untuk mengimbangkan kekuatan. Pertempuran yang terjadi berakhir dengan kekalahan Bedahulu, dan patih Bedahulu Kebo Iwa gugur sementara raja Sri Astasura Ratna Bumi Banten pergi mengasingkan diri. Setelah Bali berhasil ditaklukan, Arya Damar (Adityawarman) kembali ke Majapahit dan diangkat menjadi raja di Palembang. Sebagian saudara-saudara Arya Damar ada yang menetap di Bali, dan di kemudian hari salah seorang keturunannya mendirikan Kerajaan Badung di Denpasar.

shiva Bhairawa

Pada saat melakukan politik ekspansi di tanah Melayu, Adityawarman diberi tanggung jawab sebagai wakil (uparaja) Kerajaan Majapahit. Segera setelah Adityawarman tiba di Sumatera, ia menyusun dan mendirikan kembali Kerajaan Mauliawarmmadewa, menaklukan sisa-sisa Kerajaan Sriwijaya, dan akhirnya juga mendirikan Kerajaan Pagarruyung/ Pagaruyung (Minangkabau) di Sumatra Barat dan mengangkat dirinya sebagai Mahãrãjãdhirãja (1347). Sepeninggalnya, kekuasaan Adityawarman di Pagaruyung diteruskan oleh anaknya yang bernama Ananggawarman. Keturunan Adityawarman dan Ananggawarman selanjutnya agaknya bukanlah raja-raja yang kuat. Pemerintahan kemudian digantikan oleh orang Minangkabau sendiri yaitu Rajo Tigo Selo, yang dibantu oleh Basa Ampat Balai. Daerah-daerah Siak, Kampar dan Indragiri kemudian lepas dan ditaklukkan oleh Kesultanan Malaka dan Kesultanan Aceh, dan kemudian menjadi kerajaan-kerajaan merdeka.

Aliran Tantrayana
Menurut catatan sejarah, Raja Kertanegara dari Kerajaan Singasari, saat diserang oleh tentara Kerajaan Kediri (1292) sedang pesta makan minum sampai mabuk. Kenyataannya adalah bahwa pada saat serbuan tentara Kediri tersebut Kertanegara bersama dengan para patihnya, para Mahãwrddhamantri dan para pendeta-pendeta terkemukannya sedang melakukan upacara-upacara Tantrayana.

Bhairawa Kertanegara
Arca Bhairawa perwujudan Raja Kertanegara dari Candi Singosari kini masih tersimpan di Tropen Museum Leiden Belanda

Bhairawa Replika
Replika Arca Bhairawa perwujudan Raja Kertanegara dari Candi Singosari di Museum Nasional Jakarta (foto: arie saksono)

Kertanegara adalah seorang penganut setia aliran Budha Tantra. Prasasti tahun 1289 pada lapik arca Joko Dolok di surabaya menyatakan bahwa Krtanegara telah dinobatkan sebagai Jina (Dhyani Buddha) yaitu sebagai Aksobya, dan Joko Dolok itu adalah arca perwujudannya. Sebagai Jina, Kertanegara bergelar Jnanaciwabajra. Setelah wafat ia dinamakan Çiwabuddha yaitu dalam kitab Pararaton dan dalam Nagarakartagama >Mokteng (yang wafat di) Çiwabuddhaloka sedangkan dalam prasasti lain >Lina ring (yang wafat di) Çiwabuddhalaya. Kertanegara dimuliakan di Candi Jawi sebagai Bhatara Çiwabuddha/ SiwaBuddha di Sagala bersama dengan permaisurinya Bajradewi, sebagai Jina (Wairocana) dengan Locana dan di Candi Singosari sebagai Bhaiwara.

Istilah Tantrayana ini berasal dari akar kata “Tan”  yang artinya memaparkan kesaktian atau kekuatan daripada Dewa itu. Di India penganut Tantrisme banyak terdapat di India Selatan dibandingkan dengan India Utara. Kitab kitab yang memuat ajaran Tantrayana banyak sekali antara lain : Maha Nirwana Tantra, Kularnawa Tantra, Tantra Bidhana, Yoginirdaya Tantra, Tantra sara. Tantrayana berkembang luas sampai ke Cina, Tibet, dan Indonesia dari Tantrisme munculah suatu faham “Bhirawa” atau “Bhairawa” yang artinya hebat.

Bhairawa tantra
Ciri khas arca aliran Tantrayana berdiri di atas tengkorak (foto: arie saksono)

Paham Bhirawa secara khusus memuja kehebatan daripada sakti, dengan cara-cara khusus. Bhairawa berkembang hingga ke Cina, Tibet, dan Indonesia. Di nusantara masuknya saktiisme, Tantrisma dan Bhairawa, dimulai sejak abad ke VII melalui kerajan Sriwijaya di Sumatra, sebagaimana diberikan terdapat pada prasasti Palembang tahun 684, berasal dari India selatan dan Tibet. Dari bukti peninggalan purbakala dapat diketahui ada tiga peninggalan purbakala yaitu : Bhairawa Heruka yang terdapat di Padang Lawas Sumatra barat, Bhairawa Kalacakra yang dianut oleh Kertanegara – Raja Singasari Jawa Timur, serta oleh Adityawarman pada zaman Gajah Mada di Majapahit, dan Bhairawa Bima di Bali yang arcanya kini ada di Kebo Edan – Bedulu Gianyar.

Dalam upacara memuja Bhairawa yang dilakukan oleh para penganut aliran Tantrayana yaitu cara yang dilakukan oleh umat Hindu/ Budha untuk dapat bersatu dengan dewa pada saat mereka masih hidup karena pada umumnya mereka bersatu atau bertemu dengan para dewa pada saat setelah meninggal sehingga mereka melakukan upacara jalan pintas yang disebut dengan Upacara ritual Pancamakarapuja.

Pancamakarapuja adalah upacara ritual dengan melakukan 5 hal yang dilarang dikenal dengan 5 MA:

  1. MADA atau mabuk-mabukan
  2. MAUDRA atau tarian melelahkan hingga jatuh pingsan
  3. MAMSA atau makan daging mayat dan minum darah
  4. MATSYA atau makan ikan gembung beracun
  5. MAITHUNA atau bersetubuh secara berlebihan

Mereka melakukan upacara tersebut di Ksetra atau lapangan untuk membakar mayat atau kuburan sebelum mayat di bakar saat gelap bulan.

Pada zaman dahulu penjagaan keamanan dan pengendalian pemerintahan di wilayah kekuasaan berdasarkan pada kharisma dan kekuasaan raja. Kertanegara menganut Bhairawa Kalacakra untuk mengimbangi kekuatan Kaisar Khu Bhi Lai Khan di Cina yang menganut Bhairawa Heruka. Kebo Paru, Patih Singasari menganut Bhairawa Bhima untuk mengimbangi Raja Bali yang kharismanya sangat tinggi pada jaman itu. Adityawarman menganut Bhairawa Kalacakra untuk mengimbangi raja-raja Pagaruyung di Sumatra barat yang menganut Bhairawa Heruka.

Aliran-aliran Bhairawa cenderung bersifat politik, untuk mendapatkan kharisma besar yang diperlukan dalam pengendalian pemerintahan dan menjaga keamanan wilayah kekuasaan (kerajaan), seperti halnya pemimpin dari kalangan militer di masa sekarang. Karena itu raja-raja dan petinggi pemerintahan serta pemimpin masyarakat pada zaman dahulu banyak yang menganut aliran ini.

©2008 arie saksono


Kisah SARA SPECX-Batavia 1629

January 16, 2008

(Sara Specx, Lahir Hirado?, Japan 1616/17 – Meninggal Formosa ca. 1636)

Batavia 1629

…Sara Specx yang masih muda belia lama kelamaan jatuh hati pada salah satu prajurit muda dan tampan penjaga kastil Batavia yang bernama, Pieter J. Cortenhoeff. Syahdan keduanya terlibat hubungan asmara secara diam-diam. Hal ini mengingat usia Sara yang masih sangat belia untuk urusan semacam itu…

Hukum harus ditegakkan tanpa pandang bulu, semua orang sama kedudukannya di mata sang dewi keadilan. Tidak peduli apakah seseorang anak pejabat atau anak petani, orang kaya atau miskin. Memang itulah prinsip yang harus dilakukan dalam kehidupan bermasyarakat yang adil dan beradab. Prinsip itu pula yang dijalankan Gubernur Jenderal Indië, Jan Pieterszoon Coen, selama dua kali masa pemerintahannya di Batavia 1619-1623 dan 1627-1629.

Jan Pieterszoon coen
Jan Pieterszoon Coen (1587-1629)

Salah satu kisah mengenai kerasnya, atau mungkin juga dapat dikatakan kejam, pemerintahan Coen dalam menegakkan hukum adalah cerita mengenai Sara Specx, putri seorang pejabat tinggi VOC, Jacques Specx, yang kelak menjadi Gubernur Jenderal Indië menggantikan Coen periode antara tahun 1629-1632. Sebelum lebih jauh, ada baiknya kita mengenal sedikit siapa Sara Specx dan ayahnya Jacques Specx.

Jacques Specx
(Jacob) Jacques Specx (ca. 1585 – ?)

Jacques Specx adalah seorang pejabat tinggi VOC di Indië (Indonesia – pada masa itu belum ada istilah Nederlandsch Indië yang ada hanya Oost Indië atau Hindia Timur yaitu Indonesia, VOC: Vereeniging Oost Indische Compagnie/ Perserikatan Dagang Hindia Timur). Sebelum datang ke Batavia, Jacques Specx dikenal selama dua kali periode menjadi pemimpin tertinggi VOC di Hirado Jepang antara tahun 1609-1613 dan 1614-1621. (Belanda pernah berkuasa di Jepang? Baca kisah berikutnya “VOC di Jepang”).

Salah satu keberhasilannya yaitu mendirikan dan mengembangkan pusat dan pos dagang VOC di Hirado Jepang. Berkat kepemimpinan Specx, Hirado berkembang menjadi markas dagang penting milik VOC di Jepang sebelum akhirnya dipindahkan ke Deshima (sekarang – Nagasaki) Jepang pada tahun 1641. Karena cukup lama menjadi pemimpin VOC di Jepang, Specx sempat diketahui menjalin hubungan dengan seorang wanita setempat – gadis Jepang. Dari hubungan tersebut lahirlah seorang anak gadis bernama Sara Specx. Jadi dapat dibayangkan bagaimana rupa Sara Specx yang merupakan percampuran darah Jepang dan Belanda.

Pada tahun 1629 Jacques Specx di tugaskan sebagai pejabat tinggi VOC di Indië dengan jabatan de Eerste Raad Ordinair van Indië. Namun demikian karena urusan administrasi Specx harus kembali dahulu ke negeri Belanda. Sementara anak gadisnya Sara Specx berangkat lebih dahulu ke Batavia, karena pada waktu itu anak di luar perkawinan resmi sesama orang Belanda tidak diakui dan tidak boleh dibawa ke negeri Belanda. Sara yang merupakan anak pejabat tinggi VOC, di Batavia tinggal dan dititipkan di rumah penguasa Batavia saat itu Jan Pieterszoon Coen di dalam lingkungan kastil juga merupakan benteng kota Batavia.

kaart kasteel batavia
Batavia 1627 (lingkaran merah adalah Benteng/ kastil Batavia)

Sara pada masa itu masih belia, usianya baru 12 tahun. Ia senang tinggal di rumah Gubernur Jenderal. Seperti halnya di masa sekarang, rumah penguasa nomor satu Batavia itu dijaga oleh prajurit-prajurit pilihan yang gagah dan tampan. Kawasan Batavia di sekitar benteng Belanda di masa itu sangat rawan. Pihak kesultanan Banten, Demak dan Mataram tidak menyukai keberadaan Belanda di Kalapa atau Batavia. Mereka berulang kali berusaha menyerang benteng tersebut. Karena kondisi itu maka kehidupan orang-orang Belanda Batavia kebanyakan hanya dihabiskan di dalam lingkungan benteng. Demikian pula yang terjadi pada Sara Specx di Batavia.

Karena sehari-hari tinggal di lingkungan rumah Jan Pieterszoon Coen yang dikelilingi prajurit penjaga yang gagah-gagah tersebut, Sara yang masih muda belia lama kelamaan jatuh hati pada salah satu prajurit muda dan tampan penjaga kastil Batavia yang bernama, Pieter J. Cortenhoeff. Syahdan keduanya terlibat hubungan asmara secara diam-diam. Hal ini mengingat usia Sara yang masih sangat belia untuk urusan semacam itu. Sang Gubernur Jendral Jan Pieterszoon Coen yang mendengar kabar angin mengenai hal tersebut tidak ambil pusing karena masih banyak urusan lain yang lebih penting di Batavia. Ia lebih mementingkan urusan pertahanan benteng Batavia dari gempuran pasukan Mataram daripada memikirkan hal tersebut.

Kasteel Batavia
Lukisan Kasteel Batavia di kejauhan.

Pada awalnya hubungan asmara keduanya berjalan lancar hingga pada suatu malam sebuah peristiwa menggemparkan terjadi di lingkungan kastil Batavia. Hubungan asmara Sara dengan Pieter sampai pada puncaknya. Pada suatu malam Sara dengan diam-diam mengijinkan sang pujaan hatinya masuk ke kamarnya yang notabene adalah rumah sang Gubernur Jenderal. Lingkungan kastil yang indah pada waktu itu ditambah dengan desiran angin laut (lihat peta/ gambar kota benteng Batavia saat itu berada tak jauh dari pantai – sekarang sekitar kawasan pelabuhan Sunda Kalapa) membuat suasana menjadi semakin romantis dan membuat mereka berdua menjadi semakin lupa diri. Sara pun jatuh dalam pelukan hangat Pieter. Selanjutnya entah bagaimana, tak disangka-sangka kejadian itu ternyata diketahui Jan Pieterszoon Coen.

Sara Specx
Sara Specx (ilustrasi)

Sang Gubernur Jenderal menjadi sangat murka. Ia tidak terima kediamannya dinodai oleh perbuatan zinah Sara dan anak buahnya. Sebagai catatan, pada masa itu, norma-norma gereja dan aturan agama yang dibawa dari negeri asal masih sangat ketat sehingga perbuatan yang dilakukan Sara dan Pieter benar-benar dianggap sudah melampaui batas. Seketika itu pula sang penguasa Batavia ini langsung memerintahkan untuk mendirikan tiang gantungan bagi keduanya. Namun untunglah pimpinan Dewan Pengadilan Batavia atau Raad van Justitie langsung turun tangan menengahi masalah tersebut dan menyatakan hal tersebut harus dibawa dahulu ke meja pengadilan.

Setelah proses pengadilan dan Raad van Indie akhirnya pada 18 Juni 1629 keduanya tetap dinyatakan bersalah melakukan perzinahan. Prajurit muda penjaga kastil atau bahasa Belandanya de vaandrig van de kasteelwacht, Pieter J. Cortenhoeff dieksekusi mati, dipenggal kepalanya pada tanggal 19 Juni 1629 di depan umum di halaman balai kota atau Stadhuisplein Batavia yang kini dikenal dengan taman Fatahillah, di halaman depan Museum Sejarah Jakarta. Sementara Sara Specx yang berusia 12 tahun itu dijatuhi hukuman cambuk berkali-kali di hadapan umum di depan gerbang balaikota Batavia atau sekarang di sekitar depan gerbang masuk Museum Sejarah Jakarta. Hukuman tetap dilaksanakan!. Meskipun memiliki kekuasaan namun Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen tidak mau menggunakannya untuk membatalkan ataupun mengintervensi keputusan eksekusi pengadilan Raad van Justitie. Ia berprinsip yang salah tetap harus dihukum sesuai dengan hukum yang berlaku (ia juga tidak memperdulikan bahwa Sara adalah anak pejabat tinggi VOC). Padahal ia bisa saja mengganti eksekusi yang kejam terhadap Sara tersebut, dengan hanya mengurungnya di dalam rutan spesial di benteng Batavia!!.

Tak lama setelah kejadian itu di tahun yang sama 1629 Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen meninggal dunia (penyebab kematian Coen hingga kini masih menjadi tanda tanya, ada sumber mengatakan karena sakit malaria atau kolera, ada pula yang mengatakan tewas dalam serangan bala tentara Islam Mataram pimpinan Sultan Agung – Jan Pieterszoon Coen dimakamkan di pekuburan di halaman samping gereja Oud Hollandsche Kerk yang kini menjadi Museum Wayang). Selanjutnya Jacques Specx yang tiba di Batavia sekembalinya dari negeri Belanda diangkat menjadi Gubernur Jenderal mengantikan Coen.

Tidak ada catatan mengenai reaksi Specx atas kejadian yang menyangkut putrinya tersebut namun ia menolak untuk datang ibadah hari minggu sebagaimana juga yang dilakukan para hakim yang menyidangkan perkara anaknya. Sementara Sara pada 20 Mei 1632 diketahui menikah dengan seorang Pendeta Protestan berkebangsaan Jerman yang bekerja untuk VOC, Georg Candidus (1597-1647). Setahun kemudian Mei 1633 mereka pindah ke daerah kekuasaan VOC di Formosa (Taiwan) dan meninggal sebagai wanita terhormat dalam usia muda pada sekitar tahun 1636.

©2008 arie saksono

Disusun dari berbagai sumber.


Museum Fatahilah Jakarta – Story about Si Jagur

December 19, 2007

One of the Unique Collections of the Jakarta History Museum

museum fatahilah
Museum Sejarah Jakarta/ The Jakarta History Museum (foto: arie saksono)

If you have time, take a visit to Museum Sejarah Jakarta or Jakarta History Museum, the formerly Batavia City Hall, Stadhuis van Batavia. Beside all the collections displayed in the museum, have a look at the big old bronze cannon at the backyard of the museum. The cannon have been transferred many times. The formerly location was near the old drawbridge (ophaalbrug-Dutch) Kota Intan at Kali Besar Street, West Jakarta, in the area of the demolished castle Batavia, then it was placed on the front yard, on the northern side of the museum square, between two buildings opposite the museum. Finally 0n 24 November 2002 this has been placed on the recent location on the backyard of the Jakarta History Museum.

Oud stadhuis

old city hall
Old pictures of the Batavia City Hall (Stadhuis van Batavia)

ophaal brug batavia
The old drawbridge (De Hoenderpasar ophaalbrug) old city Batavia (foto: arie saksono)

The cannon is known as Portuguese cannon, made by MT Bocarro in Macao to strengthen the Portuguese fort in Malacca. It was brought to Batavia by the Dutch after the fall of Malacca in 1641. Then it was placed on a bastion of the old castle Batavia controlling the harbor. When the castle of Batavia was demolished by Governor General Deandels in 1809, the cannon had been forgotten of just left behind because of its heavy weight.

The cannon bear the Latin inscription: “EX ME IPSA RENATA SUM” (-out of my self I was reborn-) this may allude to the fact that it was recast from an older one. Other source said that it was remade from 16 small cannons. The body is made from iron metal with total length of 380 cm. The diameter of snout of the frontage cannon is 39 cm (inner) and 50 cm (circular outer), cannon snout 158 cm, circular of smallest cannon body 122 cm, circular of biggest cannon body 206 cm, wide of cannon body is 100 cm. The total weight of the cannon is 7000 pound or 3, 5 ton. The serial number is 27012.

The cannon shows the special design of a clenched fist “Mano in fica” which in Indonesia is a symbol of cohabitation. For that reason it was once reputed to a font of fertility. Women used to offer flowers before this talisman on Thursday, concluding their ritual by sitting on top of it or just stroke the fist. To counteract this superstition the cannon was transferred to a museum for some years.

meriam si Jagur
Symbol “Mano in fica” (foto: arie saksono)

Javanese story about Si Jagur
There is also a Javanese story about Si Jagur. It tells us that the King of Pajajaran or Sunda once had a bad dream in which he heard the thunder of a powerful weapon unknown to his people. He ordered his prime minister, the Patih, to look for such a weapon. He even threatened the man, whose name Kyai Setomo, with death if he failed to produce the wonder weapon of the king’s dream. The patih went home and discussed his sad and bitter fate with his wife. Then they closed their home in order to Semedi, to meditate. After some days waiting in vain for news from his Patih the king became angry. He sent his soldiers to search Kyai Setomo’s house, but they didn’t find the man, but only two big strange pipes. When the king himself rushed to see the strange things, he immediately recognized them as the weapon he heard in his dream. It appeared that the Patih Kyai Setomo and his wife Nyai Setomi had been transformed into two cannons.
Not long after this happened the great king of central Java, Sultan Agung, heard about it and ordered both cannons to be bought immediately to his capital Solo. But the male cannon Kyai Setomo, refused to move to the court of the sultan and fled on his own strength back to Batavia. Because it was night he could not enter the castle which was already closed. So he stayed at the gates. The next morning the people of Batavia were very astonished and regarded the cannon as Keramat (holy), offering little paper umbrella to protect him from the heat of the day, flowers and many other kind of offerings. They called him Kyai Jagur, “Hon. Mr. Robust (or Mr. Fertility). His wife, Nyai Setomi was taken to Solo, where she still rests today lonely and sometimes weeping..

Source :
Heuken SJ, Adolf., Historical Sites of Jakarta, Jakarta: Yayasan Cipta Loka Caraka, 1982
Other written and spoken sources

©2007 arie saksono


Pelabuhan Sunda Kelapa

November 27, 2007

Sunda Kelapa
Senja di Pelabuhan Sunda Kalapa (foto: ©2005 Arie Saksono)

Sejarah kota metropolitan Jakarta bermula di sini…

Sejarah Pelabuhan Sunda Kelapa
Nama Pelabuhan Sunda Kelapa sudah terdengar sejak abad ke-12 masehi. Pada masa itu pelabuhan ini sudah dikenal sebagai pelabuhan lada milik kerajaan Hindu Sunda terakhir di Jawa Barat, Pakuan Pajajaran, yang berpusat di sekitar Kota Bogor sekarang. Para pedagang nusantara kerap singgah di Sunda Kalapa di antaranya berasal dari Palembang, Tanjungpura, Malaka, Makasar dan Madura dan bahkan kapal-kapal asing dari Cina Selatan, Gujarat/ India Selatan, dan Arab sudah berlabuh di pelabuhan ini membawa barang-barang seperti porselen, kopi, sutra, kain, wangi-wangian, kemenyan, kuda, anggur, dan zat warna untuk ditukar dengan lada dan rempah-rempah yang menjadi komoditas unggulan pada saat itu. Para pelaut Cina menyebut Sunda Kalapa dengan nama Kota Ye-cheng yang berarti kota Kelapa. Hal ini kemungkinan disebabkan banyaknya pohon kelapa yang tumbuh di sekitar pelabuhan Sunda Kalapa kala itu.

Bangsa Eropa pertama asal Portugis di bawah pimpinan de Alvin tiba pertama kali di Sunda Kelapa dengan armada empat buah kapal pada tahun 1513, sekitar dua tahun setelah menaklukkan kota Malaka. Mereka datang untuk mencari peluang perdagangan rempah-rempah dengan dunia barat. Karena dari Malaka mereka mendengar kabar bahwa Sunda Kalapa merupakan pelabuhan lada yang utama di kawasan ini. Menurut catatan perjalanan Tome Pires pada masa itu Sunda Kalapa merupakan pelabuhan yang sibuk namun diatur dengan baik.

Beberapa tahun kemudian Portugis datang kembali dibawah pimpinan Enrique Leme dengan membawa hadiah bagi Raja Sunda Pajajaran. Mereka diterima dengan baik dan pada tanggal 21 Agustus 1522 ditandatangani perjanjian antara Portugis dan Kerajaan Sunda Pajajaran. Perjanjian diabadikan pada prasasti batu Padrao yang kini dapat dilihat di Museum Nasional. Dengan perjanjian tersebut Portugis berhak membangun pos dagang dan benteng di Sunda Kalapa. Pajajaran berharap Portugis dapat membantu menghadapi serangan kerajaan-kerajaan Islam seperti Demak dan Cirebon seiring dengan menguatnya pengaruh Islam di Pulau Jawa yang mengancam keberadaan kerajaan Hindu Sunda Pajajaran.

Pada tahun 1527 saat armada kapal Portugis kembali di bawah pimpinan Francesco de Sa dengan persiapan untuk membangun benteng di Sunda Kalapa, ternyata gabungan kekuatan Muslim Cirebon dan Demak berjumlah 1.452 prajurit di bawah pimpinan Fatahillah, sudah menguasai Sunda Kelapa. Sehingga pada saat berlabuh Portugis diserang dan berhasil dikalahkan. Atas kemenangannya terhadap Kerajaan Sunda Pajajaran dan Portugis, pada tanggal 22 Juni 1527 Fatahillah mengganti nama kota pelabuhan Sunda Kalapa menjadi Jayakarta yang berarti “kemenangan yang nyata”.

Kedatangan Belanda di Jayakarta
Armada kapal asal Belanda dibawah pimpinan Cornelis de Houtman tiba pertama kali di Sunda Kalapa (Jayakarta) pada 13 November 1596 dengan tujuan yang sama, mencari rempah-rempah. Rempah-rempah pada saat itu menjadi komoditas unggulan di Belanda karena berbagai khasiatnya seperti obat, penghangat badan, dan bahan wangi-wangian.

Para pedagang Belanda (yang kemudian tergabung dalam VOC) pada tahun 1610 mendapat sambutan hangat dari Pangeran Jayawikarta atau Wijayakarta penguasa Jayakarta yang merupakan pengikut Sultan Banten dan membuat perjanjian. Belanda diijinkan membangun gudang dan pos dagang yang terbuat dari kayu di sebelah timur muara sungai Ciliwung.

Suasana Sunda Kalapa
Suasana di Pelabuhan Sunda Kalapa (foto: ©2005 Arie Saksono)

Melihat potensi pendapatan yang tinggi dari penjualan rempah-rempah di negara asalnya, VOC mengingkari perjanjian, bangunan gudang yang terbuat dari kayu tersebut dibangun kembali dengan material yang kuat dan mendirikan pos dagang sekaligus benteng di selatan Pelabuhan Sunda Kelapa pada tahun 1613. kemudian pada tahun 1618 Belanda membangun benteng. Benteng ini berfungsi sebagai gudang penyimpanan barang, juga digunakan sebagai benteng perlawanan dari pasukan Inggris yang juga berniat untuk menguasai perdagangan di Nusantara. Benteng tersebut dibangun kawasan Pelabuhan Sunda Kelapa.
Pada tahun 1839 di lokasi ini didirikan Menara Syahbandar (Uitkijk atau outlook post) yang berfungsi sebagai kantor pabean, atau pengumpulan pajak dari barang-barang yang diturunkan di pelabuhan. Lokasi menara ini merupakan salah satu sudut bastion Culemborg (benteng) yang tersisa.

Pelabuhan Sunda Kelapa di masa sekarang
Pelabuhan Sunda Kelapa kini merupakan pelabuhan bongkar muat barang, terutama kayu dari Pulau Kalimantan. Di sepanjang pelabuhan berjajar kapal-kapal phinisi atau Bugis Schooner dengan bentuk khas, meruncing pada salah satu ujungnya dan berwarna-warni pada badan kapal. Setiap hari tampak pemandangan para pekerja yang sibuk naik turun kapal untuk bongkar muat.

Pelabuhan Sunda Kelapa terletak di ujung sebelah utara kota Jakarta, di teluk Jakarta, atau tepatnya terletak di jalan Baruna Raya No. 2 Jakarta Utara, lebih kurang 8 Km sebelah barat pelabuhan laut Tanjung Priok. Luas area pelabuhan Sunda Kelapa adalah 631.000 m2, sedangkan luas perairannya adalah 12.090.000 m2. Alur pelabuhannya sepanjang 2 mil dan lebar 100 m2 dibatasi dengan beton.


Bongkar muat kayu Sunda Kelapa
Bongkar muat kayu di Sunda Kalapa (foto: ©2005 Arie Saksono)

Di samping pelabuhan terdapat pasar ikan yang tetap ramai hingga kini. Di depan areal menuju pasar ikan terdapat menara pengawas atau yang dulu dikenal dengan Uitkijk toren. Sekitar 50 meter ke arah barat menara atau terdapat Museum Bahari. Di dalam museum ini dapat disaksikan peralatan asli, replika, gambar-gambar dan foto-foto yang berhubungan dengan dunia bahari di Indonesia, mulai dari zaman kerajaan hingga ekspedisi modern. Museum ini dahulu merupakan bangunan gudang tempat menyimpan barang-barang dagang VOC di abad 17 dan 18, dan tetap dipertahankan kondisi aslinya untuk kegiatan pariwisata. Pada sisi utara museum masih terdapat benteng asli yang menjadi benteng bagian utara. Memasuki Jln. Tongkol di selatan museum, kita akan tiba di lokasi bekas galangan kapal VOC atau dikenal juga dengan VOC Shipyard atau VOC dock. Dahulu kapal-kapal yang rusak diperbaiki di tempat ini. Bangunan panjang dengan jendela-jendela segi tiga di atapnya kini direvitalisasi sebagai restoran dengan tetap mempertahankan arsitektur aslinya.


Kapal Phinisi
Kapal kayu Phinisi di Sunda Kalapa (foto: ©2005 Arie Saksono)

Di sekitar kawasan pelabuhan Sunda Kelapa hingga kini masih terdapat beberapa peninggalan Belanda yaitu gedung-gedung yang berarsitektur indah dan megah yang sekarang ini difungsikan sebagai museum yaitu Museum Bahari, bekas galangan kapal VOC, Museum Fatahillah, Museum Wayang dan lain sebagainya. Sekitar 2 km dari pelabuhan ini terdapat stasiun kereta api Kota atau BEOS (Batavia En OmStreken). Wilayah ini merupakan daerah yang ramai dan padat dengan adanya pusat -pusat pertokoan dan bisnis yang ada di sekitarnya. Karena itu sejak dahulu kala pelabuhan Sunda Kelapa sudah merupakan pelabuhan penting karena merupakan wilayah yang strategis dan dekat dari pusat kota.

©2007 arie saksono

Sumber :
– Karel Mardijker., “Fatahillah kwam uit Arabie en Stichtte Djakarta”, DJakarta: Kolff Nieuws, Juli 1956
– Heuken SJ, Adolf., Historical Sites of Jakarta, Jakarta: Yayasan Cipta Loka Caraka, 1982
– & berbagai sumber lain