CANDI BOROBUDUR warisan luhur bangsa

renee_borobudur01281
Arca Budha Candi Borobudur dan Bukit Manoreh
courtesy ©2008 Renee Scipio

Candi Borobudur merupakan candi Budha, terletak di desa Borobudur kabupaten Magelang, Jawa Tengah, dibangun oleh Raja Samaratungga, salah satu raja kerajaan Mataram Kuno, keturunan Wangsa Syailendra. Nama Borobudur merupakan gabungan dari kata Bara dan Budur. Bara dari bahasa Sansekerta berarti kompleks candi atau biara. Sedangkan Budur berasal dari kata Beduhur yang berarti di atas, dengan demikian Borobudur berarti Biara di atas bukit. Sementara menurut sumber lain berarti sebuah gunung yang berteras-teras (budhara), sementara sumber lainnya mengatakan Borobudur berarti biara yang terletak di tempat tinggi.

borobudur_arie_0237
Stupa Candi Borobudur ©2009 arie saksono

Bangunan Borobudur berbentuk punden berundak terdiri dari 10 tingkat, berukuran 123 x 123 meter. Tingginya 42 meter sebelum direnovasi dan 34,5 meter setelah direnovasi karena tingkat paling bawah digunakan sebagai penahan. Candi Budha ini memiliki 1460 relief dan 504 stupa Budha di kompleksnya. Enam tingkat paling bawah berbentuk bujur sangkar dan tiga tingkat di atasnya berbentuk lingkaran dan satu tingkat tertinggi yang berupa stupa Budha yang menghadap ke arah barat.
Setiap tingkatan melambangkan tahapan kehidupan manusia. Sesuai mahzab Budha Mahayana, setiap orang yang ingin mencapai tingkat sebagai Budha mesti melalui setiap tingkatan kehidupan tersebut.

  • Kamadhatu, bagian dasar Borobudur, melambangkan manusia yang masih terikat nafsu.
  • Rupadhatu, empat tingkat di atasnya, melambangkan manusia yang telah dapat membebaskan diri dari nafsu namun masih terikat rupa dan bentuk. Pada tingkat tersebut, patung Budha diletakkan terbuka.
  • Arupadhatu, tiga tingkat di atasnya dimana Budha diletakkan di dalam stupa yang berlubang-lubang. Melambangkan manusia yang telah terbebas dari nafsu, rupa, dan bentuk.
  • Arupa, bagian paling atas yang melambangkan nirwana, tempat Budha bersemayam.

Setiap tingkatan memiliki relief-relief yang akan terbaca secara runtut berjalan searah jarum jam (arah kiri dari pintu masuk candi). Pada reliefnya Borobudur bercerita tentang suatu kisah yang sangat melegenda, bermacam-macam isi ceritanya, antara lain ada relief-relief tentang wiracarita Ramayana, ada pula relief-relief cerita jātaka. Selain itu, terdapat pula relief yang menggambarkan kondisi masyarakat saat itu. Misalnya, relief tentang aktivitas petani yang mencerminkan tentang kemajuan sistem pertanian saat itu dan relief kapal layar merupakan representasi dari kemajuan pelayaran yang waktu itu berpusat di Bergotta (Semarang).

borobudur_arie_0232
Salah satu relief pada Candi Borobudur ©2009 arie saksono

Keseluruhan relief yang ada di candi Borobudur mencerminkan ajaran sang Budha. Seorang budhis asal India bernama Atisha, pada abad ke 10, pernah berkunjung ke candi yang dibangun 3 abad sebelum Angkor Wat di Kamboja dan 4 abad sebelum Katedral Agung di Eropa ini. Berkat mengunjungi Borobudur dan berbekal naskah ajaran Budha dari Serlingpa (salah satu raja Kerajaan Sriwijaya), Atisha mampu mengembangkan ajaran Budha. Ia menjadi kepala biara Vikramasila dan mengajari orang Tibet tentang cara mempraktekkan Dharma. Enam naskah dari Serlingpa pun diringkas menjadi sebuah inti ajaran disebut “The Lamp for the Path to Enlightenment” atau yang lebih dikenal dengan nama Bodhipathapradipa.

renee_borobudur01981
Arca Budha - Dharmacakra Mudra
courtesy ©2008 Renee Scipio

Salah satu pertanyaan yang kini belum terjawab tentang Borobudur adalah bagaimana kondisi sekitar candi ketika dibangun dan mengapa candi itu ditemukan dalam keadaan terkubur. Beberapa mengatakan Borobudur awalnya berdiri dikelilingii rawa kemudian terpendam karena letusan Merapi. Hal tersebut berdasarkan prasasti Kalkutta bertuliskan ‘Amawa’ berarti lautan susu. Kata itu yang kemudian diartikan sebagai lahar Merapi, kemungkinan Borobudur tertimbun lahar dingin Merapi. Desa-desa sekitar Borobudur, seperti Karanganyar dan Wanurejo terdapat aktivitas warga membuat kerajinan. Selain itu, puncak watu Kendil merupakan tempat ideal untuk memandang panorama Borobudur dari atas. Gempa 27 Mei 2006 lalu tidak berdampak sama sekali pada Borobudur sehingga bangunan candi tersebut masih dapat dikunjungi.

Sejarah Candi Borobudur
Sekitar tiga ratus tahun lampau, tempat candi ini berada masih berupa hutan belukar yang oleh penduduk sekitarnya disebut Redi Borobudur. Untuk pertama kalinya, nama Borobudur diketahui dari naskah Negarakertagama karya Mpu Prapanca pada tahun 1365 Masehi, disebutkan tentang biara di Budur. Kemudian pada Naskah Babad Tanah Jawi (1709-1710) ada berita tentang Mas Dana, seorang pemberontak terhadap Raja Paku Buwono I, yang tertangkap di Redi Borobudur dan dijatuhi hukuman mati. Kemudian pada tahun 1758, tercetus berita tentang seorang pangeran dari Yogyakarta, yakni Pangeran Monconagoro, yang berminat melihat arca seorang ksatria yang terkurung dalam sangkar.

borobudur_arie_0234
Arca Budha dalam relung Candi Borobudur ©2009 arie saksono

Pada tahun 1814, Thomas Stamford Raffles mendapat berita dari bawahannya tentang adanya bukit yang dipenuhi dengan batu-batu berukir. Berdasarkan berita itu Raffles mengutus Cornelius, seorang pengagum seni dan sejarah, untuk membersihkan bukit itu. Setelah dibersihkan selama dua bulan dengan bantuan 200 orang penduduk, bangunan candi semakin jelas dan pemugaran dilanjutkan pada 1825. Pada 1834, Residen Kedu membersihkan candi lagi, dan tahun 1842 stupa candi ditinjau untuk penelitian lebih lanjut.

Nama Borobudur
Mengenai nama Borobudur sendiri banyak ahli purbakala yang menafsirkannya, di antaranya Prof. Dr. Poerbotjoroko menerangkan bahwa kata Borobudur berasal dari dua kata Bhoro dan Budur. Bhoro berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti bihara atau asrama, sedangkan kata Budur merujuk pada kata yang berasal dari Bali Beduhur yang berarti di atas. Pendapat ini dikuatkan oleh Prof. Dr. WF. Stutterheim yang berpendapat bahwa Borobudur berarti Bihara di atas sebuah bukit.

Prof. JG. De Casparis mendasarkan pada Prasasti Karang Tengah yang menyebutkan tahun pendirian bangunan ini, yaitu Tahun Sangkala: rasa sagara kstidhara, atau tahun Caka 746 (824 Masehi), atau pada masa Wangsa Syailendra yang mengagungkan Dewa Indra. Dalam prasasti didapatlah nama Bhumisambharabhudhara yang berarti tempat pemujaan para nenek moyang bagi arwah-arwah leluhurnya. Bagaimana pergeseran kata itu terjadi menjadi Borobudur? Hal ini terjadi karena faktor pengucapan masyarakat setempat.

Pembangunan Candi Borobudur
Candi Borobudur dibuat pada masa Wangsa Syailendra yang Buddhis di bawah kepemimpinan Raja Samarotthungga. Arsitektur yang menciptakan candi, berdasarkan tuturan masyarakat bernama Gunadharma. Pembangunan candi itu selesai pada tahun 847 M. Menurut prasasti Kulrak (784M) pembuatan candi ini dibantu oleh seorang guru dari Ghandadwipa (Bengalore) bernama Kumaragacya yang sangat dihormati, dan seorang pangeran dari Kashmir bernama Visvawarman sebagai penasihat yang ahli dalam ajaran Buddis Tantra Vajrayana. Pembangunan candi ini dimulai pada masa Maha Raja Dananjaya yang bergelar Sri Sanggramadananjaya, dilanjutkan oleh putranya, Samarotthungga, dan oleh cucu perempuannya, Dyah Ayu Pramodhawardhani.

Sebelum dipugar, Candi Borobudur hanya berupa reruntuhan seperti halnya artefak-artefak candi yang baru ditemukan. Pemugaran selanjutnya oleh Cornelius pada masa Raffles maupun Residen Hatmann, setelah itu periode selanjutnya dilakukan pada 1907-1911 oleh Theodorus van Erp yang membangun kembali susunan bentuk candi dari reruntuhan karena dimakan zaman sampai kepada bentuk sekarang. Van Erp sebetulnya seorang ahli teknik bangunan Genie Militer dengan pangkat letnan satu, tetapi kemudian tertarik untuk meneliti dan mempelajari seluk-beluk Candi Borobudur, mulai falsafahnya sampai kepada ajaran-ajaran yang dikandungnya. Untuk itu dia mencoba melakukan studi banding selama beberapa tahun di India. Ia juga pergi ke Sri Langka untuk melihat susunan bangunan puncak stupa Sanchi di Kandy, sampai akhirnya van Erp menemukan bentuk Candi Borobudur. Sedangkan mengenai landasan falsafah dan agamanya ditemukan oleh Stutterheim dan NJ. Krom, yakni tentang ajaran Buddha Dharma dengan aliran Mahayana-Yogacara dan ada kecenderungan pula bercampur dengan aliran Tantrayana-Vajrayana.

Penelitian terhadap susunan bangunan candi dan falsafah yang dibawanya tentunya membutuhkan waktu yang tidak sedikit, apalagi kalau dihubung-hubungkan dengan bangunan-bangunan candi lainnya yang masih satu rumpun. Seperti halnya antara Candi Borobudur dengan Candi Pawon dan Candi Mendut yang secara geografis berada pada satu jalur.

Materi Candi Borobudur
Candi Borobudur merupakan candi terbesar kedua setelah Candi Ankor Wat di Kamboja. Luas bangunan Candi Borobudur 15.129 m2 yang tersusun dari 55.000 m3 batu, dari 2 juta potongan batu-batuan. Ukuran batu rata-rata 25 cm X 10 cm X 15 cm. Panjang potongan batu secara keseluruhan 500 km dengan berat keseluruhan batu 1,3 juta ton. Dinding-dinding Candi Borobudur dikelilingi oleh gambar-gambar atau relief yang merupakan satu rangkaian cerita yang terususun dalam 1.460 panel. Panjang panel masing-masing 2 meter. Jika rangkaian relief itu dibentangkan maka kurang lebih panjang relief seluruhnya 3 km. Jumlah tingkat ada sepuluh, tingkat 1-6 berbentuk bujur sangkar, sedangkan tingkat 7-10 berbentuk bundar. Arca yang terdapat di seluruh bangunan candi berjumlah 504 buah. Tinggi candi dari permukaan tanah sampai ujung stupa induk dulunya 42 meter, namun sekarang tinggal 34,5 meter setelah tersambar petir.

Menurut hasil penyelidikan seorang antropolog-etnolog Austria, Robert von Heine Geldern, nenek moyang bangsa Indonesia sudah mengenal tata budaya pada zaman Neolithic dan Megalithic yang berasal dari Vietnam Selatan dan Kamboja. Pada zaman Megalithic itu nenek moyang bangsa Indonesia membuat makam leluhurnya sekaligus tempat pemujaan berupa bangunan piramida bersusun, semakin ke atas semakin kecil. Salah satunya yang ditemukan di Lebak Sibedug Leuwiliang Bogor Jawa Barat. Bangunan serupa juga terdapat di Candi Sukuh di dekat Solo, juga Candi Borobudur. Kalau kita lihat dari kejauhan, Borobudur akan tampak seperti susunan bangunan berundak atau semacam piramida dan sebuah stupa. Berbeda dengan piramida raksasa di Mesir dan Piramida Teotihuacan di Meksiko Candi Borobudur merupakan versi lain bangunan piramida. Piramida Borobudur berupa kepunden berundak yang tidak akan ditemukan di daerah dan negara manapun, termasuk di India. Hal tersebut merupakan salah satu kelebihan Candi Borobudur yang merupakan kekhasan arsitektur Budhis di Indonesia.

Misteri seputar Candi Borobudur
Sampai saat ini ada beberapa hal yang masih menjadi bahan misteri seputar berdirinya Candi Borobudur, misalnya dalam hal susunan batu, cara mengangkut batu dari daerah asal sampai ke tempat tujuan, apakah batu-batu itu sudah dalam ukuran yang dikehendaki atau masih berupa bentuk asli batu gunung, berapa lama proses pemotongan batu-batu itu sampai pada ukuran yang dikehendaki, bagaimana cara menaikan batu-batu itu dari dasar halaman candi sampai ke puncak, alat derek apakah yang dipergunakan?. Gambar relief, apakah batu-batu itu sesudah bergambar lalu dipasang, atau batu dalam keadaan polos baru dipahat untuk digambar. Dan mulai dari bagian mana gambar itu dipahat, dari atas ke bawah atau dari bawah ke atas? masih banyak lagi misteri yang belum terungkap secara ilmiah, terutama tentang ruang yang ditemukan pada stupa induk candi dan patung Budha, di pusat atau zenith candi dalam stupa terbesar, diduga dulu ada sebuah patung penggambaran Adibuddha yang tidak sempurna yang hingga kini masih menjadi misteri.

sir-thomas-raffles
Sir Thomas Stamford Raffles

Kronologis Penemuan dan pemugaran Borobudur

  • 1814 – Sir Thomas Stamford Raffles, Gubernur Jenderal Britania Raya di Jawa, mendengar adanya penemuan benda purbakala di desa Borobudur. Raffles memerintahkan H.C. Cornelius untuk menyelidiki lokasi penemuan, berupa bukit yang dipenuhi semak belukar.
  • 1873 – monografi pertama tentang candi diterbitkan.
  • 1900 – pemerintahan Hindia Belanda menetapkan sebuah panitia pemugaran dan perawatan candi Borobudur.
  • 1907 – Theodoor van Erp memimpin pemugaran hingga tahun 1911.
  • 1926 – Borobudur dipugar kembali, tapi terhenti pada tahun 1940 akibat krisis malaise dan Perang Dunia II.
  • 1956 – pemerintah Indonesia meminta bantuan UNESCO. Prof. Dr. C. Coremans datang ke Indonesia dari Belgia untuk meneliti sebab-sebab kerusakan Borobudur.
  • 1963 – pemerintah Indonesia mengeluarkan surat keputusan untuk memugar Borobudur, tapi berantakan setelah terjadi peristiwa G-30-S.
  • 1968 – pada konferensi-15 di Perancis, UNESCO setuju untuk memberi bantuan untuk menyelamatkan Borobudur.
  • 1971 – pemerintah Indonesia membentuk badan pemugaran Borobudur yang diketuai Prof.Ir.Roosseno.
  • 1972 – International Consultative Committee dibentuk dengan melibatkan berbagai negara dan Roosseno sebagai ketuanya. Komite yang disponsori UNESCO menyediakan 5 juta dolar Amerika Serikat dari biaya pemugaran 7.750 juta dolar Amerika Serikat. Sisanya ditanggung Indonesia.
  • 10 Agustus 1973 – Presiden Soeharto meresmikan dimulainya pemugaran Borobudur; pemugaran selesai pada tahun 1984
  • 21 Januari 1985 – terjadi serangan bom yang merusakkan beberapa stupa pada candi Borobudur yang kemudian segera diperbaiki kembali.
  • 1991 – Borobudur ditetapkan sebagai Warisan Dunia UNESCO.

©2008 arie saksono

Sumber:

  • Soekmono, R. DR., Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 2, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1973.
  • Ismail Kusmayadi, “Harta Karun Itu Bernama Candi Borobudur”, Pikiran Rakyat Cyber Media, Sabtu, 02 Juli 2005.
  • Soekmono, R. DR., Candi Borobudur - Pusaka Budaya Umat Manusia , Jakarta: Pustaka Jaya, 1978.
  • Berbagai sumber lain:
  • 52 Responses to “CANDI BOROBUDUR warisan luhur bangsa”

    1. morphedx Says:

      great job….

    2. Mommy Dee Says:

      Benar-benar bermanfaat. Sangat jelas. Disusun dengan sistematis dan lengkap. Agak sulit menemukan uraian yang lengkap mengenai tempat-tempat penting di Indonesia. Kebetulan karena saya seorang Ibu yang ingin membantu anak saya browsing informasi tentang tempat bersejarah, salah satunya candi Borobudur, sebagai bahan ulangan pelajaran IPS, amatlah sangat membantu untuk membaca artikel ini. Sebelumnya saya sudah mencoba browsing ke beberapa website tetapi hanya info ringan tentang candi borobudur sebagai kawasan wisata.
      Salut kepada Anda, teruskan dengan menulis tempat-tempat bersejarah di Indonesia yang lain, yang pastinya akan sangat bermanfaat!

    3. saksonoarie Says:

      Dear mommy dee,
      terima kasih sudah mampir.. saya senang kalo artikel ini memang dapat bermanfaat untuk orang lain..

      thx, Salam Indonesia > arie

    4. tutut Says:

      bikin gw makin kagum aja

    5. M.Sulthoni Says:

      terimakasih atas informasi yang telah di berikan, karena sangat bermanfaat bagi kita semua.

    6. I9OY Says:

      makasih banget buat artikelnya…. akhirnya Tugas sejarah kebudayaan yang saya buat jadi lebih berisi dengan keterangan yang sangat lengkap ini….

    7. sandireja Says:

      sayang ita kadang lupa, dan mengabaikan ‘warisan luhur bangsa’ ini, terlaulu asik untuk menatap keindahan tanpa mencari suatu makan yang dalam dibaliknya, al-hasil, mahkota keajaibanpun kini lenyap dari genggamannya.
      bravo Historian

    8. diNda Joesoef Says:

      Canggih dikau rie, i’ll highly recommend ur web to my fellow friend for his year end vacation alternatives. Trip ke himalaya yang tertunda oleh karena krisis. Excellent job dude….i’d gave you that!

    9. addhy Says:

      EmAnG KeReN !!!
      SaYaNG sEkALi DaH gA mAsuK kEaJaIbAn DuNiA………….

    10. sinta Says:

      Makasih Informasinya Ya……. moga candi ini tetep jadi bukti bahwa Indonesia kaya akan budaya

    11. totok sugiarto Says:

      Mas Arie Saksono, cerita singkat anda saya kirim ke beberapa teman saya, demi nambah wawasan tentang kekayaan budaya kita, boleh kan? Trims ya.

    12. ADHIE ABDOEL 151 Says:

      Thanks banget atas infonya ya mas, informasi ini sangat membantu saya dalam mengerjakan tugas saya di school.
      and pesan saya buat mas tolong gambarnya di kasih yang lebih banyak lagi…ok??????

    13. M arifin Says:

      bagus juga..
      saya juga tertarik.

    14. n3 Says:

      mksih atas informasinya sdh sangat membantu menyelesaikan makalh saya.

    15. marlynita Says:

      dear mas arie,
      blog yg bagus dan menarik, terima kasih untuk penjelasan mengenai candi borobudur nya karena saya sangat tertarik dan berminat mempelajari sejarah masa lalu borobudur yang penuh misteri,dengan membaca blog mas arie saya byk menyerap informasi yang berguna. semoga semakin banyak orang indonesia seperti mas arie yang mencintai budayanya sendiri dan mau membagikannya kepada masyarakat terutama generasi muda saat ini yang mulai acuh tak acuh terhadap kekayaan bangsa budaya indonesia.
      terima kasih

    16. ms_rasyid Says:

      Sudah saatnya taklagi menyebut “candi” pada Borobudur, karena Borobudur merupakan bangunan budhis, dan orang budhis tidak mengenal “candi”. Yang tepat adalah “vihara”, karena memang Borobudur adalah sebuah vihara.
      Penyebutan “candi” pada Borobudur berawal dari kekeliruan budaya Inggris dan Belanda yang tidak memiliki kosakata padanan untuk kata “vihara”. Jadi “vihara” diterjemahkan dengan kata “temple”, dan pada saatnya –karena orang Indonesia belajar sejarah dari Belanda dan literatur Inggris– menerjemahkan kata “temple” ke dalam kata “candi”.
      Candi sendiri sebagai bangunan, ia adalah bangunan khas Hinduis. Candi sebagai salah satu bentuk bangunan keagamaan Hinduis. Jadi maaf, jika kita masih menyebut “candi” untuk Borobudur, itu serupa menyebut “gereja” untuk (masjid) Istiqlal.
      Bagaimana saudara?

    17. saksonoarie Says:

      Salam kenal ms_rasyid, terima kasih sudah mau berkunjung.. berikut ini penjelasan mengenai kata Candi:

      Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia/ Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, ed.3. – cet.2.- Jakarta: Balai Pusataka, 2002
      Candi: “Bangunan kuno yang dibuat dari batu (sebagai tempat pemujaan, penyimpanan abu jenazah raja-raja, pendeta-pendeta Hindu atau Budha pada zaman dahulu)”

      Menurut Prof. Soekmono: Model atau bentuk dasar candi di Indonesia kebanyakan adalah punden berundak-undak. Hal tersebut merupakan salah satu peninggalan kebudayaan Megalithikum yang berfungsi sebagai tempat pemujaan. Sedangkan fungsi bangunan candi itu sendiri di Indonesia sesuai dengan asal kata candi.
      Perkataan candi berasal dari kata “Candika’” ini merupakan salah satu nama dewi Durga sebagai dewi maut, sehingga bangunan candi ada hubungan dengan dewi maut atau kematian. sehingga candi merupakan bangunan untuk memuliakan orang yang telah wafat khususnya raja-raja dan orang-orang terkemuka pada masanya.
      Di samping itu, dalam bahasa kawi candi berasal dari kata “Cinandi” artinya “yang dikuburkan”. Untuk itu yang dikuburkan didalam candi bukanlah mayat atau abu jenazah melainkan berbagai macam benda yang menyangkut lambang jasmaniah raja yang disimpan dalam Pripih.
      Fungsi candi Hindu di Indonesia adalah untuk pemujaan terhadap roh nenek moyang atau dihubungkan dengan raja yang sudah meninggal. Hal ini terlihat dari adanya lambang jasmaniah raja sedangkan fungsi candi di India adalah untuk tempat pemujaan terhadap dewa, contohnya seperti candi-candi yang terdapat di kota Benares merupakan tempat pemujaan terhadap Dewa Siwa.
      Sebagai contoh: Candi Singasari adalah salah satu peninggalan kerajaan Singosari yang merupakan tempat dimuliakannya raja Wisnuwardhana yang memerintah tahun 1248 – 1268. Bentuk candi tersebut, bentuk dasarnya adalah punden berundak- undak dan pada bagian bawah terdapat kaki candi yang di dalamnya terdapat sumuran candi, di mana di dalam sumuran candi tersebut tempat menyimpan pripih (lambang jasmaniah raja Wisnuwardhana).
      Untuk candi-candi agama Budha dimaksudkan sebagai tempat pemujaan dewa (-Budha). Didalamnya tidak terdapat peti pripih, dan arcanya tidak mewujudkan seorang raja. Fungsinya secara garis besar sama dengan di India yaitu untuk memuja Dyani Bodhisattwa yang dianggap sebagai perwujudan dewa.
      Candi Borobudur adalah candi Budha yang terbesar. Dilihat dari 3 tingkatan, pada tingkatan yang paling atas terdapat patung Dyani Budha.Patung-patung Dyani Budha inilah yang menjadi tempat pemujaan umat Budha. Di samping itu juga pada bagian atas, juga terdapat atap candi yang berbentuk stupa. Candi Budha di India kebanyakan berbentuk stupa, sedangkan di Indonesia stupa merupakan ciri khas atap candi-candi yang bersifat agama Budha. Dengan demikian seni bangunan candi di Indonesia memiliki kekhasan tersendiri karena Indonesia hanya mengambil intinya saja dari unsur budaya India sebagai dasar ciptaannya dan hasilnya tetap sesuatu yang berciri Indonesia sebagamana yang kita kenal dengan istilah akulturasi..

      salam Indonesia > arie

    18. velyn Says:

      Memangnya kenapa Borobudur nggak lagi masuk dalam keajaiban dunia??
      Sayang banget kan??

    19. D3L4_DELSAFA Says:

      aku slut bange………..t pokoknya, hanya dengan adat dan budaya Indonesia terkenal di seluruh penjuru dunia, dan begitu pula dengan di temukannya candi BOROBUDUR,wadu…………..h tambah muak nyoo……….ssss!

    20. ari Says:

      saya meski bukan orang sejarah, tapi saya sangat mengagumi peninggalan2 sejarah terutama sejarah hindu budha. artikel ini sangat membantu saya dalam menambah wawasan saya… hendaknya kita sebagai bangsa indonesia harus tetap melestarikan peninggal tersebut meski sekarang tidak lagi masuk dalam tujuh keajaiban dunia. heran sama UNESCO kok bisa – bisanya Borobudur di cabut dari tujuh keajaiban dunia?

    21. lietha Says:

      wow . .

      it’s completed,

      makasoh ea, dah bantu aku buat tugas sejrah,

      wheheheh . .

      thx,

    22. senja Says:

      saya kaguuuuummmm

    23. dHieLa Says:

      Candi boRobuDhuR emanX is the beST!!
      sbagaI warga negaRa iNdoneSia yG baIk,, maRi kiTa JaGa seJaraH-sejaRaH keBudaYa”n banGSa KiTa!
      BanGsa inDoneSia banGsa yG beSaR, YG kYa aKan sjaRaH anD kYa akan KbudaYa”n,, RuGi unTuK diSia_siaKan beGiTu saJJa! HiduP iNDOnesIaKu!!

    24. fery Says:

      trima kasih atas informasinya

    25. tria Says:

      thanks for your information……
      Luphn u all……

    26. Adhie Says:

      thanks berat atas infonya mas arie. Minta ijin buat kopi di blog aku sekalian tukar link.

    27. taufiq Says:

      terima kasih atas infonya

    28. Eksan Says:

      ternyata candi borobudur sangat bagus dan sangat bersejarah saya sangat kagum karena telah melihat candi borobudur yang sangat indah saya kagum sekali karena melihat candi borobudur sangat indah terima kasih atas infonya thanks infonya
      bye bye

    29. jeniffer Says:

      wih…
      candi itu benar2 menakjubkan sekali

    30. adi Says:

      Hi Mas Arie,
      Tulisan mu BOROBUDUR,sistematis,menarik,berbobakat.
      Kembangkan bakatmu) terus pantang mundur(mang mau perang.good luck to you.(adi.s)

    31. Ni Putu Juni Arini Says:

      Suksema B’li (Terima kasih Kak..) atas beritanya,merupakan bahan bacaan yg menarik. Cauze…saya berencana mau liburan ke Candi Borobudur. Semoga sukses berkelana mengitari seluruh daerah tumpah darah Indonesia Tercinta, yang kaya akan seni, budaya, & Peninggalan2 Leluhur.Merdeka…!!!

    32. Nabilla Says:

      Thnks for your information

    33. Nabilla Says:

      Thanks for your information

    34. sandhie Says:

      bos…. kenalin q bloger pemula yg lg blajar nge-blog.sayang q ga pnya ide mo posting apa… kira2 boleh ga klo q nyontek artikel2nya mas arie bwat ngisi blog aq???
      thanks ya sbelumnya.

    35. saksonoarie Says:

      Terima kasih untuk semua yang sudah berkunjung ke sini..

      @sandhie > silahkan saja dicopy artikel-artikel saya di blog kamu, tapi jangan lupa disertakan juga sumber artikelnya dari mana ya.. (http://ariesaksono.wordpress.com) sukses ya..
      thx,

      salam Indonesia
      > arie

    36. sandhie Says:

      thanks alot ya atas ijinnya… trus trang saya sbenernya malu karna sbagai orang asli borobudur ga tahu sjarahnya candi borobudur. mkanya q pngen blajar dr artikel2 mas skaligus pngen tau obyek wisata & kbudayaan daerah lain. sukses trus bwat mas……

    37. lana yosria Says:

      trims y artickel n bantu gue bgt

    38. Indah Says:

      Makasih banget ya atas semua informasinya soalnya aku sangat butuh informasi ini untuk tugas sejarahku… thanks a lot………

    39. Arza "cha2" Says:

      Salam kenal mas Arie.
      Salut ni sama tulisannya.
      Detailnya cukup lengkap.
      Baru aja minggu kemarin sy kembali dari borobudur, dan di perjalanan (yang sudah tentu bukan) yang terakhir, saya masih melihat borobudur sebagai sebuah bangunan mengagumkan. Itu saja.
      Dan saya sedikit menyesal kenapa harus ke sana sebelum baca tulisan mas Arie.
      Jujur, tulisan ini membuat saya ingin segera kembali ke sana. Ke peninggalan nenek moyang kita. Meresapi kembali pesan yang berusaha mereka tinggalkan untuk kita.
      Terimakasih banyak mas Arie, tulisan ini sangat2 menginspirasi saya.
      Terus berkarya bos.

      Salam.

    40. sekarayuwulandari Says:

      Asw..
      Wah!sy yang sering kesana,(asli jawa tengah malah!)
      tp ga peduli dgn sejarah kebudayaannya..

      ck,ck.. (jadi malu)^^

      Terimakasih ya mas!
      sy save tulisan’y,boleh???

      Maaf,kalo boleh tau, mas Arie asli Magelang???

    41. N!nD@ Says:

      Terima kasih Kak..
      atas beritanya,merupakan bahan bacaan yg menarik. Kbtulan… saya berencana mau liburan ke Candi Borobudur ma tmen 1 klas

      Thnk u very much!!!!

    42. s@ndhie Says:

      Mas Arie… pa kbr??
      Mas pnya kuis lagi ga?? Siapa tau hadiahnya motor atau mobil.. he he he
      mbak sekarayuwulandari asli magelang ya??
      q jg asli magelang n dket ma candi brobdur…
      tp q jg ga tau sjarahnya… jd malu jg ya??

    43. yos Says:

      thx 4 being the indonesian . d most cronicle country ini d world and also heavent 4 everyone.
      why …?
      coz we can be a human here by we could do anything.
      intresthing places that we could fine here .
      originally people , em make u could not say anything.
      funny ,brutal , weard , and ………

      yo ari , thx 4 being ma Amigo .

    44. yos Says:

      thx 4 being the indonesian . d most cronicle country ini d world and also heavent 4 everyone.
      why …?
      coz we can be a human here by we could do anything.
      intresthing places that we could fine here .
      originally people , em make u could not say anything.
      funny ,brutal , weard , and ………

      yo ari , thx 4 being ma Amigo .

    45. Adhie Says:

      Thanks for this information

    46. syafira octafiani s Says:

      waw…..
      suNgguh hbat ngetz yuuaa…
      indonesia musti bangga memiliki keajaiban seperti ini..
      hidup indonesia !!!!
      i luph yu pull…
      ha..ha..ha…
      :-)
      mksih yuaa dah ngasih tw inform nee..
      karna bsa bwat tugas skolah juga khannn…..

    47. Rahmat Says:

      mksh bt mas..arie y ats penjelasan..sgt bermanfaat bt aq maju terus…

    48. Brieziey_ramadhan Says:

      .thanks.atas.informasinya.!!!.

      :)

    49. Andreas M.C.I Says:

      Aqu cuma maw tanya N mow tau cerita tentang sang Budha yang digambarkan pada relief candi borobudur itu gmn yach…????

    50. EVITA ERA G Says:

      mnrut sy,,CndI BOROBUDUR itu suuanggggatttttt uuuinndaaaaaaaaaaahhhh!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

    51. Ely Says:

      Ms arie thanks infonya, lengkap bgt
      Moga makin sukses y…

    52. ben Says:

      t’rims y mas arie buat informasinya moga makin sukses y

    Leave a Reply